Sabtu, 07 Mei 2016

Lembar-Lembar Cinta (Bag.2 End)



Lembar ke empat

Jalanan kota macet parah kendaraan bahkan nyaris tak bergerak. Jalan raya menuju kampus Si Rambut ekor kuda sudah macam tempat parker raksasa. Seaindai pun iya, mungkin sudah terdaftardi rekor muri. “Ah, sial. Ini kan 28 Oktober. Kenapa juga harus ujian di tanggal genting begini, pastilah macet. Unjuk rasa di setiap tempat strategis di sudut kota”.
“Pak, saya turun di sini ya.” Si Rambut ekor kuda menyodorkan uang lembaran lima ribuan ke sopir angkotnya.

Untuk sampai ke kampus masih sekitar satu kilometer. Si Rambut ekor kuda, meski kini ia sudah lebih sering mengurai rambutnya dengan terpaksa berjalan di sela-sela kendaraan yang terparkir terpaksa di jalanan untuk menuju kampus. Benar saja, baru 500 meter ia berjalan, ia melihat kepulan asap hitam dan mencium aroma bau yang sangat mengganggu. Apalah unjuk rasa tanpa bakar ban. Sekelompok mahasiswa lengkap dengan almamater sukses memblokir jalan utama kota. Sebagian tercecer di jalan, berteriak mengikuti apa yang seorang di atas truk katakana seolah mengamini. Sementara yang berdiri di atas truk dengan pengeras suara, bercelana jenas robek di lutut dan berikat kepala yang bertuliskan pemuda Indonesia terus saja berteriak lantang. Apa pun itu yang ia teriakkan tidak sama sekali tertangkap di telinga Si Rambut ekor kuda. Semua tercampu, bunyi klakson kendaraan, teriakan manusia sana-sini, sirine mobil polisi. Ah, sengatan matahari adalah yang terpanas hari ini. Kenapa kota segerah ini. Semakin dekat Si Rambut ekor kuda dengan barisan mahasiswa beralmamater itu. Beberapa ia kenali sebab mereka dari kampus yang sama. Dan seseorang yang berdiri sangar di atas mobil truk dengan pengeras suara itu, sangat familiar dan.. belum sempat Si Rambut ekor kuda berpikir lagi tetiba ia merasakan matanya perih. Gas air mata. Sebelum sempat ia menutup kelopak matanya ia masih sempat melihat batu-batu melayang di depannya. Dan beberapa kali benda itu menghantam badannya termasuk pelipisnya. Terasa ada seuatu cair mengalir dari pelipisnya. Darah. Ia masih menutup matanya. Dan tiba-tiba seseorang merampas paksa tas kuliahnya. Ia tak mampu melawan. Matanya amatlah perih, ia bahkan tak mampu membuka matanya. Hingar bingar suara orang berkejaran tertangkap telinganya. Beberapa kali ia tertabrak orang-orang yang berlarian dan terjatuh . dan kali ini ia merasa lututnya mungkin berdarah. Matanya masih perih dan tertutup. Si Rambut ekor kuda kehilangan arah. Dengan mata yang masih tertutup ia berjalan sempoyongan. Tiba-tiba sepasang tangan merangkul bahunya dan menuntunya ke suatu tempat.
Si Rambut ekor kuda seperti di bawa ke suatu ruangan. Agak dingin. Mungkin ber ac. Ia duduk di atsa sofa yang empuk. Matanya msih terasa perih dan tertutup. Orang yang membawanya lalu bersuara.
“Duduk lah dengan tenang, pelipismu berdarah dan kamu terkena gas air mata. Sebentar akan ku bersihkan luka mu.”
“Kamu siapa? Kita dimana?” Si Rambut ekor kuda tampak gelisah.
“Tenanglah, kamu bersama orang baik di tempat yang aman”
“Tapi saya..”
“Tolong tenang.” Suara berat itu berusaha menenangkan.
Perlahan ia membersihkan luka di pelipis Si Rambut ekor kuda, dengan sesekali Si Rambut ekor kuda meringis kesakitan. Terkahir ia membalutnya dengan kasa dan plester. Lalu, mengkompres mata Si Rambut ekor kuda yang terkena gas air mata.
“Sekarang perlahan buka matanya.”
Si Rambut ekor kuda perlahan membuka matanya seperti pasien yang baru saja dalam pemulihan operasi cangkok mata. Berkedip beberapa kali. Menangkap sempurna wajah yang ada di depan matanya. Bujang.
‘Matamu merah, kemungkinan iritasi gas air mata. Jangan dikucek ya. Kompres saja hingga terasa nyaman. Ada rasa sesak nafas?”
“Eh, oh.. tidak.” Si Rambut ekor kuda masih kaget melihat Bujang.
“Baguslah kalau tidak, karena gas air mata dia ngefek ke saluran pernapasan. Lutut dan siku mu kemunginan lecet, mau aku yang bersihkan juga?” Bujang Nampak dengan wajah yang bercanda.
“Tidak usah, saya bisa sendiri kok.” Si Rambut ekor kuda tersipu malu
“Tentu saja kamu akan melakukannya sendiri.” Bujang tersenyum lebar dan ginsulnya nampak jelas.
“Pantas saja saya ngerasa familiar sama pegang pengeras suara di atas truk tadi, kamu rupanya. Tapi ngomong-ngomong, menurutku kamu terlalu mahir sebagai orang awam untuk pertolongan pertama seperti ini.”
“Kami sudah biasa, sering bahkan.”
“Sering tawuran.” Si Rambut ekor kuda menyela
Kali ini Si Bujang tersenyum simpul.
“Tas ku, mana tas ku? Kamu lihat tas ku?” Si Rambut ekor kuda mulai teringat tasnya
“Sepertinya dijambret tadi.”
“Aish..paper ku, aku harus ujian hari ini.” Si Rambut ekor kuda melirik arlojinya.
“Waktu ujianmu sudah lewat, kamu masih bisa kan memperbaiki nilaimu. Ohya, kalau sudah agak kondusif nanti saya antar pulang ya. Istrahat saja dulu.” Bujang menyodorkan air mineral.
Entahlah ini musibah atau anugerah buat Si Rambut ekor kuda. Disatu sisi ia sangat bahagia bertemu Bujang di berbincang sedikit agak lama. Ia harus menahan degup jantung yang hampir merobek dadanya saat melihat senyum ginsul Si Bujang. Di sisi lain mungkin ia harus mengulang satu mata kuliah tahun depan.
Beberapa minggu setelah insiden itu, Bujang menemui Si Rambut ekor kuda. Ia sengaja menunggu Si Rambut ekor kuda depan kelas.
“Hey”
“Ah, hey.” Si Rambut ekorkuda Nampak sedikit kaget.
“Pelipisnya sudah tidak diperban lagi ya, lecet di lutut sama siku pasti dah sembuh dong. Paper waktu itu?” Bujang berbasa-basi
“Tahun depan.” Jawab Si Rambut ekor kuda singkat.
“Minggu depan ikut kami jalan-jalan yuk”
“Kami?”Si Rambut ekor kuda melempar pandangan curiga.
“Anggap saja untuk membayar utang atas insiden tidak mengenakan beberapa waktu lalu. Tentu saja kami, aku dan beberapa teman. Atau kamu maunya kita berdua saja?” Si Bujang sedikit menggoda.
“Apaan sih” Si Rambut ekor kuda reflex memukul ringan lengan Si Bujang
Setidaknya mereka lebih akrab.
“Ohya, jogging ya, kita bakalan ngecamp tracknya jalan kaki. Nanjak-nanjak dikit gitu. Eh, saya duluan ya. Gimana-gimananya saya hubungi lagi.” Si Bujang melirik jam tanganya.
Belum sempat Si Rambut ekor kuda ber “Oh”, Si Bujang hampir hilang di ujung mata.
“Ini manusia apa hantu, datang pergi sesuka hati.” Si Rambut ekor kuda mengomel dalam hati.
Lembar terakhir
Jalan-jalan ala Si Bujang di mulai. Dia dan beberapa teman laki-laki dengan carrier penuh dan sesak di punggung. Aku dan seorang teman perempuan ku hanya dengan daypack yang mungkin beratnya seperlima dari carrier Si Bujang.
“Kamu tidak bawa tas buat ke mall kan?” Bujang mulai menggoda
“Menurutmu?” jawab Si Rambut ekor kuda ketus
Tak perduli, Si Bujang mulai berjalan. Ia mulai cerewet,dan menjelaskan. Pun meski tak ada yang meminta. Mulai dari kontur tanah, tanaman yang cocok untuk tanah dan iklim di daerah itu. Memasuki hutan ia mulai menjelaskan jenis pepohonan, hewan  yang mungkin saja akn tetiba muncul di hadapan kami. Tiba di sungai ia tak kalah semangat, menjelaskan tentang bebatuan sungai hingga ke filosofinya.
“Jangan terlalu heran, Si Bujang sedang berusaha mengalihkan perhatian kalian agar tidak terlalu capek.” Salah seorang teman Si Bujang berbisik ke Si Rambut ekor kuda.
Mereka pun tiba di tempat camp. Pos terakhir pendakian ini. Setelah berjalan 15 jam lamanya, meski Si Rambut ekor kuda dan temannya harus tertatih dan hampir mengangkat bendera putih. Ini bukanlah jalan-jalan yang mereka harapkan, tepatnya belum.
Esoknya, setelah puas mengistirahatkan badan Si Bujang mengajak rambut ekor kuda menikmati hangat matahari siang. Mereka duduk berhadapan di hammock yang di pasang sejajar.
“Bagaimana?” Bujang menyodorkan segelas kopi susu hangat
“Seru, kalau ada planning lain kali ajak lagi ya.” Si Rambut ekor kuda menyerupu kopi susu nya yang mulai dingin. Suhu memang sangat dingin. Meski siang hari, tapi jaket, kaos kaki, dan kaos tangan tak terlepas dari tubuh mereka kecuali untuk aktivitas tertentu.
“Sebegitu sering mu ke sini, tak pernah kah kamu rasa bosan? Tak ada yang berubah bukan dari puncak? Awannya pun tetap sama, pepohonannya, hanya saja mungkin beberapa sampah baru. Teknologi kan semakin canggih untuk mencetak desain yang menarik perhatian konsumennya.” Si Rambut ekor kuda kembali menyeruput kopi susunya.
“Entah, mungkin saja tidak ada istilah kadaluarsa untuk perasaan mengagumi dan mencintai sesuatu yang bukan milikmu. Saya sangat suka dan kagum sunset di puncak ini. Di sini adalah spot sunset terindah yang pernah saya lihat.”
Pembahasan mereka mulai menarik.
“Beberapa orang tidak lah seberuntung kamu. Kadang mereka terbunuh kagum yang mereka simpan rapat-rapat. Meledak sih di pertemuan, tapi sayangnya tidak berujung perbincangan. Kadang rasa malu berakhir sesal.* Kecintaan yang terlalu lama mengendap, rindu yang tak pernah sampai pada tuannya. Bisa ditebak akhirnya, toh kadaluarsa juga.” Si Rambut ekor kuda menarik napasa panjang.
“Semacam diam-diam mencintai , begitu?” Bujang bertanya dengan polosnya.
“iyap, jatuh cinta. Perasaan yang jungkir balik, gundah gulana, kadang sakit hati kepada seseorang yang tidak pernah tahu, bahkan hingga semua itu berakhir dan tak bersisa, orang yang dituju tidak pernah tahu.”
“Cari pengganti saja, gampang.” Kali ini Bujang polos dan cuek
“Kamu pikir urusan perasaan sesederhana itu? Melupakan orang yang kita suka lantas menyukai orang lain tidak segampang menguras bak mandi lalu mengisinya kembali *.” Intonasi Si Rambut ekor kuda meninggi, Nampak sekali ia kesal.
“Sepertinya memang menyenangkan ketika orang yang kita cintai balas mencintai kita, seperti yang kamu bilang tadi. Urusan perasaan juga tak pernah sesederhana itu.” Bujang mulai serius dan wajahnya sedikit aneh. “ Tapi apa boleh buat kadang kita harus menerima kondisi dimana ada orang-orang yang hanya cukup hadir dalam hati kita, tidak hadi dalam kehidupan kita secara fisik. Soal rasa yang terlalu lama tersimpan, jika pun diutarakan mungkin saja akan terasa hambar. Dan akan lebih indah memang jika ia tertahan saja di ujung lidah. Sebab, jika pun tersampaikan justru pertanyaan baru akan muncul. Apa iya sesayang itu? Kamu tahu, seseorang pernah bernasehat kepadaku, mencintai sewajarnya, bahagia secukupnya, sisakan ruang untuk bersedih agar tak hilang arah saat hati mu tiba-tiba patah.”
Si Rambut ekor kuda diam mematung. Speechless.

