Kamis, 04 Juni 2015

Lampau

“Padahal ku ingin yang lampau, yang kini tak terjangkau” (Sapardi Djoko Damono)
Labirin waktu 10 tahun lalu itu masih meliuk-liuk dalam setiap detak pompa jantung. Iya, yang lampau yang tak terjangkau. Kedua bola mata pun bahkan tau diri hanya untuk mencuri pandang. Lalu hanya mampu menitip pesan-pesan rindu melalui do’a. dan? Ia menerimanya? Tak ada balasan hingga bahkan langit lelah membiru. Adalah lelah yang setiap paginya ingin aku nyanyikan.   

Lalu setengah lelahku terbang menguap mengangkasa. Terisi oleh mimpi yang terjanji di tengah labirin waktu 10 tahun lalu. Ku biarkan kau masuk dalam labirin ini, semoga bisa menuntunku menemukan apa yang ku cari. Sekarang kau tau kan, betapa egoisnya aku. Dengar bisikku, hanya dua pilihan untukmu orang baru. Cari apa yang ku mau lalu kau mati sia-sia. Atau, berdirilah disamping ku, tentu kau boleh masuk. Mengalir disela butir darah ku, keluar masuk dinding jantung ku, menyapa setiap sel tubuhku, lalu sabotase setiap celah otak ku sesuka hati mu. Pilihan yang adil.

Ah sudahlah, meski setengah lelahku telah berhasil berkelana mancari tempat bersandar yang mungkin tepat, setengah lelah lainnya entah dimana ia bersembunyi. Hanya sesekali terasa sesak hingga ubun-ubun.


Dan akhirnya kubiarkan semuanya terlunta-lunta. Mungkin seperti debu kemarau yang tersapu gerimis. Jika kau paham, harusnya kau lebih sibuk mengingatkan ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar