Rabu, 16 Maret 2016

Capuccino perpisahan





Aku hanya diam tertunduk sambil memainkan tiga balok kecil es batu yang melayang mengapung dengan pipet pada segelas es lemon tea di atas meja tepat di depan ku. Balok es kecil Nampak begitu patuh pada gerakan tanganku. Sesekali kuputar searah jarum jam beberapa putaran, lalu ku putar kembali ke arah berlawanan. Di luar masih gerimis lebut, sisa derah hujan siang tadi. Sepi, ya jam pulang kantor telah usai. Kini senja. Menjelang gelap. Di ruangan ini pun terasa adem hampir begitu dingin. Pendingin ruangan dengan angka digital 25° tepat beberapa meter di depan ku, aku hanya perlu mendongak sedikit untuk memastikan aku tak salah melihat angkanya. Detak jarum jam di ruangan ini terdengar sangat jelas. Tentu, karena meja ku lah, meja di sudut ruangan yang besampingan dengan etalase kafe ini yang terisi. Aku tak sendiri, bersama seorang pelanggan lagi semeja dengan ku. Beberapa pelanggan lain telihat memasuki kafe, dengan sigap pelayan dengan seragam ungu langsung menghampiri meja mereka dan menawarkan menu dengan ramah. Bisa ku tebak, mereka memesan coffee latte atau minuman kopi hangat lainnya. Sejenak aku berpikir sendiri, mengerutkan kening, kenapa juga aku dipesankan lemon tea dengan cuaca begini.
Dia mulai menyeruput cappuccino hangatnya, meletakkan cangkirnya dengan tenang lalu menatap mata ku dalam. Sekejap kami bertemu pandang, lalu aku kembali menundukkan kepala, hanyat dalam tornado tiga balok es kecil bersama es lemon tea ku.
“Kamu tak selayaknya menangis. Sungguh, aku. Atau kejadian ini bukan hal yang pantas untukmu tangisi.”
Sok bijak. Timpalku dalam hati. ”Lalu?”
”Kita berkenalan baik-baik, memulaii pertemanan dengan sangat baik, lalu berkomitmen untuk dekat dengan sangat baik pula ”
”Hingga hari ini kamu merasa bosan. ” Potongku
Sesaat ia menghela napas panjang. Lalu kembali menyeruput cappuccino yang tersisa setengah cangkir. ”Mungkin hati kita perlu istrahat sejenak. Istrahat untuk setiap hari menjelaskan rindu yang sudah sampai level berapa, sayang yang sudah sedalam apa, cinta yang sudah sebuta apa ”
”Drama”. Tak ku alihkan pandangan ku dari tornado tiga es balok lemon tea ku.
”Hey! ” Ia sedikit membungkuk ke arah ku.” Sedari awal kita memulai pertemuan dengan cara paling indah, kenapa harus mengakhiri dengan keburukan? ”
”Kenapa pula harus diakhiri?” Aku tak mengalihkan pandangan ku dari es lemon tea di depan ku
”Sehelai daun yang jatuh pun, tuhan sudah mengaturnya. Orang-orang yang hadir dalam hidup kita, sengaja tak sengaja kita jumpai semua kehendak tuhan. Rasa yang hadir pada setiap detiknya, hati yang berubah, es lemon tea yang kau minum sekarang pun ”
”Boleh aku Tanya?” Aku pun sedikit membungkukkan badan ku ke depan. ”Kenapa kalimat-kalimat barusan enteng sekali keluar dari mulutmu? Sudah berapa lama kamu mempersiapkan ini semua?”
Kembali ia menyeruput capuccinonya dengan sangat tenang, meletakkan cangkirnya kembali. ”Bahkan sebelum kita berkenalan. Mungkin dalam benakmu sekarang aku hanyalah orang yang sok bijak. Tapi demi tuhan, aku hanya ingin aku dan kamu lapang menerima setiap kejadian yang bertentangan dengan hati. Kita yang bertemu, lalu bahagia bersama dan akhirnya berbiasa tanpa ada perasaan sakit ketika berpapasan atau mengingat satu sama lain.”
“Berbiasa? Kamu bilang bebiasa? Setelah hari ini mungkin hati ku akan bekerja seribu kali dari biasanya. Beusaha untuk berbiasa. Berbiasa untuk melihat cup cappuccino minuman kesukaan mu, berbiasa tanpa notifikasi hape jam 5 pagi, berbiasa untuk semua hal yang terkait kamu. Aku juga harus mulai mengganti topik setiap akan dan bangun tidur. Jika beberapa waktu lalu kamu adalah sosok yang menyenangkan yang aku ingat saat akan dan bangun tidur, maka beberapa waktu ke depan kamu akan jadi sosok yang paling tidak ingin ku ingat saat akan dan bangun tidur, pada saat apa pun. Dan semua itu tidak bisa kau tuntaskan sekejap sampai cappuccino mu habis.”
“Setidaknya setelah cappuccino ku habis, kita tidak akan berakhir dengan kisah putus cinta klise pasangan lainnya. Kita berduka tanpa saling membenci. Bencilah aku sepuasmu saat ini hingga cappuccino ku habis. Hidup ini cukup adil. Buat mu, buat ku. Sesakit-sakitnya hati mu hari ini, besok entah sampai kapan pun itu, harusnya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang pernah kamu rasakan saat bersama ku.””
“Entah apa pun alasanmu aku tahu hari ini pasti akan tiba juga. Suasana perpisahan yang mencekam. Jujur, aku marah pada diriku sendiri kenapa harus bertemu dengan mu, lalu kita berbahagia sesaat lalu berduka dan berpisah. Setelah cappuccino mu habis, aku belum bisa berbiasa dan baik-baik saja seperti yang kamu harapakan. Bangsa perempuan tidak seperti itu.”
“Kamu mau tahu alasanku?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Jika aku tahu alasanmu, akan ada dua dampak. Pertama, aku akan sangat membenci mu mulai detik ini juga. Kedua, aku akan jadi orang bodoh. Kenapa aku tak mau membenci mu? Karena tiba-tiba harus membenci orang yang sedang kita sayangi adalah pekerjaan paling menyakitkan. Kedua, kenapa aku akan jadi orang bodoh, sebab hanya orang bodoh yang akan berharap padahal tidak sedikitpun seseorang memberinya harapan. Aku Cuma harus berbiasa seperti yang kamu katakan tadi.”
“Artinya kita akan jadi teman baik? bersilaturahmi dengan biasa?” Tiba-tiba ia selempar senyum sumringah yang menjijikan.
“Maaf?” Aku sedikit mengerutkan dahi dan alisku
Aku kok bingung sendiri ya dengan jalan pikiran laki-laki. Atau mungkin kamu saja. Entahlah. “Kamu masih bisa meminta berteman baik dengan perempuan yang baru saja kau patahkan hatinya beberapa menit lalu? Kamu ingin bersilaturahmi dengan biasa kepada perempuan yang beberapa menit lalu kamu lukai hatinya.” Aku mengangkat dan menggoyangkan jari tengah dan telunjuk pada kedua tanganku saat mengatakan biasa. “Kamu tahu berapa lama perempuan harus menata kepingan hatinya yang berserakan? Memungut satu demi satu puingnya hingga ia merasa hatinya telah utuh. Percayalah, sampai ia berkata ia tidak kecewa padamu yang telah memberikannya harapan lalu kau rampas paksa harapan itu. Tapi ia kecewa pada dirinya sendiri karena membiarkan dirinya bermimpi kau punya harapan yang luar biasa untuknya.
Kau kau apa yang ingin aku lakukan sekarang? Andai harapan aku pada mu itu sebentuk kertas, akan ku robek tepat di depan wajahmu.”

Gerimis masih tampak dari etalase kafe. Semakin ringan dan lembut. Lampu-lampu jalan mulai tampak terang. Laron dan beberapa hewan kecil bersayap mulai mengitari lampu jalan yang sesekali mati. Es lemon tea ku menyisakan dua balok kecil es batu. Sementara capuccino di depan ku hanya tinggal satu seruput saja. Beberapa detik lagi diskusi aneh tanpa notulen dan moderator dengan tema putus cinta akan berakhir. Dia berhasil. setidaknya selangkah setelah ke luar kafe aku hanya akan menghela napas panjang dan tersenyum masam saat menjumpai hal-hal yang mengingatkan tentang dia. Rasa kecewa, marah, benci, segala bentuk sakit hati dan penyesalan tertinggal sepenuhnya di meja pojok kafe. Demi tuhan, aku bejanji pada diriku tak akan kembali ke kafe itu sampai kapanpun. Aku hanya perlu singgah di swalayan, membeli tissue wajah kualitas terbaik, beberapa snack kemasan jumbo, minuman soda, dan beberapa batang coklat mahal. Malam ini akan terasa panjang.




Sabtu, 16 Januari 2016

Kemarau di musim hujan



Semenjak November beraroma hujan, oktober tak lagi terkenang.
Hilang tersapu, menguap melangit tak berbekas.
Sementara hujan tak semestinya tentang romatisme
Ada air mata yang bersama menetes menginjak bumi.
Di rantauku hujan hanyalah irama tetesan air langit
Tak ku gubris karenanya jalan aspal kami macet oleh ribuan kendaraan
Tak ku butuh berbasah, selalu ada payung.
Apalah, kota rantauku hanya punya gedung pencakar langit dengan sungai keruh di belakangnya.
Tak ada sawah yang rindu bulir bening pemberian tuhan dari langit.
Lalu, hujan hanya hujan.
Desember, seharusnya masih hujan.
Surat kabar lokal sudah ibarat peramal serba tahu, el nino kambuh merebak di sepetak kecil bumi yang bahkan tak terbaca peta.
Tak satu manusiapun paham obrolan semua langit dan penghuninya.
Ada sepelik alasan hingga mungkin hujan tunduk kalah padanya yang lebih rindu bumi nya.
Matahari, dengan sejuta pesona saat memulai fajar dan keanggunan senja magic hour.
Januari, harusnya beraroma hujan.
Dengan padi yang mulai tumbuh hijau
Tanah becek yang yang mengotori sepatu anak-anak yang berangkat sekolah.
Gemericik air beriak di parit-parit kecil samping rumah
Nyanyian  kodok yang bersahutan setiap akan adzan magrib.
Tapi tidak, Januari terasa asing dengan aroma musim panen.
Boleh saya tertawa sejenak?
Alam  paham waktu harus terlewatkan dengan segera.
Agar seonggok kecewa di masa lalu lenyap, tersapu hujan, melayang, hilang mengakasa, kembali  ke empunya.
Demikian, hingga hujan mengerti kapan harus kembali.
Menghujani tanah kering berdebu, menghidupkan tawa riang bocah, membangkitkan aroma yang semestinya.
Aroma hujan yang mencintai tanahnya.
Atau tidak pernah sekalipun.

Makassar-Bima, Awal tahun.

2015



bagaimana pun bentuk, rupa, rasa, dan aroma, kenangan tetaplah pembelajaran yang tak disuguhkan di papan tulis atau slide power point. setegar apapun ingin di lenyapkan, remahannya akan tetap mengakar di sudut hati.

Januari-Pebruari
Masih bergejala sisa stase kegawatdaruratan. Dinas terakhir yang perih. Helm mahal hilang diparkiran rumah sakit. Next, stase manajemen. Welcome to the sesepuhnya jungle mahasiswa profesi. Abaikan suara-suara manis yang mengatakan “santai ji kalo masukmi manajemen. Dari semua stase, paling santai mi itu manajemen. Bikin papan struktur jiko itu nanti”. Dan, jreng..jreng. emosianal semua tumpah ruah di stase ini. Bergadang hingga jam 5 pagi, asem manis pait dinamika bekelompok. Dan jadilah produk kami, skripsi edisi sekian-sekian. Tapi tunggu, observer lebih senang menyebutnya tesis. “Tugas S2 itu yang ko semua kerjakan”. Ya, apalah, yang penting melewatkan stase ini dengan napas yang masih di badan. Lalu kembali harus menata hati, helm (kali ini masih status helm pinjaman) hilang lagi.

Maret-April-Mei
Yuhuu.. stase komunitas keluarga gerontik. Kami menyebutnya KKN jilid 2. Kembali beposko ria, dan berproker ria. Stase yang seumur hidup rasanya ingin sekali dilupakan. Well, saya tak mau menceitaknnya (berbagi aib itu tidak baik, bukan).

Juni
Selamat tinggal dunia profesi. Menutup seluruh rangkaian stase profesi. Tujuh minggu terakhir yang (emm, berasa lama dari noraml sih pastinya). Berminggu-minggu merawat luka, mengganti balutan luka pasien. Trus, luka hati aku aku kapan dirawat, kapaan diganti balutannya? Nah loh, kok baper. Oke fokus, aroma luka yang sampe kebawa ke kamar indekost. Bau adalah pembawa sugesti, kenangan dan rindu yang kuat. Mungkin itu dulu kenapa saya lama move on karena aroma parfum mu yang sering bikin dejavu. Lanjut, seminar kasus, jurnal, kompre, dan laporan (baca: skripsi edisi sekian sekian sekian) selesai. Helaan nafas pertama setelah program profesi berakhir, beda, rasanya kok enteng banget ya.
Masih juni,
Ceritanya refreshing ala back to nature. H-2 muncak. Modal nekat dan balas dendam atas penat 15 bulan terakhir. Jadilah kami berdelapan, 5 cewek, 3 cowok, 6 calon ners, 2 calon sarjana teknik (baca: terancam kaya bede). Sebelum mulai dengan menanjak dengan jalan kaki, kami harus menanjak dengan motor. Belokan paling ekstrim yang pernaj saya jumpai, tanjakan curam menguras adrenalin. Belum selsai belokan kanan, eh harus belok kiri dengan kecuraman sampai 90º (entahlah, nilai matematika saya bagus sampe jaman SMP doang). Di tiap tikungan selalu ada tulisan arab yang melafadzkan nama Allah. Adrenalin kok kayak makin kenceng ya. Tetiba teringat kisah orang-orang sebelum meninggal bagaimana mereka mempunyai firasat. Ah, pikiran saya mulai aneh. Tidak, ini bukan firasat aneh-aneh. Itu cumin prasasti anak KKN. Anggap saja mereka ingin berbagi do’a dengan para calon pendaki yang melewati jalan ini. Berjam-jam, akhirnya tiba pemukiman warga, posko pemeriksaan barang bawaan. Tempat pertama yang kami cari mushola. Saya suka rombongan ini.
Bismillah, time for nanjak gaess. Sepanjang pendakian (sebelum oksigen otak menurun, asma kambuh, ransel bermigrasi ke bahu lain, dan badan terhempas ke tanah) kami sediki mengobrol tentang prasasti yang ditinggalkan anak KKN tadi.
“ih gank, takutku mi, ku kira saya ji yang lihat itu tulisan. Bilanga, mauma mati kapang inie”
“saya juga na, lain-lainmi perasaan ku baca itu tulisan”
“weee, astaga. Saya juga. Mauka berteriak tanya ko semua. Jangan sampai sayaji yang lihat”
Tawa renyah kami dengan lollipop di mulut yang baru terbuka bungkusannya akhirnya dapat respon dari ketua rombongan. “weee, jangko semua banyak kasi keluar tenaga mu, simpan buat nanjak, tepar ko nanti”. Dan true, belum seperempat perjalanan saya sudah tepar. Keringat dingin muka pucat, napas yang tak sampai di paru-paru, mungkin pun tak terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida di alveoli, terasa tak bernapas. Pandangan yang agak kabur, tenggorokan serasa sedang puasa ramadhan. Entah berapa kali harus istrahat karena saya, tas punggung tentu sudah berpindah bahu. Maafkan saya teman.
Tiba kita di posko terakhir. Mari bangun tenda, mari masak, mari ambil air. Lebih tepatnya sih silahkan bangun tenda, sini saya bantu masak dikit, sini saya bantu ambil air. Haha. Tapi dua calon manusia terancam kaya ini malah mempersilahkan kami naik ke puncak. Bahagianya punya partner mendaki yang sifatnya kayak gini. Lebih kurang setengah jam mendaki dengan sisa tenaga terkahir, kami bisa menikmati sunset di 1232 mdpl. Agak kagok sih, speechless, pertama kali melihat awan terapung jauh di bawah posisi kami. Esok paginya sebelum pulang kembali melewati liku-liuk aspal dengan hiasan prasasti anak KKN kami berdelapan sama-sama nanjak ke tugu 1232 mdpl. Perfect time. Formasi lengkap. Puncak yang dingin beraroma langit. Maka nikmat tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?

Juli
Ramadhan 29 hari masih di kota rantau. Ada yang spesial? Lupa. Hanya sibuk mondar-mandir di kampus mempersiapkan berkas wisuda. Pulang kampung dulu boleh kali yak. Ramadhan hari terakhir, buka puasa terakhir bersama keluarga.

Agustus
Tahun ini alam seperti tahu ia rindu kepada siapa. Bima juga punya puncak yang indah nan dingin. Di 1050 mdpl dengan padang savanna yang subur. Terlihat jelas bahkan dari halaman rumahku. Seperti biasa, penyakit “merepotkan” itu kembali kambuh. Rombongan ini lumayan gemuk. Kami berbelas-belas. Dewi fortuna lagi, ada dua manusia  “terancam kaya” bersama kami. Sedikit menantang dengan perjalanan malam. Kami tiba di puncak pukul 11 malam. Dingin menggerogoti seluruh tubuh, terjaga hingga pagi. Dua malam tiga hari yang luar biasa.
Beberapa orang pernah bertanya. Ulf suka mendaki? Bukan suka sih, karena ada kesempatan aja. Kesempatan? Yap, kebetulan lagi free, ada temen yang ngajak, ada tempat bagus yang belum didatangi. Seru? Sangat. Puncaknya? Bukan, tapi perjalanannya. Kok? Emang sih puncaknya yang jadi tujuan, tapi setelah kembali ke bawah justru perjalananya yang paling berkesan. Keindahan puncak itu semacam bonus. Kadang kita menghujat proses yang pedih, tapi setelah tujuan kita tercapai, proses lah yang akan sangat kirta hargai. Superrr. Hahaha

September
Toga ke tiga, penyumpahan ners. Toga ke empat wisuda ners. Euphoria toga kayak biasa kok ya? Mungkin karena aku tidak sempurna mengucapkan sumpah ners. Haha
Mengikutsertakan diri on job training di rumah sakit kampus selama tiga bulan. Bimbingan ujian kompetensi. Jadilah saya terlempar dari rumah sakit ke kampus atau sebaliknya. Dalam waktu bersamaan saya butuh magang, saya harus penyumpahan, harus wisuda, dan kami adalah pejuang STR. Serasa jadi mahasiswa baru kembali. Terlempar sana-sini dengan schedule full. Setelah ujian kompetensi, saya kembali magang dengan damai.

Oktober-November
Setiap menyaksikan kecanggihan alat buatan manusia pengganti ginjal. Tapi bukan itu yang menarik perhatian ku. Karakter pasien dan keluarga mereka yang mendampingi. Istri yang sabar dan tegar mendampingi suaminya yang cuci darah, anak yang terkadang harus bolos kuliah untuk menemani ibunya cuci darah, atau orang tua yang tegar melihat darah yang keluar dari tubuh anak gadisnya lalu masuk ke selang-selang di mesin lalu masuk kembali ke tubuh sang anak. Mereka cuci darah buka berhari-hari. Sudah berbulan-bulan bertahun-tahun. Bukan berkali-kali, berpuluh kali, beratus kali. Seolah hidup mereka diperantarai oleh ginjal buatan ini oleh tuhan.

Desember
Aroma melankolis memang menyukai mula menjelang akhir. Seperti hujan sore atau sakit hati bulan desember. Entahlah, desember yang pelik dan rumit. Saya butuh pengalih, bukan quotes bijak anti galau. Ada sisa gejala horror yang telah terbawa sejak November. Kecewa, benci, marah, berkecamuk tak terkendali. Kenapa, kenapa, kenapa dan milyaran pertanyaan yang tak butuh jawaban menghipnotis alam bawah sadar. Iya, saya sedang berduka. Waktu adalah sebaik-baiknya obat sakit hati, hingga pada fase berduka terakhir. Ya, penerimaan. Skip Desember, please. Tak ada list resolusi special di 2016. Kalo boleh negjiplak, “akan tiba waktunya kita harus sibuk-sesibuknya untuk sukses sesuksesnya, agar beberapa paham penyesalan bisa saja datang bersama perpisahan” (@wiranagara).

Minggu, 08 November 2015

Skip November, Please..!!


Welcome November. November rain, November ceria dan nama manis untuk bulan menjelang akhir tahun ini. Apalah November, sosok perempuan dalam cerita ini hanya ingin segera meng’skip’kan Novembernya. Sebab penggiring lupa hanya lah waktu. Sebut saja perempuan itu “aku”. Jangan terlalu serius, ‘aku’ hanya label semata. Segala kisah dan kejadian berikut bisa saja dari pengalaman pribadi, pegalaman orang terdekat, atau hanya sepintas imajinasi yang terkesan klise. Sekali lagi, jangan terlalu serius.
Hari pertama November di kota kecil ini dihiasi petrichor di seluruh sudut kota. Gerimis pertama menerbangkan bakteri Actinomycetes, mengembangkan senyum setiap penumpang angkot. Sebagia merek melihat ke luar jendela. Beberapa mereka yang berada di dalam gedung keluar mengitip buliran air langit itu. Betapa hujuan menyebar cinta dan kebahagian. Menenangkan melihatnya.
Aku pun salah satu dari mereka. Memandang hujan dari balik kaca jendela kantor. Jam pulang kerja ku ulur beberapa waktu hingga langit berdamai dengan bumi. Aku tak bawa payung hari ini. tak terduga jika hujan akan tumpah di senja awal November. Headset handphone masih terpasang di kedua telingaku. Sudah satu jam. Aku sedang mengobrol dengan seseorang yang seperti sedang mencincang jantungku. Agak berlebihan memang.
Seorang pria yang berkali-kali mengatakan cinta, sayang dan segala ucapan manis lainnya. Pria yang katanya sangat berharap menua bersama ku, pria yang sedang berjuang meyakinkan keluarganya bahwa telah mampu membangun rumah tangga. Nah, bagaimana aku tak luluh. Tapi kali ini ia seperti sedang menusuk organ jantungku dengan rusuknya. Percakapan kami beberapa waktu lalu tak ubahnya guntur sore ini yang membelah langit.
“Maaf menyampaikan kabar buruk untukmu. Kabar yang pasti tak ingin kau dengar. Maaf karena aku memberimu beban pikiran hari ini. demi tuhan, berhari-hari aku telah memikirkan untuk mengatakannya. Baru kali ini aku punya nyali untuk jujur. Kemungkinan buruk pun aku telah siap.”
“Serius amat. Ada apa?”
“Dia menghela napas panjang. Beberapa detik hening.”
“Aku tak sebaik yang kamu kira. aku pernah melakukan kesalahan besar nan fatal di masa lalu, sebelum kita bertemu.”
“Sudah pernah?”
“Iya, dulu. Saat aku bodoh. Tapi percayalah, aku tidak akan melakukannya lagi . Ini aku seperti yang kamu kenal sekarang.”
“Tunggu, kesalahan besar apa, kesalahan fatal apa?
(disensor saja ya, dibaca pun rasanya tak layak. Terlalu hina.)
Suara ku tetiba hilang. Dia tak perlu menjelaskan detail. Aku paham dari semua kata yang terlontar darinya.
Reflex jariku mematikan handphone. Ah, aku tetiba tremor. Seluruh sendi tak berasa. Nafas terasa sesak. Rasanya pedih, Guntur semakin menggelegar. Bahkan alam murka pada mu. Bagaimana hanya aku yang tak punya kuasa apa pun. Meski itu masa lalumu, kau tumbuh dan bernafas padanya.
Ah, terbayang sepenggal beberapa film melankolis beberapa waktu lalu. Mungkin aku akan seperti sosok Asmara, yang dengan kekuatan hati mengatakan tidak untuk kembali kepada kekasihnya setelah kekasihnya melakukan hubungan terhina dengan perempuan lain. Meski kekaksihnya telah berjuang membuktikan bahwa ia hanya khilaf dan hanya Asmara yang ia cintai. Atau mungkin seperti Arini. Ah tidak, detik ini aku tak sanggu menjadi Arini. Tak sanggup memiliki kesabaran hati yang luas menerima pasangan dengan “kecacatannya” terlebih menyangkut perempuan lain. Tidak. Aku hanya perempuan biasa yang gampang kecewa dengan orang yang sudah dipercaya.
Di luar hujan semakin menggelgar. Langit mulai menghitam. Apa daya matahari yang sementara merangkak, tak mampu memesona. Ah, tubuhku serasa lemah. Bibir dengar getaran tak beraturan menyebut nama Tuhannya.
Kaca jendela buram oleh embun hujan sore. Tetiba notifikasi pesan singkat mu menyapa ponsel ku.
“Dengan segenap kerendahan hati aku hanya bisa minta maaf. Bukan karena apa yang telah aku lakukan, karena hanya tuhan yang berhak menghakimiku. Tapi karena waktu yang mungkin tidak tepat. Dan akan lebih tidak tepat jika aku menundanya. Percayalah, tidak ada satu lelaki pun yang akan mengatakan aibnya kepada wanita jika ia tidak sangat mencintai dan menyayanginya. Aku lebih dari itu kepadamu. Kembali pada mu bagaimana menyikapi ini. aku telah siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun kau jijik padaku.”
Tak perduli dengan pesan singkatmu, beberapa detik menjelang hujan reda aku hanya ingin seperti tak pernah mengenalmu. Mungkin aku terlalu tidak perduli dengan hidup kehidupan versi dunia masa kini. Segala kebobrokan, hal keji yang melanggar norma sudah hal biasa. Pernah melakukannya menjadi hal yang biasa. Selanjutnya minta maaf dan bisa saja kembali melakukannya atau pun bertaubat. Teringat obrolan ku dengan sepupu beberapa hari lalu tentang salah satu tetangga dekat yang baru saja melahirkan anak pertamanya.
“Sudah melahirkan? Cepet amat. Nikahnya lho baru empat bulan lalu.”
“Biasa aja kali ekspresimu. Tidak perlu kebangetan gitu kagetnya.”
“Aduh mbak, wajar aku kaget. Dia kan perempuan baik-baik, bependidikan, agamanya bagus. Tidak mungkin bisa kajadian seperti ini.”
“Perempuan itu juga manusia. Manusia.”
“Kok mbak biasa aja, kaget pun tidak.”
“Agak kaget sih awalnya. Buka matamu, lihat disekitarmu. Dunia semakin bobrok. Kejadian seperti ini bukan 1 dari 100 pasangan. Tapi 90 dari 100 pasangan.”
“Mbak berlebihan.”
“Kenyataanya seperti itu.”
“Orang rumah kok tidak ada yang nyinggung ya.”
“Tidak ada yang berani menyinggung, sebab mereka hanya akan menjilat ludahnya sendiri.”
“Maksudnya mbak?”
“Bisa saja kejadian yang sama menimpa anak mereka. Karena jaman sekarang hal keji macam itu bisa-bisa aja terjadi.”
Sudah sebobrok ini kah dunia Mu, Tuhan? Atau aku yang terlalu menutup mata dan telinga pada gejolak zaman? Aku hanya tau hal baik-baik saja, memang. Terlahir dari keluarga sederhana, dengan keluarga besar yang biasa-biasa saja tanpa masalah yang berarti, tetangga yang baik dan ramah. Sekolah dengan sewajarnya, masuk perguruan tinggi negeri, teman kuliah pun adem ayem saja. Sarjana tepat waktu, lalu bekerja untuk materi di masa depan. Sial, sungguh flat ternyata hidupku.
Hape ku berdering sekali lagi. Oh sungguh, pesanmu kali ini sangat singkat.
Maaf.
Ya tuhan, nafas ku rasanya semakin sesak. Aku sangat percaya janjimu, jodoh adalah cerminan diri. Wanita baik untuk lelaki baik. Begitu pun sebaliknya. Beberapa mereka juga menambahkan, meski keduanya pernah sama-sama buruk. Kalau salah satunya bagaimana?
Sekali lagi, aku terjebak dalan zona apa adanya, tau lebih tepat menjebakkan diri. Lalu kali ini aku bisa apa. Mulai meng”apa adanya”kan diri. Mulai berbesar hati, menerima dengan lapang, ikhlas setelah menangis tiap malam seminggu, meremas-remas kertas lalu melemparnya ke tembok entah untuk berapa malam, menatap diri di depan cermin sembari menghujat dalam hati ada salah ku di masa lalu? Ada? Tak akan ku bertanya pada Sang Pemilik Hati, cukuplah Ia yang membolak-balikkan hati ini hingga sepenuhnya ikhlas itu ada.
Terakhir, masih di November kah kita?