Sabtu, 07 Mei 2016

Lembar-Lembar Cinta (Bag.2 End)



Lembar ke empat

Jalanan kota macet parah kendaraan bahkan nyaris tak bergerak. Jalan raya menuju kampus Si Rambut ekor kuda sudah macam tempat parker raksasa. Seaindai pun iya, mungkin sudah terdaftardi rekor muri. “Ah, sial. Ini kan 28 Oktober. Kenapa juga harus ujian di tanggal genting begini, pastilah macet. Unjuk rasa di setiap tempat strategis di sudut kota”.
“Pak, saya turun di sini ya.” Si Rambut ekor kuda menyodorkan uang lembaran lima ribuan ke sopir angkotnya.

Untuk sampai ke kampus masih sekitar satu kilometer. Si Rambut ekor kuda, meski kini ia sudah lebih sering mengurai rambutnya dengan terpaksa berjalan di sela-sela kendaraan yang terparkir terpaksa di jalanan untuk menuju kampus. Benar saja, baru 500 meter ia berjalan, ia melihat kepulan asap hitam dan mencium aroma bau yang sangat mengganggu. Apalah unjuk rasa tanpa bakar ban. Sekelompok mahasiswa lengkap dengan almamater sukses memblokir jalan utama kota. Sebagian tercecer di jalan, berteriak mengikuti apa yang seorang di atas truk katakana seolah mengamini. Sementara yang berdiri di atas truk dengan pengeras suara, bercelana jenas robek di lutut dan berikat kepala yang bertuliskan pemuda Indonesia terus saja berteriak lantang. Apa pun itu yang ia teriakkan tidak sama sekali tertangkap di telinga Si Rambut ekor kuda. Semua tercampu, bunyi klakson kendaraan, teriakan manusia sana-sini, sirine mobil polisi. Ah, sengatan matahari adalah yang terpanas hari ini. Kenapa kota segerah ini. Semakin dekat Si Rambut ekor kuda dengan barisan mahasiswa beralmamater itu. Beberapa ia kenali sebab mereka dari kampus yang sama. Dan seseorang yang berdiri sangar di atas mobil truk dengan pengeras suara itu, sangat familiar dan.. belum sempat Si Rambut ekor kuda berpikir lagi tetiba ia merasakan matanya perih. Gas air mata. Sebelum sempat ia menutup kelopak matanya ia masih sempat melihat batu-batu melayang di depannya. Dan beberapa kali benda itu menghantam badannya termasuk pelipisnya. Terasa ada seuatu cair mengalir dari pelipisnya. Darah. Ia masih menutup matanya. Dan tiba-tiba seseorang merampas paksa tas kuliahnya. Ia tak mampu melawan. Matanya amatlah perih, ia bahkan tak mampu membuka matanya. Hingar bingar suara orang berkejaran tertangkap telinganya. Beberapa kali ia tertabrak orang-orang yang berlarian dan terjatuh . dan kali ini ia merasa lututnya mungkin berdarah. Matanya masih perih dan tertutup. Si Rambut ekor kuda kehilangan arah. Dengan mata yang masih tertutup ia berjalan sempoyongan. Tiba-tiba sepasang tangan merangkul bahunya dan menuntunya ke suatu tempat.
Si Rambut ekor kuda seperti di bawa ke suatu ruangan. Agak dingin. Mungkin ber ac. Ia duduk di atsa sofa yang empuk. Matanya msih terasa perih dan tertutup. Orang yang membawanya lalu bersuara.
“Duduk lah dengan tenang, pelipismu berdarah dan kamu terkena gas air mata. Sebentar akan ku bersihkan luka mu.”
“Kamu siapa? Kita dimana?” Si Rambut ekor kuda tampak gelisah.
“Tenanglah, kamu bersama orang baik di tempat yang aman”
“Tapi saya..”
“Tolong tenang.” Suara berat itu berusaha menenangkan.
Perlahan ia membersihkan luka di pelipis Si Rambut ekor kuda, dengan sesekali Si Rambut ekor kuda meringis kesakitan. Terkahir ia membalutnya dengan kasa dan plester. Lalu, mengkompres mata Si Rambut ekor kuda yang terkena gas air mata.
“Sekarang perlahan buka matanya.”
Si Rambut ekor kuda perlahan membuka matanya seperti pasien yang baru saja dalam pemulihan operasi cangkok mata. Berkedip beberapa kali. Menangkap sempurna wajah yang ada di depan matanya. Bujang.
‘Matamu merah, kemungkinan iritasi gas air mata. Jangan dikucek ya. Kompres saja hingga terasa nyaman. Ada rasa sesak nafas?”
“Eh, oh.. tidak.” Si Rambut ekor kuda masih kaget melihat Bujang.
“Baguslah kalau tidak, karena gas air mata dia ngefek ke saluran pernapasan. Lutut dan siku mu kemunginan lecet, mau aku yang bersihkan juga?” Bujang Nampak dengan wajah yang bercanda.
“Tidak usah, saya bisa sendiri kok.” Si Rambut ekor kuda tersipu malu
“Tentu saja kamu akan melakukannya sendiri.” Bujang tersenyum lebar dan ginsulnya nampak jelas.
“Pantas saja saya ngerasa familiar sama pegang pengeras suara di atas truk tadi, kamu rupanya. Tapi ngomong-ngomong, menurutku kamu terlalu mahir sebagai orang awam untuk pertolongan pertama seperti ini.”
“Kami sudah biasa, sering bahkan.”
“Sering tawuran.” Si Rambut ekor kuda menyela
Kali ini Si Bujang tersenyum simpul.
“Tas ku, mana tas ku? Kamu lihat tas ku?” Si Rambut ekor kuda mulai teringat tasnya
“Sepertinya dijambret tadi.”
“Aish..paper ku, aku harus ujian hari ini.” Si Rambut ekor kuda melirik arlojinya.
“Waktu ujianmu sudah lewat, kamu masih bisa kan memperbaiki nilaimu. Ohya, kalau sudah agak kondusif nanti saya antar pulang ya. Istrahat saja dulu.” Bujang menyodorkan air mineral.
Entahlah ini musibah atau anugerah buat Si Rambut ekor kuda. Disatu sisi ia sangat bahagia bertemu Bujang di berbincang sedikit agak lama. Ia harus menahan degup jantung yang hampir merobek dadanya saat melihat senyum ginsul Si Bujang. Di sisi lain mungkin ia harus mengulang satu mata kuliah tahun depan.
Beberapa minggu setelah insiden itu, Bujang menemui Si Rambut ekor kuda. Ia sengaja menunggu Si Rambut ekor kuda depan kelas.
“Hey”
“Ah, hey.” Si Rambut ekorkuda Nampak sedikit kaget.
“Pelipisnya sudah tidak diperban lagi ya, lecet di lutut sama siku pasti dah sembuh dong. Paper waktu itu?” Bujang berbasa-basi
“Tahun depan.” Jawab Si Rambut ekor kuda singkat.
“Minggu depan ikut kami jalan-jalan yuk”
“Kami?”Si Rambut ekor kuda melempar pandangan curiga.
“Anggap saja untuk membayar utang atas insiden tidak mengenakan beberapa waktu lalu. Tentu saja kami, aku dan beberapa teman. Atau kamu maunya kita berdua saja?” Si Bujang sedikit menggoda.
“Apaan sih” Si Rambut ekor kuda reflex memukul ringan lengan Si Bujang
Setidaknya mereka lebih akrab.
“Ohya, jogging ya, kita bakalan ngecamp tracknya jalan kaki. Nanjak-nanjak dikit gitu. Eh, saya duluan ya. Gimana-gimananya saya hubungi lagi.” Si Bujang melirik jam tanganya.
Belum sempat Si Rambut ekor kuda ber “Oh”, Si Bujang hampir hilang di ujung mata.
“Ini manusia apa hantu, datang pergi sesuka hati.” Si Rambut ekor kuda mengomel dalam hati.
Lembar terakhir
Jalan-jalan ala Si Bujang di mulai. Dia dan beberapa teman laki-laki dengan carrier penuh dan sesak di punggung. Aku dan seorang teman perempuan ku hanya dengan daypack yang mungkin beratnya seperlima dari carrier Si Bujang.
“Kamu tidak bawa tas buat ke mall kan?” Bujang mulai menggoda
“Menurutmu?” jawab Si Rambut ekor kuda ketus
Tak perduli, Si Bujang mulai berjalan. Ia mulai cerewet,dan menjelaskan. Pun meski tak ada yang meminta. Mulai dari kontur tanah, tanaman yang cocok untuk tanah dan iklim di daerah itu. Memasuki hutan ia mulai menjelaskan jenis pepohonan, hewan  yang mungkin saja akn tetiba muncul di hadapan kami. Tiba di sungai ia tak kalah semangat, menjelaskan tentang bebatuan sungai hingga ke filosofinya.
“Jangan terlalu heran, Si Bujang sedang berusaha mengalihkan perhatian kalian agar tidak terlalu capek.” Salah seorang teman Si Bujang berbisik ke Si Rambut ekor kuda.
Mereka pun tiba di tempat camp. Pos terakhir pendakian ini. Setelah berjalan 15 jam lamanya, meski Si Rambut ekor kuda dan temannya harus tertatih dan hampir mengangkat bendera putih. Ini bukanlah jalan-jalan yang mereka harapkan, tepatnya belum.
Esoknya, setelah puas mengistirahatkan badan Si Bujang mengajak rambut ekor kuda menikmati hangat matahari siang. Mereka duduk berhadapan di hammock yang di pasang sejajar.
“Bagaimana?” Bujang menyodorkan segelas kopi susu hangat
“Seru, kalau ada planning lain kali ajak lagi ya.” Si Rambut ekor kuda menyerupu kopi susu nya yang mulai dingin. Suhu memang sangat dingin. Meski siang hari, tapi jaket, kaos kaki, dan kaos tangan tak terlepas dari tubuh mereka kecuali untuk aktivitas tertentu.
“Sebegitu sering mu ke sini, tak pernah kah kamu rasa bosan? Tak ada yang berubah bukan dari puncak? Awannya pun tetap sama, pepohonannya, hanya saja mungkin beberapa sampah baru. Teknologi kan semakin canggih untuk mencetak desain yang menarik perhatian konsumennya.” Si Rambut ekor kuda kembali menyeruput kopi susunya.
“Entah, mungkin saja tidak ada istilah kadaluarsa untuk perasaan mengagumi dan mencintai sesuatu yang bukan milikmu. Saya sangat suka dan kagum sunset di puncak ini. Di sini adalah spot sunset terindah yang pernah saya lihat.”
Pembahasan mereka mulai menarik.
“Beberapa orang tidak lah seberuntung kamu. Kadang mereka terbunuh kagum yang mereka simpan rapat-rapat. Meledak sih di pertemuan, tapi sayangnya tidak berujung perbincangan. Kadang rasa malu berakhir sesal.* Kecintaan yang terlalu lama mengendap, rindu yang tak pernah sampai pada tuannya. Bisa ditebak akhirnya, toh kadaluarsa juga.” Si Rambut ekor kuda menarik napasa panjang.
“Semacam diam-diam mencintai , begitu?” Bujang bertanya dengan polosnya.
“iyap, jatuh cinta. Perasaan yang jungkir balik, gundah gulana, kadang sakit hati kepada seseorang yang tidak pernah tahu, bahkan hingga semua itu berakhir dan tak bersisa, orang yang dituju tidak pernah tahu.”
“Cari pengganti saja, gampang.” Kali ini Bujang polos dan cuek
“Kamu pikir urusan perasaan sesederhana itu? Melupakan orang yang kita suka lantas menyukai orang lain tidak segampang menguras bak mandi lalu mengisinya kembali *.” Intonasi Si Rambut ekor kuda meninggi, Nampak sekali ia kesal.
“Sepertinya memang menyenangkan ketika orang yang kita cintai balas mencintai kita, seperti yang kamu bilang tadi. Urusan perasaan juga tak pernah sesederhana itu.” Bujang mulai serius dan wajahnya sedikit aneh. “ Tapi apa boleh buat kadang kita harus menerima kondisi dimana ada orang-orang yang hanya cukup hadir dalam hati kita, tidak hadi dalam kehidupan kita secara fisik. Soal rasa yang terlalu lama tersimpan, jika pun diutarakan mungkin saja akan terasa hambar. Dan akan lebih indah memang jika ia tertahan saja di ujung lidah. Sebab, jika pun tersampaikan justru pertanyaan baru akan muncul. Apa iya sesayang itu? Kamu tahu, seseorang pernah bernasehat kepadaku, mencintai sewajarnya, bahagia secukupnya, sisakan ruang untuk bersedih agar tak hilang arah saat hati mu tiba-tiba patah.”
Si Rambut ekor kuda diam mematung. Speechless.

Bujang tiba-tiba melompat dari hammocknya. “Sudah lumayan sore, ayok ke puncak. Akan ku tunjukkan sunset terindah pada mu.”
Sunset yang indah, aku paham kenapa kamu betah untuk kembali ke sini.” Si Rambut ekor kuda memejamkan matanya. Menghirup seluruh oksigen yang tak akan ia dapatkan di tempat lain.
“Jadi, apa yang akan kau tinggalkan di tempat ini?” Bujang bertanya tanpa menoleh
“Kenangan.” Si Rambut ekor kuda menjawab singkat masih dengan mata terutup.
“Hey..!!” Bujang memegang kedua lengan si rmbut ekor kuda. Mereka berdiri berhadapan. Jarak kedua mata mereka terpaut dua jengkal. “Saat kamu memutuskan kembali ke sini untuk mengambil kenangan yang kamu simpan, aku selalu bersedia menemani.” Bujang menatap lembut dan tersenyum menunjukkan ginsulnya.
Demi tuhan, kali ini Si Rambut ekor kuda benar tidak mampu bernapas.


(* dikutip dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar