Rabu, 26 Februari 2014

Lirik Lagu Mine (Petra Sihombing)

"Mine"
(feat. Ben Sihombing)

Girl your heart, girl your face is so different from them others
I say, you're the only one that I'll adore
Cos everytime you're by my side
My blood rushes through my veins
And my geeky face, blushed so silly yeah, oh yeah

And I want to make you mine

Baby I'll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we'll be together till we die
Our love will last forever and forever you'll be mine, you'll be mine

Girl your smile and your charm
Lingers always on my mind I'll say
you're the only one that I've waited for

And I want you to be mine

Baby I'll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we'll be together till we die
Our love will last forever and forever you'll be mine, you'll be mine

And I want you to be mine
And I want you to be mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

Mbak Ren

            Kali ini aku akan bercerita tentang kakak ku. Dan untuk lebih sopannya, aku pake sebutan Mbak Ren aja kali ya. Boleh? Iya boleh. Oke, makasih J
            Mbak Ren adalah sulung dari empat bersaudara, aku yang kedua (edisi revisi katanya Mbak Ren), kemudian si ganteng, lalu si bungsu.
            Sebelumnya aku cuman pengen bilang, aku sayang banget sama Mbak Ren, seperti sayangnya Mbak Ren ke aku. Walau pun aku nggak pernah bilang langsung, dan Mbak Ren juga tidak pernah bilang langsung.
            Sesayang-sayangnya aku sama Mbak Ren atau sebaliknya, kami sering bertengkar hingga berantem. Dari jaman SD hingga terakhir pertengkaran kecil Oktober 2013 lalu. Paling sering barantem pas lagi makan bersama. Emang sudah menjadi ritual wajib dikeluarga ku pada waktu itu dinner bersama. Ada-ada saja yang memicu pertengkaran kami. Rebutan piring atau gelas cantik, rebutan posisi duduk, sampe rebutan lauk. Tapi tidak sampai rebutan nasi juga sih. Imbasnya ya kena omelan. Sampai yang terparah pada pukul 23.00 aku sama Mbak Ren “diusir” dari rumah gara-gara berantem. Tidak ada perasaan menyesal atau pun akan baikan. Kami hanya menunggu suasana rumah hening, semua tidur dan kami masuk dengan diam-diam lewat jalan rahasia. Meski dini hari pukul 02.00 ayah kelabakan mencari kami di rumah-rumah tetangga.
            Kalau keseringan bersama memang lebih banyak memicu pertengkaran, tapi kalau sudah jauh, ngengenin deh. Kayak sekarang-sekarang ini.
            Mbak Ren itu sosok yang perhatiannya tinggi. Sampai-sampai kalau udah bareng Mbak Ren aku gak bisa nolak sifatku yang menjadi tiba-tiba manja, seneng “diatur”, seneng diperhatikan. Kadang aku juga sempat berpikir, kenapa bukan Mbak Ren aja yang ambil jurusan keperawatan? Mbak Ren kan lebih lembut dan perhatian dibanding aku.
            Anak pertama “katanya” identic dengan sifatnya yang detail, perfectcionist, dan agak lelet. Wah, Mbak Ren banget tuh. Contoh detailnya Mbak Ren, dia selalu kebagian tugas buat nyetrika dan ngepel rumah (itu pun kalo rajin nya kumat). Tak ada satu pun pakaian yang tidak rapi dengan garis sudut pakaian yang setajam pisau. Pasti iya, orang dia nyetrika selembar pakaian minimal 10 menit. Dan tak ada sudut rumah yang terlewatkan debunya kalo Mbak Ren yang ngepel. Yakin deh, yang punya hidung sensitive pun kalau masuk rumah yang sudah ditangani sama Mbak Ren gak akan bersin sekali pun. Tapi, sekali lagi bisa setengah harian Mbak Ren beres-beres rumah. Dan sayang kebiasaan ini jarang Mbak Ren lakuin, ya sebut saja malas.
            Hari senin adalah hari yang paling menegangkan sewaktu SD dulu. Alasannya, upacara bendera. Tidak boleh telat kalau tidak mau kena hukuman. Aku sendiri sih aman, sangat jarang telat, bahkan hampir tidak pernah. Tapi Mbak Ren, ampun. Dia selalu jadi orang terakhir yang datang. Kalau upacara bendera sudah mau dimulai, aku yang deg-degan was-was dan gelisah nungguin wajah Mbak Ren nongol di gerbang sekolah. Beberapa kali ia kena hukuman. Entah ritual apa dulu yang ia lakuin di rumah sebelum berangkat sekolah. Padahal ia yang yang paling pagi bangun tidur.
            Mbak Ren sekarang lagi greget pengen punya hape pintar android. “belinya pake uang beasiswa kamu aja yah, aku pengen merek hape yang sama kayak hape mu”. Enteng banget Mbak Ren ngomong kayak gitu. Ini uang aku tabung buat modal mendaki, Mbak. Tapi akan ku usahain ngutang kemana gitu Mbak, karena aku kasihan juga liat Mbak Ren yang gak update. Heheh *kidding J.
            Tapi aku iri sama Mbak Ren yang udah lumayan fasih bahasa inggris. 3 Bulan di Kampung Inggris Pare untuk modal S2 kayaknya udah cukup. Aku janji Mbak, bakalan nyusul dan berbahasa inggris lebih baik dari Mbak Ren, karena emang dari dulu aku lebih pintar bahasa inggrisnya dibanding Mbak Ren. Hehehe
            Ohya, aku juga iri sama Mbak Ren yang kena abu vulkaniknya Gn.Kelud baru-baru. Aneh sih, tapi pengen banget rasanya berfoto di tengah gumpalah abu vulkanik gunung api. Berasa lagi di puncak gunung apinya gitu. Lagi pula, kapan lagi bisa jadi saksi murka alam yang maha dahsyat. Di Sulawesi tidak ada gunung api lho Mbak.
            Tapi Mbak Ren yang di Jawa kalah sama aku yang di Sulawesi. Biar di Sulawesi tidak ada kereta api, tapi adik mu ini sudah pernah naik kereta api kelas ekonomi. Mbak Ren kan belum pernah. Kapan-kapan kita naik kereta api bareng ya Mbak Ren.
            Terimakasih untuk semuanya Mbak Ren. Semua kebaikan, perhatian, kasih sayang, cinta, rindu, keikhlasan, kesabaran, pelajaran hidup, pengalaman, dan emmm, leptopnya, rok, baju, bros, jilbab, tas, dan segala barang yang ku suka dan ku ambil paksa dari Mbak Ren


Makassar, 27 February 2014

Sabtu, 22 Februari 2014

Cinta Pertama Bunda

Hay Bunda, Apa kabar dengan jeda waktu ini? Masih meyimpan rindu? Masih menjaga cinta? Masih menitip do’a?
Hari ini adalah tepat 10 tahun kepergian ayah meninggalkan bunda, meninggalkan aku, dan dunia ini untuk selamanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari ini aku dan bunda selalu menginap di vila keluarga kami. Dan setiap hari ini pula festival lampion selalu terlihat indah dari teras vila. Tak pernah sekali pun aku melepas lampion di festival sepeninggal ayah. Karena ayah telah pergi bersama lampion terakhir yang ku lepas 10 tahun lalu.

10 tahun adalah waktu yang sangat lama tanpa ayah, pria paling ganteng di keluarga kecil kami. Karena aku anak tunggal. Suasana malam ini jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bunda bertambah renta dan aku semakin dewasa, bahkan keluarga kecil yang baru telah siap menjemput ku.
Aku dan bunda duduk manis di teras vila menantikan detik-detik ribuan lampion berterbangan menuju langit. Bunda terlihat lebih cantik dengan syal merah muda pemberian ayah yang melilit longgar di lehernya. Tampak beliau cukup merasakan hawa dingin dengan melipat kedua tangan di dada meskipun ia telah memakai sweter rajutan hangat.

Aku pun menggeser kursi ku lebih dekat dengan kursi bunda. Kemudian menyandarkan kepala ku di pundak beliau. “Bun, kayak kunang-kunang ya?” Ucapku sambil menunjuk ribuan lampion yang berterbangan jauh di depan mata kami.
“Iya.” Jawab beliau pelan dan singkat.
“Bunda sedih?” Tanyaku sambil menatap dalam mata nya.
“Tentu. Siapa yang tidak sedih jika harus melepas anak gadis satu-satunya kepada orang lain.” Katanya pelan sambil mengusap beberapa bulir air di pipinya. Aku dapat melihat bulir air itu dengan jelas meski cahaya remang.
“Bunda..” ucapkau sambil memeluknya dari belakang. “Kita masih serumah kok nanti. Aku gak akan kemana-mana.”
“Tetap saja, bunda harus berbagi dengan suami mu.”
Aku kembali duduk di lantai dan menyandarkan kepala di paha beliau. “Baru calon kok bunda. Belum jadi suami.” Kata ku sambil tertawa kecil berniat sedikit bercanda.
“Bunda tenang saja. Tidak akan ada yang berubah. Aku malah tambah sayang sama bunda.” Ucap ku manja.
“Iya..iya.. bunda tau. Bunda juga makin sayang sama anak bunda yang paling cantik ini.” Bunda mencubit kedua pipi ku seperti memperlakukan anak TK.
“Bunda, bunda yakin ingin tetap sendiri? Banyak lho yang mau sama bunda. Papa nya Iren teman SMA ku misalnya.” Ucapku dengan nada gurau.
“Papanya iren?” Raut muka bunda sontak berubah. Garis kerutan wajah seakan pudah hilang disulap. Helaian uban pun menghitam. Ada sititik jerawat manis di pipi kiri beliau. Rambut hitam panjang dengan poni tebal yang menyentuh alis terasa nyata ku lihat. Senyum manis yang menampakkan gigi putih rapinya begitu lama ia pamerkan pada ku. Ini lah bunda ku yang kurasa kembali menjelma pada raga seragam putih abu-abu nya masa lampau.

Tak perlu kau merangkai kata wahai bunda ku. Kisah mu dapat ku simak dari garis senyum dan binarnya mata yang tak pernah lelah untuk berseri. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Sosok itu. Sosok yang membuat engkau begitu mencintai ayah. Cinta pertama mu bunda.
Ku pastikan kata-kata ku ini tidak salah. Mungkin seluruh cinta dan kasihmu telah sepenuhnya kau berikan pada ayah, tapi ada ruang rahasia di hati mu yang kau simpan  segenggam rindu yang hanya kau dan sang pemiliki rindu yang tau.

Sosok itu bunda, yang selalu meggetarkan jantung mu setiap kali kau dengar namanya, yang pertama memberi mu pengalaman tentang cinta manusia, yang tega membiarkan mu merasakan darah yang membeku sebab patah hati. Sosok yang dapat kau hitung dengan jari tangan mu berapa kali kau beradu kata dengan nya. Hanya sekali kau menyentuh telapak tangannya untuk sebuah perpisahan.

Sosok itu bunda, yang tak lelah hadir dalam setiap mimpi-mimpi mu, yang membuat mu keringat dingin jika beradu pandang dengannya. Sosok yang membuatmu memliki dunia saat ia tersenyum pada mu. Dan sosok itu yang berhasil menghipnotismu untuk menciptakankan ratusan puisi cinta. Sosok itu adalah alasan kenapa setiap oksigen yang hirup tiap detik terasa begitu segar.
Apakah aku salah bunda? Cinta pertamamu sepenuhnya milikmu. Rasa yang kau rahasiakan seutuhnya milikmu. Rindu dendam mu selayaknya adalah penguasa hatimu.
Sekali lagi Bunda, katakan jika aku salah. Jika di hari sebelumnya ada kesempatan memilih, mungkin aku tak akan pernah terlahir di dunia.

“Sayang, kok ngelamun?” Dengan muka bingung bunda beberapa kali menepuk bahuku.
“Eh, maaf bunda. Tadi sampai mana? Aku cengengesan”
“Dari tadi bunda Tanya, papa nya Iren yang mana?”
“Itu loh bunda, teman SMA bunda. Om didi. Masa’ lupa?” Aku dengan nada sedikit menggoda.
“Udah lah, jangan goda bunda terus. Bunda kan udah pernah cerita tentang itu. Jangan dibahas ya.!” Untuk kedua kalinya  bunda mencubut kedua pipiku. “Kamu sendiri gimana sayang?”
“Apanya bun?”
“Cinta pertama.” Dengan nada pelan bunda berbisisk ke telingan ku.
“Ah bunda, apaan sih. Sama kayak bunda. Masa lalu bun. Aku sedang akan menjemput masa depan.” Kemudian aku menghela napas panjang bersama menghilangnya lampion-lampion di telan langit malam.

Tanpa aku bercerita pun aku yakin bunda bisa membaca kisah ku seperti aku membaca kisahnya. Dan seprti ini lah kehidupan yang sebenarnya, Bunda. Kau mewariskan tulisan kisah cinta mu kepada ku yang belum sempurna. Akhirnya aku lah yang harus mengakhiri tulisan ini hingga halaman terakhir dengan cerita benang merah cinta pertama mu.
Hay Bunda, Apa kabar dengan jeda waktu ini? Tetaplah meyimpan rindu.  Tetaplah menjaga cinta. Tetaplah menitip do’a.

Kamis, 16 Januari 2014

Corat Coret

Tiap tahun pasti gini. Situasi sulit. Puncaknya segala bentuk kegelisahan. Tak pernah ada prosedur yang sempurna. Kemudian memilih, lalu ambil keputusan, akhirnya menanggung resiko, dan lagi harus beralibi.
Simple. Ujung-ujungnya, nitip KRS, omelan PA urusan belakang. Bolos kuliah satu minggu perdana, nitip tanda tangan? Kalau bisa. Bagus kalau bukan kuis dihari pertama. Jangan protes kalau bukan nilai A cantik nan indah yang muncul di KHS.
Resiko anak rantauan. Berkeliat dari hitam di atas putih peraturan akademik dan kemahasiswaan yang mengikat. Bahkan pulang kampung yang harusnya menjadi ritual sakral sekali setahun sering terusik oleh sms jadwal KRSan, pergantian PA dan kuliah perdana.
Bukan apa-apa sih, hanya soal pilihan. Puas pulang kampung dengan menggantung seabrek prosedur penentu masa depan, atau pulang kampung singkat tapi urusan bakal masa depan beres. Apakah adil..? Pulang kampung hanya beberapa hari dengan perjalanan neraka atau bajet 15 kali lipat ongkos pulang kampung mahasiswa lain. Ada lagi, hanya beberapa hari untuk keluarga mu dalam setahun? Hanya beberapa hari untuk teman SMA mu dalam setahun?. Sekali lagi, adil..??
Mereka sih enak  bahkan tiap weekend bisa bertemu orang tuanya, paling lama ya cuman 6 jam perjalanan. Setelah balik ke rantauan, beraneka ragam bekal untuk penghidupan diangkut, ditemani pula sama keluraganya. Saya? Boro-boro bawa bekal segudang, bawa diri aja rasanya berat. Hanya mengandalkan ATM yang semoga gemuk selalu untuk melanjutkan hidup. Tak ada pisang, tak ada buras, telor ayam apa lagi,dan aneka lauk khas daerah lainnya. Makannya jangan heran saya suka makan ikan di sini, saya suka jus mangga,  jus nangka, dan jus sirsak. Itu adalah obat jiwa. Homesick.
Lihat saja betapa malam ini saya gelisah dan tak tidur hingga adzan subuh berkumandang. Betapa tidak, sebentar pagi saya melihat matahari di tanah kelahiran dengan meninggalkan KRS yang belum tau kapan baru bisa di on line kan bahkan telah ngaret 2 minggu (gara-gara yang satu ini semua rencana berantakan), berkas wisuda yang belum pula di on line kan dan lebih-lebih dikumpul. Hey, saya tidak akan diwisuda Maret nanti, kalau tidak on line dan tidak mengumpulkan print out nya. Lalu saya belum mendaftar untuk profesi ners, deadline nya akhir bulan depan. Kenapa? KRS belum ada, surat a..b..c.. belum ada. Rasanya ingin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sambil beteriak. Meski tak menyelesaikan persoalan, setidaknya partikel-partikel yang membuat dahi ini kerut bisa ku bebaskan sejenak. Tak apa sejenak.
Seperti nya akan selalu seperti ini tiap tahunnya. Dan dengan polosnya, seperti ada bisikan di telinga saya. “kita memang selalu berencana, dan selalu akan begitu. Kemudian kita secepatnya kita dituntut memutuskan. Done. Tapi jreng…jreng.. rencana meleset, keputusan terlanjur ketuk palu. Mau tak mau harus ada kerugian. So? Terpuruk pada kerugian bukanlah pilihan. Bagaimana meminimalisir kerugian adalah rencana sekarang. Kita yang paling tau langkah apa yang terbaik untuk kita sekarang. Lakukan, nikmati, dari pada nothing. Tuhan aja nurunin penyakit beserta obatnya, so pasti masalah juga ada sejalan dengan solusinya”.

Makassar, 17 Januari 2014

02.53 dini hari, malam dalam mendung

Senin, 13 Januari 2014

Love Letter

Dear saudara serusukku
            Apa kabar di jeda waktu ini? Tidak kah disitu membosankan? Apakah engaku sedang menuggu? Sendiri? Hanya sendiri? Bagaimana malam mu, penuh bintang? Maaf, sepertinya  aku lebih cerewet dari sebelumnya. Maaf juga, tak ada kata-kata puitis untukmu hari ini. Hanya deretan kata-kata polos dari seorang perempuan yang sedang bosan juga, sama seperti mu. Bosan menghitung bintang, bosan menanti pelangi, dan dan bosan berandai.
            Mengapa kau tak pernah ingin berkenalan dengan ku? Sudahkah kau mengenalku? Taukah engkau warna kesukaan ku? Makanan kesukaan ku? Hal yang ku benci? Atau sekedar tau, kenal kah aku dengan mu? Ah, sudahlah. Lupakan.
            Aku akan berkabar. Di atas tanah pijakan ku sedang basah oleh sisa hujan. Baunya khasnya membawaku kembali pada masa 8 tahun ku dulu. Kemudian aku beratap langit malam dengan jutaan bintang. Bahkan aku bisa menghubungkan titik-titik terang dengan telunjukku membentuk Andromeda dan scorpius. Ohya, aku menutup sebelah mataku agar bisa fokus berimajinasi menciptakan garis di udara.
            Apa engkau juga akan berkabar? Bagaimana tanah pijakkan mu? Basah? Apa kau bisa melihat Andromeda dan scorpius di situ? Tidak kah langit malam disitu cerah?
            Sekali lagi aku berkabar. Aku pernah bermimpi tentang mu. Mimpi indah. Menatap nanar langkah gontai mu bergandengan dengan bayangan hitam berpayung terik. Langkah mu semakin cepat, jauh dan bayangan hitam itu perlahan hilang. Leherku terasa tercekik, dengan mata tanpa satu kedipan pun aku berusaha bersuara memanggil sosok tak bernama. Engkau. Engkau yang masih berdiri membelakangi ku di sana. Jauh.
            Sekali lagi, apa kah engkau akan berkabar? Saat tidur mu yang pulas, tentang mimpi mu?
Dear saudara serusukku,

            Ku kirim surat ini untukmu di salah satu sudut bumi Tuhan yang maha luas ini. Terimakasih telah menyentuh surat ku, membacanya hingga kata terakhir. Dan terimakasih untuk menjawab semua pertanyaan ku dengan kata-kata yang bisa ku baca di sini sendiri.

Minggu, 12 Januari 2014

Taman Wisata Selecta Kota Batu, Jawa Timur (2)

Bismillahirrahmanirrahim

Lagi gak ada ide, inpirasi juga gk tau kabur kemana. Gak ada tulisan, gambar pun jadi. Oktober, 2013 adalah salah satu moment indah tahun lalu. Mengabadikan gambar bersama jutaan bunga di tanah dingin Pulau Jawa.















Sabtu, 04 Januari 2014

Fatamorgana

Aku tau betapa kamu sangat tergila-gila pada warna emas laut di senja hari.
Atau pada saat ombak memamerkan keganasannya di bawah anggunnya langit biru, bersama riuh angin bahkan di sela dinginnya hujan.
Aku juga tau betapa kamu menyukai tanah dan segenap lekukannya, pesona tebimg yang perkasa atau sekedar berdiri di puncak bukit untuk menyentuh langit.
Aku juga tau kamu terpesona pada riak sungai. Menjatuhkan dau kering kemudian melihatnya menghilang terbawa arus yang damai.
Aku juga tau kamu sering menghadapkan kepala mu ke atas saat terik menyengat. Beradu tatap dengan terangnya mentari tengah hari. Dengan mata tinggal segaris kamu mencuri pandang pada awan yang menari. Menanti hujan untuk bersembunyi di balik rinainya.
Aku berharap aku tau suatu saat kamu akan menceritakan semua itu kepadaku, tidak melalui angin. Tapi, saat kita berdiri bersama di atas jutaan butir pasir pantai, tempat terindahmu.
Dan kemudian aku yang paling tau betapa kamu adalah palsu, tidak pernah ada.