Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2014

Senja

Beberapa detik saya harus memperbaiki perasaan sejenak memejamkan mata, menghela napas panjang beberapa kali. Menyetel lagu irama klasik. Sempurna.

Pagi menjelang siang yang terik. Awal November yang biasa. Saya sedang menanti senja. Ada tujuh detik special padanya. Saat matahari benar-benar merangkak perlahan tertelan ujung bumi. Ketika matahari lenyap untuk menepati janji pada milyaran manusia di belahan bumi lain, termasuk kamu.

Tujuh detik special yang mungkin kau kejar hampir setiap senja selama hidup mu. hingga tak pernah kau perdulikan pagi yang anggun, saat matahari senja mu itu masih awal menggandeng langit dan penghuninya. Hingga kau tak memperdulikan malam, saat matahari senja mu itu menitipkan cahayanya pada megahnya bulan dan milyaran penghuni langit malam lainnya. Kau tak pernah perduli. Kau hanya mengejar senja. Tujuh detik special bersamanya.

Saya bukan penikmat senja, bukan penikmat the aroma melati bersama kenangan yang menyertainya. Saya hanya selalu menanti pagi dan penikmat angin malam. Tidak pada senja. Karena mega yang terlampau menyilaukan. Dan tak ada fatamorgana memeluk senja.

Mengapa pagi. Sebab pagi menjanjikan mimpi. Menjanjikan segala cerita yang bertabur rasa syukur hingga malam menjadi sangat gelap.

Mengapa pada angin malam. Sebab malam menjadi penutup cerita. Setelah semua janji fajar pagi terpenuhi, terbawa angin malam menanti pagi esok.

Jelas sudah, kita tak akan pernah bertemu dalam lingkaran kehidupan nyata. Kau hanya autis dalam senja mu dengan seduhan secangkir the hangat dan sebatang rokok. Tujuh detik special, bersama tegukan teh dan hisapan batang rokok. Sempurna senja pilu. Pagi mu hanyalah pagi. Malam mu cukup menjadi jembatan untuk melewati hari berikutnya.

Sekali lagi saya harus menghela nafas panjang. Matahari semakin terik. Saya akan baik-baik saja sebelum senja tiba. Setidaknya saya harus menyaksikan pergulatan cahaya matahari dan tepian bumi hari ini. Menanti fatamorgana terakhir. Mungkin.

Sebelum akhirnya senja, sebelum akhirnya kau berpesta. Saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Terima kasih untuk setiap fatamorgana yang menyilaukan, untuk semua kenangan yang mustahil terlupa, serta senyum dan tatapan mata tak terbaca.

Entah bagaimana seharusnya. Saya sudah cukup frontal, cukup jujur. Jika pun kau paham dan mengerti, ya sudah. Jika pun tidak, ya sudah. Saya baik-baik saja.
Maaf telah lancang menyebut nama mu dalam setiap do’a dan sujud ku. Mungkin itu tak akan terjadi lagi.

Saya hanya perlu mengehela napas yang lebih panjang lagi. Mengeluarkan seluruh CO2  yang menyesakkan dada.

Minggu, 22 Juni 2014

Cerpen --> Ayah, Aku Patah Hati

Ayah, Aku Patah Hati
“Wajanya masih datar, Yah. Masih teduh, kosong tapi…”
“Tapi apa sayang?”
“Tapi rumit. Selalu datar. Saya tak pernah sedikit pun membaca hati dan pikirannya melalui wajah cueknya.”
“Sayang, pastinya kamu tidak bisa membaca hati dan pikirannya jika hanya melalui gambarnya.”
“Ah, ayah..!!” Aku menyandarkan kepala ku ke pundak pria yang sangat aku hormati dengan nada manja.
Ayah, pria pertama yang aku sandarkan kepala ku di bahu dan dadanya setiap kali dunia terasa kejam dan pahit. Wangi khas tubuhnya terasa melekat dalam penciuman ku. Tak sedetik pun aku lupa wangi beliau. Ayah sering kali menggodaku, “lalu, mana pria lain yang akan kamu sandarkan kepala mu?”
Pundak ayah kenapa? Apa mulai lelah dengan sandaran ku?
“Tidak selamanya kamu akan bersandar di pundak ayah. Akan tiba waktunya kamu butuh pundak pria lain. Anak ayah kan sudah dewasa”. Ayah usil sembari mencubit hidungku.
“Hampir Yah, hampir ada. Dia yang wajahnya teduh, datar, dan kosong”. Kali ini aku serius.
“Hampir? Lalu?” Ayah juga terlihat lebih serius kali ini.
“Entah lah, Yah. Tidak pernah ada permulaan. Jadi tidak bisa saya katakana telah berakhir pun.”
“Siapa dia sayang? Apa ayah mengenalnya?”
“Ayah tidak mengenalnya. Bahkan saya pun tidak sepenuhnya mengenalanya. Dia hanya seorang kenalan di masa lalu. Tapi kami cukup sering bertemu dalam tengah malam. Ah, itu pun jikan saya terlelap untuk memejamkan mata.”
“Sejauh mana ia mengenalmu, sayang?” Ayah mulai membelai rambut panjang ku,
“Miris, Yah. Dia hanya tau nama lengkap ku dan nama ayah. Itu pun karena ia melihat nama ku di daftar absen di sekolah.” Mata ku pun mulai berkaca-kaca. “Aku rindu ayah”. Aku memeluk beliau erat bersama tangisku yang pecah. Ayah membalas pelukku. Mencium kening ku beberapa kali. Beliau sangat tahu ketika aku merajuk seperti ini adalah saat-saat sulit ku.
Hening. Beberapa saat hanya suara desiran angin yang membawa terbang dedaunan kering. Setelah lelah menumpahkan air mata, aku mulai membuka mata ku. Masih dalam dekapan hangat ayah. Aku mencoba memandangi sekeliling. Banyak pohon beringin tua, denan tanah yang dipenuhi rumput yang tidak begitu terawat. Bau tanah selepas hujan tadi pagi begitu terasa, bercampur dengan bau khas rumput hijau. “Akh, kenapa tempat ini begitu sunyi.” Bisikku dalam hati.
“Anak ayah sudah puas nangisnya?” Suara ayah rasanya begitu hadir tiba-tiba dan mengagetkan ku.
“Yah, anak mu patah hati. Nada suara ku kembali merajuk.”
“Karena?”
“Ada rasa sakit saat cinta itu tidak aku dapatkan. Sakit Yah, bahkan air mata pun rasanya tidak sebanding dengan apa yang aku rasa.”
“Apa tidak berlebihan sayang?”
“Mungkin Yah. Bukankan roman picisan memang selalu dengan kisah yang berlebihan?”
“Lalu, di mana dia? Dimana si empunya wajah teduh dan datar itu? Bagaiamna dia sekarang?”
“Ayah bertanya pada ku? Justeru aku selalu bertanya pada Dia yang Maha Tahu tentang itu. Tak ada lelah ku bertanya,Yah.”
Aku hanya mendengar ayah menghela napasnya dengan begitu panjang. Aku tahu, ayah sedang berpikir keras untuk menenangkan pikiran anak gadisnya yang keras kepala ini.
“Ah, sudahlah Yah… dengan berada di pelukan mu seperti ini, tiada lagi pria mana pun yang lebih hebat selain ayah. Melupakan dia yang tak pernah mengingatku tidak akan jadi hal rumit. Hanya butuh waktu dan sedikit kesibukan, kesibukan merindukan yang lain. Bukan kah ayah pernah mengatakan itu sebelumnya. Patah hati juga bukan perasaan langka yang harus dilebaykan. Aku tak akan jadi anak cengeng mu ayah, yang akan menangis dan bermelankolis jika harus patah hati. Cukuplah aku menggila karena patah hati atas kepergian mu, Ayah ku.”
Desiran suara angin kembali ku dengar, kali ini lebih keras. Beberapa helai daun mendarat di kerudung hitam ku yang tersandar di bahu. Masih sunyi. Tak ada ayah. Hanya segundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan kecil di depanku. Aku mulai menyiraminya dengan air dari botol air mineral yang kubawa. Ku taburi beberapa bunga. Ku elus lembut batu nisan yang bertuliskan nama ayah ku.
Sepenggal kalimat terngiang di kepala ku bersama tenggelamnya senja:
“Sayang, cobalah berwudhu, lalu bentangkam sajadah dan katakan pada Sang Pemilik Cinta, kau mencintainya.”
Ayah baru saja membisikkanya.

