Jumat, 07 November 2014

Senja

Beberapa detik saya harus memperbaiki perasaan sejenak memejamkan mata, menghela napas panjang beberapa kali. Menyetel lagu irama klasik. Sempurna.

Pagi menjelang siang yang terik. Awal November yang biasa. Saya sedang menanti senja. Ada tujuh detik special padanya. Saat matahari benar-benar merangkak perlahan tertelan ujung bumi. Ketika matahari lenyap untuk menepati janji pada milyaran manusia di belahan bumi lain, termasuk kamu.

Tujuh detik special yang mungkin kau kejar hampir setiap senja selama hidup mu. hingga tak pernah kau perdulikan pagi yang anggun, saat matahari senja mu itu masih awal menggandeng langit dan penghuninya. Hingga kau tak memperdulikan malam, saat matahari senja mu itu menitipkan cahayanya pada megahnya bulan dan milyaran penghuni langit malam lainnya. Kau tak pernah perduli. Kau hanya mengejar senja. Tujuh detik special bersamanya.

Saya bukan penikmat senja, bukan penikmat the aroma melati bersama kenangan yang menyertainya. Saya hanya selalu menanti pagi dan penikmat angin malam. Tidak pada senja. Karena mega yang terlampau menyilaukan. Dan tak ada fatamorgana memeluk senja.

Mengapa pagi. Sebab pagi menjanjikan mimpi. Menjanjikan segala cerita yang bertabur rasa syukur hingga malam menjadi sangat gelap.

Mengapa pada angin malam. Sebab malam menjadi penutup cerita. Setelah semua janji fajar pagi terpenuhi, terbawa angin malam menanti pagi esok.

Jelas sudah, kita tak akan pernah bertemu dalam lingkaran kehidupan nyata. Kau hanya autis dalam senja mu dengan seduhan secangkir the hangat dan sebatang rokok. Tujuh detik special, bersama tegukan teh dan hisapan batang rokok. Sempurna senja pilu. Pagi mu hanyalah pagi. Malam mu cukup menjadi jembatan untuk melewati hari berikutnya.

Sekali lagi saya harus menghela nafas panjang. Matahari semakin terik. Saya akan baik-baik saja sebelum senja tiba. Setidaknya saya harus menyaksikan pergulatan cahaya matahari dan tepian bumi hari ini. Menanti fatamorgana terakhir. Mungkin.

Sebelum akhirnya senja, sebelum akhirnya kau berpesta. Saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Terima kasih untuk setiap fatamorgana yang menyilaukan, untuk semua kenangan yang mustahil terlupa, serta senyum dan tatapan mata tak terbaca.

Entah bagaimana seharusnya. Saya sudah cukup frontal, cukup jujur. Jika pun kau paham dan mengerti, ya sudah. Jika pun tidak, ya sudah. Saya baik-baik saja.
Maaf telah lancang menyebut nama mu dalam setiap do’a dan sujud ku. Mungkin itu tak akan terjadi lagi.

Saya hanya perlu mengehela napas yang lebih panjang lagi. Mengeluarkan seluruh CO2  yang menyesakkan dada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar