Senin, 11 Mei 2015

Bagaimana Tak Rindu?

Seperti tuhan yang Maha Adil mengirim matahari penghangat pagi mu dan bulan setengah purnama yang memecah pekatnya dini hari. Seperti hati dan logika, rindu ini mulai membelah. Saya terkapar terlena di pagi buta, lalu tenggelam di senja sepi. Banyak yang salah dengan dilema rindu yang terpercik ini.

Dari jauh kau selalu menagih janji yang tidak pernah ku buat. Menuggu surat cinta yang “apakah harus kutulis?” berharap jika lah aku memetik gitar dan menyanyikan lagu cinta dan terselip nama mu dalam setiap bait liriknya. Itu kah yang kau mau? Lalu bagaimana hati tak rindu? Bagaimana tidak senja memerahkan awan, lalu gelap, dan bulan pun setengah purnama.

Setelahnya lalu pagi. Adalah siluetnya yang menyipitkan garis kelopak mata. Lalu kau yang lain berjalan sombong seperti terbang dari permukaan fajar menutupinya lalu mendekat. Dan hilanglah siluet itu lalu menjelma menjadi sebuah wajah dengan bola mata yang melemahkan hati. Harus lagi aku bertanya, bagaimana tak rindu? Harus lagi aku meminta, berdirilah hingga fajar esoknya. Sebab cahaya dibelakang mu terlampau menyilaukan. Sebab ia akan merangkak di rongga langit lalu mencipakan senja. Senja pilu. Takut rasanya, karena belum ada janji, tak ada surat cinta, dan tidak ada lagu-lagu cinta, mungkin  tak akan pernah ada,   

Masih pagi, rumah perawatan ETN Center Makassar.
Mengabaikan jurnal dan laporan, saya lebih tertarik berbasa-basi dalam lembaran word ini.
Dinas pagi tanpa pasien begitu membosankan, dan benar jadinya saya tetiba rindu pada mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar