Seperti
tuhan yang Maha Adil mengirim matahari penghangat pagi mu dan bulan setengah
purnama yang memecah pekatnya dini hari. Seperti hati dan logika, rindu ini
mulai membelah. Saya terkapar terlena di pagi buta, lalu tenggelam di senja
sepi. Banyak yang salah dengan dilema rindu yang terpercik ini.
Dari
jauh kau selalu menagih janji yang tidak pernah ku buat. Menuggu surat cinta
yang “apakah harus kutulis?” berharap
jika lah aku memetik gitar dan menyanyikan lagu cinta dan terselip nama mu
dalam setiap bait liriknya. Itu kah yang kau mau? Lalu bagaimana hati tak
rindu? Bagaimana tidak senja memerahkan awan, lalu gelap, dan bulan pun
setengah purnama.
Setelahnya
lalu pagi. Adalah siluetnya yang menyipitkan garis kelopak mata. Lalu kau yang
lain berjalan sombong seperti terbang dari permukaan fajar menutupinya lalu
mendekat. Dan hilanglah siluet itu lalu menjelma menjadi sebuah wajah dengan
bola mata yang melemahkan hati. Harus lagi aku bertanya, bagaimana tak rindu? Harus
lagi aku meminta, berdirilah hingga fajar esoknya. Sebab cahaya dibelakang mu
terlampau menyilaukan. Sebab ia akan merangkak di rongga langit lalu mencipakan
senja. Senja pilu. Takut rasanya, karena belum ada janji, tak ada surat cinta,
dan tidak ada lagu-lagu cinta, mungkin
tak akan pernah ada,
Masih pagi, rumah perawatan ETN Center
Makassar.
Mengabaikan jurnal dan laporan,
saya lebih tertarik berbasa-basi dalam lembaran word ini.
Dinas pagi tanpa pasien begitu
membosankan, dan benar jadinya saya tetiba rindu pada mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar