Lembar
ke empat
Jalanan
kota macet parah kendaraan bahkan nyaris tak bergerak. Jalan raya menuju kampus
Si Rambut ekor kuda sudah macam tempat parker raksasa. Seaindai pun iya,
mungkin sudah terdaftardi rekor muri. “Ah, sial. Ini kan 28 Oktober. Kenapa juga
harus ujian di tanggal genting begini, pastilah macet. Unjuk rasa di setiap
tempat strategis di sudut kota”.
“Pak,
saya turun di sini ya.” Si Rambut ekor kuda menyodorkan uang lembaran lima
ribuan ke sopir angkotnya.
Untuk
sampai ke kampus masih sekitar satu kilometer. Si Rambut ekor kuda, meski kini
ia sudah lebih sering mengurai rambutnya dengan terpaksa berjalan di sela-sela
kendaraan yang terparkir terpaksa di jalanan untuk menuju kampus. Benar saja,
baru 500 meter ia berjalan, ia melihat kepulan asap hitam dan mencium aroma bau
yang sangat mengganggu. Apalah unjuk rasa tanpa bakar ban. Sekelompok mahasiswa
lengkap dengan almamater sukses memblokir jalan utama kota. Sebagian tercecer
di jalan, berteriak mengikuti apa yang seorang di atas truk katakana seolah
mengamini. Sementara yang berdiri di atas truk dengan pengeras suara, bercelana
jenas robek di lutut dan berikat kepala yang bertuliskan pemuda Indonesia terus
saja berteriak lantang. Apa pun itu yang ia teriakkan tidak sama sekali
tertangkap di telinga Si Rambut ekor kuda. Semua tercampu, bunyi klakson
kendaraan, teriakan manusia sana-sini, sirine mobil polisi. Ah, sengatan matahari
adalah yang terpanas hari ini. Kenapa kota segerah ini. Semakin dekat Si Rambut
ekor kuda dengan barisan mahasiswa beralmamater itu. Beberapa ia kenali sebab
mereka dari kampus yang sama. Dan seseorang yang berdiri sangar di atas mobil
truk dengan pengeras suara itu, sangat familiar
dan.. belum sempat Si Rambut ekor kuda berpikir lagi tetiba ia merasakan
matanya perih. Gas air mata. Sebelum sempat ia menutup kelopak matanya ia masih
sempat melihat batu-batu melayang di depannya. Dan beberapa kali benda itu
menghantam badannya termasuk pelipisnya. Terasa ada seuatu cair mengalir dari
pelipisnya. Darah. Ia masih menutup matanya. Dan tiba-tiba seseorang merampas
paksa tas kuliahnya. Ia tak mampu melawan. Matanya amatlah perih, ia bahkan tak
mampu membuka matanya. Hingar bingar suara orang berkejaran tertangkap
telinganya. Beberapa kali ia tertabrak orang-orang yang berlarian dan terjatuh
. dan kali ini ia merasa lututnya mungkin berdarah. Matanya masih perih dan
tertutup. Si Rambut ekor kuda kehilangan arah. Dengan mata yang masih tertutup
ia berjalan sempoyongan. Tiba-tiba sepasang tangan merangkul bahunya dan
menuntunya ke suatu tempat.
Si
Rambut ekor kuda seperti di bawa ke suatu ruangan. Agak dingin. Mungkin ber ac. Ia duduk di atsa sofa yang empuk.
Matanya msih terasa perih dan tertutup. Orang yang membawanya lalu bersuara.
“Duduk
lah dengan tenang, pelipismu berdarah dan kamu terkena gas air mata. Sebentar
akan ku bersihkan luka mu.”
“Kamu
siapa? Kita dimana?” Si Rambut ekor kuda tampak gelisah.
“Tenanglah,
kamu bersama orang baik di tempat yang aman”
“Tapi
saya..”
“Tolong
tenang.” Suara berat itu berusaha menenangkan.
Perlahan
ia membersihkan luka di pelipis Si Rambut ekor kuda, dengan sesekali Si Rambut
ekor kuda meringis kesakitan. Terkahir ia membalutnya dengan kasa dan plester.
Lalu, mengkompres mata Si Rambut ekor kuda yang terkena gas air mata.
“Sekarang
perlahan buka matanya.”
Si
Rambut ekor kuda perlahan membuka matanya seperti pasien yang baru saja dalam
pemulihan operasi cangkok mata. Berkedip beberapa kali. Menangkap sempurna
wajah yang ada di depan matanya. Bujang.
‘Matamu
merah, kemungkinan iritasi gas air mata. Jangan dikucek ya. Kompres saja hingga
terasa nyaman. Ada rasa sesak nafas?”
“Eh,
oh.. tidak.” Si Rambut ekor kuda masih kaget melihat Bujang.
“Baguslah
kalau tidak, karena gas air mata dia ngefek ke saluran pernapasan. Lutut dan
siku mu kemunginan lecet, mau aku yang bersihkan juga?” Bujang Nampak dengan
wajah yang bercanda.
“Tidak
usah, saya bisa sendiri kok.” Si Rambut ekor kuda tersipu malu
“Tentu
saja kamu akan melakukannya sendiri.” Bujang tersenyum lebar dan ginsulnya nampak
jelas.
“Pantas
saja saya ngerasa familiar sama pegang pengeras suara di atas truk tadi, kamu
rupanya. Tapi ngomong-ngomong, menurutku kamu terlalu mahir sebagai orang awam
untuk pertolongan pertama seperti ini.”
“Kami
sudah biasa, sering bahkan.”
“Sering
tawuran.” Si Rambut ekor kuda menyela
Kali
ini Si Bujang tersenyum simpul.
“Tas
ku, mana tas ku? Kamu lihat tas ku?” Si Rambut ekor kuda mulai teringat tasnya
“Sepertinya
dijambret tadi.”
“Aish..paper
ku, aku harus ujian hari ini.” Si Rambut ekor kuda melirik arlojinya.
“Waktu
ujianmu sudah lewat, kamu masih bisa kan memperbaiki nilaimu. Ohya, kalau sudah
agak kondusif nanti saya antar pulang ya. Istrahat saja dulu.” Bujang
menyodorkan air mineral.
Entahlah
ini musibah atau anugerah buat Si Rambut ekor kuda. Disatu sisi ia sangat
bahagia bertemu Bujang di berbincang sedikit agak lama. Ia harus menahan degup
jantung yang hampir merobek dadanya saat melihat senyum ginsul Si Bujang. Di
sisi lain mungkin ia harus mengulang satu mata kuliah tahun depan.
Beberapa
minggu setelah insiden itu, Bujang menemui Si Rambut ekor kuda. Ia sengaja
menunggu Si Rambut ekor kuda depan kelas.
“Hey”
“Ah,
hey.” Si Rambut ekorkuda Nampak sedikit kaget.
“Pelipisnya
sudah tidak diperban lagi ya, lecet di lutut sama siku pasti dah sembuh dong. Paper
waktu itu?” Bujang berbasa-basi
“Tahun
depan.” Jawab Si Rambut ekor kuda singkat.
“Minggu
depan ikut kami jalan-jalan yuk”
“Kami?”Si
Rambut ekor kuda melempar pandangan curiga.
“Anggap
saja untuk membayar utang atas insiden tidak mengenakan beberapa waktu lalu.
Tentu saja kami, aku dan beberapa teman. Atau kamu maunya kita berdua saja?” Si
Bujang sedikit menggoda.
“Apaan
sih” Si Rambut ekor kuda reflex
memukul ringan lengan Si Bujang
Setidaknya
mereka lebih akrab.
“Ohya,
jogging ya, kita bakalan ngecamp tracknya jalan kaki. Nanjak-nanjak
dikit gitu. Eh, saya duluan ya. Gimana-gimananya saya hubungi lagi.” Si Bujang
melirik jam tanganya.
Belum
sempat Si Rambut ekor kuda ber “Oh”, Si Bujang hampir hilang di ujung mata.
“Ini
manusia apa hantu, datang pergi sesuka hati.” Si Rambut ekor kuda mengomel
dalam hati.
Lembar
terakhir
Jalan-jalan
ala Si Bujang di mulai. Dia dan beberapa teman laki-laki dengan carrier penuh dan sesak di punggung. Aku
dan seorang teman perempuan ku hanya dengan daypack
yang mungkin beratnya seperlima dari carrier
Si Bujang.
“Kamu
tidak bawa tas buat ke mall kan?” Bujang
mulai menggoda
“Menurutmu?”
jawab Si Rambut ekor kuda ketus
Tak
perduli, Si Bujang mulai berjalan. Ia mulai cerewet,dan menjelaskan. Pun meski
tak ada yang meminta. Mulai dari kontur tanah, tanaman yang cocok untuk tanah
dan iklim di daerah itu. Memasuki hutan ia mulai menjelaskan jenis pepohonan,
hewan yang mungkin saja akn tetiba
muncul di hadapan kami. Tiba di sungai ia tak kalah semangat, menjelaskan
tentang bebatuan sungai hingga ke filosofinya.
“Jangan
terlalu heran, Si Bujang sedang berusaha mengalihkan perhatian kalian agar
tidak terlalu capek.” Salah seorang teman Si Bujang berbisik ke Si Rambut ekor
kuda.
Mereka
pun tiba di tempat camp. Pos terakhir
pendakian ini. Setelah berjalan 15 jam lamanya, meski Si Rambut ekor kuda dan
temannya harus tertatih dan hampir mengangkat bendera putih. Ini bukanlah
jalan-jalan yang mereka harapkan, tepatnya belum.
Esoknya,
setelah puas mengistirahatkan badan Si Bujang mengajak rambut ekor kuda
menikmati hangat matahari siang. Mereka duduk berhadapan di hammock yang di pasang sejajar.
“Bagaimana?”
Bujang menyodorkan segelas kopi susu hangat
“Seru,
kalau ada planning lain kali ajak
lagi ya.” Si Rambut ekor kuda menyerupu kopi susu nya yang mulai dingin. Suhu
memang sangat dingin. Meski siang hari, tapi jaket, kaos kaki, dan kaos tangan
tak terlepas dari tubuh mereka kecuali untuk aktivitas tertentu.
“Sebegitu
sering mu ke sini, tak pernah kah kamu rasa bosan? Tak ada yang berubah bukan
dari puncak? Awannya pun tetap sama, pepohonannya, hanya saja mungkin beberapa
sampah baru. Teknologi kan semakin canggih untuk mencetak desain yang menarik
perhatian konsumennya.” Si Rambut ekor kuda kembali menyeruput kopi susunya.
“Entah,
mungkin saja tidak ada istilah kadaluarsa untuk perasaan mengagumi dan
mencintai sesuatu yang bukan milikmu. Saya sangat suka dan kagum sunset di puncak ini. Di sini adalah spot sunset terindah yang pernah saya
lihat.”
Pembahasan
mereka mulai menarik.
“Beberapa
orang tidak lah seberuntung kamu. Kadang mereka terbunuh kagum yang mereka simpan
rapat-rapat. Meledak sih di
pertemuan, tapi sayangnya tidak berujung perbincangan. Kadang rasa malu
berakhir sesal.* Kecintaan yang terlalu lama mengendap, rindu yang tak pernah
sampai pada tuannya. Bisa ditebak akhirnya, toh kadaluarsa juga.” Si Rambut
ekor kuda menarik napasa panjang.
“Semacam
diam-diam mencintai , begitu?” Bujang bertanya dengan polosnya.
“iyap,
jatuh cinta. Perasaan yang jungkir balik, gundah gulana, kadang sakit hati
kepada seseorang yang tidak pernah tahu, bahkan hingga semua itu berakhir dan tak
bersisa, orang yang dituju tidak pernah tahu.”
“Cari
pengganti saja, gampang.” Kali ini Bujang polos dan cuek
“Kamu
pikir urusan perasaan sesederhana itu? Melupakan orang yang kita suka lantas
menyukai orang lain tidak segampang menguras bak mandi lalu mengisinya kembali *.”
Intonasi Si Rambut ekor kuda meninggi, Nampak sekali ia kesal.
“Sepertinya
memang menyenangkan ketika orang yang kita cintai balas mencintai kita, seperti
yang kamu bilang tadi. Urusan perasaan juga tak pernah sesederhana itu.” Bujang
mulai serius dan wajahnya sedikit aneh. “ Tapi apa boleh buat kadang kita harus
menerima kondisi dimana ada orang-orang yang hanya cukup hadir dalam hati kita,
tidak hadi dalam kehidupan kita secara fisik. Soal rasa yang terlalu lama
tersimpan, jika pun diutarakan mungkin saja akan terasa hambar. Dan akan lebih
indah memang jika ia tertahan saja di ujung lidah. Sebab, jika pun tersampaikan
justru pertanyaan baru akan muncul. Apa iya sesayang itu? Kamu tahu, seseorang
pernah bernasehat kepadaku, mencintai sewajarnya, bahagia secukupnya, sisakan
ruang untuk bersedih agar tak hilang arah saat hati mu tiba-tiba patah.”
Si
Rambut ekor kuda diam mematung. Speechless.
Bujang
tiba-tiba melompat dari hammocknya. “Sudah
lumayan sore, ayok ke puncak. Akan ku tunjukkan sunset terindah pada mu.”
“Sunset yang indah, aku paham kenapa kamu
betah untuk kembali ke sini.” Si Rambut ekor kuda memejamkan matanya. Menghirup
seluruh oksigen yang tak akan ia dapatkan di tempat lain.
“Jadi,
apa yang akan kau tinggalkan di tempat ini?” Bujang bertanya tanpa menoleh
“Kenangan.”
Si Rambut ekor kuda menjawab singkat masih dengan mata terutup.
“Hey..!!”
Bujang memegang kedua lengan si rmbut ekor kuda. Mereka berdiri berhadapan. Jarak
kedua mata mereka terpaut dua jengkal. “Saat kamu memutuskan kembali ke sini
untuk mengambil kenangan yang kamu simpan, aku selalu bersedia menemani.” Bujang
menatap lembut dan tersenyum menunjukkan ginsulnya.
Demi
tuhan, kali ini Si Rambut ekor kuda benar tidak mampu bernapas.
(*
dikutip dari berbagai sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar