Kamis, 16 Januari 2014

Corat Coret

Tiap tahun pasti gini. Situasi sulit. Puncaknya segala bentuk kegelisahan. Tak pernah ada prosedur yang sempurna. Kemudian memilih, lalu ambil keputusan, akhirnya menanggung resiko, dan lagi harus beralibi.
Simple. Ujung-ujungnya, nitip KRS, omelan PA urusan belakang. Bolos kuliah satu minggu perdana, nitip tanda tangan? Kalau bisa. Bagus kalau bukan kuis dihari pertama. Jangan protes kalau bukan nilai A cantik nan indah yang muncul di KHS.
Resiko anak rantauan. Berkeliat dari hitam di atas putih peraturan akademik dan kemahasiswaan yang mengikat. Bahkan pulang kampung yang harusnya menjadi ritual sakral sekali setahun sering terusik oleh sms jadwal KRSan, pergantian PA dan kuliah perdana.
Bukan apa-apa sih, hanya soal pilihan. Puas pulang kampung dengan menggantung seabrek prosedur penentu masa depan, atau pulang kampung singkat tapi urusan bakal masa depan beres. Apakah adil..? Pulang kampung hanya beberapa hari dengan perjalanan neraka atau bajet 15 kali lipat ongkos pulang kampung mahasiswa lain. Ada lagi, hanya beberapa hari untuk keluarga mu dalam setahun? Hanya beberapa hari untuk teman SMA mu dalam setahun?. Sekali lagi, adil..??
Mereka sih enak  bahkan tiap weekend bisa bertemu orang tuanya, paling lama ya cuman 6 jam perjalanan. Setelah balik ke rantauan, beraneka ragam bekal untuk penghidupan diangkut, ditemani pula sama keluraganya. Saya? Boro-boro bawa bekal segudang, bawa diri aja rasanya berat. Hanya mengandalkan ATM yang semoga gemuk selalu untuk melanjutkan hidup. Tak ada pisang, tak ada buras, telor ayam apa lagi,dan aneka lauk khas daerah lainnya. Makannya jangan heran saya suka makan ikan di sini, saya suka jus mangga,  jus nangka, dan jus sirsak. Itu adalah obat jiwa. Homesick.
Lihat saja betapa malam ini saya gelisah dan tak tidur hingga adzan subuh berkumandang. Betapa tidak, sebentar pagi saya melihat matahari di tanah kelahiran dengan meninggalkan KRS yang belum tau kapan baru bisa di on line kan bahkan telah ngaret 2 minggu (gara-gara yang satu ini semua rencana berantakan), berkas wisuda yang belum pula di on line kan dan lebih-lebih dikumpul. Hey, saya tidak akan diwisuda Maret nanti, kalau tidak on line dan tidak mengumpulkan print out nya. Lalu saya belum mendaftar untuk profesi ners, deadline nya akhir bulan depan. Kenapa? KRS belum ada, surat a..b..c.. belum ada. Rasanya ingin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sambil beteriak. Meski tak menyelesaikan persoalan, setidaknya partikel-partikel yang membuat dahi ini kerut bisa ku bebaskan sejenak. Tak apa sejenak.
Seperti nya akan selalu seperti ini tiap tahunnya. Dan dengan polosnya, seperti ada bisikan di telinga saya. “kita memang selalu berencana, dan selalu akan begitu. Kemudian kita secepatnya kita dituntut memutuskan. Done. Tapi jreng…jreng.. rencana meleset, keputusan terlanjur ketuk palu. Mau tak mau harus ada kerugian. So? Terpuruk pada kerugian bukanlah pilihan. Bagaimana meminimalisir kerugian adalah rencana sekarang. Kita yang paling tau langkah apa yang terbaik untuk kita sekarang. Lakukan, nikmati, dari pada nothing. Tuhan aja nurunin penyakit beserta obatnya, so pasti masalah juga ada sejalan dengan solusinya”.

Makassar, 17 Januari 2014

02.53 dini hari, malam dalam mendung

2 komentar:

  1. hihihihi.... berat amat bebannya yg mau balik kampung. sempat juga nulis mba ulfa. hahahaha, pasti ini hasil dari ndak bisa tidur karena tunggu check in. Nikmati saja liburannya...

    BalasHapus
  2. :)
    hanya senyuman yang bisa di berikan dari orang yang merantau lebih jauh dari pada makassar..
    bukan apa-apa sih, hanya ingin mengerutkan dahi seraya memberikan jempol terhadap langkah pasti yang diambil. hehe.

    BalasHapus