Tampilkan postingan dengan label Fatamorgana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatamorgana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2017

2016



2016 mungkin akan menjadi salah satu tahun yang berkesan. Pencapaian mimpi-mimpi kecil yang penuh kejutan, dan titik-titik terendah dalam hidup. Meski tidak harus membuat resolusi untuk satu  tahun kedepan, melakukan yang terbaik pada kesempatan yang ada itu membuat  lebih nyaman.

Januari
Tiga bulan pasca wisuda, satu bulan menganggur. Masih dengan euphoria toga, perasaan nikmat sebagai alumnus, perasaan bebas yang enam tahun terakhir dibelenggu oleh status mahasiswa. Kerja? Who’s care? tak ada terpikirkan sama sekali. Yang penting mah udah lulus :D

Februari
Perlahan tapi pasti jenuh juga. Apapun itu jika dalan rutinitas yang sama setiap harinya hanya soal waktu rasa jenuh itu tiba. Februari tidak ada yang spesial sih. Hanya dapat kabar kecil dari pulau rantauan. Jalan-jalan dengan hiburan udara yang dingin-dingin segar, berkabut dan berawan bisa jadi. Selang beberapa hari pesan tiket online, cus bandara, check in, lalu penerbangan batal. Patah hati kadang sesimpel ini. Hal sederhana yang tanpa restu dan ridho orang tua sangat bisa terjadi.
Maret
Langsung ke akhir maret saja. Awal maret masih dengan rutinitas jobless. Makan, tidur, main, ohya, sama mengoleksi map coklat dan materai. Mulai ada mood jobseeker.
Akhir maret akhirnya ada alasan yang bisa direstui untuk kembali ke kota rantau. Kemas-kemas barang kosan, pindahan. Pindah ke kampung halaman.
Maret bisa jadi awal mood dan adrenalin pada puncaknya. Betul saja, baru tiba di kota rantau besoknya langsung ada ajakan main-main ekstrim. Hahaha. Jalan-jalan ala tim SAR (jelasnya lihat postingan sebelumnya aja). Setelah setahun tidak merasakan udara puncak gunung, berhujan-hujan ria di hutan dengan modal kompas meski hampir hilang, tidak ada kata kapok.

April
Boleh jadi bulan yang paling spesial. Ada ajakan tak terduga. Jalan-jalan ekstrim yang tak pernah terduga. 2830 mdpl. Baru diajak aja adrenalin rasa-rasanya sudah mendidih. Persiapan sih seadanya, jogging lebih kurang empat kali keliling ex kampus. Setidaknya tidak terlalu merepotkan nanti kalo lagi nanjak. Satu target yang yang dicapai kali ini, daypack tidak boleh berpindah punggung. Kok daypack? Yakali bawa carrier, bawa diri aja udah syukur nyampe puncak. Tidak ada porter soalnya. Haha. Dan berhasil, tak sedetik pun daypack berpindah punggung. Ya malu lah, kan nanjak nya sama yang baru dikenal sebaik-baiknya mereka, rasa “hau ade” saya masih lebih tinggi. Ditemenin nanjak saja senengnya udah kayak diwisuda lagi (cerita yang ini pernah diposting juga kok).
Pernah ada yang nanya, “Nyampe puncak itu rasanya gimana?”.
Gimana ya, pernah jatuh cinta? Kalo pernah, rasanya jauh lebih indah dari jatuh cinta. Dan kamu tidak akan pernah dikecewakan”. eh, lebay ya??? hahaha
Ohya dan beberapa hari tanpa signal itu asli meningkatkan quality time dengan teman. Coba deh ingat, kapan terakhir kita berbincang panjang lebar dengan teman membicarakan hal sepele misal motif kaos kaki hingga materi berat tentang pemerintahan, birokrasi, perekonomian dunia, atau isu global lainya atau tentang filsafat yang memecahkan kepala. Atau kadang membicarakan hal yang tidak penting tentang gosip selebitis, tentang warna api yang berubah merah muda karena yang dibakar adalah tisu bekas ingus, tentang hobi, minat dan passion yang masih saja terpendam, tentang hal-hal kecil di masa sekolah hingga hal-hal besar yang menjadi impian. Kapan terakhir membicarakan dengan santai hal itu? Dengan tanpa signal, pembicaraan itu bisa saja terjadi, pagi ke malam.
Jadi kangen.

Mei
Lagi. Jalan-jalan ekstrim dan nekat. Kali ini buka diajak, tapi mengajak. Menagih janji tepatnya. Mainnya gak jauh-jauh amat sih, cuman main ke lembah trus nyasar ke danau trus singgah hammockan di air terjun.. Dua malam tiga hari saja. Karena ini sudah kesekian kalinya, beberapa hal yang tidak dinginkan seperti nyasar malam-malam, kehujanan di jalan, jatuh terpeleset hampir terguling-guling bukan lah hal baru, bahkan sudah dianggap bahan tertawaan saat lelah.
Rasa-rasanya sangat beruntung berkesempatan melakukan hal-hal yang tidak semua orang punya kesempatan melakukan hal-hal yang membuat mereka penasaran. Iya beruntung, karena punya waktu luang, sumber daya manusia yang bisa“dimanfaatkan”, dan lokasi-lokasi keceh. Oh satu lagi partner yang tidak ribet, tidak manja, rajin shalat :)

Juni
Pulang kampung. Berpindahlah seluruh isi kamar kosan ke rumah yang sebenar-benarnya rumah. Ada penelitian (entah valid atau tidak) yang menyatakan bahwa butu waktu setengah dari lama hubungan untuk move on dari hubungan tersebut. Jadi setidaknya butuh tiga tahun untuk move on dari tanah rantauan.
Tak sanggup rasanya move on dari tanah yang enam tahun memberikan pelajaran hidup yang tidak didapat dari mana pun. Teman-teman yang sudah melebihi saudara. Tak pernah rasanya seakrab dan sedekat mereka sebelumnya dengan orang lain. Mau nyari teman yang karakternya seperti mereka? Tidak ada. Rasanya ingin tumbuh dan menua bersama mereka. Kenyamanan hubungan yang tidak didapat dari mana pun.
Oke, sudahi melankolisnya. Hahaha

Juli
Jobless mode on. Flat.

Agustus-September
Back to tanah rantau. Menyelesaikan dan menyudahi remahan-remahan perkara berkas. Ini pertanda bakal angkat kaki beneran dari rantauan. Lalu Surabaya, keliling kota sama mas driver ojek online.
Masnya kok ga pake jaket sama helm ijo?”
“Kalo jemput penumpang di  bandara, ojek online dilarang mbak. Mbaknya kenapa tidak pakai taxi bandara?”
“Lagi hemat mas. Helm saya mana mas?”
“Nanti dipake kalo udah di luar aja mbak. Takut ketahuan”
Surabaya, meski tak sepanas Makassar, macetnya mengalahkan Makassar. Surabaya tiga hari, bolu kukus dan migrain karena psikotest.

Oktober-November
Jangan tanya sudah berapa berkas yang terlegalisir yang habis, sudah berapa materai yang dipakai, sudah berapa map coklat yang yang terkirm, sudah berapa surel terkirim berkas. Ujung barat nya Jakarta, ujung timurnya Papua sudah singgah mungkin berkas map coklat dan surel. Kalo lagi semangat melamar ya begitu. Ada yang bilang, kau merumitkan diri saja. Fokus lah pada salah satu, semakin terpecah konsentrasimu, susah mencapai. Entahlah, bukankah setiap kesempatan harus di coba? Bukankah prinsip jobseeker sama dengan prinsip single yang mencari jodoh. Coba segala kemungkinan yang ada. Jajaki setiap peluang yang diberikan. Meski sudah ada yang jadi pegangan, harus tetap mencari yang lebih baik, minimal satu cadangan itu mutlak, bukan. Lalu fokus setelah sah kata saksi atau setelah tanda-tangan kontrak.
Sekali lagi, urusan jodoh tak jauh beda sama urusan kerja. Bukan hanya tentang kamu dan pilihan mu. Tapi tentang restu semesta. Semesta? Iya, mulai dari elemen penting seperti restu keluarga atau tentang keuangan hingga hal sepele tentang cibiran tetangga atau harga tiket yang yang lagi promo.
Lalu titik terendah itu datang. Seperti nyawa yang hilang oleh semesta. Sekuat hati mengumpulkan mood tentang pembenaran bahwa selama ini yang berlalu tak ada yang salah, sekuat itu pula suara-suara sumbang terdengar. Apa yang dicari? Apa karena terlalu banyak pilihan menggiurkan lalu mengabaikan yang perduli? Mau langsung berdiri di titik mana. Bukankah untuk puncak harus dimulai ttik-titik rendah di bawahnya? Ayolah, mau sampai kapan melawan semesta?
Eiishh.. kok drama banget yakk..!!!

Desember
Hujan bulan desember menutup tahun dengan pilu. Predikidsi BMKG tentang cuaca di bagian timur pulau sumbawa terjadi. Badai tropis atau Tropical Cyclone Yvette seperti menyapu bersih rumah-rumah kami. Bencana terbesar dalam puluhan atau bahkan ratusan tahun terkhir. Beberapa hari tanpa matahari dan langit biru. Jika sebelumnya berdialog dengan hujan terkesan romantis dan menenangkan, sekarang hujan ibarat alarm untuk tetap terjaga, mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan terburuk.
Lalu, meski tanpa deretan resolusi, masih ada mimpi yang dititip pada 2017.
Suprise me please…!!!!!


~Bima, Januari 2017

Sabtu, 16 Januari 2016

2015



bagaimana pun bentuk, rupa, rasa, dan aroma, kenangan tetaplah pembelajaran yang tak disuguhkan di papan tulis atau slide power point. setegar apapun ingin di lenyapkan, remahannya akan tetap mengakar di sudut hati.

Januari-Pebruari
Masih bergejala sisa stase kegawatdaruratan. Dinas terakhir yang perih. Helm mahal hilang diparkiran rumah sakit. Next, stase manajemen. Welcome to the sesepuhnya jungle mahasiswa profesi. Abaikan suara-suara manis yang mengatakan “santai ji kalo masukmi manajemen. Dari semua stase, paling santai mi itu manajemen. Bikin papan struktur jiko itu nanti”. Dan, jreng..jreng. emosianal semua tumpah ruah di stase ini. Bergadang hingga jam 5 pagi, asem manis pait dinamika bekelompok. Dan jadilah produk kami, skripsi edisi sekian-sekian. Tapi tunggu, observer lebih senang menyebutnya tesis. “Tugas S2 itu yang ko semua kerjakan”. Ya, apalah, yang penting melewatkan stase ini dengan napas yang masih di badan. Lalu kembali harus menata hati, helm (kali ini masih status helm pinjaman) hilang lagi.

Maret-April-Mei
Yuhuu.. stase komunitas keluarga gerontik. Kami menyebutnya KKN jilid 2. Kembali beposko ria, dan berproker ria. Stase yang seumur hidup rasanya ingin sekali dilupakan. Well, saya tak mau menceitaknnya (berbagi aib itu tidak baik, bukan).

Juni
Selamat tinggal dunia profesi. Menutup seluruh rangkaian stase profesi. Tujuh minggu terakhir yang (emm, berasa lama dari noraml sih pastinya). Berminggu-minggu merawat luka, mengganti balutan luka pasien. Trus, luka hati aku aku kapan dirawat, kapaan diganti balutannya? Nah loh, kok baper. Oke fokus, aroma luka yang sampe kebawa ke kamar indekost. Bau adalah pembawa sugesti, kenangan dan rindu yang kuat. Mungkin itu dulu kenapa saya lama move on karena aroma parfum mu yang sering bikin dejavu. Lanjut, seminar kasus, jurnal, kompre, dan laporan (baca: skripsi edisi sekian sekian sekian) selesai. Helaan nafas pertama setelah program profesi berakhir, beda, rasanya kok enteng banget ya.
Masih juni,
Ceritanya refreshing ala back to nature. H-2 muncak. Modal nekat dan balas dendam atas penat 15 bulan terakhir. Jadilah kami berdelapan, 5 cewek, 3 cowok, 6 calon ners, 2 calon sarjana teknik (baca: terancam kaya bede). Sebelum mulai dengan menanjak dengan jalan kaki, kami harus menanjak dengan motor. Belokan paling ekstrim yang pernaj saya jumpai, tanjakan curam menguras adrenalin. Belum selsai belokan kanan, eh harus belok kiri dengan kecuraman sampai 90º (entahlah, nilai matematika saya bagus sampe jaman SMP doang). Di tiap tikungan selalu ada tulisan arab yang melafadzkan nama Allah. Adrenalin kok kayak makin kenceng ya. Tetiba teringat kisah orang-orang sebelum meninggal bagaimana mereka mempunyai firasat. Ah, pikiran saya mulai aneh. Tidak, ini bukan firasat aneh-aneh. Itu cumin prasasti anak KKN. Anggap saja mereka ingin berbagi do’a dengan para calon pendaki yang melewati jalan ini. Berjam-jam, akhirnya tiba pemukiman warga, posko pemeriksaan barang bawaan. Tempat pertama yang kami cari mushola. Saya suka rombongan ini.
Bismillah, time for nanjak gaess. Sepanjang pendakian (sebelum oksigen otak menurun, asma kambuh, ransel bermigrasi ke bahu lain, dan badan terhempas ke tanah) kami sediki mengobrol tentang prasasti yang ditinggalkan anak KKN tadi.
“ih gank, takutku mi, ku kira saya ji yang lihat itu tulisan. Bilanga, mauma mati kapang inie”
“saya juga na, lain-lainmi perasaan ku baca itu tulisan”
“weee, astaga. Saya juga. Mauka berteriak tanya ko semua. Jangan sampai sayaji yang lihat”
Tawa renyah kami dengan lollipop di mulut yang baru terbuka bungkusannya akhirnya dapat respon dari ketua rombongan. “weee, jangko semua banyak kasi keluar tenaga mu, simpan buat nanjak, tepar ko nanti”. Dan true, belum seperempat perjalanan saya sudah tepar. Keringat dingin muka pucat, napas yang tak sampai di paru-paru, mungkin pun tak terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida di alveoli, terasa tak bernapas. Pandangan yang agak kabur, tenggorokan serasa sedang puasa ramadhan. Entah berapa kali harus istrahat karena saya, tas punggung tentu sudah berpindah bahu. Maafkan saya teman.
Tiba kita di posko terakhir. Mari bangun tenda, mari masak, mari ambil air. Lebih tepatnya sih silahkan bangun tenda, sini saya bantu masak dikit, sini saya bantu ambil air. Haha. Tapi dua calon manusia terancam kaya ini malah mempersilahkan kami naik ke puncak. Bahagianya punya partner mendaki yang sifatnya kayak gini. Lebih kurang setengah jam mendaki dengan sisa tenaga terkahir, kami bisa menikmati sunset di 1232 mdpl. Agak kagok sih, speechless, pertama kali melihat awan terapung jauh di bawah posisi kami. Esok paginya sebelum pulang kembali melewati liku-liuk aspal dengan hiasan prasasti anak KKN kami berdelapan sama-sama nanjak ke tugu 1232 mdpl. Perfect time. Formasi lengkap. Puncak yang dingin beraroma langit. Maka nikmat tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?

Juli
Ramadhan 29 hari masih di kota rantau. Ada yang spesial? Lupa. Hanya sibuk mondar-mandir di kampus mempersiapkan berkas wisuda. Pulang kampung dulu boleh kali yak. Ramadhan hari terakhir, buka puasa terakhir bersama keluarga.

Agustus
Tahun ini alam seperti tahu ia rindu kepada siapa. Bima juga punya puncak yang indah nan dingin. Di 1050 mdpl dengan padang savanna yang subur. Terlihat jelas bahkan dari halaman rumahku. Seperti biasa, penyakit “merepotkan” itu kembali kambuh. Rombongan ini lumayan gemuk. Kami berbelas-belas. Dewi fortuna lagi, ada dua manusia  “terancam kaya” bersama kami. Sedikit menantang dengan perjalanan malam. Kami tiba di puncak pukul 11 malam. Dingin menggerogoti seluruh tubuh, terjaga hingga pagi. Dua malam tiga hari yang luar biasa.
Beberapa orang pernah bertanya. Ulf suka mendaki? Bukan suka sih, karena ada kesempatan aja. Kesempatan? Yap, kebetulan lagi free, ada temen yang ngajak, ada tempat bagus yang belum didatangi. Seru? Sangat. Puncaknya? Bukan, tapi perjalanannya. Kok? Emang sih puncaknya yang jadi tujuan, tapi setelah kembali ke bawah justru perjalananya yang paling berkesan. Keindahan puncak itu semacam bonus. Kadang kita menghujat proses yang pedih, tapi setelah tujuan kita tercapai, proses lah yang akan sangat kirta hargai. Superrr. Hahaha

September
Toga ke tiga, penyumpahan ners. Toga ke empat wisuda ners. Euphoria toga kayak biasa kok ya? Mungkin karena aku tidak sempurna mengucapkan sumpah ners. Haha
Mengikutsertakan diri on job training di rumah sakit kampus selama tiga bulan. Bimbingan ujian kompetensi. Jadilah saya terlempar dari rumah sakit ke kampus atau sebaliknya. Dalam waktu bersamaan saya butuh magang, saya harus penyumpahan, harus wisuda, dan kami adalah pejuang STR. Serasa jadi mahasiswa baru kembali. Terlempar sana-sini dengan schedule full. Setelah ujian kompetensi, saya kembali magang dengan damai.

Oktober-November
Setiap menyaksikan kecanggihan alat buatan manusia pengganti ginjal. Tapi bukan itu yang menarik perhatian ku. Karakter pasien dan keluarga mereka yang mendampingi. Istri yang sabar dan tegar mendampingi suaminya yang cuci darah, anak yang terkadang harus bolos kuliah untuk menemani ibunya cuci darah, atau orang tua yang tegar melihat darah yang keluar dari tubuh anak gadisnya lalu masuk ke selang-selang di mesin lalu masuk kembali ke tubuh sang anak. Mereka cuci darah buka berhari-hari. Sudah berbulan-bulan bertahun-tahun. Bukan berkali-kali, berpuluh kali, beratus kali. Seolah hidup mereka diperantarai oleh ginjal buatan ini oleh tuhan.

Desember
Aroma melankolis memang menyukai mula menjelang akhir. Seperti hujan sore atau sakit hati bulan desember. Entahlah, desember yang pelik dan rumit. Saya butuh pengalih, bukan quotes bijak anti galau. Ada sisa gejala horror yang telah terbawa sejak November. Kecewa, benci, marah, berkecamuk tak terkendali. Kenapa, kenapa, kenapa dan milyaran pertanyaan yang tak butuh jawaban menghipnotis alam bawah sadar. Iya, saya sedang berduka. Waktu adalah sebaik-baiknya obat sakit hati, hingga pada fase berduka terakhir. Ya, penerimaan. Skip Desember, please. Tak ada list resolusi special di 2016. Kalo boleh negjiplak, “akan tiba waktunya kita harus sibuk-sesibuknya untuk sukses sesuksesnya, agar beberapa paham penyesalan bisa saja datang bersama perpisahan” (@wiranagara).

Kamis, 04 Juni 2015

Lampau

“Padahal ku ingin yang lampau, yang kini tak terjangkau” (Sapardi Djoko Damono)
Labirin waktu 10 tahun lalu itu masih meliuk-liuk dalam setiap detak pompa jantung. Iya, yang lampau yang tak terjangkau. Kedua bola mata pun bahkan tau diri hanya untuk mencuri pandang. Lalu hanya mampu menitip pesan-pesan rindu melalui do’a. dan? Ia menerimanya? Tak ada balasan hingga bahkan langit lelah membiru. Adalah lelah yang setiap paginya ingin aku nyanyikan.   

Lalu setengah lelahku terbang menguap mengangkasa. Terisi oleh mimpi yang terjanji di tengah labirin waktu 10 tahun lalu. Ku biarkan kau masuk dalam labirin ini, semoga bisa menuntunku menemukan apa yang ku cari. Sekarang kau tau kan, betapa egoisnya aku. Dengar bisikku, hanya dua pilihan untukmu orang baru. Cari apa yang ku mau lalu kau mati sia-sia. Atau, berdirilah disamping ku, tentu kau boleh masuk. Mengalir disela butir darah ku, keluar masuk dinding jantung ku, menyapa setiap sel tubuhku, lalu sabotase setiap celah otak ku sesuka hati mu. Pilihan yang adil.

Ah sudahlah, meski setengah lelahku telah berhasil berkelana mancari tempat bersandar yang mungkin tepat, setengah lelah lainnya entah dimana ia bersembunyi. Hanya sesekali terasa sesak hingga ubun-ubun.


Dan akhirnya kubiarkan semuanya terlunta-lunta. Mungkin seperti debu kemarau yang tersapu gerimis. Jika kau paham, harusnya kau lebih sibuk mengingatkan ku.

Sabtu, 16 Mei 2015

KETIKA SI BUJANG JATUH CINTA

Selamat pagi, Senja.
Sebab senja ada setiap pagi. Setiap matahari hendak menepati janji pada semesta setelah ayam jantan menyahut manusia yang masih terlelap hingga matahari akan kembali perlahan merangkak di kaki langit lalu kembali membuat janji. Janji yang akan selalu ditepati hingga Tuhannya berkata berhenti.
“Selamat pagi, Senja!!!”
Teriakan suara si bujang dari jalanan berukuran lebar 2 meter tepat di belakang rumah cahaya. Rumah cahaya, rumah yang selalau memberikan cahaya kasih sayang pada setiap anak-anak yang tidak mengetahui siapa ayah dan ibu mereka.  Termasuk aku, Senja. Bunda Nini bilang, saat itu senja yang sangat indah. Dengan langkah tergesa-gesa seorang wanita paruh baya langsung meletakkan sebuah kardus di depan rumah cahaya. Lalu ia lari tergopoh-gopoh dan mungkin menangis. Tak sempat Bunda Nini bertanya sepatah kata pun. Wanita itu seketika hilang seperti hantu. Bunda Nini memandang lekat seonggok daging yang ternyata masih bernyawa. Seorang bayi yang dengan kuat menangis menjerit. Bayi itu tahu, ia kini telah ditinggal pergi oleh wanita tadi. Yang mungkin ia lahir dari rahimnya. Bunda Nini lalu hanya memanggil bayi itu dengan senja. Hanya senja. Aku.
Bulan berlalu tahun berganti. Senja tumbuh. Cantik. Dengan mata bulat dan agak besar, hidung nan elok meski tak mancung, bibir tipis dengan tahi lalat kecil di sudut kanan bibir bawah. dan  rambut hitam yann selalu dikucir ekor kuda. Sayang, Senja tumbuh tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun, tak mampu mendengar sebait kalimat pun tanpa alat bantu mendengar. Ya, dan itulah senja sekarang. Aku, si Senja berumur 24 tahun.
Pagi ini matahari belum terlalu terik. Bergegas aku membuka jendela kamar. Mencari sumber suara tadi. Suara si bujang. Lelaki muda paling berkarisma yang ada di rumah cahaya. Aku tak mampu bersuara apa pun saat ia melambaikan tangannya saat berlari kecil mengelilingi halaman belakang. Seperti pagi-pagi sebelumnya aku hanya mejawab dengan senyum lebar dan  mata yag berbinar. Ia tampak gagah dengan keringat yang mengucur di wajah dan lehernya. Aku langsung berbalik badan.
“Tidak. Behenti terpesona”. Aku menggerutu sendiri dalam hati
Bujang pun sama seperti ku. Entah kapan ia menjadi anak Bunda Nini dan menjadi saudara kami. Tak ada yang tahu. Hanya ia dan Bunda Nini. Sebab Bunda Nini tak pernah menceritakan bagaimana kami hingga bisa berada di rumah cahaya kepada orang lain. Aku hanya menduga, bujang terlebih dahulu menjadi penghuni rumah cahaya sebelum gadis senja itu tiba. Karena si bujang sekarang 25 tahun. Entahlah, itu hanya dugaanku.
Bujang adalah penggila senja. Senja yang sesungguhnya. Saat matahari benar merangkak di kaki langit ufuk barat. Lalu tercipta mega dan langit emas. Ketika beberapa penghuni rongga langit menyikap tirai sore lalu akan terlelap.
Setiap petang pun adalah detik-detik menggoyak jantung. Oleh setiap dongeng dan mimpi-mimpi si bujang. Seperti hari terakhir sebelum si bujang merantau untuk kuliah. Hari itu ia lebih awal mengajak ku di bukit tidak jauh dari rumah cahaya. Bukit yang setiap harinya bujang berdiri dan berteria mengucapkan selamat tingga kepada kekasihnya, mentari sore. Sunggu si bujang telah gila sejak ia lahir.
“Ada dongeng apa hari ini?” Aku menepuk pundaknya dan  memainkan jari membuyarkan lamunan si bujang
Perlahan bujang membuka tas kecilku dan mengambil alat bantu pendengaran lalu memasangnya di telingaku.
Perlahan ia berbisik “peri hujan”
Bujang tetawa kecil mungkin karena melihat ratusan tanda Tanya menempel di muka ku bak jerawat rindu seorang kekasih.
Kami duduk saling membelakngi dan bertemu punggung. Ia pun mulai mendongeng dan dan berimajinasi gila, menurutku.
Ah, aku terkantuk seperti biasa. Lalu kami akan pulang saat matahari telah benar tertelan ujung bumi sejauh mata memandang. Seperti biasa, bujang selalu menggendong ku karena ia tak selalu tega membangunkan si difabel ini saat ia terlelap. Oh bujang, harusnya ini terakhir kali kau menggendong ku.
Bujang masih berlari kecil mengelilingi taman belakang. Tiba-tiba ia mengejutkan ku dari balik jendela. Kaget, aku langsung menjatuhkan alat bantu pendengaranku. Bujang pun sigap melompati jendela yang tidak terlalu tinggi lalu mengambil alat bantu pendengaranku lalu ia menyigap rambutku lalu memasangnya kembali ke telinga ku. Wajah kami hanya berjarak sekian mili meter. Mungkin pun bersentuhan. Oh tuhan, seluruh tulangku serasa hilang. Bujang pun kembali melompat keluar melalui jendela. Ia mulai memainkan jari tangnnya yang berarti: “sebentar sore kita ke bukit belakang ya, seperti biasa”
Aku hanya mampu mengangguk pelan. Terpesona,
Enam tahun berlalu bujang pulang dengan gelar sarjana. Tak ada yang berubah. Ia tetap bujang yang menawan, dan semakin menawan. Untuk pertama kalinya setelah enam tahun kami kembali ke bukit dongeng. Menyapa petang dan seluruh makhluk yang menikmatinya.
Aku memainkan jari ku.
“Setelah enam tahun pasti banyak dongeng yang kau simpan, hari ini mau cerita dongen yang mana dulu?”
Ia langsung duduk di hadapanku.
“Hari ini tinggal satu dongeng yang tersisa, selebihnya sudah ku ceritakan.”
“Ohya? Sama siapa?”
“Diakhir dongeng ku akan ku beri tahu. Kali ini tentang peri senja.”
“Peri lagi?” Aku menyela
“Iya, tapi dia berbeda dengan peri yang lainnya. Ia benar ada. Di bukit sana.” Bujang menunjuk bukit kecil tepat matahari akan terbenam.
“Di sana sangat banyak peri senja. Mereka berwarna emas. Itu lah kenapa setiap senja langit berwarna emas. Mereka menebarkan cahaya mereka ke seluruh penjuru langit. Tapi, sebenarnya salah satu diantara mereka adalah dulunya seorang manusia. Ia dihukum menjadi peri senja dan mengatur detik-detik terbenamnya matahari.”
“Kenapa dia dihukum?” Aku kembali menyela
Bujang tampak berpikir. “Karena dulu dia sangat tidak menyukai senja. Ia bisa kembali jadi manusia kalau ia bertemu dengan pria yang menyukai senja. Makannya, setiap malam ia diberi kesempatan berubah menjadi manusia dan mencari pria tersebut.”
“Bagaimana dia tahu, kalau pria tersebut menyukai senja? Dia kan jadi manusia di malam hari.”
D”ia akan menempelkan alat pendeteksi apa yang akan dilakukan pria tersebut seharian. Jadi, dia tahu apakah pria tersebut betul menyukai senja atau tidak.”
Bujang mulai ngawur. Pikirku dalam hati.
“Lalu? Ia bertemu dengan pria tersebut?”
“Tentu. Mereka berkenalan di pantai pinggir kota pada malam bulan setengah purnama. Langit malam yan"g cerah dan bebauan sisa senja masih tercium.”
“Jadi?”
“Si peri senja itu kini telah jadi manusia dan hidup bahagia dengan pria penyuka senja tersebut.”
“Klise. Selalu saja berakhir bahagia. Apa setiap dongeng begitu?”
“Tentu, karena setiap dongeng adalah mimpi dari penciptanya. Siapa yang tidak ingin berakhir bahagia hidupnya.”
“Tetap saja klise.”
“Tumben kau tak tertidur.” Bujang menggodaku.
L”alu, kepada siapa kau menceritakan dongeng lainnya?” Aku mengalihkan pembicaraan.
Sebelum menjawab, kali ini bujang menarik napas panjang, lalu tersenyum dengan sangat manis. Oh tuhan, pipi ku memerah.
“Peri senja, maksud ku peri senja yang kemudian berubah menjdi manusia.”
“Dan kamu adalah pria dalam dongeng itu? Peri senja itu, maksudny perempuan itu siapa?”
“Besok kau akan menemuinya.”
Singkat, jawaban bujang yang membut nyawaku telah smpai di tenggorokan. Jari tangan ku kaku.
“Ayok pulang, sudah gelap.”
Bujang memasang posisi akan menggendong ku. Aku hanya berjalan lurus dengan tatapan kosong mengikuti jalan setapak menuju rumah cahaya. Bujang sangat tahu, saat itu ia telah membuatku patah hati oleh peri senja nya.
Dan si bujang telah benar jatuh cinta. Oleh setiap kegilaaannya pada senja Tuhan setiap harinya.    
Benar saja, besoknya perempuan jelmaan peri senja itu datang. Cantik, anggun seperti peri. Bagaimana tidak bujang tak terpesona. Benar akhir kisah dongeng yang selalu ada, mereka hidup bahagia selamanya.
Si bujang pun jatuh cinta.

Makassar, senja hari.