Selamat
datang di dimensi ku, kawan. Selamat bergabung dengan kami, aku dan
mimpi-mimpiku. Inilah dunia ku, kehidupanku, area imajinasiku, zona cinta ku.
Bagaimana perjalananmu? Melelahkan? Tak usah sendu akan peluhmu, bahkan sedetik
gundahmu akan sirna saat kau menapaki dimensi ku. Ceritakan pada ku bagaimana
kau menemukan tempat ini? Jika boleh ku tebak, perahumu pasti bersandar di
pasir putih dekat batu karang berbentuk hati. Itu namanya batu karang cinta.
Tercatat kisah romantis sepasang insan yang tak bisa ku ceritakan padamu
terjadi di sana. lupakan itu, bagaimana rasanya menapak di pasir putih? Kau
merasa menyatu dengan bumi? Indah bukan? Aku tahu kau berjalan meninggalakan
pantai dan memasuki pulau. Kawan, apa kau tak takut, pohonnya tinggi-tinggi lho?
Kau memasuki hutan yang gelap. Bahkan sinar mentari tak di ijinkan menyentuh
tanah. Tapi matahari cerdik, ia dapat celah dan menerobos perlahan. Meski tak
sampai di tanah, ia puas menyentuh dedaunan, ia tak pelit berbagi kasihnya yang
hangat. Kau pasti mendengar nyanyian burung. Itulah nyanyian alam, mereka
menyambutmu. Karena kau istimewa. Dan sepanjang kau melewati hutan itu,
nyanyian itu tak akan pernah berhenti. Percayalah, mereka tulus kepadamu. Aku
yakin, kau pasti menikmatinya, perjalananmu akan menyenangkan, kau tak sendiri
disitu. Terus, apa kau melihat muara kecil di tengah hutan? Itu pertanda kau
hampir keluar dari situ. Pasti kau singgah untuk meneguk airnya. Segar bukan?
Lihatlah. Dimensiku begitu baik padamu. Ia menyediakan pelepas dahaga untukmu.
Berharap kau tak letih untuk mencapai tujuan, berharap kau terus melangkah, dan
tak pernah berbalik.
Beberapa
langkah setelah melewati muara, apa yang kau lihat, kawan? Jangan katakan jika
pipimu basah. Dan jangan katakan jika kau berlutut ataupun bersujud. Kau masih
di bumi, hanya semntara kau berpijak pada belahan bumi yang teristimewa,
dimensi ku, anugrahNya. Aku tau, kau melangkah perlahan. Kau bentangkankan
tanganmu, menutup mata mu. Menghirup oksigen dengan aroma alam, lebih lama,
lebih dalam. Bagaimana rasanya hembusan angin sore? Bagaimana rasanya
berselimut ilalang? Luar biasa bukan? Hari terindah dalam hidupmu. Tiba-tiba
langkahmu terhenti, kau merasakan kakimu berpijak pada milyaran butiran halus.
Pasir? Kau pasti berpikir “masa udah nyampe
pantai lagi, apakah pulau ini begitu kecil?”. Tidak. Bukan. Kau sedang
tidak berada di pantai. Bukalah matamu. Tatap di sekelilingmu. Kau sedang
berdiri di tengah lautan pasir. Pertanyaanku, apa kau melihat ujung bumi di
tempamu berdiri? Bahkan kau tak sadar sudah seberapa jauh kau berjalan. Larilah
kawan, kau akan kehilangan senja nanti. Sesekali lihatlah di belakangmu. Jejak
mu di milyaran serbuk halus itu bahkan abadi.
Kau
belum sampai, kawan. Tataplah ke atas. Kau lihat awan itu? Itulah tujuanmu. Mulailah
melangkah, berpikir, berdo’a, dan tetap menatap ke atas. Maka kau aka tiba dan
melihatku. Bernapaslah dengan tenang. Lindungi seluruh tubuhmu hingga hanya
mata yang akan tetap menatap tajam. Teruslah melangkah, tapaki setiap urat bumi
yang kau lihat. Nikmati dinginnya udara yang hanya kau rasakan di sudut alam
yang belum terjamah. Mantapkan hatimu kawan hingga kita bertemu. Tak apa jika
sesekali terdiam. Renungkan betapa indahnya perjalananmu.
Jangan
terlena dengan kisah alam yang memanja. Sayangi tiap langkah mu untuk
menggapaiku. Lihatlah di sekelilingmu. Pesona bumi yang melebihi cinta pertama
mu. Raihlah tiap helai dahan yang bisa kau sentuh, kau tak pernah sendiri.
Sejenak menoleh lah, bisa kau hitung telah berapa liku di belakangmu, telah kau
ukur sedalam apa jurang di sebelah mu? Kini kau telah jauh melangkah. Lihat,
cerita apa yang telah kau tulis.
Kawan,
kau hampir tiba. Apa kau melihat ku? Kau melihat uluran tangan ku. Aku
menyambutmu. Raihlah tanganku. Kita bertemu. Sekarang kau berdiri tepat di
sampingku. Kali ini aku akan diam. Tak akan ku lontarkan pertanyaan untukmu.
Karena yang ku lihat, ku dengar dan kurasakan sama halnya denganmu. Kita
berdiri di atas langit. Bahkan ku merasakan langit di tanganku. Berteriaklah.
Sampaikan mimpi mu kepada langit. Titiplah rindu mu lewat langit, agar semua
mahluk bumi dan seluruh galaksi mendengar. Muntahkan seluruh keluhmu, lepaskan
seluruh amarah yang masih mengendap, dan menangislah hingga tak ada lagi air
mata untuk kisah berikutnya. Bebaskan seluruh raga mu. Sejenak ku berikan zona
nyaman ku untuk mu, kawan. Sekarang adalah detik-detik terhebat sepanjang
sejarah sebelum bumi merampas mu. Dan lihatlah, matahari terasa begiru dekat,
seakan bisa disentuh. Matahari terhangat, terindah. Alirkan hangatnya di
sekujur nadi mu hingga alam mengikuti nada jantungmu. Tataplah lekukan pesona
bumi-Nya. Manyadarkan bahwa Ia lebih besar dari yang kau duga, lebih hebat dari
bayanganmu, dan lebih sempurna.
“Emm.. kayaknya kita butuh perahu, bukan
perahu biasa. Karena samudra di depan mata ku adalah samudra yang istimewa”.
Hanya
kalimat itu yang ku dengar saat bibir tipismu bergerak lembut. Aku melihat
sesuatu di tangan mu. Edelweis. Ku yakin perjalananmu lebih indah dari yang ku
ceritakan. Aku hanya ingin katakan “welcome
home, dear..!!”
bolehkan aku masuk..?
BalasHapusbolehkan masuk dalam zona nyamanmu yang begitu indah, begitu hangat dalam setiap langkah yang kau tapakkan. hingga ku berdiri disini tak ada yang menghiraukannya..
hehe
Hrus lewat pintu deteksi. Haha
BalasHapusnti salah niat..