“Padahal
ku ingin yang lampau, yang kini tak terjangkau” (Sapardi Djoko Damono)
Labirin
waktu 10 tahun lalu itu masih meliuk-liuk dalam setiap detak pompa jantung.
Iya, yang lampau yang tak terjangkau. Kedua bola mata pun bahkan tau diri hanya
untuk mencuri pandang. Lalu hanya mampu menitip pesan-pesan rindu melalui do’a.
dan? Ia menerimanya? Tak ada balasan hingga bahkan langit lelah membiru. Adalah
lelah yang setiap paginya ingin aku nyanyikan.
Lalu
setengah lelahku terbang menguap mengangkasa. Terisi oleh mimpi yang terjanji
di tengah labirin waktu 10 tahun lalu. Ku biarkan kau masuk dalam labirin ini,
semoga bisa menuntunku menemukan apa yang ku cari. Sekarang kau tau kan, betapa
egoisnya aku. Dengar bisikku, hanya dua pilihan untukmu orang baru. Cari apa
yang ku mau lalu kau mati sia-sia. Atau, berdirilah disamping ku, tentu kau
boleh masuk. Mengalir disela butir darah ku, keluar masuk dinding jantung ku,
menyapa setiap sel tubuhku, lalu sabotase setiap celah otak ku sesuka hati mu.
Pilihan yang adil.
Ah
sudahlah, meski setengah lelahku telah berhasil berkelana mancari tempat
bersandar yang mungkin tepat, setengah lelah lainnya entah dimana ia
bersembunyi. Hanya sesekali terasa sesak hingga ubun-ubun.
Dan
akhirnya kubiarkan semuanya terlunta-lunta. Mungkin seperti debu kemarau yang
tersapu gerimis. Jika kau paham, harusnya kau lebih sibuk mengingatkan ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar