Panggil
saja ulfa, ulf, ul, uphe, dan apa saja yang nyaman untuk kalian. Dan tidak
perlu memanggil lengkap Fatimah Ulfah, nama cantik pemberian kedua orang tuaku
setelah dengan diskusi yang tak singkat. Anak ke dua dari empat bersaudara.
Istilah kakak ku sih edisi revisi, tidak ada istimewanya bede. Iyokah? Tapi itu
cuman candaan aja kok. Saat ini saya
sedang menjalani studi tingkat akhir (semester tujuh) “sisa nyusun skripsi aja” di kampus merah Universitas Hasanuddin,
Makassar. Kakak pertama ku, cewek. Oktober ini mau wisuda. Dua adek ku cowok
sama cewek yang lagi duduk di bangku kelas 3 SMA sama kelas 3 SMP.
Gak
nyangka sebelumnya bisa nulis sebanyak yang ada di blog Fatamorgana. Dan masih
banyak lagi tulisan lainnya yang masih tersimpan rapi di notebook 11 inci ku
yang bernama dochi. Ngomong-ngomong soal Fatamorgana, kata itu terinspirasi
dari salah seorang teman di masa lalu. Ya, teman. Dia bagaikan Fatamorgana dalam
kehidupan seorang ulfa. Kebanyakan tulisan ku terispirasi dari teman tersebut. Pengennya sih berterimakasih langsung.
Tapi, dia kan Fatamorgana. Dari jauh mungkin kelihatan, tapi semakin dekat ia
justru perlahan menghilang. Hingga sirna sepenuhnya. Karena dia palsu.
Mulai
hobi menulis sebenarnya dari SMP. Lumayanlah menghasilkan beberapa puisi dan
cerpen yang gak jelas endingnya.
Begitulah kalo mood dituruti. Gak
jadi-jadi tulisan. Suatu saat pengen punya buku yang diterbitin. Novel,
kumpulan cerpen atau pun teen romance. Minimal 1 aja deh. Dan sekarang, mood apapun
bisa jadi sumber inspirasi untuk menulis. Kasihan Fatomrgana sepi kalau saya
gak nulis. Hehe
Dan,
beberapa hobi lainnya yang baru-baru saya sadari yaitu fotografi, music, dan traveling.
Punya mimpi suatu saat bisa keliling Indonesia ala backpacker, mengabadikan setiap moment berharga dalam gambar yang
indah, dan mengarsipkannya menjadi sebuah tulisan yang semua bisa memnbacanya.
Keren gak tuh? Ini mimpi. Dan akan
terus bergentayangan dalam kehidupanku.
Dan
soal music, walaupun masih setengah-setengah, pengen banget bisa mahir gitar
atau piano. Walau pun sampai sekrang masih buta-buta. Nggak terlalu ngerti
nada. Sempat kamu yang membaca ini dan mengenalku mungkin bisa sukarela
mengajarkan bagaimana memetik senr gitar ataupun memainkan pianao dengan nada
yang menggoda telinga.
Bicara
soal keliling Indonesia, wisata alam dan budayanya lah yang menggoda. Ngayal,
suatu saat berdiri di puncak Rinjani dengan pemandangan samudra di atas
awannya, diving di Wakatobi, main air di Danau Toba, naik sepeda di jembatan Ampera,
keliling kota tua Jakarta, merasakan langsung oksigen kawah putih, mengabadikan
gambar terbaik di Prambanan dan Borobudur, menjadi saksi ngabenan, menyebrang
ke Madura lewat jembatan suramadu, naik kereta api sehari semalam dari Stasiun
Senen sampe Satsiun Malang, berdiri tepat di bawah langit katulistiwa, terapung
dengan sampan di Sungai Kapuas, jalan-jalan ke taman Nasional komodo, mancing di Raja Ampat, terbang di langit
bersama paralayang, naik kuda untuk sampai ke tangga kuningnya Bromo, berdiri
di tengah padang ilalang, berlari sejauh mungkin hingga ujung Pantai Kuta dan
masih banyak lagi mimpi yang belum membuatku terbangun. Belum lagi kulinernya.
Asli nusantara itu adalah surga yang masih perawan. Sebut aku pemimpi, yang
akan hanya menjadikannya hitam di atas putih sebelum semuanya adalah nyata.
Makassar,
26 Agustus 2013
kerennnn ituuu impiannyaaa
BalasHapushmmm...
kapan mau di realisasikan..?
kapan-kapan aja. kalo ada kesempatan, ada bajet yang memungkinkan dan ada yang temenin. :)
BalasHapus