Tampilkan postingan dengan label Si dia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Si dia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

Fatamorgana

Aku tau betapa kamu sangat tergila-gila pada warna emas laut di senja hari.
Atau pada saat ombak memamerkan keganasannya di bawah anggunnya langit biru, bersama riuh angin bahkan di sela dinginnya hujan.
Aku juga tau betapa kamu menyukai tanah dan segenap lekukannya, pesona tebimg yang perkasa atau sekedar berdiri di puncak bukit untuk menyentuh langit.
Aku juga tau kamu terpesona pada riak sungai. Menjatuhkan dau kering kemudian melihatnya menghilang terbawa arus yang damai.
Aku juga tau kamu sering menghadapkan kepala mu ke atas saat terik menyengat. Beradu tatap dengan terangnya mentari tengah hari. Dengan mata tinggal segaris kamu mencuri pandang pada awan yang menari. Menanti hujan untuk bersembunyi di balik rinainya.
Aku berharap aku tau suatu saat kamu akan menceritakan semua itu kepadaku, tidak melalui angin. Tapi, saat kita berdiri bersama di atas jutaan butir pasir pantai, tempat terindahmu.
Dan kemudian aku yang paling tau betapa kamu adalah palsu, tidak pernah ada.

Kamis, 02 Januari 2014

Aku dan 2013


Januari
Januari di 2013 hujan turun dengan anarkis. Makassar banjir di mana-mana. Kondisi terparah selama aku merantau. Danau Unhas meluap dan berhasil membuat motorku mogok untuk pertama kalinya. Dan ada kisah pilu atau tepatnya memalukan bersama derasnya hujan. Sebagai seorang perempuan nomal, sempurna aku merasakan remuknya hati akibat putus cinta. Dan beneran, aku bahkan menghabiskan tissue satu pak gede untuk air mata yang sia-sia. Ini bukan fase denial, menolak, tawar-menawar atau pun fase depresi. Sumpah, ini fase marah. Marah pada diri sendiri. Bodoh..bodoh.. tak henti ku caci diri sendiri. Dan mulai pada saat itu aku berjanji ini adalah kebodohan pertama dan terakhir.
Hujan-hujan aku juga berhijrah kosan. Ya, pindah kost emang ribet bin rempong. Angkat dua jari, gak lagi deh pindah kosan. Kapok.
Januari adalah full libur semester ganjil. Liburan ke pulau jawa? Siapa takut. Alasan pertama, bajet pulang kampung malah lebih mahal, alasan kedua menghindar.
Januari bersama Bromo. Sumpah Tuhan, aku gak pengen balik Makassar.

Februari
Perkuliahan aktif kembali. Memaksakan diri untuk move on dari masa liburan. Februari yang special, gak susah nyari inspirasi buat nulis. Bekas air mata di januari cukup menjadi bahan corat-coret. Jadi keinget kata-katanya Asma Nadia “waktu menulis yang keren itu pada saat jatuh cinta dan patah hati”. Kayaknya emang postingan terbanyak di blog ku itu di Februari. Bangga sama diri sendiri.

Maret-mei
Nothing special. Hanya menyibukkan diri dengan kuliah, presentasi, CSL, ujian blok, OSCE. Melepaskan status sebagai pengurus harian Himpunan, lega banget rasanya. Oh iya, akhirnya diumumkan nama-nama pembimbing skripsi. Rasanya itu, deg-degan kayak abis nembak cowok dan digantung berminggu-minggu. Next, pengumuman nama-nama penguji. Pas tau dapat penguji yang kata senior perfecionist, kayak ngajak balikan mantan tapi ditolak. Lemes seluruh badan.
Persiapan KKN kemudian menyita waktu dan pikiran. Kambali merantu 8 minggu ke depan. Ribet, perbanyak bawa celana panjang, baju tidur, kaos lengan panjang dan jilbab pasang. Soalnya kita serumah sama cowok. Teman-teman baru, rumah baru, “orang tua” baru, aktifitas baru, rutinitas baru, yang gak boleh dilupain, menu makan yang  baru.

Juni & Juli
Perhelatan KKN dimlai. Seperti biasa, segala sesuatu yang baru dimulai dengan adaptasi. Move on lagi. Kerja proker, berusaha manis dan ramah pada masyarakat, piket masak dan cuci piring yang setiap hari menghantui.
Ramadhan di lokasi KKN adalah ramadhan termiris sepanjang hidup. Tak ada kolak pisang, cendol hangat, dan segala sesuatu yang bersantan. Alhasil, jika tiap ramadhan aku gemukan, ramadhan kali ini aku turun 3 kg. lumayan. Lebih miris, beberapa kali harus buka puasa dengan bakso depan kantor camat. Gak sempat masak Karena kecapean kerja proker penyuluhan. Atau pada saat ceramah shalat taraweh, cuman bisa mandangin pak ustadz yang ceramah pake bahasa daerah sampe-sampe ditegur temen karena lupa mingkem. Dan jurnal, buku harian pada saat berKKN ria, saksi kehidupan mahasiswa yang sedang melewati proses menjadi mahasiswa sejati. Bekuliah sambil bekerja dengan nyata. KKN.

Agustus
KKN berkahir. Waktunya pulang kampung. Cuman 9 hari. Lumayan menyesakkan dada. Skejul padat. Buka puasa bersama, piknik bareng atau sekedar kumpul-kumpul berbagi (lebih tepatnya “pamer”) pengalaman di rantauan bareng teman sekolah dulu. Semua itu adalah ritual wajib kalo pulang kampung. Maka nikmat apakan yang didustakan mahasiswa rantauan selain pulang kampung? :D

September
Akhir sepetember aku seminar proposal. Persiapan matang fisik dan mental. Tapi, jreng..jreng.. meski proposalku diterima, aku merasa pembantaian batin pada saat itu. Tidak perlu ku deskripsikan, biar menjadi aib pribadi. Hehe


Oktober
Nekat, sembari menunggu surat rekomndasi penelitian, aku dan temanku Ayu ber “bolang” lagi ke Pulau Jawa. Malang dan Jogja adalah planning sementara. Jalan ala backpacker lumayan lah menghemat bajet kurang lebih 50%. Puas keliling Kota Malang, waktunya jogja diserbu. Candi prambanan, candi Borobudur di Magelang, dan lokasi romantisnya jogja yaitu taman pelangi dan bukit bintang. Emang sih, tiga hari sangat..sangat singkat mengenal Jogja.

November
Jujur, November tidak begitu special meski ini bulan kelahiran ku. Ulang tahun dan perayaan bukan lah kegemaranku. Maaf, aku tidak suka pesta, meski itu perayaan kecil-kecilan. Cukup do’a, cukup.
Penelitian untuk skripsi tercinta masih berlanjut. Bolak-balik rumah sakit untuk ambil data pasien, kemudian menginputnya dengan hati-hati sampe meutar-mutar otak untuk mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menghasilkan pembahasan yang apik agar tak banyak revisi nantinya.

Desember.
Alhamdulillah. Fatimah Ulfah S.Kep
“Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar. Rahman)
16 Desember aku sidang. Tidak seperti kondisi seminar proposal yang menyisakan luka. Kali ini sidangnya mulus. 20 Desember Yudisium S.Kep. dan 24 Desember penyumpahan S.Kep. pake TOGA. Banyak yang kira udah wisuda Karena TOGA. Akhirnya sempurna rasanya menjadi mahasiswa.

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang.
Selamat datang 2014. Tuhan ijinkan saya menikmati kembali Desember 2014 Mu. Agar aku bisa bercerita lebih banyak lagi dari ini. Tentang nikmat Mu, tentang kesyukuranku, tentang indahnya menjadi hambaMu.

Amin ya Rabbal’alamin

Makassar, 1 Januari 2014

Jumat, 17 Mei 2013

Si Dia



Si dia yang malang, sikapnya bikin nyesek. Kudu ngelus dada mulu kalo liat tingkah lakunya.
Gak jarang kata-katanya bikin perut mules, kesel setengah mati sampe muka dan mata merah karena darah otak mendidih dan ngalir sampe ke wajah. Ujung tanduk udah perlahan keluar di dua sudut kepala.

Si dia yang malang emang gak tau malu. Manusia dengan anugerah sifat egois yang luar biasa. Haram untuk minta maaf kalo udah bikin salah sama orang. Gak ngerasa punya salah, muka polos ala salah pasang gaya songong malah menghardik balik. Selalu ingin menang sendiri, gak bisa sedikit aja dikritik anything dari tindakan dan kata-katanya. Manusia aneh.

Si dia yang malang yang selalunya mau diperlakukan ibarat putri keraton salah gaul. Maunya Dilayani setiap keinginannya, didengarkan setiap kalimatnya, dipatuhi setiap perintahnya, diberikan setiap kemauanya, dipuja-puji sepanjang hari, didukung segala anggapannya, dielu-elukan, disanjung, dicintai dan disayangi. Selalu ingin dimengerti dan dihargai tanpa mengerti dan menghargai orang lain. Mau terus dilayani, tapi nyewa pembantu sama babysitter mesti mikir seribu kali. Miris.

Si dia yang malang kadang berubah menjadi monster. Hilang perasaan dan naluri sebagai manusia. Sering menusukkan jarum ke kulit orang lain sebelum mencoba ke kulitnya sendiri. Selalu begitu, merasa dunia dalam genggamannya. Oksigen kesombongan mulai mengalir besama darahnya.

Si dia yang malang tak jarang jadi pengecut, bahkan pecundang. Ibarat prajurit, angkat senjata saja tak bisa. Padahal pakaian perang telah siap dan lengkap di badan. Bersembunyi di balik punggung prajurit lain saat musuh menyerang. Boro-boro melepas tembakan, menatap senapannya saja seluruh tubuhnya sudah akral dingin.

Si dia yang malang lama-lama jadi parasit manusia-manusia lainnya. Jiwa anak Sekolah Dasar yang terjebak dalam tubuh manusia dewasa. Jangan berharap kuijinkan si dia yang malang untuk menginjak zona nyaman ku, bahkan sejengkal. Terlalu suci zona nyamanku untk si dia yang malang.