Sabtu, 07 Mei 2016

Lembar-Lembar Cinta (Bag.1)



Ini kisah si gadis yang suka mengepang rambutnya seperti ekor kuda, sebut saja Si Rambut ekor kuda. Dengan tetangga dan teman barunya Si Bujang. Bukan kisah persahabatan yang menyentuh, atau kisah cinta klasik yang memukau. Anggap saja catatan kecil Si Rambut ekor kuda di buku diari yang akhirnya ia akan bakar juga.

Lembar pertama bertuliskan kisah saat pertama Si Rambut ekor kuda bertemu Bujang. Siang terik. Hari ini Si Rambut ekor kuda tak punya jadwal les tambahan. Ia berjalan riang pulang sekolah dengan membiarkan rok merah hati nya yang selutut terkibas-kibas dan tentu saja rambut ekor kudanya yang goyang ke kiri dan kanan dengan irama teratur. Langkahnya mulai pelan ketika melewati sebuah rumah yang tampak sibuk oleh beberapa orang yang mengankat barang dari mobil pick up. “orang pindahan, tetangga baru dong”, guman Si Rambut ekor kuda dalam hati. Ia tak sadar sepasang mata  dibalik jendela memerhatikan Si Rambut ekor kuda berjalan riang. Hanya tak sengaja terlihat oleh Si Bujang, tak lebih. Toh diwaktu-waktu berikutnya pun tak ada interaksi berarti. Rumah mereka saja berjarak sekitar 100 meter.
Benar saja, Si Rambut ekor kuda dan Si Bujang tidak satu SD. Setidaknya mereka bisa bertatap muka tiga kali seminggu di kelas sains. Si Bujang pun ternyata mengambil kelas les yang sama dengan Si Rambut ekor kuda.

“Hey, itu anak baru?” seorang teman si tiba-tiba menyenggol lengan Si Rambut ekor kuda.
“Kayaknya sih gitu”. Si Rambut ekor kuda tampak berpikir. “Kayak tetangga sebelah rumah yang baru pindahan.”
“Ohya? Aku samperin ya.” Si teman bergegas menuju bangku Si Bujang.
“HEY.. LHO KOK..!!” Si Rambut ekor kuda setengah berteriak. Tapi terlambat, si teman telah duduk manis di samping bangku Si Bujang. Mereka tampak berbincang seru, sesekali si teman tertawa cengar-cengir. Tapi ekspresi Si Bujang dingin. Tampak ia senyum terpaksa, datar tak bermakna.
“Orang-orang aneh” Si Rambut ekor kuda berguman sendiri dalam hati.

Hari-hari mereka biasa-biasa saja meski bertetangga dan satu kelas les sains. Meski bertetangga, kadang berpapasan di jalan, Si Rambut ekor kuda hanya senyum seadanya dan dibalas wajah datar oleh Si Bujang. Si Rambut ekor kuda sih cuek-cuek saja, lebih-lebih Si Bujang. Bahkan mungkin Bujang menganggap tak pernah ada Si Rambut ekor kuda bahkan si temannya rambut ekor kuda. Semua berjalan normal di kelas les. Si Rambut ekor kuda berkumpul dan bermain dengan teman-teman perempuannya, Si Bujang pun lebih suka menyendiri dan kadang-kadang ngobrol dengan beberapa teman laki-lakinya. Tak aka isiden tak normal macam disinetron yang menjadikan mereka sumber perhatian dalam ceritanya. Dua tahun. Si Rambut ekor kuda hanya tau Si Bujang pindah karena ayahnya pindah tugas kerja. Hanya itu. Sementara Bujang, apa iya pun tahu siapa nama Si Rambut ekor kuda, atau Si Rambut ekor kuda yang sesekali memerhatikannya?

Lembar kedua.

Si Rambut ekor kuda dan Si Bujang lalu satu atap di Sekolah Menengah Pertama. Bukan takdir yang terlalu berbaik hati, ya karena memang hanya satu sekolah menengah pertama di daerah itu. Mungkin takdir lebih dikatakan berbaik hati ketika ternyata mereka satu kelas, atau malah sebaliknya, takdir tak bermaksud berbaik hati.

Kisahnya baru akan dimulai.
Masih seperti biasa, Si Rambut ekor kuda masih dengan cueknya dan hanya sesekali mencuri pandang. Si Bujang masih dingin tapi ia mulai terlihat keren. Apalagi setelah terpilih menjadi ketua kelas dan juara kelas. Ah, romansa klise putih biru. Si Rambut ekor kuda mulai berlagak puitis. Ekor matanya pun mulai liar. Hari-hari yang indah, berpapasan di gerbang sekolah, berdiri berdampingan saat upacara bendera, puas memperhatikan gerak gerik Si Bujang yang mengerjakan soal matematika di depan kelas. Ah, terlalu cepat Si Rambut ekor kuda merasakan jatuh cinta. Sungguhlah Si Rambut ekor kuda masih teramat sangat polos. Mungkin ia hanya tahu pasangan perempuan adalah laki-laki, hidup dan mati, atas dan bawah, air dan api. Ia sungguh tidak tahu, bahwa bersama jatuhnya hati, ada patah hati yang mengintai. Hingga ia tiba pada masa itu.

Tahun terakhir di dekolah menengaj pertama. Si Bujang tentu saja masih gagah, dan lamat-lamat jika diperhatikan ia punya ginsul yang hanya akan tampak jika tersenyum lebar. Tentu saja Si Rambut ekor kuda baru mengetahuinya karena Si Bujang sangan jarang tersenyum lebar. Hari ini kelas gaduh setiba Si Rambut ekor kuda.
“UN dimajukan?” Si Rambut ekor kuda langsung to the point ke temannya yang pertama ia temui di dekat pintu kelas.
“Skandal” temannya setengah berbisik
“Skandal? Macam artis saja” Si Rambut ekor kuda cuek
“Sini duduk” si teman menarik rambut ekor kuda menuju bangku paling belakang.
“Si Bujang sold out” si teman dengan ekspresi kecewa sambil meomnyongkan bibirnya.
Sold out?”
“Kamu tahu kan anak kelas sebelah yang pindah tahun lalu, Si Rambut sebahu dengan lesung pipi manis dan kulit putih mulus? Dia pacaran sama Si Bujang” si teman sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Si Rambut ekor kuda diam tak bergeming.
“Ini patah hati sekecamatan namanya” Si teman seolah-olah tampak lunglai. Ia juga patah hati. Tentu, siapa yang tak patah hati mengetahui Si Bujang, meski tidak popular di sekolah tapi idola para juniornya, bahkan teman sekelasnya. Atau di rambut sebahun dengan lesung pipi, perempuan tercantik yang pernah singgah di sekolah kami.
Sejenak ekor mata Si Rambut ekor kuda mengarah ke Bujang. Ah sial, tepat saat Bujang tertawa lepas. Ginsulnya asli sempurna.
“Aissh..!! harusnya mulai detik ini rasa aneh ini menghilang” Si Rambut ekor kuda malah bertingkah aneh dalam lamunannya.

Inilah patah hati anak SMP karena cinta pertamanya. Duduk dengan tatapan kosong di depan computer dengan iringan music album band jikustik. Satu album berulang terputar. Ia menangis. Tapi masih menangis seadanya. Semalam, dua malam. Hanya dua malam. Perlahan Si Rambut ekor kuda mengerti kapan kau terlena pada jatuh cinta, bersiaplah patah hati. Hanya beberapa hari sop ayam terasa hambar, air putih terasa pahit, selebihnya ia kembali ke masa menyukai diam-diam. Tidak melewatkan waktu-waktu bertemu di gerbang sekolah, menatap lamat-lamat Si Bujang yang mengerjakan soal matematika di papan kelas, mencuri pandang saat Si Bujang tertawa lebar. Hingga tahun putih biru berakhir. Di jam-jam terakhir sebelum perpisahan resmi, tiba-tiba Bujang menghampiri Si Rambut ekor kuda, mengulur kan tangan kanannya hendak bersalaman dan tersenyum lebar. “Selamat ya, sampai jumpa lain waktu”.
“Ii..iyaa” Si Rambut ekor kuda pun mengulur tangannya, matanya tak  berkedip sedikit pun hingga masing-masing melepas jabat tangannya. Hari terindah Si Rambut ekor kuda selama mengenal Si Bujang terlepas dari bayangan si lesung pipi dengan rambut sebahu.

Lembar ke tiga

Lembar putih abu-abu. Pun abu-abu ceritanya. Lembar paling singkat dalam diari Si Rambut ekor kuda. Bagaimana tidak, semenjak meninggalkan jejak di telapak tangan di rambut ekor kuda, Si Bujang sangat jarang mampir di depan mata Si Rambut ekor kuda. Bisa di hitung jari selama tiga tahun berseragam putih abu-abu. Senyum ginsul nya pun tidak pernah sekali pun tampak. Kecuali dalam mimpi di malam-malam ketika rindunya memuncak. Tak pelak lagi, Si Rambut ekor kuda telah benar jatuh cinta. Jika pun akan patah hati lagi, akan terasa lebih pedih kali ini.
Si Rambut ekor kuda telah benar berubah puitis. Puisi-puisi tentang cinta dan kerinduan mulai menggunung di tumpukan buku pelajaran. Bukankah mood menulis itu tumpah ketika kau sedang jatuh cinta dan patah hati? Jatuh cinta sendiri? Bodo amat buat Si Rambut ekor kuda. Ia menikmati setiap tetes rasa karena rindu. Tak meminta balasan, tidak bersemoga untuk apa pun itu, bahkan tak perlu Bujang tahu sekali pun. Oh..oh.. Si Rambut ekor kuda mulai bijak.

Suatu waktu libur panjang, Si Rambut ekor kuda berjalan riang menuju rumahnya. Masih dengan rambut ekor kudanya yang goyang ke kiri dan kanan berirama. Melompat-lompat kecil dengan langkah pendek. Jalanan dengan lebar kurang dari 2 meter yang masih berumput dan kerikil-kerikil kecil. Sesekali kerikil terlempar oleh pijakan Si Rambut ekor kuda yang setengah melompat. Dan ups, ia bahkan tidak menyadari hampir menabrak sesosok tubuh yang sedang membungkuk di depannya. Si Rambut ekor kudan me rem langkahnya yang setengah berlari dengan mendadak. Lalu ia yang hamper terjatuh, tapi ia tak pernah punya masalah dengan keseimbangan tubuhnya. Sosok tubuh itu berdiri tegap, tingginya melebihi Si Rambut ekor kuda. Senyum yang senantiasa hadir menggelitik mimpi-mimpi akhir malam Si Rambut ekor kuda. Senyum dengan ginsul yang hampir sempurna. Bujang.

“Eh, maaf” Si Rambut ekor kuda setengah kaget setengah berbahagia.
“Ohiya, tidak apa-apa, mau balik rumah? Dari mana? Oh ya, sekolah gimana? Sekolah kita tetanggan kan ya? Sekarang lagi libur panjang kan?” pertanyaan Bujang membabi buta.
“Eh?” kini Si Rambut ekor kuda malah semakin kaget.
“Eh, oh. Anu, saya masuk rumah dulu ya” Bujang bergegas macam sudah lihat hantu.
Si Rambut ekor kuda mematung hampir lima menit lamanya dengan mulut menganga. Hingga tiba-tiba tetesan hujan memaksanya untuk bergegas pulang ke rumah. Kali ini ia berlari kencang dan membuat rambut ekor kudanya benar-benar terhempas kiri kanan secepat irama langkah larinya.
Hanya sekali itu obrolan singkat tiga tahun terakhir. Selebihnya beberapa kali Si Rambut ekor kuda hanya melihat sekilas Si Bujang yang melintas di gang depan rumahnya. Tak masalah buat Si Rambut ekor kuda. Toh iya tetap bisa menyampaikan perasaannya melalui puisi pada lembar-lembar diarinya, menghadirkan sosok Bujang dalam mimpi di akhir malam cukup membalas rindu yang tak pernah sekali pun tersampaikan.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar