Jumat, 17 Mei 2013

Si Dia



Si dia yang malang, sikapnya bikin nyesek. Kudu ngelus dada mulu kalo liat tingkah lakunya.
Gak jarang kata-katanya bikin perut mules, kesel setengah mati sampe muka dan mata merah karena darah otak mendidih dan ngalir sampe ke wajah. Ujung tanduk udah perlahan keluar di dua sudut kepala.

Si dia yang malang emang gak tau malu. Manusia dengan anugerah sifat egois yang luar biasa. Haram untuk minta maaf kalo udah bikin salah sama orang. Gak ngerasa punya salah, muka polos ala salah pasang gaya songong malah menghardik balik. Selalu ingin menang sendiri, gak bisa sedikit aja dikritik anything dari tindakan dan kata-katanya. Manusia aneh.

Si dia yang malang yang selalunya mau diperlakukan ibarat putri keraton salah gaul. Maunya Dilayani setiap keinginannya, didengarkan setiap kalimatnya, dipatuhi setiap perintahnya, diberikan setiap kemauanya, dipuja-puji sepanjang hari, didukung segala anggapannya, dielu-elukan, disanjung, dicintai dan disayangi. Selalu ingin dimengerti dan dihargai tanpa mengerti dan menghargai orang lain. Mau terus dilayani, tapi nyewa pembantu sama babysitter mesti mikir seribu kali. Miris.

Si dia yang malang kadang berubah menjadi monster. Hilang perasaan dan naluri sebagai manusia. Sering menusukkan jarum ke kulit orang lain sebelum mencoba ke kulitnya sendiri. Selalu begitu, merasa dunia dalam genggamannya. Oksigen kesombongan mulai mengalir besama darahnya.

Si dia yang malang tak jarang jadi pengecut, bahkan pecundang. Ibarat prajurit, angkat senjata saja tak bisa. Padahal pakaian perang telah siap dan lengkap di badan. Bersembunyi di balik punggung prajurit lain saat musuh menyerang. Boro-boro melepas tembakan, menatap senapannya saja seluruh tubuhnya sudah akral dingin.

Si dia yang malang lama-lama jadi parasit manusia-manusia lainnya. Jiwa anak Sekolah Dasar yang terjebak dalam tubuh manusia dewasa. Jangan berharap kuijinkan si dia yang malang untuk menginjak zona nyaman ku, bahkan sejengkal. Terlalu suci zona nyamanku untk si dia yang malang.

Rabu, 15 Mei 2013

EDELWEISS



Seperti dihadapkan untuk memilih salah satu dari 3 tangkai edelweiss di depan mata. Mereka sama, hanya dengan sejarah yang berbeda. Sulit, edelweiss adalah bunga kesukaan ku. Tidak boleh semuanya ku miliki, karena hukum alam pengendali permainan ini.
Edelweiss 1
Ku petik dengan susah payah. Bukan perjalanan yang mudah dan singkat untuk mencapai bukit tempat edelweiss yang satu ini tumbuh. Murni perjuangan ku seorang diri. Sayang, ia kini agak layu. Terlalu lama ku simpan di tempat yang tak bisa ia beradaptasi. Meski demikian, ia tetaplah edelweiss yang mempesona. Layu bukanlah alasan untuk menghilangkan kekagumanku.
Edelweiss2
Masih, ku petik dengan tangan ku sendiri. Di tempat yang tak sama dengan edelweiss pertama. Awalnya ku hanya ingin menikmati semilir angin di bukit edelweiss. Tidak terpikirkan sebelumnya bahkan untuk melirik edelweiss kedua. Jutaan tangkai edelweiss yang bergoyang mengikuti melodi alam bahkan sama semua di mata ku. Tak ada yang spesial. Hingga seseoang itu datang. Menuntunku untuk memetik setangkai edelweiss. Entah kenapa ku hanya mengikuti keinginanya. Edelweiss yang biasa sebelum ku petik dan kini begitu indah saat ia berada di tangan ku. Dan seseorang itu pun menyodorkan edelweiss miliknya untukku, kemudian menyatukannya, dan perlahan ia melangkah menjauh. Semakin jauh, dan berhenti tepat di ujung jarak pandang ku. Namun ia kini tak beranjak, hanya berdiri terpaku menatapku yang menggenggam edelweiss.
Edelweiss 3
Edelweiss yang ketiga adalah hadiah pemberian seseorang yang lain. Entah dari mana ia memetiknya. Edelweiss paling cantik diantara dua edelweiss sebelumnya. Edelweiss yang mungkin tak akan pernah layu sebagai penghias semesta. Kini juga edelweiss itu dalam genggaman ku.

Ya, kini 3 edelweiss dalam genggamanku. Sederhana. Ku hanya perlu membuang dua lainnya dan mem1liki secara utuh hanya satu edelweiss.
(Makassar, 16 Mei 2013 pkl. 1.00 Wita)

Minggu, 05 Mei 2013

kenangan



Aku
Berdiri di tempat kenangan.
Mengulang sejarah masa silam.
Terulur dongeng penutup malam.
Untuk rasa yang tak patut dipesankan.
Bersama mozaik kisah hidup baru.
Dan sajak purnama cerita terdahulu.
Bertanya diri pada semesta, apakah hati masih merindu?

Selasa, 30 April 2013

lirik lagu tinggal waktu (noah)



Kau terbangun dari tidur panjang yang lelahkanmu
Sesali wajahmu merenta kisahmu terlupa
Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekat di khayalmu
Kau harapkan keajaiban datang
Hadir dipundakmu
Kau harapkan keajaiban melengkapi khayalmu
Kau biarkan mimpi tetap mimpi
Yang melengkapi khayalmu
Kau terhenyak dan terbangunkan
Dan harapkan keajaiban datang hadir dipundakmu
Kau mencari letak masa lalu yang lepaskanmu
Sesali wajahmu merenta kisahmu terlupa
Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekat di khayalmu

Jumat, 19 April 2013

sama

kalian semua adalah sama. meski dalam kepala yang berbeda, tetapi mampu mengkonsepkan persepsi kenangan pertama yang identik. luar biasa. meski dengan pasangan mata yang berbeda, tapi bisa menciptakan sudut pandang yang begitu umum. itulah kamu, mereka, dan kalian semuanya.
miris. itulah respon ku. pada tingkah laku yang bahkan tak layak untuk diabadikan. bagaimana mungkin kedua pasang mata yang indah itu begitu kasar membaca ruang. dan bagaimana mungkin segumpal daging yang kau sebut sebagai cerminan diri tak pandai menyaring aliran perasaan yang mengalir begitu hebat.
dan kalian masih sama. memuja pesona yang selalu kasat mata. bahkan mendewakan aura fisik yang tampak begitu nyata. terlena pada janji duniawi yang memanja.
sampai kapan pun kalian tetaplah sama. dan tak akann terjadi perubahan jika pun reinkarnasi mu terlahir.

Minggu, 07 April 2013

Angin



Hanya sekilas kisah tentang angin dan aku. Tentang kenangan dan mimpi.
Bagiku angin adalah simbol kebebasan. Melupakan sejenak apa yang terjadi sedetik yang lalu. Menghapus tetesan terakhir air mata. Menyulap kecewa dan benci menjadi cerita cinta.
Rasakan ia dalam ketenangan. Banyak cara meleburkannya dalam jiwa mu. Berdiri di puncak bukit, gunung atau tempat yang paling tinggi dari sekitar. Pejamkan mata, ekstensikan kepala. Hiruplah oksigen sepuasmu. Biarkan pakaianmu atau rambutmu menari mengkuti alunan angin.
Selanjutnya tak perlu tempat yang tinggi. Cukup berdiri manis di atas jutaan pasir, sesekali biarkan air laut mencium kaki mu. Bau angin laut akan mengantarmu pada harmoni alam yang nyata.
Dan jika alam sedang tidak mengijinkan mu berjodoh dengan angin, maka ciptakan ia. Berlarilah sekencang mungkin. Ciptakan angin mu sendiri. Milikmu.
Katakan pada alam. Tak ada alasan untuk tidak menciptakan senyuman.