Apakah
yang lebih hebat dari rindu? Emosi paling angkuh dan egois yang bersarang dalam
diri setiap kita yang menamakan diri sebagai insan. Amukan jiwa yang bahkan
terkadang lebih besar dari guncangan bumi sekian skala richter, jika guncangan
gempa bumi bisa meluluhlantahkan arsitektur megah kota beserta penghuninya,
maka rindu yang hebat yang sekian lama trependam kuat bisa menelan
mentah-mentah kewarasan sang empunya rindu. Begitulah rindu, sombong dan anggun
menguasai jiwa-jiwa kosong yang haus akan tatapan binar mata atau sekedar
seulas senyum yang dirindukan. Bukan rindu pada Sang pemilik rindu, tapi rindu
diantara kita sesama perindu.
Merindukan
itu sakit, perih, dan menyayat, tak jarang menguras air mata. Betapa sakitnya
rindu sehingga terlontar ucapan “ingin ku
lempar batu bata di wajahmu, agar kamu tau betapa sakitnya merindukanmu”. Begitulah
rindu saat kau tak berdamai dengannya. Dia akan memperbudak mu, merajai pikiran
dan batin mu yang bahkan tak mengerti meletakkan rindu itu di sisi mana.
Tapi
tidak demikian saat kau mengemas rindu dengan apik. Mengumpulkannya dengan rapi
dalam ruang jiwa yang selalu lapang. Cukuplah rindumu menjadi rahasia antara
kau, rindu-rindumu, dan Ia Sang pemilik rindu. Biarkan rindu-rindu itu berkembang,
bertambah tanpa harus terlepas sedikit pun. Rasakan interaksi batinmu dengan
rindu-rindu yang terkumpul rapi dan
bermain indah dalam setiap sudut relung hati. Hingga suatu waktu yang indah,
rindu-rindu itu bosan bersarang dalam jiwamu, maka mereka sendiri yang akan
mengantarkan mu untuk membebaskan diri-diri mereka pada tempat yang seharusnya.
Pasti. Maka tiadalah keindahan dan kelegaan hati saat rindu-rindu itu lenyap
dari jiwamu dan mengahadap pada tuannya. Dan rindumu telah kembali pada
pemiliknya. Dan apakah yang lebih hebat dari rindu?
Makassar,
3 September 2013
Teruntuk
yang senantiasa merindukanku, sebab aku pun selalu merindu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar