Beberapa
detik saya harus memperbaiki perasaan sejenak memejamkan mata, menghela napas
panjang beberapa kali. Menyetel lagu irama klasik. Sempurna.
Pagi
menjelang siang yang terik. Awal November yang biasa. Saya sedang menanti
senja. Ada tujuh detik special padanya. Saat matahari benar-benar merangkak
perlahan tertelan ujung bumi. Ketika matahari lenyap untuk menepati janji pada
milyaran manusia di belahan bumi lain, termasuk kamu.
Tujuh
detik special yang mungkin kau kejar hampir setiap senja selama hidup mu.
hingga tak pernah kau perdulikan pagi yang anggun, saat matahari senja mu itu
masih awal menggandeng langit dan penghuninya. Hingga kau tak memperdulikan
malam, saat matahari senja mu itu menitipkan cahayanya pada megahnya bulan dan
milyaran penghuni langit malam lainnya. Kau tak pernah perduli. Kau hanya
mengejar senja. Tujuh detik special bersamanya.
Saya
bukan penikmat senja, bukan penikmat the aroma melati bersama kenangan yang
menyertainya. Saya hanya selalu menanti pagi dan penikmat angin malam. Tidak pada
senja. Karena mega yang terlampau menyilaukan. Dan tak ada fatamorgana memeluk
senja.
Mengapa
pagi. Sebab pagi menjanjikan mimpi. Menjanjikan segala cerita yang bertabur
rasa syukur hingga malam menjadi sangat gelap.
Mengapa
pada angin malam. Sebab malam menjadi penutup cerita. Setelah semua janji fajar
pagi terpenuhi, terbawa angin malam menanti pagi esok.
Jelas
sudah, kita tak akan pernah bertemu dalam lingkaran kehidupan nyata. Kau hanya
autis dalam senja mu dengan seduhan secangkir the hangat dan sebatang rokok. Tujuh
detik special, bersama tegukan teh dan hisapan batang rokok. Sempurna senja
pilu. Pagi mu hanyalah pagi. Malam mu cukup menjadi jembatan untuk melewati
hari berikutnya.
Sekali
lagi saya harus menghela nafas panjang. Matahari semakin terik. Saya akan baik-baik
saja sebelum senja tiba. Setidaknya saya harus menyaksikan pergulatan cahaya
matahari dan tepian bumi hari ini. Menanti fatamorgana terakhir. Mungkin.
Sebelum
akhirnya senja, sebelum akhirnya kau berpesta. Saya hanya ingin mengucapkan
selamat tinggal. Terima kasih untuk setiap fatamorgana yang menyilaukan, untuk
semua kenangan yang mustahil terlupa, serta senyum dan tatapan mata tak terbaca.
Entah
bagaimana seharusnya. Saya sudah cukup frontal, cukup jujur. Jika pun kau paham
dan mengerti, ya sudah. Jika pun tidak, ya sudah. Saya baik-baik saja.
Maaf
telah lancang menyebut nama mu dalam setiap do’a dan sujud ku. Mungkin itu tak
akan terjadi lagi.
Saya
hanya perlu mengehela napas yang lebih panjang lagi. Mengeluarkan seluruh CO2 yang menyesakkan dada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar