Pulang
kampung itu ritual wajib buat anak rantauan. Terlebih mahasiswa. Apalagi
seperti aku dan kebanyakan teman SMA ku. Tentu, karena kami merantau kuliah
kebanyakan di tempat yang jauh. Kudu nyebrang beberapa kali. Lintas pulau lintas
samudra. Ketemu sekali dalam setahun itu rasanya kayak ketemu saudara yang
terbuang. Untungnya masa liburan kami hampir bersamaan. Satu minggu bareng di
tanah kelahiran itu sudah lebih dari cukup. Puluhan skejul udah memenuhi agenda tahunan anak rantauan.
Perubahan
fisik dan kepribadian menjadi pembahasan utama kalo lagi pulang kampung. Jangan heran, banyak yang bertambah
subur, makmur kali yah jadi anak
rantauan yang ngekost. Tapi gak jarang juga yang tambah lurus,
langsing alias kurus gitu. Tapi kebanyakan
yang kurus justru teman-teman yang kuliahnya di daerah dan gak mesti lintas
pulau buat kuliah. Rumput tetangga kayaknya emnag lebih nikmat dan begizi dan
terlahap habis anak rantauan. Yup,
berikutnya perubahan kepribadian. Lebih tepatnya sih perubahan sikap dan
perilaku. Nah, kalo yang satu ini
cowok dominan kena. Mereka yang dulunya waktu SMA hanya jadi siswa biasa, nilai
pas-pasan eksis juga tidak, keren pun belum, tapi deh pas pulang kampung dari rantau, OMG pesonanya luar biasa.
Pulang dengan pangkat ketua BEM lah, ketua himpunan, dan pangkat-pangkat
sebagai pejabat kampus lainnya. Beda sama cewek. Lebih modis, stylist, dan kalo
orang Makassar bilang “bagaya”. Tapi, itu semua bukan hambatan untuk berkumpul
dan berbagi cerita selama merantau. Lebih tepatnya sih pamer.
Oke,
ini dia yang bikin seru pulang kampung ala aku dan teman-teman. Agenda wajib
pulang kampung tiap tahun yaitu buka puasa bareng sama jalan-jalan buat
refreshing. Entahlah, kayaknya semua udah ngerasa penat habis ujian dengan masih
di PHP oleh nilai. Untung kalo gak error.buat refreshing, tempat yang
dikunjungi tiada lain, pasti pantai. Karena bakalan ngebosanin juga kami yang
bertempat tinggal di puncak kabupaten ujung timu pulau Sumbawa ini harus
refsreshing di gunung juga. Overdosis. Agenda tambahannya yaitu ngumpul-ngumpul
terus. Makan bakso baren, bakar-bakar ayam yang paling sering. Kalau ingat
saat-saat seperti itu, ngangenin dah.
Sisi
lain nikmatnya pulang kampung, karena tepat bulan Ramadhan. Kehangatan dan
keseruan berkumpul dengan keluarga besar semua pasti merasakan. Serunya itu
saat ngabuburit. Jalan-jalan sore sambil konfoi motor. Keliling-keliling sambil
melihat-lihat perubahan setelah setahun. Dinginnya udara tanah kelahiran
menjadi kesan yang tak terlupakan. Selimut, jaket, kaos kaki dan segala pakaian
hangat menjadi kebutuhan kalau lagi pulang kampung. Jangankan malam hari, tidur
siang saja kudu mesti pakai kaos kaki sama jaket minimal untuk membalut badan
dari udara dingin. Kalau malam hari? Bayangkan saja. Suhu udara sudah pasti
turun. Dan ini salah satu rahasia yang agak jadi aib juga sih. Air yang digunakan di rumah itu mata air alami, kalau udara
dingin, airnya pun juga tak kalah dingin, dan saya tak pernah sekalipun mandi
di atas jam 8 pagi kecuali hari raya Idul Fitri, mending juga bunuh diri. Dan
parahnya beberapa kali kebutuhan mandi untuk dua hari dijamak satu kali saja. Uppss..!! tapi jangan bayangkan
dinginnya puncak Batu Jawa Timur atau Kota Malang dengan dinginnya Bima. Beda.
Dinginnya Bima itu pada hembusan anginnya tanpa mempengaruhi intensitas panas
matahari. So, kalo kelamaan dibawah terik, siap-siap saja kulit gelap, kusam,
kering. Oleh karena itu, kalau pulang kampung persediaan sunblock itu perlu.
Pesona
lain pulang kampung. Ajang mempererat silaturrahmi, dengan cara temu kangen mereka yang menjalin LDR dan
peristiwa lainnya adalah cinlok dan/atau CLBK. Tiap tahunnya pasti saja ada
pasangan terbentuk. Ternyata jejaring social di era modern ini kalah memberi
kesan jika dibandingkan dengan face to
face. Tentu saja. Sebab bukan perjalanan yang santai untuk pulang kampung.
Ada beberapa teman yang harus kelelahan mengendarai sepeda motor hingga 12 jam
lamanya untuk sampai ke rumah. Teman yang lain juga harus menyebrang hingga 3
selat dan hampir 2 hari atau 3 hari menjadikan bus ber ac menjadi hunian sementara. Dan teman yang lain juga harus
rela terapung selama lebih dari 24 jam bersama besi raksasa di tengah samudra
tanpa tempat duduk, tanpa ruang untuk istirahat. Dan itulah kesan yang tak
pernah terlupakan. Hanya satu kali dalam setahun dan dengan perjalanan yang tak
biasa-biasa saja.
Waktu
berlalu. Episode kebersamaan tak terasa berlalu cepat. Tiba masa kembali ke
rantauan. Demi masa depan. Rasa mengharu biru harus meninggalkan tanah
kelahiran, keluarga tercinta dan teman serta sahabat tersayang. Dan rasa
kebersamaan, persaudaraan dan kasih
sayang itu terbukti saat banyaknya rombongan yang mengantar kepergian ke rantauan.
Untuk mereka yang diluar keluarga besar, entah mungkin ada modus lain. ^_^
kawan-kawan 2010 ^_^ (Agustus 2013)

aiiissssshhhh
BalasHapuskerennnn nya ituuuuuu
:(
nyesel gak pulang...
iya dong..
BalasHapusmkannya pulang juga klo lg musimnya pukam.
jngan milih buat jamuran di ibukota