Rabu, 19 November 2014
SELAMAT ULANG TAHUN ^^
Jumat, 07 November 2014
Senja
Beberapa
detik saya harus memperbaiki perasaan sejenak memejamkan mata, menghela napas
panjang beberapa kali. Menyetel lagu irama klasik. Sempurna.
Pagi
menjelang siang yang terik. Awal November yang biasa. Saya sedang menanti
senja. Ada tujuh detik special padanya. Saat matahari benar-benar merangkak
perlahan tertelan ujung bumi. Ketika matahari lenyap untuk menepati janji pada
milyaran manusia di belahan bumi lain, termasuk kamu.
Tujuh
detik special yang mungkin kau kejar hampir setiap senja selama hidup mu.
hingga tak pernah kau perdulikan pagi yang anggun, saat matahari senja mu itu
masih awal menggandeng langit dan penghuninya. Hingga kau tak memperdulikan
malam, saat matahari senja mu itu menitipkan cahayanya pada megahnya bulan dan
milyaran penghuni langit malam lainnya. Kau tak pernah perduli. Kau hanya
mengejar senja. Tujuh detik special bersamanya.
Saya
bukan penikmat senja, bukan penikmat the aroma melati bersama kenangan yang
menyertainya. Saya hanya selalu menanti pagi dan penikmat angin malam. Tidak pada
senja. Karena mega yang terlampau menyilaukan. Dan tak ada fatamorgana memeluk
senja.
Mengapa
pagi. Sebab pagi menjanjikan mimpi. Menjanjikan segala cerita yang bertabur
rasa syukur hingga malam menjadi sangat gelap.
Mengapa
pada angin malam. Sebab malam menjadi penutup cerita. Setelah semua janji fajar
pagi terpenuhi, terbawa angin malam menanti pagi esok.
Jelas
sudah, kita tak akan pernah bertemu dalam lingkaran kehidupan nyata. Kau hanya
autis dalam senja mu dengan seduhan secangkir the hangat dan sebatang rokok. Tujuh
detik special, bersama tegukan teh dan hisapan batang rokok. Sempurna senja
pilu. Pagi mu hanyalah pagi. Malam mu cukup menjadi jembatan untuk melewati
hari berikutnya.
Sekali
lagi saya harus menghela nafas panjang. Matahari semakin terik. Saya akan baik-baik
saja sebelum senja tiba. Setidaknya saya harus menyaksikan pergulatan cahaya
matahari dan tepian bumi hari ini. Menanti fatamorgana terakhir. Mungkin.
Sebelum
akhirnya senja, sebelum akhirnya kau berpesta. Saya hanya ingin mengucapkan
selamat tinggal. Terima kasih untuk setiap fatamorgana yang menyilaukan, untuk
semua kenangan yang mustahil terlupa, serta senyum dan tatapan mata tak terbaca.
Entah
bagaimana seharusnya. Saya sudah cukup frontal, cukup jujur. Jika pun kau paham
dan mengerti, ya sudah. Jika pun tidak, ya sudah. Saya baik-baik saja.
Maaf
telah lancang menyebut nama mu dalam setiap do’a dan sujud ku. Mungkin itu tak
akan terjadi lagi.
Saya
hanya perlu mengehela napas yang lebih panjang lagi. Mengeluarkan seluruh CO2 yang menyesakkan dada.
Jumat, 31 Oktober 2014
Seperti Jatuh Cinta Lagi
Beberapa jam saya harus melupakan
dinas, askep, laporan, respon sana sini, menulis tangan, dan semuanya tuntutan
mahasiswa profesi. Iya, lupakan beberapa jam saja. Melupakan kegalauan profesi,
stressor penurun berat badan, stressor pembuat muka berjerawat, dinas malam
yang mencekam, dinas pagi yang sibuk.
Seperti
jatuh cinta lagi.
Seluruh badan sedikit tremor, mata
berkedih tak berirma, keringat terasa menyucur meski ruangan berac, saya hanya
mampu meremas tangan yang berkeringat terus-menerus, nafas tak karuan, detak
jantung apalagi. Apakah masih terasa, terabaikan. Saya seperti kehabisan
kata-kata, suara hanya sampai pada tenggorokan.
Speechless,, hey saya harus bilang apa..!! beberapa kali saya hanya
mampu menganga, sesekali menutup seluruh wajah dengan kedua telapak. Ya tuhan,
langkah gagahnya menuju panggung. Saya mematung.
Dzawin hanya pemuda biasa yang
kebetulan hanya menjadi finalis stand up comedy. Bisa dibilag artis lah. Hey,
saya sudah ratusan kali melihatnya tampil di panggung stand up di tivi, dan you
tube. Mengidolaknnya seperti layaknya idola biasa. Hanya itu. Tapi, semua
dirasa berubah saat melihat langsung dengan kasat mata. Tubuh semampai tak
terlalu tinggi, tak terlalu berisi, tak sekunyel di tivi, dengan rambut yang
lebih panjang terkahir saya lihat di tivi, plus poni. Haha, iya, dia berponi. Di
sela-sela ber stand up ia mengibas poninya beberapa kali. Dan kaca mata. Saya meleleh.
Materi stand up yang sudah akrab
saya dengar di telinga. Ah, dzawin hanya menambah beberapa materi saja. Tapi,
saya tak menikmati materinya. Menikmati setiap langkahnya, gerak tangannya,
kibasan poninya, dan selipan tawanya. Dan, satu lagi lantunan beberapa ayat Al.Quran
disela materi dengan suara yang asli menyejukan hati. Begini lah komik yang
lulusan pesantren. Dzawin suka wanita berkerudung. Hey dzawin.. saya
berkerudung. Hahahaa..
I
am dzawinranger. Terimakasih telah datang ke Makassar. Terima kasih telah
membuat saya lupa dengan status mahaiswa profesi. Terimakasih telah membat saya
terpingkal malam ini. Terimakasih telah mau saya rangkul untuk berfoto bersama.
Terimakasih telah membuat saya jatuh cinta lagi yang entah kapan terakhir kali
saya merasa seperti itu.
Minggu, 22 Juni 2014
Cerpen --> Ayah, Aku Patah Hati
Ayah, Aku Patah Hati
“Wajanya
masih datar, Yah. Masih teduh, kosong
tapi…”
“Tapi
apa sayang?”
“Tapi
rumit. Selalu datar. Saya tak pernah sedikit pun membaca hati dan pikirannya
melalui wajah cueknya.”
“Sayang,
pastinya kamu tidak bisa membaca hati dan pikirannya jika hanya melalui gambarnya.”
“Ah,
ayah..!!” Aku menyandarkan kepala ku ke pundak pria yang sangat aku hormati
dengan nada manja.
Ayah,
pria pertama yang aku sandarkan kepala ku di bahu dan dadanya setiap kali dunia
terasa kejam dan pahit. Wangi khas tubuhnya terasa melekat dalam penciuman ku.
Tak sedetik pun aku lupa wangi beliau. Ayah sering kali menggodaku, “lalu, mana
pria lain yang akan kamu sandarkan kepala mu?”
Pundak
ayah kenapa? Apa mulai lelah dengan sandaran ku?
“Tidak
selamanya kamu akan bersandar di pundak ayah. Akan tiba waktunya kamu butuh
pundak pria lain. Anak ayah kan sudah dewasa”. Ayah usil sembari mencubit
hidungku.
“Hampir
Yah, hampir ada. Dia yang wajahnya
teduh, datar, dan kosong”. Kali ini aku serius.
“Hampir?
Lalu?” Ayah juga terlihat lebih serius kali ini.
“Entah
lah, Yah. Tidak pernah ada permulaan.
Jadi tidak bisa saya katakana telah berakhir pun.”
“Siapa
dia sayang? Apa ayah mengenalnya?”
“Ayah
tidak mengenalnya. Bahkan saya pun tidak sepenuhnya mengenalanya. Dia hanya seorang
kenalan di masa lalu. Tapi kami cukup sering bertemu dalam tengah malam. Ah,
itu pun jikan saya terlelap untuk memejamkan mata.”
“Sejauh
mana ia mengenalmu, sayang?” Ayah mulai membelai rambut panjang ku,
“Miris,
Yah. Dia hanya tau nama lengkap ku
dan nama ayah. Itu pun karena ia melihat nama ku di daftar absen di sekolah.” Mata
ku pun mulai berkaca-kaca. “Aku rindu ayah”. Aku memeluk beliau erat bersama
tangisku yang pecah. Ayah membalas pelukku. Mencium kening ku beberapa kali. Beliau
sangat tahu ketika aku merajuk seperti ini adalah saat-saat sulit ku.
Hening.
Beberapa saat hanya suara desiran angin yang membawa terbang dedaunan kering. Setelah
lelah menumpahkan air mata, aku mulai membuka mata ku. Masih dalam dekapan
hangat ayah. Aku mencoba memandangi sekeliling. Banyak pohon beringin tua,
denan tanah yang dipenuhi rumput yang tidak begitu terawat. Bau tanah selepas
hujan tadi pagi begitu terasa, bercampur dengan bau khas rumput hijau. “Akh,
kenapa tempat ini begitu sunyi.” Bisikku dalam hati.
“Anak
ayah sudah puas nangisnya?” Suara ayah rasanya begitu hadir tiba-tiba dan
mengagetkan ku.
“Yah,
anak mu patah hati. Nada suara ku kembali merajuk.”
“Karena?”
“Ada
rasa sakit saat cinta itu tidak aku dapatkan. Sakit Yah, bahkan air mata pun rasanya tidak sebanding dengan apa yang
aku rasa.”
“Apa
tidak berlebihan sayang?”
“Mungkin
Yah. Bukankan roman picisan memang
selalu dengan kisah yang berlebihan?”
“Lalu,
di mana dia? Dimana si empunya wajah teduh dan datar itu? Bagaiamna dia
sekarang?”
“Ayah
bertanya pada ku? Justeru aku selalu bertanya pada Dia yang Maha Tahu tentang
itu. Tak ada lelah ku bertanya,Yah.”
Aku
hanya mendengar ayah menghela napasnya dengan begitu panjang. Aku tahu, ayah
sedang berpikir keras untuk menenangkan pikiran anak gadisnya yang keras kepala
ini.
“Ah,
sudahlah Yah… dengan berada di
pelukan mu seperti ini, tiada lagi pria mana pun yang lebih hebat selain ayah. Melupakan
dia yang tak pernah mengingatku tidak akan jadi hal rumit. Hanya butuh waktu
dan sedikit kesibukan, kesibukan merindukan yang lain. Bukan kah ayah pernah
mengatakan itu sebelumnya. Patah hati juga bukan perasaan langka yang harus dilebaykan. Aku tak akan jadi anak cengeng
mu ayah, yang akan menangis dan bermelankolis jika harus patah hati. Cukuplah aku
menggila karena patah hati atas kepergian mu, Ayah ku.”
Desiran
suara angin kembali ku dengar, kali ini lebih keras. Beberapa helai daun
mendarat di kerudung hitam ku yang tersandar di bahu. Masih sunyi. Tak ada
ayah. Hanya segundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan kecil di depanku. Aku mulai
menyiraminya dengan air dari botol air mineral yang kubawa. Ku taburi beberapa
bunga. Ku elus lembut batu nisan yang bertuliskan nama ayah ku.
Sepenggal
kalimat terngiang di kepala ku bersama tenggelamnya senja:
“Sayang, cobalah
berwudhu, lalu bentangkam sajadah dan katakan pada Sang Pemilik Cinta, kau
mencintainya.”
Ayah
baru saja membisikkanya.
By @ulfayasin
Makassar, 23 June 2014
Langganan:
Postingan (Atom)





















































