Tampilkan postingan dengan label Kata Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata Hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2014

Senja

Beberapa detik saya harus memperbaiki perasaan sejenak memejamkan mata, menghela napas panjang beberapa kali. Menyetel lagu irama klasik. Sempurna.

Pagi menjelang siang yang terik. Awal November yang biasa. Saya sedang menanti senja. Ada tujuh detik special padanya. Saat matahari benar-benar merangkak perlahan tertelan ujung bumi. Ketika matahari lenyap untuk menepati janji pada milyaran manusia di belahan bumi lain, termasuk kamu.

Tujuh detik special yang mungkin kau kejar hampir setiap senja selama hidup mu. hingga tak pernah kau perdulikan pagi yang anggun, saat matahari senja mu itu masih awal menggandeng langit dan penghuninya. Hingga kau tak memperdulikan malam, saat matahari senja mu itu menitipkan cahayanya pada megahnya bulan dan milyaran penghuni langit malam lainnya. Kau tak pernah perduli. Kau hanya mengejar senja. Tujuh detik special bersamanya.

Saya bukan penikmat senja, bukan penikmat the aroma melati bersama kenangan yang menyertainya. Saya hanya selalu menanti pagi dan penikmat angin malam. Tidak pada senja. Karena mega yang terlampau menyilaukan. Dan tak ada fatamorgana memeluk senja.

Mengapa pagi. Sebab pagi menjanjikan mimpi. Menjanjikan segala cerita yang bertabur rasa syukur hingga malam menjadi sangat gelap.

Mengapa pada angin malam. Sebab malam menjadi penutup cerita. Setelah semua janji fajar pagi terpenuhi, terbawa angin malam menanti pagi esok.

Jelas sudah, kita tak akan pernah bertemu dalam lingkaran kehidupan nyata. Kau hanya autis dalam senja mu dengan seduhan secangkir the hangat dan sebatang rokok. Tujuh detik special, bersama tegukan teh dan hisapan batang rokok. Sempurna senja pilu. Pagi mu hanyalah pagi. Malam mu cukup menjadi jembatan untuk melewati hari berikutnya.

Sekali lagi saya harus menghela nafas panjang. Matahari semakin terik. Saya akan baik-baik saja sebelum senja tiba. Setidaknya saya harus menyaksikan pergulatan cahaya matahari dan tepian bumi hari ini. Menanti fatamorgana terakhir. Mungkin.

Sebelum akhirnya senja, sebelum akhirnya kau berpesta. Saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Terima kasih untuk setiap fatamorgana yang menyilaukan, untuk semua kenangan yang mustahil terlupa, serta senyum dan tatapan mata tak terbaca.

Entah bagaimana seharusnya. Saya sudah cukup frontal, cukup jujur. Jika pun kau paham dan mengerti, ya sudah. Jika pun tidak, ya sudah. Saya baik-baik saja.
Maaf telah lancang menyebut nama mu dalam setiap do’a dan sujud ku. Mungkin itu tak akan terjadi lagi.

Saya hanya perlu mengehela napas yang lebih panjang lagi. Mengeluarkan seluruh CO2  yang menyesakkan dada.

Kamis, 16 Januari 2014

Corat Coret

Tiap tahun pasti gini. Situasi sulit. Puncaknya segala bentuk kegelisahan. Tak pernah ada prosedur yang sempurna. Kemudian memilih, lalu ambil keputusan, akhirnya menanggung resiko, dan lagi harus beralibi.
Simple. Ujung-ujungnya, nitip KRS, omelan PA urusan belakang. Bolos kuliah satu minggu perdana, nitip tanda tangan? Kalau bisa. Bagus kalau bukan kuis dihari pertama. Jangan protes kalau bukan nilai A cantik nan indah yang muncul di KHS.
Resiko anak rantauan. Berkeliat dari hitam di atas putih peraturan akademik dan kemahasiswaan yang mengikat. Bahkan pulang kampung yang harusnya menjadi ritual sakral sekali setahun sering terusik oleh sms jadwal KRSan, pergantian PA dan kuliah perdana.
Bukan apa-apa sih, hanya soal pilihan. Puas pulang kampung dengan menggantung seabrek prosedur penentu masa depan, atau pulang kampung singkat tapi urusan bakal masa depan beres. Apakah adil..? Pulang kampung hanya beberapa hari dengan perjalanan neraka atau bajet 15 kali lipat ongkos pulang kampung mahasiswa lain. Ada lagi, hanya beberapa hari untuk keluarga mu dalam setahun? Hanya beberapa hari untuk teman SMA mu dalam setahun?. Sekali lagi, adil..??
Mereka sih enak  bahkan tiap weekend bisa bertemu orang tuanya, paling lama ya cuman 6 jam perjalanan. Setelah balik ke rantauan, beraneka ragam bekal untuk penghidupan diangkut, ditemani pula sama keluraganya. Saya? Boro-boro bawa bekal segudang, bawa diri aja rasanya berat. Hanya mengandalkan ATM yang semoga gemuk selalu untuk melanjutkan hidup. Tak ada pisang, tak ada buras, telor ayam apa lagi,dan aneka lauk khas daerah lainnya. Makannya jangan heran saya suka makan ikan di sini, saya suka jus mangga,  jus nangka, dan jus sirsak. Itu adalah obat jiwa. Homesick.
Lihat saja betapa malam ini saya gelisah dan tak tidur hingga adzan subuh berkumandang. Betapa tidak, sebentar pagi saya melihat matahari di tanah kelahiran dengan meninggalkan KRS yang belum tau kapan baru bisa di on line kan bahkan telah ngaret 2 minggu (gara-gara yang satu ini semua rencana berantakan), berkas wisuda yang belum pula di on line kan dan lebih-lebih dikumpul. Hey, saya tidak akan diwisuda Maret nanti, kalau tidak on line dan tidak mengumpulkan print out nya. Lalu saya belum mendaftar untuk profesi ners, deadline nya akhir bulan depan. Kenapa? KRS belum ada, surat a..b..c.. belum ada. Rasanya ingin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sambil beteriak. Meski tak menyelesaikan persoalan, setidaknya partikel-partikel yang membuat dahi ini kerut bisa ku bebaskan sejenak. Tak apa sejenak.
Seperti nya akan selalu seperti ini tiap tahunnya. Dan dengan polosnya, seperti ada bisikan di telinga saya. “kita memang selalu berencana, dan selalu akan begitu. Kemudian kita secepatnya kita dituntut memutuskan. Done. Tapi jreng…jreng.. rencana meleset, keputusan terlanjur ketuk palu. Mau tak mau harus ada kerugian. So? Terpuruk pada kerugian bukanlah pilihan. Bagaimana meminimalisir kerugian adalah rencana sekarang. Kita yang paling tau langkah apa yang terbaik untuk kita sekarang. Lakukan, nikmati, dari pada nothing. Tuhan aja nurunin penyakit beserta obatnya, so pasti masalah juga ada sejalan dengan solusinya”.

Makassar, 17 Januari 2014

02.53 dini hari, malam dalam mendung

Senin, 13 Januari 2014

Love Letter

Dear saudara serusukku
            Apa kabar di jeda waktu ini? Tidak kah disitu membosankan? Apakah engaku sedang menuggu? Sendiri? Hanya sendiri? Bagaimana malam mu, penuh bintang? Maaf, sepertinya  aku lebih cerewet dari sebelumnya. Maaf juga, tak ada kata-kata puitis untukmu hari ini. Hanya deretan kata-kata polos dari seorang perempuan yang sedang bosan juga, sama seperti mu. Bosan menghitung bintang, bosan menanti pelangi, dan dan bosan berandai.
            Mengapa kau tak pernah ingin berkenalan dengan ku? Sudahkah kau mengenalku? Taukah engkau warna kesukaan ku? Makanan kesukaan ku? Hal yang ku benci? Atau sekedar tau, kenal kah aku dengan mu? Ah, sudahlah. Lupakan.
            Aku akan berkabar. Di atas tanah pijakan ku sedang basah oleh sisa hujan. Baunya khasnya membawaku kembali pada masa 8 tahun ku dulu. Kemudian aku beratap langit malam dengan jutaan bintang. Bahkan aku bisa menghubungkan titik-titik terang dengan telunjukku membentuk Andromeda dan scorpius. Ohya, aku menutup sebelah mataku agar bisa fokus berimajinasi menciptakan garis di udara.
            Apa engkau juga akan berkabar? Bagaimana tanah pijakkan mu? Basah? Apa kau bisa melihat Andromeda dan scorpius di situ? Tidak kah langit malam disitu cerah?
            Sekali lagi aku berkabar. Aku pernah bermimpi tentang mu. Mimpi indah. Menatap nanar langkah gontai mu bergandengan dengan bayangan hitam berpayung terik. Langkah mu semakin cepat, jauh dan bayangan hitam itu perlahan hilang. Leherku terasa tercekik, dengan mata tanpa satu kedipan pun aku berusaha bersuara memanggil sosok tak bernama. Engkau. Engkau yang masih berdiri membelakangi ku di sana. Jauh.
            Sekali lagi, apa kah engkau akan berkabar? Saat tidur mu yang pulas, tentang mimpi mu?
Dear saudara serusukku,

            Ku kirim surat ini untukmu di salah satu sudut bumi Tuhan yang maha luas ini. Terimakasih telah menyentuh surat ku, membacanya hingga kata terakhir. Dan terimakasih untuk menjawab semua pertanyaan ku dengan kata-kata yang bisa ku baca di sini sendiri.

Sabtu, 04 Januari 2014

Fatamorgana

Aku tau betapa kamu sangat tergila-gila pada warna emas laut di senja hari.
Atau pada saat ombak memamerkan keganasannya di bawah anggunnya langit biru, bersama riuh angin bahkan di sela dinginnya hujan.
Aku juga tau betapa kamu menyukai tanah dan segenap lekukannya, pesona tebimg yang perkasa atau sekedar berdiri di puncak bukit untuk menyentuh langit.
Aku juga tau kamu terpesona pada riak sungai. Menjatuhkan dau kering kemudian melihatnya menghilang terbawa arus yang damai.
Aku juga tau kamu sering menghadapkan kepala mu ke atas saat terik menyengat. Beradu tatap dengan terangnya mentari tengah hari. Dengan mata tinggal segaris kamu mencuri pandang pada awan yang menari. Menanti hujan untuk bersembunyi di balik rinainya.
Aku berharap aku tau suatu saat kamu akan menceritakan semua itu kepadaku, tidak melalui angin. Tapi, saat kita berdiri bersama di atas jutaan butir pasir pantai, tempat terindahmu.
Dan kemudian aku yang paling tau betapa kamu adalah palsu, tidak pernah ada.

Kamis, 02 Januari 2014

Aku dan 2013


Januari
Januari di 2013 hujan turun dengan anarkis. Makassar banjir di mana-mana. Kondisi terparah selama aku merantau. Danau Unhas meluap dan berhasil membuat motorku mogok untuk pertama kalinya. Dan ada kisah pilu atau tepatnya memalukan bersama derasnya hujan. Sebagai seorang perempuan nomal, sempurna aku merasakan remuknya hati akibat putus cinta. Dan beneran, aku bahkan menghabiskan tissue satu pak gede untuk air mata yang sia-sia. Ini bukan fase denial, menolak, tawar-menawar atau pun fase depresi. Sumpah, ini fase marah. Marah pada diri sendiri. Bodoh..bodoh.. tak henti ku caci diri sendiri. Dan mulai pada saat itu aku berjanji ini adalah kebodohan pertama dan terakhir.
Hujan-hujan aku juga berhijrah kosan. Ya, pindah kost emang ribet bin rempong. Angkat dua jari, gak lagi deh pindah kosan. Kapok.
Januari adalah full libur semester ganjil. Liburan ke pulau jawa? Siapa takut. Alasan pertama, bajet pulang kampung malah lebih mahal, alasan kedua menghindar.
Januari bersama Bromo. Sumpah Tuhan, aku gak pengen balik Makassar.

Februari
Perkuliahan aktif kembali. Memaksakan diri untuk move on dari masa liburan. Februari yang special, gak susah nyari inspirasi buat nulis. Bekas air mata di januari cukup menjadi bahan corat-coret. Jadi keinget kata-katanya Asma Nadia “waktu menulis yang keren itu pada saat jatuh cinta dan patah hati”. Kayaknya emang postingan terbanyak di blog ku itu di Februari. Bangga sama diri sendiri.

Maret-mei
Nothing special. Hanya menyibukkan diri dengan kuliah, presentasi, CSL, ujian blok, OSCE. Melepaskan status sebagai pengurus harian Himpunan, lega banget rasanya. Oh iya, akhirnya diumumkan nama-nama pembimbing skripsi. Rasanya itu, deg-degan kayak abis nembak cowok dan digantung berminggu-minggu. Next, pengumuman nama-nama penguji. Pas tau dapat penguji yang kata senior perfecionist, kayak ngajak balikan mantan tapi ditolak. Lemes seluruh badan.
Persiapan KKN kemudian menyita waktu dan pikiran. Kambali merantu 8 minggu ke depan. Ribet, perbanyak bawa celana panjang, baju tidur, kaos lengan panjang dan jilbab pasang. Soalnya kita serumah sama cowok. Teman-teman baru, rumah baru, “orang tua” baru, aktifitas baru, rutinitas baru, yang gak boleh dilupain, menu makan yang  baru.

Juni & Juli
Perhelatan KKN dimlai. Seperti biasa, segala sesuatu yang baru dimulai dengan adaptasi. Move on lagi. Kerja proker, berusaha manis dan ramah pada masyarakat, piket masak dan cuci piring yang setiap hari menghantui.
Ramadhan di lokasi KKN adalah ramadhan termiris sepanjang hidup. Tak ada kolak pisang, cendol hangat, dan segala sesuatu yang bersantan. Alhasil, jika tiap ramadhan aku gemukan, ramadhan kali ini aku turun 3 kg. lumayan. Lebih miris, beberapa kali harus buka puasa dengan bakso depan kantor camat. Gak sempat masak Karena kecapean kerja proker penyuluhan. Atau pada saat ceramah shalat taraweh, cuman bisa mandangin pak ustadz yang ceramah pake bahasa daerah sampe-sampe ditegur temen karena lupa mingkem. Dan jurnal, buku harian pada saat berKKN ria, saksi kehidupan mahasiswa yang sedang melewati proses menjadi mahasiswa sejati. Bekuliah sambil bekerja dengan nyata. KKN.

Agustus
KKN berkahir. Waktunya pulang kampung. Cuman 9 hari. Lumayan menyesakkan dada. Skejul padat. Buka puasa bersama, piknik bareng atau sekedar kumpul-kumpul berbagi (lebih tepatnya “pamer”) pengalaman di rantauan bareng teman sekolah dulu. Semua itu adalah ritual wajib kalo pulang kampung. Maka nikmat apakan yang didustakan mahasiswa rantauan selain pulang kampung? :D

September
Akhir sepetember aku seminar proposal. Persiapan matang fisik dan mental. Tapi, jreng..jreng.. meski proposalku diterima, aku merasa pembantaian batin pada saat itu. Tidak perlu ku deskripsikan, biar menjadi aib pribadi. Hehe


Oktober
Nekat, sembari menunggu surat rekomndasi penelitian, aku dan temanku Ayu ber “bolang” lagi ke Pulau Jawa. Malang dan Jogja adalah planning sementara. Jalan ala backpacker lumayan lah menghemat bajet kurang lebih 50%. Puas keliling Kota Malang, waktunya jogja diserbu. Candi prambanan, candi Borobudur di Magelang, dan lokasi romantisnya jogja yaitu taman pelangi dan bukit bintang. Emang sih, tiga hari sangat..sangat singkat mengenal Jogja.

November
Jujur, November tidak begitu special meski ini bulan kelahiran ku. Ulang tahun dan perayaan bukan lah kegemaranku. Maaf, aku tidak suka pesta, meski itu perayaan kecil-kecilan. Cukup do’a, cukup.
Penelitian untuk skripsi tercinta masih berlanjut. Bolak-balik rumah sakit untuk ambil data pasien, kemudian menginputnya dengan hati-hati sampe meutar-mutar otak untuk mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menghasilkan pembahasan yang apik agar tak banyak revisi nantinya.

Desember.
Alhamdulillah. Fatimah Ulfah S.Kep
“Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar. Rahman)
16 Desember aku sidang. Tidak seperti kondisi seminar proposal yang menyisakan luka. Kali ini sidangnya mulus. 20 Desember Yudisium S.Kep. dan 24 Desember penyumpahan S.Kep. pake TOGA. Banyak yang kira udah wisuda Karena TOGA. Akhirnya sempurna rasanya menjadi mahasiswa.

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang.
Selamat datang 2014. Tuhan ijinkan saya menikmati kembali Desember 2014 Mu. Agar aku bisa bercerita lebih banyak lagi dari ini. Tentang nikmat Mu, tentang kesyukuranku, tentang indahnya menjadi hambaMu.

Amin ya Rabbal’alamin

Makassar, 1 Januari 2014

Jumat, 29 November 2013

Kisah si bungsu.

Paling bontot dari empat bersaudara. Si bungsu yang kini telah remaja dan hampir menyaingi tinggi kakak sulungya. Si bungsu yang pernah menjadi murid teladan di sekolahnya. Baju rapi yang tidak pernah terurai berantakan, sepatu bersih lengkap dengan kaos kaki. Rok biru tua yang telah disetrika licin, topi dan dasi seragam selalu. Culun? Tentu tidak. Rapi dan bersih.
Si bungsu yang pernah jadi juara umum dan murid teladan juga pernah jahil. Menjahili guru baru yang menurutnya tidak berkompeten di mata pelajaran yang beliau pegang.
#jam pelajaran IPS
Bungsu: “Bu guru, otoriteritu yang kayak gimanasih?”
Ibu guru: “Otoriteritu..umm..” (buka buku cetak IPS buru-buru)
Bungsu: “Ibu tau nggak sih sebenarnya?”
Ibu guru: “Iya, ibu tau dong.”
Bungsu: “Trus, ngapain kok buka-buka lagi buku cetak?
Ibu guru: “Ibu cuman pengen mastiin aja jawaban ibu sesuai buku ini.”
Bungsu: “Kalo kayak gitu sih, kita-kita juga bisa kali Bu”. (buang muka ketemen sebelah bangku sambil ngetos, senyumn gejek dan angkat alis sebelah).

#jam pelajaran IPS hari berikutnya
Bungsu: “Ibu, saya mau Tanya. New York itu di Negara manasih?”
Ibu guru: “New York ya? New york itu di luar negeri, di sana kota nya besar, ya hampir samalah dengan Jakarta.”
Bungsu: “Bu, kan saya nanyanya New York itu dimana, bukan New York itu bagaimana.”*pasang muka sok cemberut
Teman bungsu: “Sum, itu kan ada jawabannya di halaman 105. Ngapain nanya-nanya lagi ke bu guru?”
Bungsu: “Biarin aja, aku kerjaini bu guru. Abisnya, dia gak tau gitu pake ngajar IPS segala.”
*beberapa hari kemudian ibu guru yang sebelumnya mengajar IPS berhijrah dengan mengajar mata pelajaran muatan lokal. Misi si bungsu berhasil.

Si bungsu juga lumayan cerewat mengikuti celoteh versi kakak sulungya. Sering memprotes segala ejaan kata dari sang ayah yang menurut telingaya tidak sesuai.
Ayah :“Sum, kamu itu jangan lebaii.”
Bungsu :“Aduh, Paaah.. bukan lebaii cara ngomongnya. Tapi, lebay. Pake ye belakangnya. Bukan i.”
Ayah :“Kamu itu sum. Suka sekali protes Bapak.”
Bungsu :”Kan bapak emang salah. Aneh tau Pah dengernya”
Ayah: *geleng-geleng kepala sambil senyum
Si bungsu adalah mahluk paling sayang rupiah dibandingkan ketiga saudaranya. Pernah memilah-milah baju bekasnya yang masih layak pakai untuk di jual kembali kesepupunya. Lima ribu tiap lembarnya. Alhasil, hanya selembar baju yang laku. Kisah lain, sibungsu mengumpulkan sisa tepung terigu, gula, margarin dan telur ayam yang lolos dari timbangan ibunya di warung. Buru-buru ia menuju dapur dan mulai bergelut dengan peralatan dapur.
Sulung: “Sum, ngapain?”
Bungsu: “Bikin kue kak, kue biji ketapang. Mau gak?”
Sulung: *muka bingung. “Baik hati banget kamu dek. Boleh deh. Entar bawa ke ruang tengah yah. Lagi rame tuh nonton.”
Prosesi memasak kue pun selesai. Si bungsu buru-buru ke ruang tengah.
Bungsu: “Nih, semua. Jangan malu mencoba. Enak kok.” *sambil menyodorkan nampan berisi kue biji ketapang.
Sulung: “Kok pake kemasan plastic segala?”
Bungsu: “Emang, kan mau saya jual sama kakak-kakak yang mumpung hari ini lagi pada ngumpul. Lima ratu saja kok perbungkusnya.” *muka sumringah sambil memperlihatkan lima jarinya
Semua: Menatap kearah bungsu, ada yang bingung, melongo, tertawa kecil, dan menghela napas panjang.
Si bungsu emang lebih unik di banding 3 saudaranya yang lain. Meski bungsu, tidak pernah ia menanmpakkan sikap manja. Meski begitu ia tetaplah lebih peka dan sensitive. Pernah, hanya Karena gaya berhijabnya, ia ditegur oleh abangnya. Tidak ada yang salah dengan gaya hijabnya, hanya saja abangnya yang jahil dan tidak terlalu mengerti hijab. Dari pagi hingga jelang tidur tak ada sepatah kata yang ia keluarkan. Tunduk dan terkadang menangis. “Hai dek.. ini kan lagi lebaran..”
Si bungsu juga suka menulis diari diam-diam di kamarnya. Tapi dasar abangnya yang jahil dan iseng diam-diam membaca diari si bungsu. Malu? Otomatis. Tanpa pikir panjang seluruh lembar diari habis di makan api. Si bungsu membakar diarinya sendiri.
Si bungsu emang ngangenin. Celotehnya, gaya bicaranya, pemikirannya, dan ide-ide konyolnya. Dan jempol buat si bungsu.Yang telah berani berhijab lebih awal di banding kakak-kakaknya di waktu remaja.
Semoga tetap menjadi si bungsu yang penyayang, manis, dan mandiri. Kakak kangen cerita-cerita anehmu yang harusnya bisa di bukukan.

Kamis, 21 November 2013

Dibuang Sayang

Semua ini tidak boleh terjadi. Ini semua gak benar, gak berarti salah juga sih. Sial, zona apa ini? Ada yang tidak beres, oksigennya terasa berbeda. Bukan hanya kisah klise yang norak dan kampungan. Tentang hati yang sedang berhijrah, tapi sayang ia tersesat. Menginginkan yang lebih dari jatahnya, mengaharapkan jauh dari porsi aman.
Usia yang telah dewasa. Kehidupan yang semakin menggalaukan. Tentang pilihan. Lebih sulit dari dugaan awal. Tolong ajari bagaimana harusnya memilih, bangaimana membedakan, dan bagaimana harusnya menetapkan. Karena semuanya indah dan mempesona, tidak satu, dua atau tiga. Lebih dari itu. Kisah yang rumit. Salah besar saat semuanya harus dirampas. Bukan tentang kerakusan, tapi takut kehilangan. Terlalu indah untuk di lepas. Dibuang sayang, begitulah istilahnya. Terlalu banyak kenangan nyaman yang tercipta.
Menasehati diri sendiri, selalu. Memantaskan diri dan menunggu. Uuulaaalaaa, gampang sekali melisankannya. Stay di zona aman, tak boleh offside. Huh, rasanya dada ini mulai sesak. Bagaimana saat rindu itu datang dengan hebatnya, bahkan cemburu pun saya tidak berhak. Sebab saya belum lah siapa-siapa.
Untuk sekarang, hukumlah saya karena semuanya ingin saya pertahankan. Salahkan saya karena semuanya tak akan saya dalam genggaman semu. Biarkan saya menikmati pesona abu-abu yang membunuh rasa secara perlahan. Hingga satu per satu terlepas, hilang, dan mati. Dan ada yang bertahan manis membisu. Siapa pun kamu, semoga kita cepat berjumpa.

Jum’at, 22 November 2013

1.48 am

Sabtu, 09 November 2013

sebut saja..nyaman

Keren, saat kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Menjadi diri sendiri seperti apa? Itulah pertanyaan yang mengiringi perjalanan hidup saya selama ini. Bahkan membingungkan, kapan sih sebenarnya tahap pencarian jati diri itu? Lewatmi kah? Atau belumpi? Menjadi diri sendiri adalah posisi kita di mana menemukan nyamannya kita. Lha sekarang, saya tak begitu dekat dengan nyaman itu. Nyaman yang begitu banyak dalam imajinasi, seiring waktu semakin banyak. Nyaman yang perlahan menjadi draft list mimpi yang menumpuk. Gawat, semua semakin menggalaukan.
“Simple sih sebenarnya. Cukup mencintai apa yang dikerjakan. Gitu aja. “
“Tapi memulainya susah.”
“Ya udah, tinggal mulai aja.”
“Ngomong doing sih gampang.”
“Ya gampangin aja.”
“Ampun deh.”
Maunya apa?
Pengen menghirup oksigen sepuasnya, memandang luas hingga mata lelah dan berkedip, berjalan sejauh mungkin, berlari sekencang mungkin, sesekali terasa terbawa angin, mandi hujan hingga menggigil, setelahnya lihat pelangi, lanjut mengucapkan selamat tinggal pada sunset, dan pulang istirahat, tengah malamnya bersujud pada sang pencipta. Indahnya hidup.


Senin, 16 September 2013

man saara ala darbi washala

Bertuanglah sejauh mata memandang
Mengayunlah sejauh lautan terbentang
Bergurulah sejauh alam terkembang

Biarkanlah hari terus berlari
Tetaplah menjadi manusia mulia, apa pun yang terjadi
Jangan galau dengan tiap kejadian sehari-hari
Karena tak ada yang abadi, semua akan akan datang dan pergi
Jadilah pemberani melawan rasa takutmu sendiri
Karena lapang dan tulus adalah dirimu sejati
Janganlah pandang hina musuhmu.
Karena jika ia menghinamu, itu ujian tersendiri bagimu
Tak akan abadi segala suka serta lara.
Takkan kekal segala sejahtera

Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu
Berpergianlah. Maka ada leima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai peghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu

#Rantau1Muara

Rabu, 11 September 2013

Man Shabra Zhafira

kalimat-kalimat indah penguat jiwa. nasehat besar sang Ayah.

Bersabar dan ikhlaslah dalam setip langkah perbuatan.
Terus menruslah bernuat baik, ketika di kampung dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan keahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar da nada pintu sukses dan impian kan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguh menggapai impian
Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan

(Ranah 3 Warna, A.Fuadi)


Minggu, 08 September 2013

Apakah yang lebih hebat dari rindu?

Apakah yang lebih hebat dari rindu? Emosi paling angkuh dan egois yang bersarang dalam diri setiap kita yang menamakan diri sebagai insan. Amukan jiwa yang bahkan terkadang lebih besar dari guncangan bumi sekian skala richter, jika guncangan gempa bumi bisa meluluhlantahkan arsitektur megah kota beserta penghuninya, maka rindu yang hebat yang sekian lama trependam kuat bisa menelan mentah-mentah kewarasan sang empunya rindu. Begitulah rindu, sombong dan anggun menguasai jiwa-jiwa kosong yang haus akan tatapan binar mata atau sekedar seulas senyum yang dirindukan. Bukan rindu pada Sang pemilik rindu, tapi rindu diantara kita sesama perindu.
Merindukan itu sakit, perih, dan menyayat, tak jarang menguras air mata. Betapa sakitnya rindu sehingga terlontar ucapan “ingin ku lempar batu bata di wajahmu, agar kamu tau betapa sakitnya merindukanmu”. Begitulah rindu saat kau tak berdamai dengannya. Dia akan memperbudak mu, merajai pikiran dan batin mu yang bahkan tak mengerti meletakkan rindu itu di sisi mana.
Tapi tidak demikian saat kau mengemas rindu dengan apik. Mengumpulkannya dengan rapi dalam ruang jiwa yang selalu lapang. Cukuplah rindumu menjadi rahasia antara kau, rindu-rindumu, dan Ia Sang pemilik rindu. Biarkan rindu-rindu itu berkembang, bertambah tanpa harus terlepas sedikit pun. Rasakan interaksi batinmu dengan rindu-rindu yang terkumpul rapi  dan bermain indah dalam setiap sudut relung hati. Hingga suatu waktu yang indah, rindu-rindu itu bosan bersarang dalam jiwamu, maka mereka sendiri yang akan mengantarkan mu untuk membebaskan diri-diri mereka pada tempat yang seharusnya. Pasti. Maka tiadalah keindahan dan kelegaan hati saat rindu-rindu itu lenyap dari jiwamu dan mengahadap pada tuannya. Dan rindumu telah kembali pada pemiliknya. Dan apakah yang lebih hebat dari rindu?
Makassar, 3 September 2013

Teruntuk yang senantiasa merindukanku, sebab aku pun selalu merindu.

Selasa, 23 Juli 2013

Tentang Cinta



Tentang cinta yang tak letih. Seperti layaknya fatamorgana siang tadi. Masih akan tetap menciptakan bayangan dalam kepalsuan fana. Menjanjikan nafas yang tak bisa direnggut sekalipun oleh tangan tuhan. Atau setidaknya ibarat angin yang tak mengeluh menghempas tiap helaian dedaunan menuju jejak alam yang nyata. Kisah dari embun yang setia dalam terowongan pagi buta hingga terenggut segala rupa perawan dalam tusukan lembut fajar. Tentang cinta yang tak letih. Kisah malam senentiasa menyusul malu setelah mentari lelah menatap galaksi dengan milyaran manusia bersandiwara anggun bersama revolusinya. Tentang cinta yang tak letih. Saat hati tak lelah merindu atas segala kenangan yang belum pernah tertulis. Ketika pejaman mata melukiskan mimpi lama dalam revisi kegalauan tak bertitik.  Tentang cinta yang tak letih. Seperti pena kebanggaan ku dan selalu menari lembut dipermukaan lembar demi lembar diary manis di sudut kamar. Jutaan kata untukmu. Hanya untukmu. Yang hingga ku menyatu dengan tanah, kata-kata ini adalah milikmu. Tentang cinta yang tak letih. Seperti hujan pelengkap pedih. Menetes indah bersama butiran bening dari sudut kerilngan mata. Tentang cinta yang tak letih. Saat langit masih biru. Saat mega masih merah. Saat aku adalah diriku dan engkau masih menjadi dirimu.