Dear
saudara serusukku
Apa kabar di jeda waktu ini? Tidak kah
disitu membosankan? Apakah engaku sedang menuggu? Sendiri? Hanya sendiri? Bagaimana
malam mu, penuh bintang? Maaf, sepertinya aku lebih cerewet dari sebelumnya. Maaf juga, tak
ada kata-kata puitis untukmu hari ini. Hanya deretan kata-kata polos dari
seorang perempuan yang sedang bosan juga, sama seperti mu. Bosan menghitung
bintang, bosan menanti pelangi, dan dan bosan berandai.
Mengapa kau tak pernah ingin
berkenalan dengan ku? Sudahkah kau mengenalku? Taukah engkau warna kesukaan ku?
Makanan kesukaan ku? Hal yang ku benci? Atau sekedar tau, kenal kah aku dengan
mu? Ah, sudahlah. Lupakan.
Aku akan berkabar. Di atas tanah
pijakan ku sedang basah oleh sisa hujan. Baunya khasnya membawaku kembali pada
masa 8 tahun ku dulu. Kemudian aku beratap langit malam dengan jutaan bintang. Bahkan
aku bisa menghubungkan titik-titik terang dengan telunjukku membentuk Andromeda
dan scorpius. Ohya, aku menutup sebelah mataku agar bisa fokus berimajinasi menciptakan
garis di udara.
Apa engkau juga akan berkabar? Bagaimana
tanah pijakkan mu? Basah? Apa kau bisa melihat Andromeda dan scorpius di situ? Tidak
kah langit malam disitu cerah?
Sekali lagi aku berkabar. Aku pernah
bermimpi tentang mu. Mimpi indah. Menatap nanar langkah gontai mu bergandengan
dengan bayangan hitam berpayung terik. Langkah mu semakin cepat, jauh dan
bayangan hitam itu perlahan hilang. Leherku terasa tercekik, dengan mata tanpa
satu kedipan pun aku berusaha bersuara memanggil sosok tak bernama. Engkau. Engkau
yang masih berdiri membelakangi ku di sana. Jauh.
Sekali lagi, apa kah engkau akan
berkabar? Saat tidur mu yang pulas, tentang mimpi mu?
Dear
saudara serusukku,
Ku kirim surat ini untukmu di salah
satu sudut bumi Tuhan yang maha luas ini. Terimakasih telah menyentuh surat ku,
membacanya hingga kata terakhir. Dan terimakasih untuk menjawab semua
pertanyaan ku dengan kata-kata yang bisa ku baca di sini sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar