Senin, 19 Agustus 2013

Pulang Kampung

Pulang kampung itu ritual wajib buat anak rantauan. Terlebih mahasiswa. Apalagi seperti aku dan kebanyakan teman SMA ku. Tentu, karena kami merantau kuliah kebanyakan di tempat yang jauh. Kudu nyebrang beberapa kali. Lintas pulau lintas samudra. Ketemu sekali dalam setahun itu rasanya kayak ketemu saudara yang terbuang. Untungnya masa liburan kami hampir bersamaan. Satu minggu bareng di tanah kelahiran itu sudah lebih dari cukup. Puluhan skejul udah memenuhi agenda tahunan anak rantauan.
Perubahan fisik dan kepribadian menjadi pembahasan utama kalo lagi pulang kampung. Jangan heran, banyak yang bertambah subur, makmur kali yah jadi anak rantauan yang ngekost. Tapi gak jarang juga yang tambah lurus, langsing alias kurus gitu. Tapi kebanyakan yang kurus justru teman-teman yang kuliahnya di daerah dan gak mesti lintas pulau buat kuliah. Rumput tetangga kayaknya emnag lebih nikmat dan begizi dan terlahap habis anak rantauan. Yup, berikutnya perubahan kepribadian. Lebih tepatnya sih perubahan sikap dan perilaku. Nah, kalo yang satu ini cowok dominan kena. Mereka yang dulunya waktu SMA hanya jadi siswa biasa, nilai pas-pasan eksis juga tidak, keren pun belum, tapi deh pas pulang kampung dari rantau, OMG pesonanya luar biasa. Pulang dengan pangkat ketua BEM lah, ketua himpunan, dan pangkat-pangkat sebagai pejabat kampus lainnya. Beda sama cewek. Lebih modis, stylist, dan kalo orang Makassar bilang “bagaya”. Tapi, itu semua bukan hambatan untuk berkumpul dan berbagi cerita selama merantau. Lebih tepatnya sih pamer.
Oke, ini dia yang bikin seru pulang kampung ala aku dan teman-teman. Agenda wajib pulang kampung tiap tahun yaitu buka puasa bareng sama jalan-jalan buat refreshing. Entahlah, kayaknya semua udah ngerasa penat habis ujian dengan masih di PHP oleh nilai. Untung kalo gak error.buat refreshing, tempat yang dikunjungi tiada lain, pasti pantai. Karena bakalan ngebosanin juga kami yang bertempat tinggal di puncak kabupaten ujung timu pulau Sumbawa ini harus refsreshing di gunung juga. Overdosis. Agenda tambahannya yaitu ngumpul-ngumpul terus. Makan bakso baren, bakar-bakar ayam yang paling sering. Kalau ingat saat-saat seperti itu, ngangenin dah.
Sisi lain nikmatnya pulang kampung, karena tepat bulan Ramadhan. Kehangatan dan keseruan berkumpul dengan keluarga besar semua pasti merasakan. Serunya itu saat ngabuburit. Jalan-jalan sore sambil konfoi motor. Keliling-keliling sambil melihat-lihat perubahan setelah setahun. Dinginnya udara tanah kelahiran menjadi kesan yang tak terlupakan. Selimut, jaket, kaos kaki dan segala pakaian hangat menjadi kebutuhan kalau lagi pulang kampung. Jangankan malam hari, tidur siang saja kudu mesti pakai kaos kaki sama jaket minimal untuk membalut badan dari udara dingin. Kalau malam hari? Bayangkan saja. Suhu udara sudah pasti turun. Dan ini salah satu rahasia yang agak jadi aib juga sih. Air yang digunakan di rumah itu mata air alami, kalau udara dingin, airnya pun juga tak kalah dingin, dan saya tak pernah sekalipun mandi di atas jam 8 pagi kecuali hari raya Idul Fitri, mending juga bunuh diri. Dan parahnya beberapa kali kebutuhan mandi untuk dua hari dijamak satu kali saja. Uppss..!! tapi jangan bayangkan dinginnya puncak Batu Jawa Timur atau Kota Malang dengan dinginnya Bima. Beda. Dinginnya Bima itu pada hembusan anginnya tanpa mempengaruhi intensitas panas matahari. So, kalo kelamaan dibawah terik, siap-siap saja kulit gelap, kusam, kering. Oleh karena itu, kalau pulang kampung persediaan sunblock itu perlu.
Pesona lain pulang kampung. Ajang mempererat silaturrahmi, dengan  cara temu kangen mereka yang menjalin LDR dan peristiwa lainnya adalah cinlok dan/atau CLBK. Tiap tahunnya pasti saja ada pasangan terbentuk. Ternyata jejaring social di era modern ini kalah memberi kesan jika dibandingkan dengan face to face. Tentu saja. Sebab bukan perjalanan yang santai untuk pulang kampung. Ada beberapa teman yang harus kelelahan mengendarai sepeda motor hingga 12 jam lamanya untuk sampai ke rumah. Teman yang lain juga harus menyebrang hingga 3 selat dan hampir 2 hari atau 3 hari menjadikan bus ber ac menjadi hunian sementara. Dan teman yang lain juga harus rela terapung selama lebih dari 24 jam bersama besi raksasa di tengah samudra tanpa tempat duduk, tanpa ruang untuk istirahat. Dan itulah kesan yang tak pernah terlupakan. Hanya satu kali dalam setahun dan dengan perjalanan yang tak biasa-biasa saja.

Waktu berlalu. Episode kebersamaan tak terasa berlalu cepat. Tiba masa kembali ke rantauan. Demi masa depan. Rasa mengharu biru harus meninggalkan tanah kelahiran, keluarga tercinta dan teman serta sahabat tersayang. Dan rasa kebersamaan, persaudaraan  dan kasih sayang itu terbukti saat banyaknya rombongan yang mengantar kepergian ke rantauan. Untuk mereka yang diluar keluarga besar, entah mungkin ada modus lain. ^_^


kawan-kawan 2010 ^_^ (Agustus 2013)

2 komentar:

  1. aiiissssshhhh
    kerennnn nya ituuuuuu

    :(

    nyesel gak pulang...

    BalasHapus
  2. iya dong..
    mkannya pulang juga klo lg musimnya pukam.
    jngan milih buat jamuran di ibukota

    BalasHapus