Senin, 03 Agustus 2015

1050 MDPL

DUA MALAM 3 HARI YANG LUAR BIASA.
MAAF MEREPOTKAN.
TERIMA KASIH UNTUK SETIAP KENANGAN



















Minggu, 14 Juni 2015

Puncak Bulusaraung

Bukan karena “kemana” nya tapi, sama “siapa”nya.
Ah, hanya tagline penghibur diri untuk beberapa tempat yang sulit terjangkau.
Sabtu, 13 Juni 2015, 1232 mdpl puncak Bulusaraung, Pangkep.
Terimakasih tak terhingga untuk teman-teman terhebat yang sudah bersama-sama merasakan dinginnya puncak Bulusaraung.
Lima gadis nekat ini hanya bermodal sandal gunung, jaket ala kadarnya, dua sleeping bag dan dan 3 lelaki pendaki professional dengan tumpuan harapan terbesar kami pada isi carrier-carrier di punggung mereka.
“Perhatikan pijakan kaki, langkah kaki kanan ambil nafas, buang nafas di langkah kaki kiri. Pelan-saja.” Entah berapa puluh kali kalimat ini menggema sepanjang tanjakan. Belum pos 3 rasanya saluran napas sudah mulai menyempit. Muka pucat. Nekat sih, tanpa persiapan fisik sok kuat mau muncak.
Saling menyapa selama perjalanan. “Permisi bang, duluan”. “Mari, kanda”. Dan beberapa sapaan hangat lainnya. Kalo pendaki berpapasan emang gini ya? Membunuh letih saat mendaki, ada yang memutar music, kebetulah yang play adalah soundrack film 5 cm. serasa menanjak di Semeru. Hahaha. Indahnya menghayal.
Sekali lagi terima kasih tak terhingga, untuk kalian yang hebat, sabar, dan keren pastinya.

Arafah P, temannya Arafah (Siapapun namanya J), Muhammad Nardiansyah, Munawwarah Syam, Wahyuni Tahir, Mutmainnah, dan Ratna.






























Kamis, 04 Juni 2015

Lampau

“Padahal ku ingin yang lampau, yang kini tak terjangkau” (Sapardi Djoko Damono)
Labirin waktu 10 tahun lalu itu masih meliuk-liuk dalam setiap detak pompa jantung. Iya, yang lampau yang tak terjangkau. Kedua bola mata pun bahkan tau diri hanya untuk mencuri pandang. Lalu hanya mampu menitip pesan-pesan rindu melalui do’a. dan? Ia menerimanya? Tak ada balasan hingga bahkan langit lelah membiru. Adalah lelah yang setiap paginya ingin aku nyanyikan.   

Lalu setengah lelahku terbang menguap mengangkasa. Terisi oleh mimpi yang terjanji di tengah labirin waktu 10 tahun lalu. Ku biarkan kau masuk dalam labirin ini, semoga bisa menuntunku menemukan apa yang ku cari. Sekarang kau tau kan, betapa egoisnya aku. Dengar bisikku, hanya dua pilihan untukmu orang baru. Cari apa yang ku mau lalu kau mati sia-sia. Atau, berdirilah disamping ku, tentu kau boleh masuk. Mengalir disela butir darah ku, keluar masuk dinding jantung ku, menyapa setiap sel tubuhku, lalu sabotase setiap celah otak ku sesuka hati mu. Pilihan yang adil.

Ah sudahlah, meski setengah lelahku telah berhasil berkelana mancari tempat bersandar yang mungkin tepat, setengah lelah lainnya entah dimana ia bersembunyi. Hanya sesekali terasa sesak hingga ubun-ubun.


Dan akhirnya kubiarkan semuanya terlunta-lunta. Mungkin seperti debu kemarau yang tersapu gerimis. Jika kau paham, harusnya kau lebih sibuk mengingatkan ku.

Sabtu, 16 Mei 2015

BEGINILAH KALO SUDAH MAINSTREAM

I LIKE MONDAY (ABDUR, DODIT, UUS)




                            OVERACTING (MUSLIM, PRASTEGUH, ARIF ALFIANSYAH)









RULE OF THREE (DZAWIN, DAVID, ABDUR)









STAND UP NITE WITH DZAWIN



KETIKA SI BUJANG JATUH CINTA

Selamat pagi, Senja.
Sebab senja ada setiap pagi. Setiap matahari hendak menepati janji pada semesta setelah ayam jantan menyahut manusia yang masih terlelap hingga matahari akan kembali perlahan merangkak di kaki langit lalu kembali membuat janji. Janji yang akan selalu ditepati hingga Tuhannya berkata berhenti.
“Selamat pagi, Senja!!!”
Teriakan suara si bujang dari jalanan berukuran lebar 2 meter tepat di belakang rumah cahaya. Rumah cahaya, rumah yang selalau memberikan cahaya kasih sayang pada setiap anak-anak yang tidak mengetahui siapa ayah dan ibu mereka.  Termasuk aku, Senja. Bunda Nini bilang, saat itu senja yang sangat indah. Dengan langkah tergesa-gesa seorang wanita paruh baya langsung meletakkan sebuah kardus di depan rumah cahaya. Lalu ia lari tergopoh-gopoh dan mungkin menangis. Tak sempat Bunda Nini bertanya sepatah kata pun. Wanita itu seketika hilang seperti hantu. Bunda Nini memandang lekat seonggok daging yang ternyata masih bernyawa. Seorang bayi yang dengan kuat menangis menjerit. Bayi itu tahu, ia kini telah ditinggal pergi oleh wanita tadi. Yang mungkin ia lahir dari rahimnya. Bunda Nini lalu hanya memanggil bayi itu dengan senja. Hanya senja. Aku.
Bulan berlalu tahun berganti. Senja tumbuh. Cantik. Dengan mata bulat dan agak besar, hidung nan elok meski tak mancung, bibir tipis dengan tahi lalat kecil di sudut kanan bibir bawah. dan  rambut hitam yann selalu dikucir ekor kuda. Sayang, Senja tumbuh tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun, tak mampu mendengar sebait kalimat pun tanpa alat bantu mendengar. Ya, dan itulah senja sekarang. Aku, si Senja berumur 24 tahun.
Pagi ini matahari belum terlalu terik. Bergegas aku membuka jendela kamar. Mencari sumber suara tadi. Suara si bujang. Lelaki muda paling berkarisma yang ada di rumah cahaya. Aku tak mampu bersuara apa pun saat ia melambaikan tangannya saat berlari kecil mengelilingi halaman belakang. Seperti pagi-pagi sebelumnya aku hanya mejawab dengan senyum lebar dan  mata yag berbinar. Ia tampak gagah dengan keringat yang mengucur di wajah dan lehernya. Aku langsung berbalik badan.
“Tidak. Behenti terpesona”. Aku menggerutu sendiri dalam hati
Bujang pun sama seperti ku. Entah kapan ia menjadi anak Bunda Nini dan menjadi saudara kami. Tak ada yang tahu. Hanya ia dan Bunda Nini. Sebab Bunda Nini tak pernah menceritakan bagaimana kami hingga bisa berada di rumah cahaya kepada orang lain. Aku hanya menduga, bujang terlebih dahulu menjadi penghuni rumah cahaya sebelum gadis senja itu tiba. Karena si bujang sekarang 25 tahun. Entahlah, itu hanya dugaanku.
Bujang adalah penggila senja. Senja yang sesungguhnya. Saat matahari benar merangkak di kaki langit ufuk barat. Lalu tercipta mega dan langit emas. Ketika beberapa penghuni rongga langit menyikap tirai sore lalu akan terlelap.
Setiap petang pun adalah detik-detik menggoyak jantung. Oleh setiap dongeng dan mimpi-mimpi si bujang. Seperti hari terakhir sebelum si bujang merantau untuk kuliah. Hari itu ia lebih awal mengajak ku di bukit tidak jauh dari rumah cahaya. Bukit yang setiap harinya bujang berdiri dan berteria mengucapkan selamat tingga kepada kekasihnya, mentari sore. Sunggu si bujang telah gila sejak ia lahir.
“Ada dongeng apa hari ini?” Aku menepuk pundaknya dan  memainkan jari membuyarkan lamunan si bujang
Perlahan bujang membuka tas kecilku dan mengambil alat bantu pendengaran lalu memasangnya di telingaku.
Perlahan ia berbisik “peri hujan”
Bujang tetawa kecil mungkin karena melihat ratusan tanda Tanya menempel di muka ku bak jerawat rindu seorang kekasih.
Kami duduk saling membelakngi dan bertemu punggung. Ia pun mulai mendongeng dan dan berimajinasi gila, menurutku.
Ah, aku terkantuk seperti biasa. Lalu kami akan pulang saat matahari telah benar tertelan ujung bumi sejauh mata memandang. Seperti biasa, bujang selalu menggendong ku karena ia tak selalu tega membangunkan si difabel ini saat ia terlelap. Oh bujang, harusnya ini terakhir kali kau menggendong ku.
Bujang masih berlari kecil mengelilingi taman belakang. Tiba-tiba ia mengejutkan ku dari balik jendela. Kaget, aku langsung menjatuhkan alat bantu pendengaranku. Bujang pun sigap melompati jendela yang tidak terlalu tinggi lalu mengambil alat bantu pendengaranku lalu ia menyigap rambutku lalu memasangnya kembali ke telinga ku. Wajah kami hanya berjarak sekian mili meter. Mungkin pun bersentuhan. Oh tuhan, seluruh tulangku serasa hilang. Bujang pun kembali melompat keluar melalui jendela. Ia mulai memainkan jari tangnnya yang berarti: “sebentar sore kita ke bukit belakang ya, seperti biasa”
Aku hanya mampu mengangguk pelan. Terpesona,
Enam tahun berlalu bujang pulang dengan gelar sarjana. Tak ada yang berubah. Ia tetap bujang yang menawan, dan semakin menawan. Untuk pertama kalinya setelah enam tahun kami kembali ke bukit dongeng. Menyapa petang dan seluruh makhluk yang menikmatinya.
Aku memainkan jari ku.
“Setelah enam tahun pasti banyak dongeng yang kau simpan, hari ini mau cerita dongen yang mana dulu?”
Ia langsung duduk di hadapanku.
“Hari ini tinggal satu dongeng yang tersisa, selebihnya sudah ku ceritakan.”
“Ohya? Sama siapa?”
“Diakhir dongeng ku akan ku beri tahu. Kali ini tentang peri senja.”
“Peri lagi?” Aku menyela
“Iya, tapi dia berbeda dengan peri yang lainnya. Ia benar ada. Di bukit sana.” Bujang menunjuk bukit kecil tepat matahari akan terbenam.
“Di sana sangat banyak peri senja. Mereka berwarna emas. Itu lah kenapa setiap senja langit berwarna emas. Mereka menebarkan cahaya mereka ke seluruh penjuru langit. Tapi, sebenarnya salah satu diantara mereka adalah dulunya seorang manusia. Ia dihukum menjadi peri senja dan mengatur detik-detik terbenamnya matahari.”
“Kenapa dia dihukum?” Aku kembali menyela
Bujang tampak berpikir. “Karena dulu dia sangat tidak menyukai senja. Ia bisa kembali jadi manusia kalau ia bertemu dengan pria yang menyukai senja. Makannya, setiap malam ia diberi kesempatan berubah menjadi manusia dan mencari pria tersebut.”
“Bagaimana dia tahu, kalau pria tersebut menyukai senja? Dia kan jadi manusia di malam hari.”
D”ia akan menempelkan alat pendeteksi apa yang akan dilakukan pria tersebut seharian. Jadi, dia tahu apakah pria tersebut betul menyukai senja atau tidak.”
Bujang mulai ngawur. Pikirku dalam hati.
“Lalu? Ia bertemu dengan pria tersebut?”
“Tentu. Mereka berkenalan di pantai pinggir kota pada malam bulan setengah purnama. Langit malam yan"g cerah dan bebauan sisa senja masih tercium.”
“Jadi?”
“Si peri senja itu kini telah jadi manusia dan hidup bahagia dengan pria penyuka senja tersebut.”
“Klise. Selalu saja berakhir bahagia. Apa setiap dongeng begitu?”
“Tentu, karena setiap dongeng adalah mimpi dari penciptanya. Siapa yang tidak ingin berakhir bahagia hidupnya.”
“Tetap saja klise.”
“Tumben kau tak tertidur.” Bujang menggodaku.
L”alu, kepada siapa kau menceritakan dongeng lainnya?” Aku mengalihkan pembicaraan.
Sebelum menjawab, kali ini bujang menarik napas panjang, lalu tersenyum dengan sangat manis. Oh tuhan, pipi ku memerah.
“Peri senja, maksud ku peri senja yang kemudian berubah menjdi manusia.”
“Dan kamu adalah pria dalam dongeng itu? Peri senja itu, maksudny perempuan itu siapa?”
“Besok kau akan menemuinya.”
Singkat, jawaban bujang yang membut nyawaku telah smpai di tenggorokan. Jari tangan ku kaku.
“Ayok pulang, sudah gelap.”
Bujang memasang posisi akan menggendong ku. Aku hanya berjalan lurus dengan tatapan kosong mengikuti jalan setapak menuju rumah cahaya. Bujang sangat tahu, saat itu ia telah membuatku patah hati oleh peri senja nya.
Dan si bujang telah benar jatuh cinta. Oleh setiap kegilaaannya pada senja Tuhan setiap harinya.    
Benar saja, besoknya perempuan jelmaan peri senja itu datang. Cantik, anggun seperti peri. Bagaimana tidak bujang tak terpesona. Benar akhir kisah dongeng yang selalu ada, mereka hidup bahagia selamanya.
Si bujang pun jatuh cinta.

Makassar, senja hari.

Senin, 11 Mei 2015

Bagaimana Tak Rindu?

Seperti tuhan yang Maha Adil mengirim matahari penghangat pagi mu dan bulan setengah purnama yang memecah pekatnya dini hari. Seperti hati dan logika, rindu ini mulai membelah. Saya terkapar terlena di pagi buta, lalu tenggelam di senja sepi. Banyak yang salah dengan dilema rindu yang terpercik ini.

Dari jauh kau selalu menagih janji yang tidak pernah ku buat. Menuggu surat cinta yang “apakah harus kutulis?” berharap jika lah aku memetik gitar dan menyanyikan lagu cinta dan terselip nama mu dalam setiap bait liriknya. Itu kah yang kau mau? Lalu bagaimana hati tak rindu? Bagaimana tidak senja memerahkan awan, lalu gelap, dan bulan pun setengah purnama.

Setelahnya lalu pagi. Adalah siluetnya yang menyipitkan garis kelopak mata. Lalu kau yang lain berjalan sombong seperti terbang dari permukaan fajar menutupinya lalu mendekat. Dan hilanglah siluet itu lalu menjelma menjadi sebuah wajah dengan bola mata yang melemahkan hati. Harus lagi aku bertanya, bagaimana tak rindu? Harus lagi aku meminta, berdirilah hingga fajar esoknya. Sebab cahaya dibelakang mu terlampau menyilaukan. Sebab ia akan merangkak di rongga langit lalu mencipakan senja. Senja pilu. Takut rasanya, karena belum ada janji, tak ada surat cinta, dan tidak ada lagu-lagu cinta, mungkin  tak akan pernah ada,   

Masih pagi, rumah perawatan ETN Center Makassar.
Mengabaikan jurnal dan laporan, saya lebih tertarik berbasa-basi dalam lembaran word ini.
Dinas pagi tanpa pasien begitu membosankan, dan benar jadinya saya tetiba rindu pada mu.

Senin, 12 Januari 2015

Tinggal Kenangan

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Assalamu’alaikum 2015. Selamat datang bersama alam semesta. Membawa kabar hujan kepada bumi. Sebegitu rindu kah?

Januari
Selayaknya Januari tahun lalu, hujan semerta-merta menumpahkan pesan yang tertgantung berbulan-bulan di rongga langit. Januari Februari 2013 memberi jeda untuk anak gadis ini berpulang ke rumah kecil di untuk menikmati semangkuk sayur bening andalan ibunda. Melupakan jilidan skripsi bertumpuk di rak buku. Bu, Pak, anak mu kini sarjana.

Februari
Menikmati ikan bakar di pantai berpasir putih dengan hiasan jerawat di pipi. Hey, sebutlah ini piknik. Boleh jadi saya harus menghirup oksigen dengan bau karang sepuas mungkin. Beberapa waktu kedepan saya akan melupakan tentang pantai, puncak gungung yang sejuk dan segala alam yang memukau.

Maret
Selamat datang di Kota Daeng wahai Bapak, wahai Ibu. Pulau Sulawesi indah, bukan? Duduklah yang manis di bangku undangan. Lihatlah anak gadismu yang berlenggok kaku berusaha anggun dengan high heels, kebaya, dan toga mengucapkan janji profesi dihadapan pepara guru besarnya. Satu kalimat bapak yang untuk pertama kalinya ia ucapkan “anak bapak sungguh cantik memakai toga”. Bapak tak pernah mengucapkan kata “cantik” pada anak gadisnya sebelumnya. Ah bapak, saya tersipu dan terharu.

April-Mei
Selamat datang dunia profesi. Terimakasih telah me”lebel”kan kami sebagai mahasiswa profesi. Siklus belajar yang jauh berbeda dari perkuliahan pada umumnya. Kami masih mahasiswa di kampus yang sama. Sayangnya kalender akademik tidak berlaku untuk kami. Apa itu tanggal merah, apa itu weekend. Kami dipaksa untuk “lupa”. Keperawatan dasar membuka stase profesi ini. Menjadi mahasiswa yang sangat sayang dengan seragam putih barunya. Kena goresan pulpen sedikit saja langsung dicuci. Ngekor perawat ruangan hanya untuk memperhatiakn injeksi, perawatan luka, pasang infus, pasang kateter uriene dan setumpuk pekerjaan perawat lainnya. Temanya “observasi”.

Juni-Juli
Keperawatan medical bedah. Kami mulai berperang. Terpaan fisik dan mental mau tak mau harus dihadapi. Kami terlanjur basah dengan jurusan ini. Ya, karena pada awalnya kebanyakan kami yang tergelincir pada jurusan ini. Jadwal dinas tak menentu, laporan seabrek, ujian sana, ujian sini. Akh, tumbang sudah beberapa diantara kami. Saya mulai memaksakan lidah dan tenggorokan akrab dengan susu murni. Demi apapun, saya benci susu putih. Dan ramadhan tiba. Buka puasa kadang dengan menu seadanya di kamar perawat masih dengan keluhan keluarga pasien. Cairan infus yang habis, infus macet. Lalu tanpa tidur, bersahur ria di kantin rumah sakit. Ramdahan yang menguatkan hati. Insha Allah. Maaf, ramadhan kali ini 10 juz pun saya tak sanggup. Taraweh dan witir seadanya. Dengan puasa tanpa bolong. Ijinkan saya membayarnya pada ramadhan tahun depan.

Agustus
Keperawatan jiwa komunitas. Ucapakan selamat tinggal bangsal rumah sakit. Sementara waktu berlalang buana ke rumah-rumah warga. Bercurhat ria. Dengan pertanyaan klise, apa kabar hari ini?
Selingan di agustus ini, jreng..jreng. Dodit, Uus, Abdur main ke Makassar. Tau dong siapa mereka. Yang tak suka stand up comedy tak usah hiaruakan mereka.

September- Oktober
Stase maternitas. Berdinas di salah satu rumah sakit militer di kota ini. Oh tuhan, saya tak sanggup dengan kehidupan militer. Satu minggu cukup membuat bulir keringat ini mengalir tak karuan, waktu istrahat yang minim hingga saya harus terkantuk di motor. Pergulatan emosi kami di uji. Entah, setiap pendidik punya cara tersendiri mendidik muridnya. Dan saya cukup terdidik untuk menahat air mata hampir setiap ketika berbicara via telepon dengan orag tua. Bendera putih sudah di tangan, hanya siap saya kibarkan. Lalu mereka menguatkan, “toh pelaut yang ulung tidak lahir dari laut yang tenang.” Bismillah, Allah bersama kita.
Dan lagi, jreng..jreng. abang Dzawin show di Makassar. Masih tidak tau juga siapa dia? Ah sudah, cukup saya sudah pernah merangkul tangannya.

November
Selamat datang bulan kelahiran. Selamat menikmati stase keperawatan anak. Akh, saya paling terganggu dengan anak yang nakal. Oke, mari melawan rasa annoying itu. Sungguh pelajaran yang berharga. Dengan umur yang belia, tuhan telah menyayangi mereka dengan cara yang special. Bukan hanya infus yang harus dipasang berkali-kali, antibiotic yang perih harus diinjeksi setiap hari. Cukuplah itu membuat mereka rewel. Dan kemudian mereka harus menjalani kemoterapi. Saya hanya paham pasien leukemia itu di film. Dan kini saya yang merawat mereka. Tuhan, apakan ini tidak terlalu berat untuk mereka yang mungil?
Tidak jauh berebeda dengan bayi-bayi yang terlahir dengan tidak sempurna. Dirawat dengan hati-hati di incubator. Mereka pun dipasangi infus berkali-kali, dipasangi OGT agar bisa makan, ada oksigen, CPAP. Dengan begitu, kenapa masih lupa kita untuk bersyukur? Betapa sehat itu mahal.

Desember
Yeaaa.. akhir tahun. Hujan..hujan, dan hujan. Selamat bergabung di keperawatan gawat darurat. Kita “bermain” nyawa di sini. Mengakrabkan hidung denga bau amis darah yang kebawa hingga di kosan. Melihat satu sua nyawa di tagih baik perlahan maupun tiba-tiba oleh-Nya sudah biasa. Setidaknya keraguan saya memasang infus berkurang disini.
Dan saya mulai menghitung mundur sedari 1 January. Menanti Desember untuk kembali menguji ingatan .
                              


Makassar, 12 January 2015