Bujang tiba-tiba melompat dari hammocknya. “Sudah lumayan sore, ayok ke puncak. Akan ku tunjukkan sunset terindah pada mu.”
Sunset yang indah, aku paham kenapa kamu betah untuk kembali ke sini.” Si Rambut ekor kuda memejamkan matanya. Menghirup seluruh oksigen yang tak akan ia dapatkan di tempat lain.
“Jadi, apa yang akan kau tinggalkan di tempat ini?” Bujang bertanya tanpa menoleh
“Kenangan.” Si Rambut ekor kuda menjawab singkat masih dengan mata terutup.
“Hey..!!” Bujang memegang kedua lengan si rmbut ekor kuda. Mereka berdiri berhadapan. Jarak kedua mata mereka terpaut dua jengkal. “Saat kamu memutuskan kembali ke sini untuk mengambil kenangan yang kamu simpan, aku selalu bersedia menemani.” Bujang menatap lembut dan tersenyum menunjukkan ginsulnya.
Demi tuhan, kali ini Si Rambut ekor kuda benar tidak mampu bernapas.


(* dikutip dari berbagai sumber)

Lembar-Lembar Cinta (Bag.1)



Ini kisah si gadis yang suka mengepang rambutnya seperti ekor kuda, sebut saja Si Rambut ekor kuda. Dengan tetangga dan teman barunya Si Bujang. Bukan kisah persahabatan yang menyentuh, atau kisah cinta klasik yang memukau. Anggap saja catatan kecil Si Rambut ekor kuda di buku diari yang akhirnya ia akan bakar juga.

Lembar pertama bertuliskan kisah saat pertama Si Rambut ekor kuda bertemu Bujang. Siang terik. Hari ini Si Rambut ekor kuda tak punya jadwal les tambahan. Ia berjalan riang pulang sekolah dengan membiarkan rok merah hati nya yang selutut terkibas-kibas dan tentu saja rambut ekor kudanya yang goyang ke kiri dan kanan dengan irama teratur. Langkahnya mulai pelan ketika melewati sebuah rumah yang tampak sibuk oleh beberapa orang yang mengankat barang dari mobil pick up. “orang pindahan, tetangga baru dong”, guman Si Rambut ekor kuda dalam hati. Ia tak sadar sepasang mata  dibalik jendela memerhatikan Si Rambut ekor kuda berjalan riang. Hanya tak sengaja terlihat oleh Si Bujang, tak lebih. Toh diwaktu-waktu berikutnya pun tak ada interaksi berarti. Rumah mereka saja berjarak sekitar 100 meter.
Benar saja, Si Rambut ekor kuda dan Si Bujang tidak satu SD. Setidaknya mereka bisa bertatap muka tiga kali seminggu di kelas sains. Si Bujang pun ternyata mengambil kelas les yang sama dengan Si Rambut ekor kuda.

“Hey, itu anak baru?” seorang teman si tiba-tiba menyenggol lengan Si Rambut ekor kuda.
“Kayaknya sih gitu”. Si Rambut ekor kuda tampak berpikir. “Kayak tetangga sebelah rumah yang baru pindahan.”
“Ohya? Aku samperin ya.” Si teman bergegas menuju bangku Si Bujang.
“HEY.. LHO KOK..!!” Si Rambut ekor kuda setengah berteriak. Tapi terlambat, si teman telah duduk manis di samping bangku Si Bujang. Mereka tampak berbincang seru, sesekali si teman tertawa cengar-cengir. Tapi ekspresi Si Bujang dingin. Tampak ia senyum terpaksa, datar tak bermakna.
“Orang-orang aneh” Si Rambut ekor kuda berguman sendiri dalam hati.

Hari-hari mereka biasa-biasa saja meski bertetangga dan satu kelas les sains. Meski bertetangga, kadang berpapasan di jalan, Si Rambut ekor kuda hanya senyum seadanya dan dibalas wajah datar oleh Si Bujang. Si Rambut ekor kuda sih cuek-cuek saja, lebih-lebih Si Bujang. Bahkan mungkin Bujang menganggap tak pernah ada Si Rambut ekor kuda bahkan si temannya rambut ekor kuda. Semua berjalan normal di kelas les. Si Rambut ekor kuda berkumpul dan bermain dengan teman-teman perempuannya, Si Bujang pun lebih suka menyendiri dan kadang-kadang ngobrol dengan beberapa teman laki-lakinya. Tak aka isiden tak normal macam disinetron yang menjadikan mereka sumber perhatian dalam ceritanya. Dua tahun. Si Rambut ekor kuda hanya tau Si Bujang pindah karena ayahnya pindah tugas kerja. Hanya itu. Sementara Bujang, apa iya pun tahu siapa nama Si Rambut ekor kuda, atau Si Rambut ekor kuda yang sesekali memerhatikannya?

Lembar kedua.

Si Rambut ekor kuda dan Si Bujang lalu satu atap di Sekolah Menengah Pertama. Bukan takdir yang terlalu berbaik hati, ya karena memang hanya satu sekolah menengah pertama di daerah itu. Mungkin takdir lebih dikatakan berbaik hati ketika ternyata mereka satu kelas, atau malah sebaliknya, takdir tak bermaksud berbaik hati.

Kisahnya baru akan dimulai.
Masih seperti biasa, Si Rambut ekor kuda masih dengan cueknya dan hanya sesekali mencuri pandang. Si Bujang masih dingin tapi ia mulai terlihat keren. Apalagi setelah terpilih menjadi ketua kelas dan juara kelas. Ah, romansa klise putih biru. Si Rambut ekor kuda mulai berlagak puitis. Ekor matanya pun mulai liar. Hari-hari yang indah, berpapasan di gerbang sekolah, berdiri berdampingan saat upacara bendera, puas memperhatikan gerak gerik Si Bujang yang mengerjakan soal matematika di depan kelas. Ah, terlalu cepat Si Rambut ekor kuda merasakan jatuh cinta. Sungguhlah Si Rambut ekor kuda masih teramat sangat polos. Mungkin ia hanya tahu pasangan perempuan adalah laki-laki, hidup dan mati, atas dan bawah, air dan api. Ia sungguh tidak tahu, bahwa bersama jatuhnya hati, ada patah hati yang mengintai. Hingga ia tiba pada masa itu.

Tahun terakhir di dekolah menengaj pertama. Si Bujang tentu saja masih gagah, dan lamat-lamat jika diperhatikan ia punya ginsul yang hanya akan tampak jika tersenyum lebar. Tentu saja Si Rambut ekor kuda baru mengetahuinya karena Si Bujang sangan jarang tersenyum lebar. Hari ini kelas gaduh setiba Si Rambut ekor kuda.
“UN dimajukan?” Si Rambut ekor kuda langsung to the point ke temannya yang pertama ia temui di dekat pintu kelas.
“Skandal” temannya setengah berbisik
“Skandal? Macam artis saja” Si Rambut ekor kuda cuek
“Sini duduk” si teman menarik rambut ekor kuda menuju bangku paling belakang.
“Si Bujang sold out” si teman dengan ekspresi kecewa sambil meomnyongkan bibirnya.
Sold out?”
“Kamu tahu kan anak kelas sebelah yang pindah tahun lalu, Si Rambut sebahu dengan lesung pipi manis dan kulit putih mulus? Dia pacaran sama Si Bujang” si teman sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Si Rambut ekor kuda diam tak bergeming.
“Ini patah hati sekecamatan namanya” Si teman seolah-olah tampak lunglai. Ia juga patah hati. Tentu, siapa yang tak patah hati mengetahui Si Bujang, meski tidak popular di sekolah tapi idola para juniornya, bahkan teman sekelasnya. Atau di rambut sebahun dengan lesung pipi, perempuan tercantik yang pernah singgah di sekolah kami.
Sejenak ekor mata Si Rambut ekor kuda mengarah ke Bujang. Ah sial, tepat saat Bujang tertawa lepas. Ginsulnya asli sempurna.
“Aissh..!! harusnya mulai detik ini rasa aneh ini menghilang” Si Rambut ekor kuda malah bertingkah aneh dalam lamunannya.

Inilah patah hati anak SMP karena cinta pertamanya. Duduk dengan tatapan kosong di depan computer dengan iringan music album band jikustik. Satu album berulang terputar. Ia menangis. Tapi masih menangis seadanya. Semalam, dua malam. Hanya dua malam. Perlahan Si Rambut ekor kuda mengerti kapan kau terlena pada jatuh cinta, bersiaplah patah hati. Hanya beberapa hari sop ayam terasa hambar, air putih terasa pahit, selebihnya ia kembali ke masa menyukai diam-diam. Tidak melewatkan waktu-waktu bertemu di gerbang sekolah, menatap lamat-lamat Si Bujang yang mengerjakan soal matematika di papan kelas, mencuri pandang saat Si Bujang tertawa lebar. Hingga tahun putih biru berakhir. Di jam-jam terakhir sebelum perpisahan resmi, tiba-tiba Bujang menghampiri Si Rambut ekor kuda, mengulur kan tangan kanannya hendak bersalaman dan tersenyum lebar. “Selamat ya, sampai jumpa lain waktu”.
“Ii..iyaa” Si Rambut ekor kuda pun mengulur tangannya, matanya tak  berkedip sedikit pun hingga masing-masing melepas jabat tangannya. Hari terindah Si Rambut ekor kuda selama mengenal Si Bujang terlepas dari bayangan si lesung pipi dengan rambut sebahu.

Lembar ke tiga

Lembar putih abu-abu. Pun abu-abu ceritanya. Lembar paling singkat dalam diari Si Rambut ekor kuda. Bagaimana tidak, semenjak meninggalkan jejak di telapak tangan di rambut ekor kuda, Si Bujang sangat jarang mampir di depan mata Si Rambut ekor kuda. Bisa di hitung jari selama tiga tahun berseragam putih abu-abu. Senyum ginsul nya pun tidak pernah sekali pun tampak. Kecuali dalam mimpi di malam-malam ketika rindunya memuncak. Tak pelak lagi, Si Rambut ekor kuda telah benar jatuh cinta. Jika pun akan patah hati lagi, akan terasa lebih pedih kali ini.
Si Rambut ekor kuda telah benar berubah puitis. Puisi-puisi tentang cinta dan kerinduan mulai menggunung di tumpukan buku pelajaran. Bukankah mood menulis itu tumpah ketika kau sedang jatuh cinta dan patah hati? Jatuh cinta sendiri? Bodo amat buat Si Rambut ekor kuda. Ia menikmati setiap tetes rasa karena rindu. Tak meminta balasan, tidak bersemoga untuk apa pun itu, bahkan tak perlu Bujang tahu sekali pun. Oh..oh.. Si Rambut ekor kuda mulai bijak.

Suatu waktu libur panjang, Si Rambut ekor kuda berjalan riang menuju rumahnya. Masih dengan rambut ekor kudanya yang goyang ke kiri dan kanan berirama. Melompat-lompat kecil dengan langkah pendek. Jalanan dengan lebar kurang dari 2 meter yang masih berumput dan kerikil-kerikil kecil. Sesekali kerikil terlempar oleh pijakan Si Rambut ekor kuda yang setengah melompat. Dan ups, ia bahkan tidak menyadari hampir menabrak sesosok tubuh yang sedang membungkuk di depannya. Si Rambut ekor kudan me rem langkahnya yang setengah berlari dengan mendadak. Lalu ia yang hamper terjatuh, tapi ia tak pernah punya masalah dengan keseimbangan tubuhnya. Sosok tubuh itu berdiri tegap, tingginya melebihi Si Rambut ekor kuda. Senyum yang senantiasa hadir menggelitik mimpi-mimpi akhir malam Si Rambut ekor kuda. Senyum dengan ginsul yang hampir sempurna. Bujang.

“Eh, maaf” Si Rambut ekor kuda setengah kaget setengah berbahagia.
“Ohiya, tidak apa-apa, mau balik rumah? Dari mana? Oh ya, sekolah gimana? Sekolah kita tetanggan kan ya? Sekarang lagi libur panjang kan?” pertanyaan Bujang membabi buta.
“Eh?” kini Si Rambut ekor kuda malah semakin kaget.
“Eh, oh. Anu, saya masuk rumah dulu ya” Bujang bergegas macam sudah lihat hantu.
Si Rambut ekor kuda mematung hampir lima menit lamanya dengan mulut menganga. Hingga tiba-tiba tetesan hujan memaksanya untuk bergegas pulang ke rumah. Kali ini ia berlari kencang dan membuat rambut ekor kudanya benar-benar terhempas kiri kanan secepat irama langkah larinya.
Hanya sekali itu obrolan singkat tiga tahun terakhir. Selebihnya beberapa kali Si Rambut ekor kuda hanya melihat sekilas Si Bujang yang melintas di gang depan rumahnya. Tak masalah buat Si Rambut ekor kuda. Toh iya tetap bisa menyampaikan perasaannya melalui puisi pada lembar-lembar diarinya, menghadirkan sosok Bujang dalam mimpi di akhir malam cukup membalas rindu yang tak pernah sekali pun tersampaikan.

BERSAMBUNG...

Selasa, 03 Mei 2016

Cuap-Cuap Bawakaraeng



Euphoria muncak masih bersisa. Perjalanan terlama, tanah tertinggi. Untuk sementara
Well, mulai perkenalan dulu yak. Foto pertama: yang paling kiri Dion (ekonomi UNM 2011), baju merah Dilla (sastra Indonesia UNM 2011), tengah Mun (Keperawatan Unhas 2010), sebelahnya, Ulfa (Keperawatan Unhas 2010), paling kanan Irwan (Teknik pertambangan Uvri 2012). Eitss.. yang ambil gambar Ca’lu (Keperawatan Yapma 2012), paling kanan foto kedua.



Penting ga penting sih perkenalan, tapi orang-orang di atas saling kenal justru saat akan muncak. Misal, Mun cuman kenal Ulfa. Ulfa kenal Mun sama Dilla. Dilla kenal Ulfa sama Dion. Dion kenal Dilla, Ca’lu sama Irwan. Ca’lu kenal Dion sama Irwan. Irwan kenal Ca’lu sama Dion. Kusut ya. Hahaha..!!!
Gn. Bawakaraeng berlokasi di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Bayangkan puncak Bogor atau Kota Batu Jawa Timur. Mirip itu lah Malino. Dinginnya, komoditi utamanya, bunga-bunganya, kebun teh, hutan pinus, kebun strawberry, dan kehidupan masyarakatnya. Jika pada malam hari, sudah seperti bukit bintang Jogja. Lautan lampu kota Makassar tampak jelas. Sayangnya, Makassar-Malino makan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Itupun kalo cowok yang bawa motor.
Selasa malam kami tiba di Malino, bermalam di rumah warga. Dinginnya emejing. Sleeping bag macam tak ngaruh. Soundtrack wajah-wajah kekasih nya Siti Nurhaliza mulai diputar berulang-ulang. Awal mula lagu kebangsaan pendakian.
Besok paginya pendakian dimuali. Start sekitar pkl 9 pagi dari rumah Daeng Tata. Menuju pos 1 track agak melandai, melewati perkebunan wortel, hutan pinus. Menuju pos 2 melandai nanjak. Menuju pos 3 lumayan nanjak dan tiba di sungai. Waktunya nge jus. Kalah jus kedai pinggir jalan atau jus di cafe dibanding jas jus campur air gunung. Hahaha..!!
Lanjut pos 4 dan pos 5 melandai, nanjak, melandai lagi, nanjak lagi. Belum ekstrim. Belum Nampak wajah nenek moyang. Teringat pesan salah satu teman yang pernah muncak di Gn. Bawkaraeng “hati-hati ko di pos 7,8 dan 9. Ambil napas baik-baik ko memang. Karna mu lihat nanti nenek moyang mu di sana, saking ekstrimnya track nya”
Tiba di pos 5 tengah hari. Mana sumber air? Kita ngejus lagi gaess . Perundingan singkat dimulai, mau ngecamp atau lanjut. Pos  dan seterusnya adalah pendakian tiada henti. Lebih-lebih ke pos 7,8,9. Tak ada tanah selapang pos 5. Langit mulai gelap. Kabut mulai naik. Alamat hujan turun. Deal, lanjut.
Nanjak, nanjak ke pos 6, mulai ekstrim menuju pos 7. Gula merah, mana gula merah ta. Senandung wajah-wajah kekasih berulang sedari rumah Daeng Tata. Lama-lama dihafal mati ini lagu. Belum lima menit rehat di pos 7, hujan mulai mengguyur hebat. Tak ada pilihan lain kecuali nge camp. Maafkan kami yang amatiran.
Keesokan paginya saat matahari mulai hangat, menuju pos 8. Dimulai dengan turunan ekstrim. Apa kabar pulangnya nanti dengan turunan seektrim in. Tiba di sungai, ngejus lagi. Lanjut menanjak, merayap, mendaki. Tiba pos 8, oke nenek moyang belum terlihat. Berlanjut ke pos 9, tak ada nenek moyang tampak. Hahaha. “kassa na jalan ini cewek-cewek, mau sekalimi sampai puncak. Tidak lariji puncak, kalo capek istrahat saja”. Efek jogging 3 kali sebelum nanjak lumayan juga.
Dan jreng…jrengg.. pos 10 lewat tengah hari. Sebentar meluruskan kaki dan meregangkan otot, eh tenda sudah ready. Dua hari dua malam di pos 10, lima menit dari tranggulasi. Tak disangka justru banyak saudara jauh adalah tetangga tenda. Alangkah sempitnya dunia. Jadi, jika saudara jauh sulit ditemukan, mendakilah. Haha..!!
Setelah berpuas diri di puncak, sabtu pagi saat hangat-hangatnya matahari kami turun. Kali ini soundrack yang rajin play adalah kesempurnaan cinta nya rizki febian. Ada apa gerangan dengan rombongan ini. Teringat kembali perihal nenek moyang, hampir nampak saat pendakian pulang menuju pos 7. Haha..!! tiba di rumah Daeng Tata sorean. Langsung preapare balik Makassar.
Pencapaian terbesar muncak kali ini day pack tidak pernah berpindah punggung. Senangnya untuk tidak terlalu merepotkan. Karena kami tau carrier nya sangat berat, apalagi yang ukurannya macam kulkas dua pintu. Haha..!! Meski masih selalu dimasakkan. Sempat-sempatnya mereka goreng kue, goreng bakwan. Senangnya berpartner dengan kalian .
“Dariki bawakaraeng beberapa hari yang lalu toh?”
“Iye. kemarin
“Yakinki mauki lagi naik sama kami?”
“Nda apa-apaji, masa kami mau halangi orang yang mau lihat indahnya alam. Justru kalo ada, selama kami bisa bantu, kami akan bantu.”
“Jadi seringki naik gunung? Kenapa?”
“Maumi diapa, ka hobi. Banyak ji orang bertanya, apa ta cari naik gunung. Bilangka, cari capek. Karena mau dijelaskan bagaimana pun mereka yang tidak suka tidak akan mengerti. Makannya respect ka sama yang mau mendaki”
“Hahaha..!!!”