By @ulfayasin
Makassar, 23 June 2014


Kamis, 24 April 2014

REHHA..

            Ini janji kedua. Sepupu ku yang punya riwayat tomboy di masa sekolah juga ingin publikasikan tentang dia dan ceritanya versi penulis. Aku. Enaknya panggil apa ya? Mbak? Terlalu feminim deh kayaknya. Panggil nama aja deh. Oke fix.
            Aku lupa pertama kali ketemu dan kenal Reha. Kita emang sepupu. Sekelas waktu TK. Satu SD, SMP, dan SMA. Tapi, sekarang kita bahkan beda Negara. Reha emang suka lambung kiri. Dia duluan nginjak tanah Negara tetangga. Aku lho, baru nginjak pulau jawa berasa masih mimpi.
            Memori masa kecil masih tersimpan rapi nan anggun di kepala ku. Seoarang Reha dengan sosok yang paling sering memberontak dan menangis sejadi-jadinya. Ada apa? Maaf jikalau dulu aku hanya bisa menatap nanar beberapa peristiwa yang tak seharusnya jiwa dan fisik seorang anak SD memperolehnya. Kadang didikan dan nasehat orang dewasa masih terlalu rumit untuk dicerna gadis mungil. Sebab itu, Reha menjadi sosok yang lebih tegar dan kuat. Jauh dibanding aku atau mbak ku dan beberapa sepupu ku yang lain.
            Ibarat ketua geng, kita berempat sering bareng. Masih ingat? Dulu sebelum ada air PAM hampir setiap hari kita mencuci pakaian di sungai. Kamu yang terkuat membawa pakaian kotor, mencucinya dengan gigih lalu membilasnya pada arus yang deras. Aku hanya melihat dan membantu semau ku saja. Selepas itu kita berenang, lalu pulang dengan membawa segenggam tanah liat tepi sungai bahan dasar untuk membuat telepon genggam. Masa bermain yang sempurna.
            Jika musim menanam tiba hingga musim panen, tak pernah alpa Reha menjadi bagian dari pasukan yang menanam bulir padi, menyiangi, memanen, menjemur gabah, hingga menyulapnya menjadi beras. Lha aku? Aku Cuma bisa bantu menyiangi semak walaupun masih belum becus. Ikut bantu memanen sedikit. Dan ikut menjaga gabah yang dijemur dari serangan mereka yang mengincar. Reha benar-benar pekerja keras. Aku tahu tak sepenuhnya semua itu dari hatimu. Tapi status dan alam yang memaksa mu untuk melakukannya.
            Kehidupanmu lebih dinamis ketika berseragam putih abu-abu. Mencoba peruntungan dan kebahagaian di berbagai atap. Sayang, tak banyak perubahan. Air mata itu selalu menetes. Bahkan diringi tangisan yang terkadang keras dan memilukan. Beberapa hanya melihat kurang dan cacat mu. Tak menyukai kepribadian mu. Hey, Reha hanya seorang remaja yang sedang tumbuh dan berkembang secara normal. Kenapa harus menuntut ia sempurna? Mengerti dan bacalah kehidupannya di masa lalu. Perlakukan ia sedikit lebih istimewa. Seandainya dulu aku lebih mengerti, akan ku suruh mereka membaca mata mu baik-baik. Betapa banyak yang mereka tidak mengerti tentang mu.
            Reha, aku tidak pernah mengerti bagaimana tumbuh tanpa pelukan sosok ibu. Tapi kamu jauh lebih mengerti itu. Aku tidak pernah mengerti bagaimana menjalani hari-hari dengan sosok ayah yang jauh dari fisik kita dengan kabar yang tak pasti. Tapi kamu sangat mengerti itu.
            Dan oleh karena itu betapa aku kagum pada hati mu yang kuat. Kuat menyembunyikan betapa sebenarnya kau rapuh.
            Tetua, senior, kakak, tante, ibu, leluhur, nah lho.. ibarat itu lah Reha ku umpamakan. Kadang betingkah seperti manejer seorang artis. Rajin mengatur kami, bahkan untuk hal-hal kecil. Jalan-jalan sore. Tak jauh beda dengan sikap ibu kost pada umumnya. Jadwa mencuci, ngepel, masak, beres-beres rumah. Omaigatt.. aku bahkan pernah frustasi hidup dengan seorang “pengatur” seperti itu. Tapi, justru itulah yang bikin kangen dengan seorang Reha sekarang ini.
            Cekatan, gesit, mungil, rambut keriting gantung, kerudung yang kadang lepas kadang nempel di kepala, punya banyak teman cowok, sering jadi mak comblang, senantiasa ikhlas menjadi penengah masalah, dan beberapa aib yang tak bisa diutarakan. Itu lah Reha. Kini tumbuh mandiri dengan memetik rupiah sendiri. Jauh di negeri tetangga, pahlawan visa, pahlawan bangsa yang terlupakan. Hey, Bagaimana kuliah mu? cuti?
            Reha, pernah begitu lama memendam sayang pada seorang teman di masa lalu, teman di masa seragam putih biru hingga beberapa waktu lalu. Apa ku salah? Tak perlu kau gubris, semua itu adalah masa lalu. Dan kini mungkin ada sosok baru yang menemani mu dari jauh di sana.
            Reha, jaga diri, jaga kesehatan, jaga sholat. Maja labo dahu di negeri orang. Malaikat kecil mu menantimu kembali ke tanah kelahiran. Adek bungsu ku juga telah gatal lidahnya ingin memuntahkan semua ceritanya pada mu. Tandai kalender mu ada hari indah di tahun 2017 kelak. Dan.. wajib oleh-oleh dari Taiwan untuk ku, yang tak rusak dimakan waktu. Maaf memaksa. Kami semua merindukanmu, J

            

Kamis, 16 Januari 2014

Corat Coret

Tiap tahun pasti gini. Situasi sulit. Puncaknya segala bentuk kegelisahan. Tak pernah ada prosedur yang sempurna. Kemudian memilih, lalu ambil keputusan, akhirnya menanggung resiko, dan lagi harus beralibi.
Simple. Ujung-ujungnya, nitip KRS, omelan PA urusan belakang. Bolos kuliah satu minggu perdana, nitip tanda tangan? Kalau bisa. Bagus kalau bukan kuis dihari pertama. Jangan protes kalau bukan nilai A cantik nan indah yang muncul di KHS.
Resiko anak rantauan. Berkeliat dari hitam di atas putih peraturan akademik dan kemahasiswaan yang mengikat. Bahkan pulang kampung yang harusnya menjadi ritual sakral sekali setahun sering terusik oleh sms jadwal KRSan, pergantian PA dan kuliah perdana.
Bukan apa-apa sih, hanya soal pilihan. Puas pulang kampung dengan menggantung seabrek prosedur penentu masa depan, atau pulang kampung singkat tapi urusan bakal masa depan beres. Apakah adil..? Pulang kampung hanya beberapa hari dengan perjalanan neraka atau bajet 15 kali lipat ongkos pulang kampung mahasiswa lain. Ada lagi, hanya beberapa hari untuk keluarga mu dalam setahun? Hanya beberapa hari untuk teman SMA mu dalam setahun?. Sekali lagi, adil..??
Mereka sih enak  bahkan tiap weekend bisa bertemu orang tuanya, paling lama ya cuman 6 jam perjalanan. Setelah balik ke rantauan, beraneka ragam bekal untuk penghidupan diangkut, ditemani pula sama keluraganya. Saya? Boro-boro bawa bekal segudang, bawa diri aja rasanya berat. Hanya mengandalkan ATM yang semoga gemuk selalu untuk melanjutkan hidup. Tak ada pisang, tak ada buras, telor ayam apa lagi,dan aneka lauk khas daerah lainnya. Makannya jangan heran saya suka makan ikan di sini, saya suka jus mangga,  jus nangka, dan jus sirsak. Itu adalah obat jiwa. Homesick.
Lihat saja betapa malam ini saya gelisah dan tak tidur hingga adzan subuh berkumandang. Betapa tidak, sebentar pagi saya melihat matahari di tanah kelahiran dengan meninggalkan KRS yang belum tau kapan baru bisa di on line kan bahkan telah ngaret 2 minggu (gara-gara yang satu ini semua rencana berantakan), berkas wisuda yang belum pula di on line kan dan lebih-lebih dikumpul. Hey, saya tidak akan diwisuda Maret nanti, kalau tidak on line dan tidak mengumpulkan print out nya. Lalu saya belum mendaftar untuk profesi ners, deadline nya akhir bulan depan. Kenapa? KRS belum ada, surat a..b..c.. belum ada. Rasanya ingin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sambil beteriak. Meski tak menyelesaikan persoalan, setidaknya partikel-partikel yang membuat dahi ini kerut bisa ku bebaskan sejenak. Tak apa sejenak.
Seperti nya akan selalu seperti ini tiap tahunnya. Dan dengan polosnya, seperti ada bisikan di telinga saya. “kita memang selalu berencana, dan selalu akan begitu. Kemudian kita secepatnya kita dituntut memutuskan. Done. Tapi jreng…jreng.. rencana meleset, keputusan terlanjur ketuk palu. Mau tak mau harus ada kerugian. So? Terpuruk pada kerugian bukanlah pilihan. Bagaimana meminimalisir kerugian adalah rencana sekarang. Kita yang paling tau langkah apa yang terbaik untuk kita sekarang. Lakukan, nikmati, dari pada nothing. Tuhan aja nurunin penyakit beserta obatnya, so pasti masalah juga ada sejalan dengan solusinya”.

Makassar, 17 Januari 2014

02.53 dini hari, malam dalam mendung

Sabtu, 04 Januari 2014

Fatamorgana

Aku tau betapa kamu sangat tergila-gila pada warna emas laut di senja hari.
Atau pada saat ombak memamerkan keganasannya di bawah anggunnya langit biru, bersama riuh angin bahkan di sela dinginnya hujan.
Aku juga tau betapa kamu menyukai tanah dan segenap lekukannya, pesona tebimg yang perkasa atau sekedar berdiri di puncak bukit untuk menyentuh langit.
Aku juga tau kamu terpesona pada riak sungai. Menjatuhkan dau kering kemudian melihatnya menghilang terbawa arus yang damai.
Aku juga tau kamu sering menghadapkan kepala mu ke atas saat terik menyengat. Beradu tatap dengan terangnya mentari tengah hari. Dengan mata tinggal segaris kamu mencuri pandang pada awan yang menari. Menanti hujan untuk bersembunyi di balik rinainya.
Aku berharap aku tau suatu saat kamu akan menceritakan semua itu kepadaku, tidak melalui angin. Tapi, saat kita berdiri bersama di atas jutaan butir pasir pantai, tempat terindahmu.
Dan kemudian aku yang paling tau betapa kamu adalah palsu, tidak pernah ada.

Kamis, 02 Januari 2014

Aku dan 2013


Januari
Januari di 2013 hujan turun dengan anarkis. Makassar banjir di mana-mana. Kondisi terparah selama aku merantau. Danau Unhas meluap dan berhasil membuat motorku mogok untuk pertama kalinya. Dan ada kisah pilu atau tepatnya memalukan bersama derasnya hujan. Sebagai seorang perempuan nomal, sempurna aku merasakan remuknya hati akibat putus cinta. Dan beneran, aku bahkan menghabiskan tissue satu pak gede untuk air mata yang sia-sia. Ini bukan fase denial, menolak, tawar-menawar atau pun fase depresi. Sumpah, ini fase marah. Marah pada diri sendiri. Bodoh..bodoh.. tak henti ku caci diri sendiri. Dan mulai pada saat itu aku berjanji ini adalah kebodohan pertama dan terakhir.
Hujan-hujan aku juga berhijrah kosan. Ya, pindah kost emang ribet bin rempong. Angkat dua jari, gak lagi deh pindah kosan. Kapok.
Januari adalah full libur semester ganjil. Liburan ke pulau jawa? Siapa takut. Alasan pertama, bajet pulang kampung malah lebih mahal, alasan kedua menghindar.
Januari bersama Bromo. Sumpah Tuhan, aku gak pengen balik Makassar.

Februari
Perkuliahan aktif kembali. Memaksakan diri untuk move on dari masa liburan. Februari yang special, gak susah nyari inspirasi buat nulis. Bekas air mata di januari cukup menjadi bahan corat-coret. Jadi keinget kata-katanya Asma Nadia “waktu menulis yang keren itu pada saat jatuh cinta dan patah hati”. Kayaknya emang postingan terbanyak di blog ku itu di Februari. Bangga sama diri sendiri.

Maret-mei
Nothing special. Hanya menyibukkan diri dengan kuliah, presentasi, CSL, ujian blok, OSCE. Melepaskan status sebagai pengurus harian Himpunan, lega banget rasanya. Oh iya, akhirnya diumumkan nama-nama pembimbing skripsi. Rasanya itu, deg-degan kayak abis nembak cowok dan digantung berminggu-minggu. Next, pengumuman nama-nama penguji. Pas tau dapat penguji yang kata senior perfecionist, kayak ngajak balikan mantan tapi ditolak. Lemes seluruh badan.
Persiapan KKN kemudian menyita waktu dan pikiran. Kambali merantu 8 minggu ke depan. Ribet, perbanyak bawa celana panjang, baju tidur, kaos lengan panjang dan jilbab pasang. Soalnya kita serumah sama cowok. Teman-teman baru, rumah baru, “orang tua” baru, aktifitas baru, rutinitas baru, yang gak boleh dilupain, menu makan yang  baru.

Juni & Juli
Perhelatan KKN dimlai. Seperti biasa, segala sesuatu yang baru dimulai dengan adaptasi. Move on lagi. Kerja proker, berusaha manis dan ramah pada masyarakat, piket masak dan cuci piring yang setiap hari menghantui.
Ramadhan di lokasi KKN adalah ramadhan termiris sepanjang hidup. Tak ada kolak pisang, cendol hangat, dan segala sesuatu yang bersantan. Alhasil, jika tiap ramadhan aku gemukan, ramadhan kali ini aku turun 3 kg. lumayan. Lebih miris, beberapa kali harus buka puasa dengan bakso depan kantor camat. Gak sempat masak Karena kecapean kerja proker penyuluhan. Atau pada saat ceramah shalat taraweh, cuman bisa mandangin pak ustadz yang ceramah pake bahasa daerah sampe-sampe ditegur temen karena lupa mingkem. Dan jurnal, buku harian pada saat berKKN ria, saksi kehidupan mahasiswa yang sedang melewati proses menjadi mahasiswa sejati. Bekuliah sambil bekerja dengan nyata. KKN.

Agustus
KKN berkahir. Waktunya pulang kampung. Cuman 9 hari. Lumayan menyesakkan dada. Skejul padat. Buka puasa bersama, piknik bareng atau sekedar kumpul-kumpul berbagi (lebih tepatnya “pamer”) pengalaman di rantauan bareng teman sekolah dulu. Semua itu adalah ritual wajib kalo pulang kampung. Maka nikmat apakan yang didustakan mahasiswa rantauan selain pulang kampung? :D

September
Akhir sepetember aku seminar proposal. Persiapan matang fisik dan mental. Tapi, jreng..jreng.. meski proposalku diterima, aku merasa pembantaian batin pada saat itu. Tidak perlu ku deskripsikan, biar menjadi aib pribadi. Hehe


Oktober
Nekat, sembari menunggu surat rekomndasi penelitian, aku dan temanku Ayu ber “bolang” lagi ke Pulau Jawa. Malang dan Jogja adalah planning sementara. Jalan ala backpacker lumayan lah menghemat bajet kurang lebih 50%. Puas keliling Kota Malang, waktunya jogja diserbu. Candi prambanan, candi Borobudur di Magelang, dan lokasi romantisnya jogja yaitu taman pelangi dan bukit bintang. Emang sih, tiga hari sangat..sangat singkat mengenal Jogja.

November
Jujur, November tidak begitu special meski ini bulan kelahiran ku. Ulang tahun dan perayaan bukan lah kegemaranku. Maaf, aku tidak suka pesta, meski itu perayaan kecil-kecilan. Cukup do’a, cukup.
Penelitian untuk skripsi tercinta masih berlanjut. Bolak-balik rumah sakit untuk ambil data pasien, kemudian menginputnya dengan hati-hati sampe meutar-mutar otak untuk mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menghasilkan pembahasan yang apik agar tak banyak revisi nantinya.

Desember.
Alhamdulillah. Fatimah Ulfah S.Kep
“Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar. Rahman)
16 Desember aku sidang. Tidak seperti kondisi seminar proposal yang menyisakan luka. Kali ini sidangnya mulus. 20 Desember Yudisium S.Kep. dan 24 Desember penyumpahan S.Kep. pake TOGA. Banyak yang kira udah wisuda Karena TOGA. Akhirnya sempurna rasanya menjadi mahasiswa.

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang.
Selamat datang 2014. Tuhan ijinkan saya menikmati kembali Desember 2014 Mu. Agar aku bisa bercerita lebih banyak lagi dari ini. Tentang nikmat Mu, tentang kesyukuranku, tentang indahnya menjadi hambaMu.

Amin ya Rabbal’alamin

Makassar, 1 Januari 2014

Minggu, 08 Desember 2013

SKRIPSWEET



Hai skripsi. Apa kabar di Desember ini? Masih betah dengan saya? Ya ampun.. padahal ingin sekali rasannya mengucapkan selamat tinggal padamu di akhir tahun ini. Ternyata pesona ku masih begitu begitu memikatmu. Tak ada toga di akhir tahun yang gerimis. Tepatnya belum.
Oh skripsi, bagaimana bisa kau begitu menggalaukan? Seandainya jari-jari ini tidak keriting karena tuntutan enam bab mu, telah ku bukukan kisah teman-temanku yang pernah berkencan dengan mu.
Biarkan ku sejenak mengeluh tentangmu.
Bahkan bergadang adalah hal yang biasa, bahkan sebelum tingkat akhir. Capek, lelah karena turun lapangan untuk mengambil data pun bukan moment yang greget untuk mengingat mu. Mata yang lama-lama jadi minus karena kelamaan depan leptop pun klise buat mahasiswa. Printer yang selalu memuntahkan hingga terbatuk-batuk ratusan kertas yang bertuliskan sejuta jurnal dan angka juga masih hal yang biasa. Bajet yang bikin nafas jadi separuh juga masih bisa termaafkan.
Lebih dari itu, kau membukakan mata tentang legowo dan dewi fortuna.
Legowo, begitu orang jawa bilang. Menanti beliau yang sibuk punya waktu luang untuk memeriksa draft skripsi, lalu mencoretinya dengan cantik. Legowo yang paling ekstrim saat lembar kontrak waktu terisi semua dengan tanda tangan pembimbing dan penguji dengan hari dan jam yang sama. Ekstrim, tak ada yang mengalahkan suara nafas lega seorang mahasiswa tingkat akhir saat kertas itu rampung ditandatangani. Ekstrim, dan mulai perampungannya 3 hingga 60 hari. Dan saat ini lah saya bertanya. Berapa jumlah dewi fortuna? Kemana dia? Dewi fortuna, seperti apa rupanya. Pasti sosok yang pemilih. Tentu saya tidak tau, dia tidak pernah menampakkan dirinya. Ya sudah, bahkan sekarang saya tak percaya jika ia ada. Misalkan ada yang punya dewi fortuna, tolong pinjamkan kepada saya hingga akhir tahun ini saja. Pasti akan saya kembalikan dengan utuh.

Jumat, 29 November 2013

Kisah si bungsu.

Paling bontot dari empat bersaudara. Si bungsu yang kini telah remaja dan hampir menyaingi tinggi kakak sulungya. Si bungsu yang pernah menjadi murid teladan di sekolahnya. Baju rapi yang tidak pernah terurai berantakan, sepatu bersih lengkap dengan kaos kaki. Rok biru tua yang telah disetrika licin, topi dan dasi seragam selalu. Culun? Tentu tidak. Rapi dan bersih.
Si bungsu yang pernah jadi juara umum dan murid teladan juga pernah jahil. Menjahili guru baru yang menurutnya tidak berkompeten di mata pelajaran yang beliau pegang.
#jam pelajaran IPS
Bungsu: “Bu guru, otoriteritu yang kayak gimanasih?”
Ibu guru: “Otoriteritu..umm..” (buka buku cetak IPS buru-buru)
Bungsu: “Ibu tau nggak sih sebenarnya?”
Ibu guru: “Iya, ibu tau dong.”
Bungsu: “Trus, ngapain kok buka-buka lagi buku cetak?
Ibu guru: “Ibu cuman pengen mastiin aja jawaban ibu sesuai buku ini.”
Bungsu: “Kalo kayak gitu sih, kita-kita juga bisa kali Bu”. (buang muka ketemen sebelah bangku sambil ngetos, senyumn gejek dan angkat alis sebelah).

#jam pelajaran IPS hari berikutnya
Bungsu: “Ibu, saya mau Tanya. New York itu di Negara manasih?”
Ibu guru: “New York ya? New york itu di luar negeri, di sana kota nya besar, ya hampir samalah dengan Jakarta.”
Bungsu: “Bu, kan saya nanyanya New York itu dimana, bukan New York itu bagaimana.”*pasang muka sok cemberut
Teman bungsu: “Sum, itu kan ada jawabannya di halaman 105. Ngapain nanya-nanya lagi ke bu guru?”
Bungsu: “Biarin aja, aku kerjaini bu guru. Abisnya, dia gak tau gitu pake ngajar IPS segala.”
*beberapa hari kemudian ibu guru yang sebelumnya mengajar IPS berhijrah dengan mengajar mata pelajaran muatan lokal. Misi si bungsu berhasil.

Si bungsu juga lumayan cerewat mengikuti celoteh versi kakak sulungya. Sering memprotes segala ejaan kata dari sang ayah yang menurut telingaya tidak sesuai.
Ayah :“Sum, kamu itu jangan lebaii.”
Bungsu :“Aduh, Paaah.. bukan lebaii cara ngomongnya. Tapi, lebay. Pake ye belakangnya. Bukan i.”
Ayah :“Kamu itu sum. Suka sekali protes Bapak.”
Bungsu :”Kan bapak emang salah. Aneh tau Pah dengernya”
Ayah: *geleng-geleng kepala sambil senyum
Si bungsu adalah mahluk paling sayang rupiah dibandingkan ketiga saudaranya. Pernah memilah-milah baju bekasnya yang masih layak pakai untuk di jual kembali kesepupunya. Lima ribu tiap lembarnya. Alhasil, hanya selembar baju yang laku. Kisah lain, sibungsu mengumpulkan sisa tepung terigu, gula, margarin dan telur ayam yang lolos dari timbangan ibunya di warung. Buru-buru ia menuju dapur dan mulai bergelut dengan peralatan dapur.
Sulung: “Sum, ngapain?”
Bungsu: “Bikin kue kak, kue biji ketapang. Mau gak?”
Sulung: *muka bingung. “Baik hati banget kamu dek. Boleh deh. Entar bawa ke ruang tengah yah. Lagi rame tuh nonton.”
Prosesi memasak kue pun selesai. Si bungsu buru-buru ke ruang tengah.
Bungsu: “Nih, semua. Jangan malu mencoba. Enak kok.” *sambil menyodorkan nampan berisi kue biji ketapang.
Sulung: “Kok pake kemasan plastic segala?”
Bungsu: “Emang, kan mau saya jual sama kakak-kakak yang mumpung hari ini lagi pada ngumpul. Lima ratu saja kok perbungkusnya.” *muka sumringah sambil memperlihatkan lima jarinya
Semua: Menatap kearah bungsu, ada yang bingung, melongo, tertawa kecil, dan menghela napas panjang.
Si bungsu emang lebih unik di banding 3 saudaranya yang lain. Meski bungsu, tidak pernah ia menanmpakkan sikap manja. Meski begitu ia tetaplah lebih peka dan sensitive. Pernah, hanya Karena gaya berhijabnya, ia ditegur oleh abangnya. Tidak ada yang salah dengan gaya hijabnya, hanya saja abangnya yang jahil dan tidak terlalu mengerti hijab. Dari pagi hingga jelang tidur tak ada sepatah kata yang ia keluarkan. Tunduk dan terkadang menangis. “Hai dek.. ini kan lagi lebaran..”
Si bungsu juga suka menulis diari diam-diam di kamarnya. Tapi dasar abangnya yang jahil dan iseng diam-diam membaca diari si bungsu. Malu? Otomatis. Tanpa pikir panjang seluruh lembar diari habis di makan api. Si bungsu membakar diarinya sendiri.
Si bungsu emang ngangenin. Celotehnya, gaya bicaranya, pemikirannya, dan ide-ide konyolnya. Dan jempol buat si bungsu.Yang telah berani berhijab lebih awal di banding kakak-kakaknya di waktu remaja.
Semoga tetap menjadi si bungsu yang penyayang, manis, dan mandiri. Kakak kangen cerita-cerita anehmu yang harusnya bisa di bukukan.