Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Maret 2014

Cupliz Ku

            Yang dikahwatirkan akhirnya tiba juga. Aku ditagih satu tulisan singkat “all aboutbrother kecil ku. Hey hai.. emangnya sejak kapan aku jadi penulis biografi.? Tapi ya udahlah. Kali ini aku berusaha keras memainkan jari tangan di atas keyboard si biru sembari memutar otak dan sesekali mengerutkan dahi atau menempelkan kedua jari telunjuk pada kedua keningku hanya untuk membangkitkan memori unik dan aneh tentang si Cupliz.
            Adek ku yang eksis di socmed dengan nama akun Anas Cupliz atau @anas_Cupliz. Punya followers belum nyampe 100 aja udah bangga. Dan sangat bangga dengan panggilan “Cupliz”. Hai dek, Cupliz itu pemain lakon jaman dulu banget yang pendek orangnya. Udah tau? Masih mau dipanggil Cupliz? Kamu emang dulunya “agak pendek”, sekarang udah paling tinggi diantara kita berempat. Masih mau dipanggil Cupliz?
            Si Cupliz yang dulunya tengil, item dan manja sekarang udah lebih keren dikit. Malahan udah pinter pacaran. Tuhan *tepuk jidat pengen pingsan. Udah berapa mantan mu? 3 ya. Ulala.. Ngakunya juga punya banyak fans apalagi di kalangan anak SMP. Percaya gak percya sih. Tapi pengakuan di Onge sukses buat meng skakmat keraguan ku. Yang bungsu ini manusia paling jujur, yakin dia gak pernah berbohong. “Kak, tau gak, abang Anas tuh punya banyak fans di sekolah ku. Tiap pulang sekolah tuh pasti nanya ke aku. Sum..sum.. abang mu mana? Pengen liat..pengen liat. Trus kak, kalo mereka liat abang Anas lewat pake motornya, mereka teriak-teriak gak jelas gitu. Malahan kak, dari jauh mereka udah tau kalo itu abang Anas. Katanya sih mereka kenal baik gaya dan motornya abang Anas.” Hey dek, stop. Tarik napas dulu baik-baik. Rasa-rasanya aku yang nyesek. Ini anak satu kalau udah cerita, dia lupa semua teori pelajaran bahasa Indonesia.
            Berhubung cowok sendiri, Cupliz jadi tumbal kalau-kalau ayah butuh tenaga asisten. Simple sih, paling ya kayak ngurusin ternak, cariin pakannya, ngurusin pipa air yang bocor, perbaiki pagar kebun sendiri atau pagar kebunnya orang yang jebol gara-gara oong (sapi peliharaan Cupliz), dan cariin si ternak hingga jam 2 dini hari pada saat-saat mereka hilang. Lho kok kayak ribet ya? Kasian juga Cupliz, padahal dia masih SMP, udah kerja ekstra begitu. Pulang-pulang dengan muka kusut tanpa mandi langsung masuk kamarnya, corat-coret dinding gak jelas yang mengasilkan karya wajah roker gagal move on. Atau pernah suatu kali dia berhasil memecahkan kaca cermin hingga hancur berkeping-keping dengan satu kali tinju. Untuk ia masih disayang sama tuhan, tak ada darah setetes pun, bahkan tak ada goresan kecil di tangannya. Begitulah beberapa salah satu bentuk pemberontakan Cupliz. Sabar ya dek J
            Beberapa kali juga Cupliz jadi pahlawan tingat keluarga. Hehe. Pocket camera ku, remote tv, colokan listrik, setrika, speaker, headset hape, dan berbagai macam benda elektronik rumahan dan yang bermasalah semua beres di tangannya. Pantas aja dia dulunya dia sempat berminat kuliah teknik mesin.
            Si penggila Lionel Messi dan klub bola Barcelona ini sekarang sudah di tingkat akhir dengan seragam putih abu-abunya. Semenjak SMA do’i suka galau. Jadi sering telpon kakaknya yang di Makassar cuman buat curhat nilai rapor, pelajaran yang disebelin, gurunya yang jutek, konsultasi soal kampus-kampus favorit, jurusan yang menarik, atau suasana hatinya yang sementara beradaptasi pada keadaan baru.
            Tapi salut deh buat Cupliz yang dari SMA udah mandiri dengan jadi anak kosan. Pulang ke rumah paling 2 kali seminggu. Pertama, buat weekend an dan nogkrong melepas kangen, dan kedua karena jadwal pertandingan sepak bola di lapangan kecil samping masjid. Dan tiap pulang ke rumah, do’i selalu disugihi makanan rumah yang paling enak. Ikan bolu. I know, that’s your favorite, right? Ohya, satu lagi. Kalau pulang do’i juga disuguhi pekerjaan jadi asisten ayah. Sekali lagi, yang sabar ya dek J.
            Si cupliz juga agak aneh. Gak suka katanya membonceng cewek kalau duduknya tidak menyamping. “pokoknya aku gak gak mau bonceng kakak kalau duduknya kayak cowok, harus duduk menyamping, duduk cewek. Biar anggun”. Lho kok? Capek tau. “that’s your choice, terserah. Mau di antarin atau gak.” Ya udah, akhirnya aku dibonceng dengan duduk cewek pakai motor classic gak tau apa merk nya yang pasti keluaran tahun 70 atau 80an. Dan makasih dek, gak sampe setengah jam pegelnya udah kerasa.
            Hey Cupliz, selamat dan sukses ya karena telah melewati masa alay. Aku tau kamu dapat pencerahan dari stand up comedy nya idolamu Raditya Dika. Selamat juga telah berhasil menjadi gitaris pemula. Iya, masih pemula. Sayang ya, gitarnya sekarang rusak. Gimana dong, padahal aku pengen diajarin juga. Persiapkan mental dan fisik buat UN April nanti. Semoga lulus di IPB. Kan biar sesekali kakak bisa jalan-jalan ke Bogor J. Dan jangan terlalu kejam sama adikmu yang bungsu, kalian emang jarang akur. Meski cara mu menyayangi adek bungsu mu emang unik, tetaplah besikap lemah lebut pada adek bungsumu meski dia juga terkadang menyebalkan. Yang penting jangan lempar remote tv apalagi hape lebih-lebih pisau dapur kayak dulu kita berantem ya kalau kadang-kadang kamu gemes sama tingkah nya si bungsu.


Makassar, 01 Maret 2014

Sabtu, 04 Januari 2014

Fatamorgana

Aku tau betapa kamu sangat tergila-gila pada warna emas laut di senja hari.
Atau pada saat ombak memamerkan keganasannya di bawah anggunnya langit biru, bersama riuh angin bahkan di sela dinginnya hujan.
Aku juga tau betapa kamu menyukai tanah dan segenap lekukannya, pesona tebimg yang perkasa atau sekedar berdiri di puncak bukit untuk menyentuh langit.
Aku juga tau kamu terpesona pada riak sungai. Menjatuhkan dau kering kemudian melihatnya menghilang terbawa arus yang damai.
Aku juga tau kamu sering menghadapkan kepala mu ke atas saat terik menyengat. Beradu tatap dengan terangnya mentari tengah hari. Dengan mata tinggal segaris kamu mencuri pandang pada awan yang menari. Menanti hujan untuk bersembunyi di balik rinainya.
Aku berharap aku tau suatu saat kamu akan menceritakan semua itu kepadaku, tidak melalui angin. Tapi, saat kita berdiri bersama di atas jutaan butir pasir pantai, tempat terindahmu.
Dan kemudian aku yang paling tau betapa kamu adalah palsu, tidak pernah ada.

Kamis, 02 Januari 2014

Aku dan 2013


Januari
Januari di 2013 hujan turun dengan anarkis. Makassar banjir di mana-mana. Kondisi terparah selama aku merantau. Danau Unhas meluap dan berhasil membuat motorku mogok untuk pertama kalinya. Dan ada kisah pilu atau tepatnya memalukan bersama derasnya hujan. Sebagai seorang perempuan nomal, sempurna aku merasakan remuknya hati akibat putus cinta. Dan beneran, aku bahkan menghabiskan tissue satu pak gede untuk air mata yang sia-sia. Ini bukan fase denial, menolak, tawar-menawar atau pun fase depresi. Sumpah, ini fase marah. Marah pada diri sendiri. Bodoh..bodoh.. tak henti ku caci diri sendiri. Dan mulai pada saat itu aku berjanji ini adalah kebodohan pertama dan terakhir.
Hujan-hujan aku juga berhijrah kosan. Ya, pindah kost emang ribet bin rempong. Angkat dua jari, gak lagi deh pindah kosan. Kapok.
Januari adalah full libur semester ganjil. Liburan ke pulau jawa? Siapa takut. Alasan pertama, bajet pulang kampung malah lebih mahal, alasan kedua menghindar.
Januari bersama Bromo. Sumpah Tuhan, aku gak pengen balik Makassar.

Februari
Perkuliahan aktif kembali. Memaksakan diri untuk move on dari masa liburan. Februari yang special, gak susah nyari inspirasi buat nulis. Bekas air mata di januari cukup menjadi bahan corat-coret. Jadi keinget kata-katanya Asma Nadia “waktu menulis yang keren itu pada saat jatuh cinta dan patah hati”. Kayaknya emang postingan terbanyak di blog ku itu di Februari. Bangga sama diri sendiri.

Maret-mei
Nothing special. Hanya menyibukkan diri dengan kuliah, presentasi, CSL, ujian blok, OSCE. Melepaskan status sebagai pengurus harian Himpunan, lega banget rasanya. Oh iya, akhirnya diumumkan nama-nama pembimbing skripsi. Rasanya itu, deg-degan kayak abis nembak cowok dan digantung berminggu-minggu. Next, pengumuman nama-nama penguji. Pas tau dapat penguji yang kata senior perfecionist, kayak ngajak balikan mantan tapi ditolak. Lemes seluruh badan.
Persiapan KKN kemudian menyita waktu dan pikiran. Kambali merantu 8 minggu ke depan. Ribet, perbanyak bawa celana panjang, baju tidur, kaos lengan panjang dan jilbab pasang. Soalnya kita serumah sama cowok. Teman-teman baru, rumah baru, “orang tua” baru, aktifitas baru, rutinitas baru, yang gak boleh dilupain, menu makan yang  baru.

Juni & Juli
Perhelatan KKN dimlai. Seperti biasa, segala sesuatu yang baru dimulai dengan adaptasi. Move on lagi. Kerja proker, berusaha manis dan ramah pada masyarakat, piket masak dan cuci piring yang setiap hari menghantui.
Ramadhan di lokasi KKN adalah ramadhan termiris sepanjang hidup. Tak ada kolak pisang, cendol hangat, dan segala sesuatu yang bersantan. Alhasil, jika tiap ramadhan aku gemukan, ramadhan kali ini aku turun 3 kg. lumayan. Lebih miris, beberapa kali harus buka puasa dengan bakso depan kantor camat. Gak sempat masak Karena kecapean kerja proker penyuluhan. Atau pada saat ceramah shalat taraweh, cuman bisa mandangin pak ustadz yang ceramah pake bahasa daerah sampe-sampe ditegur temen karena lupa mingkem. Dan jurnal, buku harian pada saat berKKN ria, saksi kehidupan mahasiswa yang sedang melewati proses menjadi mahasiswa sejati. Bekuliah sambil bekerja dengan nyata. KKN.

Agustus
KKN berkahir. Waktunya pulang kampung. Cuman 9 hari. Lumayan menyesakkan dada. Skejul padat. Buka puasa bersama, piknik bareng atau sekedar kumpul-kumpul berbagi (lebih tepatnya “pamer”) pengalaman di rantauan bareng teman sekolah dulu. Semua itu adalah ritual wajib kalo pulang kampung. Maka nikmat apakan yang didustakan mahasiswa rantauan selain pulang kampung? :D

September
Akhir sepetember aku seminar proposal. Persiapan matang fisik dan mental. Tapi, jreng..jreng.. meski proposalku diterima, aku merasa pembantaian batin pada saat itu. Tidak perlu ku deskripsikan, biar menjadi aib pribadi. Hehe


Oktober
Nekat, sembari menunggu surat rekomndasi penelitian, aku dan temanku Ayu ber “bolang” lagi ke Pulau Jawa. Malang dan Jogja adalah planning sementara. Jalan ala backpacker lumayan lah menghemat bajet kurang lebih 50%. Puas keliling Kota Malang, waktunya jogja diserbu. Candi prambanan, candi Borobudur di Magelang, dan lokasi romantisnya jogja yaitu taman pelangi dan bukit bintang. Emang sih, tiga hari sangat..sangat singkat mengenal Jogja.

November
Jujur, November tidak begitu special meski ini bulan kelahiran ku. Ulang tahun dan perayaan bukan lah kegemaranku. Maaf, aku tidak suka pesta, meski itu perayaan kecil-kecilan. Cukup do’a, cukup.
Penelitian untuk skripsi tercinta masih berlanjut. Bolak-balik rumah sakit untuk ambil data pasien, kemudian menginputnya dengan hati-hati sampe meutar-mutar otak untuk mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menghasilkan pembahasan yang apik agar tak banyak revisi nantinya.

Desember.
Alhamdulillah. Fatimah Ulfah S.Kep
“Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar. Rahman)
16 Desember aku sidang. Tidak seperti kondisi seminar proposal yang menyisakan luka. Kali ini sidangnya mulus. 20 Desember Yudisium S.Kep. dan 24 Desember penyumpahan S.Kep. pake TOGA. Banyak yang kira udah wisuda Karena TOGA. Akhirnya sempurna rasanya menjadi mahasiswa.

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang.
Selamat datang 2014. Tuhan ijinkan saya menikmati kembali Desember 2014 Mu. Agar aku bisa bercerita lebih banyak lagi dari ini. Tentang nikmat Mu, tentang kesyukuranku, tentang indahnya menjadi hambaMu.

Amin ya Rabbal’alamin

Makassar, 1 Januari 2014

Jumat, 29 November 2013

Kisah si bungsu.

Paling bontot dari empat bersaudara. Si bungsu yang kini telah remaja dan hampir menyaingi tinggi kakak sulungya. Si bungsu yang pernah menjadi murid teladan di sekolahnya. Baju rapi yang tidak pernah terurai berantakan, sepatu bersih lengkap dengan kaos kaki. Rok biru tua yang telah disetrika licin, topi dan dasi seragam selalu. Culun? Tentu tidak. Rapi dan bersih.
Si bungsu yang pernah jadi juara umum dan murid teladan juga pernah jahil. Menjahili guru baru yang menurutnya tidak berkompeten di mata pelajaran yang beliau pegang.
#jam pelajaran IPS
Bungsu: “Bu guru, otoriteritu yang kayak gimanasih?”
Ibu guru: “Otoriteritu..umm..” (buka buku cetak IPS buru-buru)
Bungsu: “Ibu tau nggak sih sebenarnya?”
Ibu guru: “Iya, ibu tau dong.”
Bungsu: “Trus, ngapain kok buka-buka lagi buku cetak?
Ibu guru: “Ibu cuman pengen mastiin aja jawaban ibu sesuai buku ini.”
Bungsu: “Kalo kayak gitu sih, kita-kita juga bisa kali Bu”. (buang muka ketemen sebelah bangku sambil ngetos, senyumn gejek dan angkat alis sebelah).

#jam pelajaran IPS hari berikutnya
Bungsu: “Ibu, saya mau Tanya. New York itu di Negara manasih?”
Ibu guru: “New York ya? New york itu di luar negeri, di sana kota nya besar, ya hampir samalah dengan Jakarta.”
Bungsu: “Bu, kan saya nanyanya New York itu dimana, bukan New York itu bagaimana.”*pasang muka sok cemberut
Teman bungsu: “Sum, itu kan ada jawabannya di halaman 105. Ngapain nanya-nanya lagi ke bu guru?”
Bungsu: “Biarin aja, aku kerjaini bu guru. Abisnya, dia gak tau gitu pake ngajar IPS segala.”
*beberapa hari kemudian ibu guru yang sebelumnya mengajar IPS berhijrah dengan mengajar mata pelajaran muatan lokal. Misi si bungsu berhasil.

Si bungsu juga lumayan cerewat mengikuti celoteh versi kakak sulungya. Sering memprotes segala ejaan kata dari sang ayah yang menurut telingaya tidak sesuai.
Ayah :“Sum, kamu itu jangan lebaii.”
Bungsu :“Aduh, Paaah.. bukan lebaii cara ngomongnya. Tapi, lebay. Pake ye belakangnya. Bukan i.”
Ayah :“Kamu itu sum. Suka sekali protes Bapak.”
Bungsu :”Kan bapak emang salah. Aneh tau Pah dengernya”
Ayah: *geleng-geleng kepala sambil senyum
Si bungsu adalah mahluk paling sayang rupiah dibandingkan ketiga saudaranya. Pernah memilah-milah baju bekasnya yang masih layak pakai untuk di jual kembali kesepupunya. Lima ribu tiap lembarnya. Alhasil, hanya selembar baju yang laku. Kisah lain, sibungsu mengumpulkan sisa tepung terigu, gula, margarin dan telur ayam yang lolos dari timbangan ibunya di warung. Buru-buru ia menuju dapur dan mulai bergelut dengan peralatan dapur.
Sulung: “Sum, ngapain?”
Bungsu: “Bikin kue kak, kue biji ketapang. Mau gak?”
Sulung: *muka bingung. “Baik hati banget kamu dek. Boleh deh. Entar bawa ke ruang tengah yah. Lagi rame tuh nonton.”
Prosesi memasak kue pun selesai. Si bungsu buru-buru ke ruang tengah.
Bungsu: “Nih, semua. Jangan malu mencoba. Enak kok.” *sambil menyodorkan nampan berisi kue biji ketapang.
Sulung: “Kok pake kemasan plastic segala?”
Bungsu: “Emang, kan mau saya jual sama kakak-kakak yang mumpung hari ini lagi pada ngumpul. Lima ratu saja kok perbungkusnya.” *muka sumringah sambil memperlihatkan lima jarinya
Semua: Menatap kearah bungsu, ada yang bingung, melongo, tertawa kecil, dan menghela napas panjang.
Si bungsu emang lebih unik di banding 3 saudaranya yang lain. Meski bungsu, tidak pernah ia menanmpakkan sikap manja. Meski begitu ia tetaplah lebih peka dan sensitive. Pernah, hanya Karena gaya berhijabnya, ia ditegur oleh abangnya. Tidak ada yang salah dengan gaya hijabnya, hanya saja abangnya yang jahil dan tidak terlalu mengerti hijab. Dari pagi hingga jelang tidur tak ada sepatah kata yang ia keluarkan. Tunduk dan terkadang menangis. “Hai dek.. ini kan lagi lebaran..”
Si bungsu juga suka menulis diari diam-diam di kamarnya. Tapi dasar abangnya yang jahil dan iseng diam-diam membaca diari si bungsu. Malu? Otomatis. Tanpa pikir panjang seluruh lembar diari habis di makan api. Si bungsu membakar diarinya sendiri.
Si bungsu emang ngangenin. Celotehnya, gaya bicaranya, pemikirannya, dan ide-ide konyolnya. Dan jempol buat si bungsu.Yang telah berani berhijab lebih awal di banding kakak-kakaknya di waktu remaja.
Semoga tetap menjadi si bungsu yang penyayang, manis, dan mandiri. Kakak kangen cerita-cerita anehmu yang harusnya bisa di bukukan.

Kamis, 21 November 2013

Dibuang Sayang

Semua ini tidak boleh terjadi. Ini semua gak benar, gak berarti salah juga sih. Sial, zona apa ini? Ada yang tidak beres, oksigennya terasa berbeda. Bukan hanya kisah klise yang norak dan kampungan. Tentang hati yang sedang berhijrah, tapi sayang ia tersesat. Menginginkan yang lebih dari jatahnya, mengaharapkan jauh dari porsi aman.
Usia yang telah dewasa. Kehidupan yang semakin menggalaukan. Tentang pilihan. Lebih sulit dari dugaan awal. Tolong ajari bagaimana harusnya memilih, bangaimana membedakan, dan bagaimana harusnya menetapkan. Karena semuanya indah dan mempesona, tidak satu, dua atau tiga. Lebih dari itu. Kisah yang rumit. Salah besar saat semuanya harus dirampas. Bukan tentang kerakusan, tapi takut kehilangan. Terlalu indah untuk di lepas. Dibuang sayang, begitulah istilahnya. Terlalu banyak kenangan nyaman yang tercipta.
Menasehati diri sendiri, selalu. Memantaskan diri dan menunggu. Uuulaaalaaa, gampang sekali melisankannya. Stay di zona aman, tak boleh offside. Huh, rasanya dada ini mulai sesak. Bagaimana saat rindu itu datang dengan hebatnya, bahkan cemburu pun saya tidak berhak. Sebab saya belum lah siapa-siapa.
Untuk sekarang, hukumlah saya karena semuanya ingin saya pertahankan. Salahkan saya karena semuanya tak akan saya dalam genggaman semu. Biarkan saya menikmati pesona abu-abu yang membunuh rasa secara perlahan. Hingga satu per satu terlepas, hilang, dan mati. Dan ada yang bertahan manis membisu. Siapa pun kamu, semoga kita cepat berjumpa.

Jum’at, 22 November 2013

1.48 am

Sabtu, 09 November 2013

sebut saja..nyaman

Keren, saat kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Menjadi diri sendiri seperti apa? Itulah pertanyaan yang mengiringi perjalanan hidup saya selama ini. Bahkan membingungkan, kapan sih sebenarnya tahap pencarian jati diri itu? Lewatmi kah? Atau belumpi? Menjadi diri sendiri adalah posisi kita di mana menemukan nyamannya kita. Lha sekarang, saya tak begitu dekat dengan nyaman itu. Nyaman yang begitu banyak dalam imajinasi, seiring waktu semakin banyak. Nyaman yang perlahan menjadi draft list mimpi yang menumpuk. Gawat, semua semakin menggalaukan.
“Simple sih sebenarnya. Cukup mencintai apa yang dikerjakan. Gitu aja. “
“Tapi memulainya susah.”
“Ya udah, tinggal mulai aja.”
“Ngomong doing sih gampang.”
“Ya gampangin aja.”
“Ampun deh.”
Maunya apa?
Pengen menghirup oksigen sepuasnya, memandang luas hingga mata lelah dan berkedip, berjalan sejauh mungkin, berlari sekencang mungkin, sesekali terasa terbawa angin, mandi hujan hingga menggigil, setelahnya lihat pelangi, lanjut mengucapkan selamat tinggal pada sunset, dan pulang istirahat, tengah malamnya bersujud pada sang pencipta. Indahnya hidup.


Rabu, 30 Oktober 2013

LIBURAN

LIBURANNNN..!!! (ngucapinnya ala Ramon Y. Tungka saat teriakin “JAKARTA” di teaser 100 hari keliling Indonesia Kompas TV).
Jangan hitung dari berapa lembaran rupiah yang mengalir dari kantong kalo ngomongin liburan. Karena bagi sebagian orang liburan itu identic dengn foya-foya. Emang sih, porsi liburan itu beda tiap orang. Kalo saya, simple aja. Cukup jalan-jalan aja dengan bajet yang pas-pas emang buat jalan aja. Souvenir? Nggak usah ribet. Tiket masuk tempat pariwisata, karcis parkir, bahkan bill makanan walaupun itu dari kaki lima bisa jadi. Toh buat kepuasaan pribadi. Buat pamer? Gampang. Tinggal upload foto-foto kerennya di jejaring social. Walaupun gak munafik, yang namanya liburan emang butuh biaya yang tidak sedikit. So, akalin aja. Liburan gak harus di waktu liburan panjang. Manfaatkan moment yang memberikan kita kesempaan “sambil nyelam minum air”. Nah, sudah dua kali saya punya kesempatan emas “sambil nyelam minum air” dengan waktu yang teramat singkat dan biaya yang pas-pasan aja.
Pertama, awal tahun 2013. Kampus libur lebih kurang satu bulan. Yang lain pada pulang kampung. Hmm, orang tua nyaranin pulang kampung aja. Pas hitung-hitungan, biaya pulang kampung lumayan nguras kantong ortu. Temen-temen SMA yang kuliah di luar daerah pun jarang yang pulang kampung, so putar otak buat dikemanain tuh uang. Yeyeyeye, ditawarin ke Malang. Alhamdulillah dapat tiket promo buat pulang pergi. Dua minggu lumayan buat keliling kota Malang, dan luar biasanya bahkan bisa berdiri di puncak bromo. Gak perlu biaya mahal, boncengan aja pake motor sewaan 30ribu. Lumayanlah 10 jam perjalanan pulang pergi. Taman wisata selecta, alun-alun kota Malang, Tugu kota Malang, alun-alun kota Batu, BNS, Jatim park dan berbagai taman kota Malang sumpah indah. Ini dia yang ngangenin dari kota Malang, udara yang sejuk, taman kota di mana-mana, kuliner yang menggoda selera, plus wisata belanja yang super murah tentu dengan kualitas jempol. Gak bosan deh ke Malang, buktinya kali kedua saya ke Malang lagi. Kali ini ada saudara wisuda. Kesempatan yang pas. Kampus emang sedang tidak libur, tapi status saya telah berubah jadi mahasiswa tingkat akhir. Gak ada mata kuliah yang mengikat. Lagi nyusun skripsi aja. Nah, sementara nunggu surat rekomndasi penelitian bertepatan dengan wisuda kakak. Gak pikir panjang, kepak barang dan langsung hunting tiket. Sayang, tiket promo habis. Tak apa, di sana nya bisa berhemat. Karena malang udah penah di jelajahi, gak ada salahnya main ke propinsi tetangaa. Jogjakarta. Kebetulan ada temen kuliah di Jogja. Ke Jogjanya naik kereta api aja, penasaran juga naik kereta api gimana rasanya. Ternyata santai aja dan ngerasa keren aja bisa  naik kereta api. Secara gitu kereta apai gak ada di Makassar. Gak mahal kok 60 ribu aja buat mahasiswa. Yang bikin excited naik kereta api dari stasiun Malang Kota baru itu, stasiunnya adalah tempat syuting film 5 cm. Tuhann, saya kayak ngeliat jejak kaki Fedi Nuril sama Herjunot Ali di pintu keluar stasiun. Hehehe. Berikutnya pas sampai di Jogjakarta, gak ada waktu tanpa jalan-jalan. Bajet yang keluar cukup buat karcis masuk tempat pariwisata, karcis parkir, makan ala kaki lima sama bensin motor pastinya. Dua ratus ribu selama 3 hari di Jogja cukup kok. Belum semua tempat memang telah dikunjungi di kota gudeg ini. Alun-alun kota Jogja dengan pohon beringin kembarnya yang fenomenal adalah destinasi utama saya. Yupp, malam hari kota Jogja serasa hidup dengan seutuhnya, tidak terkecuali alun-alun kota. Moment yang pas banget buat jalan di tengah pohon beringin kembar sambil nutup mata dan memikirkan someone (ngikutin legenda orang sini). Dan, kecewa. Langkah saya meleset. Gak bisa melewati kedua pohon beringin kembar itu. Tak apa.. jodoh di tangan tuhan kok. Heheheh. Berikut, yang tak kalah fenomenal di Jogja adalah tugu kota Jogja. Cukup berfoto-foto aja, soalnya kendaraan cukup ramai melintas. Akhirnya bisa juga ngeliat tugu kota Jogja yang jadi tempat syuting FTV. Dan, ada juga lokasi romantis, taman pelangi dan bukit bintang. Syukur pas mengunjungi tempat-tempat tersebut bukan pada malam minggu. Taman pelangi dengan bangunan museum kota di tengah-tengahnya terlihat indah di malam hari dengan kerlipan lampu hias hampit seantero taman. Saran saya kalau mau ke taman ini, temen jalan harus cowok atau keluarga besar. Ngerti aja lah J. Sementara bukit bintang itu kayak Kota Batu di Malang. Bukit bintang terleak di puncak kota. Dari situ terlihat jelas kemegahan Kota Jogjakarta dengan kembang lampu yang menambah kemewahan kota. So, kalau mau ke sana ya di malam hari. Kota Jogjakarta kan terkenal dengan budaya dan sejarahnya. Candi prambanan jangan sampai dilewatkan kalau ke Jogja. Puas keliling Jogja, ngelirik propinsi tetangga dulu. Jawa tengah. Siap meluncur ke Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Lupayan pegel lebih satu jam dari Jogja ke Magelang. Tak masalah, yang penting nyampe Borobudur. Gak percaya dan excited banget bisa menyentuh langsung salah satu keajaiban dunia yang satu ini. Luar biasa deh pokoknya. Apalagi pas ketemu wisatawan dari berbagai Negara, salah satunya ada oeni dari korea. Anyong oeni..!! heheheheh. Setelah puas kelilikng candi Borobudur dengan ratusan anak tangganya, waktunya pulang, tepar dan packing. 3 hari yang panjang waktu di Jogjakarta. Serasa sebulan. Beneran. Walaupun gak sempat makan angkringan dan naik buswaynya Jogja, melihat betapa indahnya jalanan kota Jogjakarta sudah lebih dari cukup. Sudah mengelilingi Universitas Gadjah Mada dan kampus keren lainnya juga sangat menyenangkan. Ini lah yang keren dari Jogja dan Malang. Kampus-kampusnya itu lho, cantik, keren, indah dan jempolan tentunya. Gak swasta gak negeri. Jadi pengen nyoba kuliah di sana J

Liburan berikutnya pengennya ke barat Jawa. Jakarta. Penasaran dengan kota metropolitan yang punya 10 juta penduduk ini. Dan semoga ada moment dan kesempatan yang mengantar saya ke sana. Bismillah aja J.

Minggu, 08 September 2013

Apakah yang lebih hebat dari rindu?

Apakah yang lebih hebat dari rindu? Emosi paling angkuh dan egois yang bersarang dalam diri setiap kita yang menamakan diri sebagai insan. Amukan jiwa yang bahkan terkadang lebih besar dari guncangan bumi sekian skala richter, jika guncangan gempa bumi bisa meluluhlantahkan arsitektur megah kota beserta penghuninya, maka rindu yang hebat yang sekian lama trependam kuat bisa menelan mentah-mentah kewarasan sang empunya rindu. Begitulah rindu, sombong dan anggun menguasai jiwa-jiwa kosong yang haus akan tatapan binar mata atau sekedar seulas senyum yang dirindukan. Bukan rindu pada Sang pemilik rindu, tapi rindu diantara kita sesama perindu.
Merindukan itu sakit, perih, dan menyayat, tak jarang menguras air mata. Betapa sakitnya rindu sehingga terlontar ucapan “ingin ku lempar batu bata di wajahmu, agar kamu tau betapa sakitnya merindukanmu”. Begitulah rindu saat kau tak berdamai dengannya. Dia akan memperbudak mu, merajai pikiran dan batin mu yang bahkan tak mengerti meletakkan rindu itu di sisi mana.
Tapi tidak demikian saat kau mengemas rindu dengan apik. Mengumpulkannya dengan rapi dalam ruang jiwa yang selalu lapang. Cukuplah rindumu menjadi rahasia antara kau, rindu-rindumu, dan Ia Sang pemilik rindu. Biarkan rindu-rindu itu berkembang, bertambah tanpa harus terlepas sedikit pun. Rasakan interaksi batinmu dengan rindu-rindu yang terkumpul rapi  dan bermain indah dalam setiap sudut relung hati. Hingga suatu waktu yang indah, rindu-rindu itu bosan bersarang dalam jiwamu, maka mereka sendiri yang akan mengantarkan mu untuk membebaskan diri-diri mereka pada tempat yang seharusnya. Pasti. Maka tiadalah keindahan dan kelegaan hati saat rindu-rindu itu lenyap dari jiwamu dan mengahadap pada tuannya. Dan rindumu telah kembali pada pemiliknya. Dan apakah yang lebih hebat dari rindu?
Makassar, 3 September 2013

Teruntuk yang senantiasa merindukanku, sebab aku pun selalu merindu.