Semenjak
November beraroma hujan, oktober tak lagi terkenang.
Hilang tersapu,
menguap melangit tak berbekas.
Sementara hujan
tak semestinya tentang romatisme
Ada air mata
yang bersama menetes menginjak bumi.
Di rantauku
hujan hanyalah irama tetesan air langit
Tak ku gubris
karenanya jalan aspal kami macet oleh ribuan kendaraan
Tak ku butuh
berbasah, selalu ada payung.
Apalah, kota
rantauku hanya punya gedung pencakar langit dengan sungai keruh di belakangnya.
Tak ada sawah
yang rindu bulir bening pemberian tuhan dari langit.
Lalu, hujan
hanya hujan.
Desember,
seharusnya masih hujan.
Surat kabar lokal sudah ibarat peramal serba tahu, el nino kambuh
merebak di sepetak kecil bumi yang bahkan tak terbaca peta.
Tak satu
manusiapun paham obrolan semua langit dan penghuninya.
Ada sepelik
alasan hingga mungkin hujan tunduk kalah padanya yang lebih rindu bumi nya.
Matahari, dengan
sejuta pesona saat memulai fajar dan keanggunan senja magic hour.
Januari,
harusnya beraroma hujan.
Dengan padi yang
mulai tumbuh hijau
Tanah becek yang
yang mengotori sepatu anak-anak yang berangkat sekolah.
Gemericik air
beriak di parit-parit kecil samping rumah
Nyanyian kodok yang bersahutan setiap akan adzan
magrib.
Tapi tidak,
Januari terasa asing dengan aroma musim panen.
Boleh saya
tertawa sejenak?
Alam paham waktu harus terlewatkan dengan segera.
Agar seonggok
kecewa di masa lalu lenyap, tersapu hujan, melayang, hilang mengakasa,
kembali ke empunya.
Demikian, hingga hujan mengerti kapan harus kembali.
Menghujani tanah kering berdebu, menghidupkan tawa
riang bocah, membangkitkan aroma yang semestinya.
Aroma hujan yang mencintai tanahnya.
Atau tidak pernah sekalipun.
Makassar-Bima, Awal tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar