Hai
skripsi. Apa kabar di Desember ini? Masih betah dengan saya? Ya ampun.. padahal
ingin sekali rasannya mengucapkan selamat tinggal padamu di akhir tahun ini.
Ternyata pesona ku masih begitu begitu memikatmu. Tak ada toga di akhir tahun
yang gerimis. Tepatnya belum.
Oh
skripsi, bagaimana bisa kau begitu menggalaukan? Seandainya jari-jari ini tidak
keriting karena tuntutan enam bab mu, telah ku bukukan kisah teman-temanku yang
pernah berkencan dengan mu.
Biarkan
ku sejenak mengeluh tentangmu.
Bahkan
bergadang adalah hal yang biasa, bahkan sebelum tingkat akhir. Capek, lelah
karena turun lapangan untuk mengambil data pun bukan moment yang greget untuk
mengingat mu. Mata yang lama-lama jadi minus karena kelamaan depan leptop pun
klise buat mahasiswa. Printer yang selalu memuntahkan hingga terbatuk-batuk ratusan
kertas yang bertuliskan sejuta jurnal dan angka juga masih hal yang biasa.
Bajet yang bikin nafas jadi separuh juga masih bisa termaafkan.
Lebih
dari itu, kau membukakan mata tentang legowo dan dewi fortuna.
Legowo,
begitu orang jawa bilang. Menanti beliau yang sibuk punya waktu luang untuk
memeriksa draft skripsi, lalu mencoretinya dengan cantik. Legowo yang paling ekstrim
saat lembar kontrak waktu terisi semua dengan tanda tangan pembimbing dan penguji
dengan hari dan jam yang sama. Ekstrim, tak ada yang mengalahkan suara nafas
lega seorang mahasiswa tingkat akhir saat kertas itu rampung ditandatangani.
Ekstrim, dan mulai perampungannya 3 hingga 60 hari. Dan saat ini lah saya
bertanya. Berapa jumlah dewi fortuna? Kemana dia? Dewi fortuna, seperti apa
rupanya. Pasti sosok yang pemilih. Tentu saya tidak tau, dia tidak pernah
menampakkan dirinya. Ya sudah, bahkan sekarang saya tak percaya jika ia ada.
Misalkan ada yang punya dewi fortuna, tolong pinjamkan kepada saya hingga akhir
tahun ini saja. Pasti akan saya kembalikan dengan utuh.
nice...
BalasHapushingga seorang mahasiswa yang tengah berjuang untuk mendapatkan sebuah toga akan melewati dan harus menikahi skripsi dengan indah.
ookesipp :D
BalasHapus