Januari
Januari di 2013 hujan turun dengan
anarkis. Makassar banjir di mana-mana. Kondisi terparah selama aku merantau. Danau
Unhas meluap dan berhasil membuat motorku mogok untuk pertama kalinya. Dan ada
kisah pilu atau tepatnya memalukan bersama derasnya hujan. Sebagai seorang
perempuan nomal, sempurna aku merasakan remuknya hati akibat putus cinta. Dan beneran,
aku bahkan menghabiskan tissue satu pak gede untuk air mata yang sia-sia. Ini bukan
fase denial, menolak, tawar-menawar atau pun fase depresi. Sumpah, ini fase
marah. Marah pada diri sendiri. Bodoh..bodoh.. tak henti ku caci diri sendiri. Dan
mulai pada saat itu aku berjanji ini adalah kebodohan pertama dan terakhir.
Hujan-hujan aku juga berhijrah kosan. Ya,
pindah kost emang ribet bin rempong. Angkat dua jari, gak lagi deh pindah
kosan. Kapok.
Januari adalah full libur semester ganjil.
Liburan ke pulau jawa? Siapa takut. Alasan pertama, bajet pulang kampung malah
lebih mahal, alasan kedua menghindar.
Januari bersama Bromo. Sumpah Tuhan, aku
gak pengen balik Makassar.
Februari
Perkuliahan aktif kembali. Memaksakan diri
untuk move on dari masa liburan. Februari
yang special, gak susah nyari inspirasi buat nulis. Bekas air mata di januari
cukup menjadi bahan corat-coret. Jadi keinget kata-katanya Asma Nadia “waktu menulis yang keren itu pada saat
jatuh cinta dan patah hati”. Kayaknya emang postingan terbanyak di blog ku
itu di Februari. Bangga sama diri sendiri.
Maret-mei
Nothing
special. Hanya menyibukkan diri dengan kuliah, presentasi,
CSL, ujian blok, OSCE. Melepaskan status sebagai pengurus harian Himpunan, lega
banget rasanya. Oh iya, akhirnya diumumkan nama-nama pembimbing skripsi. Rasanya
itu, deg-degan kayak abis nembak cowok dan digantung berminggu-minggu. Next, pengumuman nama-nama penguji. Pas tau
dapat penguji yang kata senior perfecionist,
kayak ngajak balikan mantan tapi ditolak. Lemes seluruh badan.
Persiapan KKN kemudian menyita waktu dan
pikiran. Kambali merantu 8 minggu ke depan. Ribet, perbanyak bawa celana
panjang, baju tidur, kaos lengan panjang dan jilbab pasang. Soalnya kita
serumah sama cowok. Teman-teman baru, rumah baru, “orang tua” baru, aktifitas
baru, rutinitas baru, yang gak boleh dilupain, menu makan yang baru.
Juni & Juli
Perhelatan KKN dimlai. Seperti biasa,
segala sesuatu yang baru dimulai dengan adaptasi. Move on lagi. Kerja proker, berusaha manis dan ramah pada
masyarakat, piket masak dan cuci piring yang setiap hari menghantui.
Ramadhan di lokasi KKN adalah ramadhan
termiris sepanjang hidup. Tak ada kolak pisang, cendol hangat, dan segala
sesuatu yang bersantan. Alhasil, jika tiap ramadhan aku gemukan, ramadhan kali
ini aku turun 3 kg. lumayan. Lebih miris, beberapa kali harus buka puasa dengan
bakso depan kantor camat. Gak sempat masak Karena kecapean kerja proker
penyuluhan. Atau pada saat ceramah shalat taraweh, cuman bisa mandangin pak
ustadz yang ceramah pake bahasa daerah sampe-sampe ditegur temen karena lupa
mingkem. Dan jurnal, buku harian pada saat berKKN ria, saksi kehidupan
mahasiswa yang sedang melewati proses menjadi mahasiswa sejati. Bekuliah sambil
bekerja dengan nyata. KKN.
Agustus
KKN berkahir. Waktunya pulang kampung. Cuman
9 hari. Lumayan menyesakkan dada. Skejul padat. Buka puasa bersama, piknik
bareng atau sekedar kumpul-kumpul berbagi (lebih tepatnya “pamer”) pengalaman
di rantauan bareng teman sekolah dulu. Semua itu adalah ritual wajib kalo
pulang kampung. Maka nikmat apakan yang didustakan mahasiswa rantauan selain
pulang kampung? :D
September
Akhir sepetember aku seminar proposal. Persiapan
matang fisik dan mental. Tapi, jreng..jreng.. meski proposalku diterima, aku
merasa pembantaian batin pada saat itu. Tidak perlu ku deskripsikan, biar
menjadi aib pribadi. Hehe
Oktober
Nekat, sembari menunggu surat rekomndasi
penelitian, aku dan temanku Ayu ber “bolang” lagi ke Pulau Jawa. Malang dan Jogja
adalah planning sementara. Jalan ala backpacker
lumayan lah menghemat bajet kurang lebih 50%. Puas keliling Kota Malang,
waktunya jogja diserbu. Candi prambanan, candi Borobudur di Magelang, dan
lokasi romantisnya jogja yaitu taman pelangi dan bukit bintang. Emang sih, tiga
hari sangat..sangat singkat mengenal Jogja.
November
Jujur, November tidak begitu special meski
ini bulan kelahiran ku. Ulang tahun dan perayaan bukan lah kegemaranku. Maaf,
aku tidak suka pesta, meski itu perayaan kecil-kecilan. Cukup do’a, cukup.
Penelitian untuk skripsi tercinta masih
berlanjut. Bolak-balik rumah sakit untuk ambil data pasien, kemudian
menginputnya dengan hati-hati sampe meutar-mutar otak untuk mendapatkan
kata-kata yang tepat untuk menghasilkan pembahasan yang apik agar tak banyak
revisi nantinya.
Desember.
Alhamdulillah. Fatimah Ulfah S.Kep
“Maka,
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar. Rahman)
16 Desember aku sidang. Tidak seperti
kondisi seminar proposal yang menyisakan luka. Kali ini sidangnya mulus. 20
Desember Yudisium S.Kep. dan 24 Desember penyumpahan S.Kep. pake TOGA. Banyak yang
kira udah wisuda Karena TOGA. Akhirnya sempurna rasanya menjadi mahasiswa.
Dengan
Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang.
Selamat datang 2014. Tuhan ijinkan saya
menikmati kembali Desember 2014 Mu. Agar aku bisa bercerita lebih banyak lagi
dari ini. Tentang nikmat Mu, tentang kesyukuranku, tentang indahnya menjadi
hambaMu.
Amin
ya Rabbal’alamin
Makassar, 1
Januari 2014
baru pernah baca,,
BalasHapuskerenn ternyata,,,
makasih bang bule :D
BalasHapusWAOW...
BalasHapusNice
Blokku brantakan, gak ada komentarnya yang muncul..
masa sih, komentar ku ada kok muncul ku liat..
BalasHapusbtw, tengkyuu :D