Ini
kisah si gadis yang suka mengepang rambutnya seperti ekor kuda, sebut saja Si
Rambut ekor kuda. Dengan tetangga dan teman barunya Si Bujang. Bukan kisah
persahabatan yang menyentuh, atau kisah cinta klasik yang memukau. Anggap saja
catatan kecil Si Rambut ekor kuda di buku diari yang akhirnya ia akan bakar
juga.
Lembar
pertama bertuliskan kisah saat pertama Si Rambut ekor kuda bertemu Bujang.
Siang terik. Hari ini Si Rambut ekor kuda tak punya jadwal les tambahan. Ia berjalan
riang pulang sekolah dengan membiarkan rok merah hati nya yang selutut
terkibas-kibas dan tentu saja rambut ekor kudanya yang goyang ke kiri dan kanan
dengan irama teratur. Langkahnya mulai pelan ketika melewati sebuah rumah yang
tampak sibuk oleh beberapa orang yang mengankat barang dari mobil pick up. “orang pindahan, tetangga baru dong”, guman Si Rambut ekor kuda
dalam hati. Ia tak sadar sepasang mata dibalik
jendela memerhatikan Si Rambut ekor kuda berjalan riang. Hanya tak sengaja
terlihat oleh Si Bujang, tak lebih. Toh diwaktu-waktu berikutnya pun tak ada
interaksi berarti. Rumah mereka saja berjarak sekitar 100 meter.
Benar
saja, Si Rambut ekor kuda dan Si Bujang tidak satu SD. Setidaknya mereka bisa
bertatap muka tiga kali seminggu di kelas sains. Si Bujang pun ternyata
mengambil kelas les yang sama dengan Si Rambut ekor kuda.
“Hey,
itu anak baru?” seorang teman si tiba-tiba menyenggol lengan Si Rambut ekor
kuda.
“Kayaknya
sih gitu”. Si Rambut ekor kuda tampak berpikir. “Kayak tetangga sebelah rumah
yang baru pindahan.”
“Ohya?
Aku samperin ya.” Si teman bergegas menuju bangku Si Bujang.
“HEY..
LHO KOK..!!” Si Rambut ekor kuda setengah berteriak. Tapi terlambat, si teman
telah duduk manis di samping bangku Si Bujang. Mereka tampak berbincang seru, sesekali
si teman tertawa cengar-cengir. Tapi ekspresi Si Bujang dingin. Tampak ia
senyum terpaksa, datar tak bermakna.
“Orang-orang
aneh” Si Rambut ekor kuda berguman sendiri dalam hati.
Hari-hari
mereka biasa-biasa saja meski bertetangga dan satu kelas les sains. Meski
bertetangga, kadang berpapasan di jalan, Si Rambut ekor kuda hanya senyum
seadanya dan dibalas wajah datar oleh Si Bujang. Si Rambut ekor kuda sih
cuek-cuek saja, lebih-lebih Si Bujang. Bahkan mungkin Bujang menganggap tak
pernah ada Si Rambut ekor kuda bahkan si temannya rambut ekor kuda. Semua
berjalan normal di kelas les. Si Rambut ekor kuda berkumpul dan bermain dengan
teman-teman perempuannya, Si Bujang pun lebih suka menyendiri dan kadang-kadang
ngobrol dengan beberapa teman laki-lakinya. Tak aka isiden tak normal macam
disinetron yang menjadikan mereka sumber perhatian dalam ceritanya. Dua tahun. Si
Rambut ekor kuda hanya tau Si Bujang pindah karena ayahnya pindah tugas kerja.
Hanya itu. Sementara Bujang, apa iya pun tahu siapa nama Si Rambut ekor kuda,
atau Si Rambut ekor kuda yang sesekali memerhatikannya?
Lembar
kedua.
Si
Rambut ekor kuda dan Si Bujang lalu satu atap di Sekolah Menengah Pertama.
Bukan takdir yang terlalu berbaik hati, ya karena memang hanya satu sekolah
menengah pertama di daerah itu. Mungkin takdir lebih dikatakan berbaik hati
ketika ternyata mereka satu kelas, atau malah sebaliknya, takdir tak bermaksud
berbaik hati.
Kisahnya
baru akan dimulai.
Masih
seperti biasa, Si Rambut ekor kuda masih dengan cueknya dan hanya sesekali
mencuri pandang. Si Bujang masih dingin tapi ia mulai terlihat keren. Apalagi
setelah terpilih menjadi ketua kelas dan juara kelas. Ah, romansa klise putih biru.
Si Rambut ekor kuda mulai berlagak puitis. Ekor matanya pun mulai liar.
Hari-hari yang indah, berpapasan di gerbang sekolah, berdiri berdampingan saat
upacara bendera, puas memperhatikan gerak gerik Si Bujang yang mengerjakan soal
matematika di depan kelas. Ah, terlalu cepat Si Rambut ekor kuda merasakan
jatuh cinta. Sungguhlah Si Rambut ekor kuda masih teramat sangat polos. Mungkin
ia hanya tahu pasangan perempuan adalah laki-laki, hidup dan mati, atas dan
bawah, air dan api. Ia sungguh tidak tahu, bahwa bersama jatuhnya hati, ada
patah hati yang mengintai. Hingga ia tiba pada masa itu.
Tahun
terakhir di dekolah menengaj pertama. Si Bujang tentu saja masih gagah, dan
lamat-lamat jika diperhatikan ia punya ginsul yang hanya akan tampak jika
tersenyum lebar. Tentu saja Si Rambut ekor kuda baru mengetahuinya karena Si
Bujang sangan jarang tersenyum lebar. Hari ini kelas gaduh setiba Si Rambut
ekor kuda.
“UN
dimajukan?” Si Rambut ekor kuda langsung to
the point ke temannya yang pertama ia temui di dekat pintu kelas.
“Skandal”
temannya setengah berbisik
“Skandal?
Macam artis saja” Si Rambut ekor kuda cuek
“Sini
duduk” si teman menarik rambut ekor kuda menuju bangku paling belakang.
“Si
Bujang sold out” si teman dengan
ekspresi kecewa sambil meomnyongkan bibirnya.
“Sold out?”
“Kamu
tahu kan anak kelas sebelah yang pindah tahun lalu, Si Rambut sebahu dengan
lesung pipi manis dan kulit putih mulus? Dia pacaran sama Si Bujang” si teman
sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Si
Rambut ekor kuda diam tak bergeming.
“Ini
patah hati sekecamatan namanya” Si teman seolah-olah tampak lunglai. Ia juga
patah hati. Tentu, siapa yang tak patah hati mengetahui Si Bujang, meski tidak
popular di sekolah tapi idola para juniornya, bahkan teman sekelasnya. Atau di
rambut sebahun dengan lesung pipi, perempuan tercantik yang pernah singgah di
sekolah kami.
Sejenak
ekor mata Si Rambut ekor kuda mengarah ke Bujang. Ah sial, tepat saat Bujang
tertawa lepas. Ginsulnya asli sempurna.
“Aissh..!!
harusnya mulai detik ini rasa aneh ini menghilang” Si Rambut ekor kuda malah
bertingkah aneh dalam lamunannya.
Inilah
patah hati anak SMP karena cinta pertamanya. Duduk dengan tatapan kosong di
depan computer dengan iringan music album band jikustik. Satu album berulang
terputar. Ia menangis. Tapi masih menangis seadanya. Semalam, dua malam. Hanya
dua malam. Perlahan Si Rambut ekor kuda mengerti kapan kau terlena pada jatuh
cinta, bersiaplah patah hati. Hanya beberapa hari sop ayam terasa hambar, air
putih terasa pahit, selebihnya ia kembali ke masa menyukai diam-diam. Tidak
melewatkan waktu-waktu bertemu di gerbang sekolah, menatap lamat-lamat Si Bujang
yang mengerjakan soal matematika di papan kelas, mencuri pandang saat Si Bujang
tertawa lebar. Hingga tahun putih biru berakhir. Di jam-jam terakhir sebelum
perpisahan resmi, tiba-tiba Bujang menghampiri Si Rambut ekor kuda, mengulur
kan tangan kanannya hendak bersalaman dan tersenyum lebar. “Selamat ya, sampai
jumpa lain waktu”.
“Ii..iyaa”
Si Rambut ekor kuda pun mengulur tangannya, matanya tak berkedip sedikit pun hingga masing-masing
melepas jabat tangannya. Hari terindah Si Rambut ekor kuda selama mengenal Si
Bujang terlepas dari bayangan si lesung pipi dengan rambut sebahu.
Lembar
ke tiga
Lembar
putih abu-abu. Pun abu-abu ceritanya. Lembar paling singkat dalam diari Si
Rambut ekor kuda. Bagaimana tidak, semenjak meninggalkan jejak di telapak
tangan di rambut ekor kuda, Si Bujang sangat jarang mampir di depan mata Si
Rambut ekor kuda. Bisa di hitung jari selama tiga tahun berseragam putih
abu-abu. Senyum ginsul nya pun tidak pernah sekali pun tampak. Kecuali dalam
mimpi di malam-malam ketika rindunya memuncak. Tak pelak lagi, Si Rambut ekor
kuda telah benar jatuh cinta. Jika pun akan patah hati lagi, akan terasa lebih
pedih kali ini.
Si
Rambut ekor kuda telah benar berubah puitis. Puisi-puisi tentang cinta dan
kerinduan mulai menggunung di tumpukan buku pelajaran. Bukankah mood menulis
itu tumpah ketika kau sedang jatuh cinta dan patah hati? Jatuh cinta sendiri?
Bodo amat buat Si Rambut ekor kuda. Ia menikmati setiap tetes rasa karena rindu.
Tak meminta balasan, tidak bersemoga untuk apa pun itu, bahkan tak perlu Bujang
tahu sekali pun. Oh..oh.. Si Rambut ekor kuda mulai bijak.
Suatu
waktu libur panjang, Si Rambut ekor kuda berjalan riang menuju rumahnya. Masih
dengan rambut ekor kudanya yang goyang ke kiri dan kanan berirama.
Melompat-lompat kecil dengan langkah pendek. Jalanan dengan lebar kurang dari 2
meter yang masih berumput dan kerikil-kerikil kecil. Sesekali kerikil terlempar
oleh pijakan Si Rambut ekor kuda yang setengah melompat. Dan ups, ia bahkan
tidak menyadari hampir menabrak sesosok tubuh yang sedang membungkuk di
depannya. Si Rambut ekor kudan me rem langkahnya yang setengah berlari dengan
mendadak. Lalu ia yang hamper terjatuh, tapi ia tak pernah punya masalah dengan
keseimbangan tubuhnya. Sosok tubuh itu berdiri tegap, tingginya melebihi Si
Rambut ekor kuda. Senyum yang senantiasa hadir menggelitik mimpi-mimpi akhir
malam Si Rambut ekor kuda. Senyum dengan ginsul yang hampir sempurna. Bujang.
“Eh,
maaf” Si Rambut ekor kuda setengah kaget setengah berbahagia.
“Ohiya,
tidak apa-apa, mau balik rumah? Dari mana? Oh ya, sekolah gimana? Sekolah kita
tetanggan kan ya? Sekarang lagi libur panjang kan?” pertanyaan Bujang membabi
buta.
“Eh?”
kini Si Rambut ekor kuda malah semakin kaget.
“Eh,
oh. Anu, saya masuk rumah dulu ya” Bujang
bergegas macam sudah lihat hantu.
Si
Rambut ekor kuda mematung hampir lima menit lamanya dengan mulut menganga.
Hingga tiba-tiba tetesan hujan memaksanya untuk bergegas pulang ke rumah. Kali
ini ia berlari kencang dan membuat rambut ekor kudanya benar-benar terhempas
kiri kanan secepat irama langkah larinya.
Hanya
sekali itu obrolan singkat tiga tahun terakhir. Selebihnya beberapa kali Si
Rambut ekor kuda hanya melihat sekilas Si Bujang yang melintas di gang depan
rumahnya. Tak masalah buat Si Rambut ekor kuda. Toh iya tetap bisa menyampaikan
perasaannya melalui puisi pada lembar-lembar diarinya, menghadirkan sosok Bujang
dalam mimpi di akhir malam cukup membalas rindu yang tak pernah sekali pun
tersampaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar