Rabu, 06 Februari 2013

^zona Nyaman^


Liburan semester ini terasa berbeda. Panjang dan menyenangkan. Luar biasa deh pokoknya. Meski hanya 2 minggu, ku merasa kayak 2 bulan. Cukup penat kepala ku dengan kegiatan akademik dan organisasi kampus. Lelah dan menjenuhkan. Apalagi takdir yang tak memihak. Aku yang malang atau justru mereka yang beruntung? Hanya kata-kata itu yang bermain di kepala ku. Kelar semua kegiatan di kampus tercinta, ku hanya ingin refreshing. Pulang kampung? Sempat terpikirkan. Tapi sepertinya ada kenangan yang tak harus ku temui jika pulang kampung. Dan, pulau jawa adalah target. Malang, Jawa Timur.. wait me. I’ll come. Kota yang menjadi target untuk ku bangun panggung  yang tidak hanya untuk bermain peran. Tapi kehidupan abadi yang nyata. Tapi itu hanya kisa masa lalu.
Liburan di Pulau Jawa itu keren. Apalagi Malang, kota indah yang suhunya adalah favoritku. Sejuk. Dan jadual liburan kali ini cukup keliling Kota Malang dan Batu.
Oke,, the first.
Taman Wisata SELECTA.
Tujuan utama liburan ku. Mengabadikan saat berada di hutan bunga yang menjadi ikon kota. Luar biasa. Perjalanan yang tak mudah untuk ke tempat itu. Kami pun bertemankan hujan. Kami, aku, saudara perempuan ku tercinta, teman SMA ku yang telaten dan dua teman sekaligus junior ku di SMA yang gokil. Taman yang indah yang pernah ku datangi. Rasanya tak ingin meninggalkan tempat itu. Dan ratusan gambar tersimpan di memori camera digital yang kami bawa. Hebat. Tak lelah untuk menciptkan kenangan.
Alun-alun Kota Batu, Tugu Kota Malang, Stadion Gajayana, Perpustakaan Kota, dan berbagai tempat wisata belanja Kota Malang. Lumayan butuh budget yang gak sedikit. Tapi tak akan pernah sebanding dengan rasa bahagia yang ku rasa.
Terakhir, Gunung Bromo. Gak nyangka bakalan dapat kesempatan ke Bromo. Seperti mimpi melewati jalanan yang berliku, terjal dan jurang berselimut kabut yang tak bisa ku bayangkan entah berapa ratus meter dalamnya, dan sayuran petani yang menghiasi bukit-bukit hijau menjadi lukisan alam termanis untuk mencapai Bromo. Entah bagaimana aku menggambarkannya. Indah. Luar biasa. Hebat. Alam paling indah yang pernah ku tatap langsung. Udara khasnya tak terlupakan. Kabut yang sangat lebat hingga dapat ku genggam. Lautan pasir yang lembut. Edelweis yang hanya mimpi, kini ku genggam. Sunset termegah yang pernah ada. Ku terus berdecak kagum. Teriakan ku terbawa hingga puncak bromo. Tak ingin ku lewatkan meski berkedip. Bak surga yang di kirim ke dunia.
Asli inilah refreshing. Bebas. Ku seakan terbang Semuanya terlupakan.. Kampusku, nilai yang cukup bikin manyun, kegalauan, semuanya. Bahkan jika pun satu hari sebelumnya ada bencana, terlupakan saat berdiri di dekat kawah Bromo. Asli, gila.
Akhirnya ku sangat nyaman di kota malang. Cilok, sate, apel, petis, bakso bakar, dan semua kulinernya yang memanja. Udara sejuk yang khas, dan keramahan orang-orangnya. Pantas jika ku menyebutnya zona nyaman. Kenyamanan yang tak ku dapatkan di tempat lain.
Hari ini ku merindukan semua itu. Kota malang, Bromo, saudara perempuanku, dan teman-temanku di sana. ku merindukan zona nyaman ku.

Selasa, 05 Februari 2013

Bromo ^^














Kota Batu,Jawa Timur









Taman Wisata SELECTA. Batu, Jawa Timur














^ZoNa NyamAn^


Tuhan. Perasaan apa ini? Kuat. Melemahkan pikiran dan emosi. Seperti cerita sebelumnya. Lagi ku seperti ini. Tertunduk di akhir waktu. Akhir waktu itu malam, kan? Dan, ku terpuruk bersama malam, karena malam. Gelap. Pekat.
Tuhan, dunia semakin menjauhi ku. Dunia tak berpihak kepada ku. Apa Kau tak mengijinkan ku menjamah dunia? Apa Engkau akan mengirim ku ke surga? Seperti apa surga Mu? Apakah seperti yang kursakan sesaat lalu. Masa yang ku sebut zona nyaman ku. Seperti surga.
Indah, indah dan indah. Aku seakan bebas merasakan angin. Hempasan kasarnya bahkan tak merobohkanku, membelai dan mengajak rambutku menari bersama irama alam. Berpijak ku pada milyaran butir pasir. Tak perduli jika pun telapak kaki ku tenggelam. Merasakan kelopak edelweis di telapak tangan ku. Tatapan ku tak berujung. Bahkan ku tak melihat langit. Samudra kabut yang berkejaran tak pasti. Bau khas alam zona nyamanku masih tersisa dalam memori penciumanku.
Tuhan, bersyukurku untuk surgamu, zona nyaman ku. Dan sosok manis yang kau hadirkan dalam zona nyaman ku. Bidadari cantik yang mungil, tegar dan penuh cinta. Yang selalu menatap dalam hingga sudut mata ku.  Bertangan sutra yang salalu membelaiku. Berhati emas yang selalu mengalirkan kasihnya dalam nadiku. Tuhan, kabulkan pinta ku untuknya. Berikan seluruh air matanya untuk ku. Tak akan pernah rela ku melihat ia menangis. Kirimkan seluruh dukanya untuknya. Ia tak pantas bersedih karena apapun. Dan semoga seperti ini selalu. Ia tetap menjadi bidadari ku.
Tuhan, pantaskah lagi ku menikmati zona nyaman ku? Pantaskah lagi kumerasakan angin yang dengan sebebas lalu, milyran pasir, edlweis? Masihkah Kau ijinkan? Masihkah Kau pertemukan aku dengan bidadari ku? Bahkan ku tak pandai bersyukur kepadamu. Bahkan ku hanya selalu mengeluh. Bahkan ku hanya bisa meratap. Kenapa tidak? AdilMu bukan adilku. Sadarku. Ku hanya hamba.
Tuhan, hanya biarkan sekali lagi ku terlepas bersama zona nyaman ku. Lebih jauh. Lebih lama. Agar ku ciptakan kenangan yang lebih indah dan sejarah yang tak pernah purba. Karena ku tau. Engkau pemilik.

Senin, 21 Januari 2013

Sang Malam (Con't)

Hari ini ku ingat sang malam. Dengan segala kegelapannya. Kau tahu? sang malam bergerimis. Gerimis kasar dan berbadai. Langit terlihat suram. Awan pun tak becahaya. Lebih-lebih teman kecil kita, si bintang, ia takut menampakkan diri. Katanya sang malam tak menginginkan kehadiranya. Hmm,, si pemalu itu masih saja sama. Oh ya, bulan juga sama. Ia pelit menampakkan purnamanya. Dimensi memang sedang ekstrim, bersama sang malam.
Miris. Sang malam kini selalu suram. Aku hanya bisa membelainya lewat jendela kamarku yang tak bertirai. Hitam. Gelap. Sang malam mengacuhkan ku. Embun yang singgah di jendela kamarku singkat berbisik.
Katanya, “hey, kau rindu malam mu?”
“Tentu saja”. Jawabku.
“Trus, apa yang akan kamt lakukan?”
“Tak ada. Aku hanya akan menunggu malam ku. Ku biarkan ia sekarang bermain dengan kamu, gerimis, ataupun badai sekalipun. Malam ku tetap indah. Hanya perlu senyum si bintang kecil dan cahaya purnama untuk mendekorasi malamku. Ada waktunya. Tidak sekarang.”
“Bodoh, sebeantar lagi pagi. Kau akan meninggalkan malam mu. Fatamorgana menanti mu”.
Ku hanya senyum kecil.
“Pagi memang akan segera tiba. Aku akan menikmati hangatnya mentari dengan mata terpejam. Fatamorgana terlalu silau untuknya. Dan biarkan ku tatap langit biru dalam bayang. Bagiku kegelapan itu indah. Karena aku akan selalu bersama sang malam ku dalam gelap.”
“Dan kau, wahai embun. Kaupun akan lenyap oleh pagi.”

Sang Malam (1)

Apa kabar sang malam? Masih tersisa gemerlap tahun baru mu? Gemuruh letusan malam itu jelas ku ingat. Hujan bunga api sepintas masih terbayang. Riuh. dunia berpihak paa mu. dunia bersama mu. Dunia menyambut januari bersamamu, sang malam. Aku terlupakan oleh mu, terabaikan. Aku hilang di Desember lalu. Kisah ku mati. Karena kau berpaling. Bagaimana caranya aku mengembalikan mu ke Desember kemarin? Ke Desember manis ku? Kau pergi bersama waktu. Januari tak pernah manis kepada ku. Januari tak pernah menyambut ku. Kaku ku tapaki Januari, karena mustahil ku abadi di Desember ku.
Apa kabar sang malam? Bagaimana Januari mu? Indah? Ku dengar dari bumi, ia tak kuasa membendung tangisan dari langit malam. Angin pun berbisik, ia hilang arah di dimensi Januari. Kau bahkan santai. Lihat, kau tak berbintang. Bulan pun muram dalam dekapanmu. Wahai sang malam, kau yakin berpihak pada Januari?
Berbaliklah, lihat Desember mu? Ia menangis melepasmu. Ia kalah oleh waktu. Waktu merebut sang malam di Desember ku. Desember tinggal kenangan. Desember menjadi cerita masa lalu. Desember adalah dongeng.