Kamis, 24 April 2014

REHHA..

            Ini janji kedua. Sepupu ku yang punya riwayat tomboy di masa sekolah juga ingin publikasikan tentang dia dan ceritanya versi penulis. Aku. Enaknya panggil apa ya? Mbak? Terlalu feminim deh kayaknya. Panggil nama aja deh. Oke fix.
            Aku lupa pertama kali ketemu dan kenal Reha. Kita emang sepupu. Sekelas waktu TK. Satu SD, SMP, dan SMA. Tapi, sekarang kita bahkan beda Negara. Reha emang suka lambung kiri. Dia duluan nginjak tanah Negara tetangga. Aku lho, baru nginjak pulau jawa berasa masih mimpi.
            Memori masa kecil masih tersimpan rapi nan anggun di kepala ku. Seoarang Reha dengan sosok yang paling sering memberontak dan menangis sejadi-jadinya. Ada apa? Maaf jikalau dulu aku hanya bisa menatap nanar beberapa peristiwa yang tak seharusnya jiwa dan fisik seorang anak SD memperolehnya. Kadang didikan dan nasehat orang dewasa masih terlalu rumit untuk dicerna gadis mungil. Sebab itu, Reha menjadi sosok yang lebih tegar dan kuat. Jauh dibanding aku atau mbak ku dan beberapa sepupu ku yang lain.
            Ibarat ketua geng, kita berempat sering bareng. Masih ingat? Dulu sebelum ada air PAM hampir setiap hari kita mencuci pakaian di sungai. Kamu yang terkuat membawa pakaian kotor, mencucinya dengan gigih lalu membilasnya pada arus yang deras. Aku hanya melihat dan membantu semau ku saja. Selepas itu kita berenang, lalu pulang dengan membawa segenggam tanah liat tepi sungai bahan dasar untuk membuat telepon genggam. Masa bermain yang sempurna.
            Jika musim menanam tiba hingga musim panen, tak pernah alpa Reha menjadi bagian dari pasukan yang menanam bulir padi, menyiangi, memanen, menjemur gabah, hingga menyulapnya menjadi beras. Lha aku? Aku Cuma bisa bantu menyiangi semak walaupun masih belum becus. Ikut bantu memanen sedikit. Dan ikut menjaga gabah yang dijemur dari serangan mereka yang mengincar. Reha benar-benar pekerja keras. Aku tahu tak sepenuhnya semua itu dari hatimu. Tapi status dan alam yang memaksa mu untuk melakukannya.
            Kehidupanmu lebih dinamis ketika berseragam putih abu-abu. Mencoba peruntungan dan kebahagaian di berbagai atap. Sayang, tak banyak perubahan. Air mata itu selalu menetes. Bahkan diringi tangisan yang terkadang keras dan memilukan. Beberapa hanya melihat kurang dan cacat mu. Tak menyukai kepribadian mu. Hey, Reha hanya seorang remaja yang sedang tumbuh dan berkembang secara normal. Kenapa harus menuntut ia sempurna? Mengerti dan bacalah kehidupannya di masa lalu. Perlakukan ia sedikit lebih istimewa. Seandainya dulu aku lebih mengerti, akan ku suruh mereka membaca mata mu baik-baik. Betapa banyak yang mereka tidak mengerti tentang mu.
            Reha, aku tidak pernah mengerti bagaimana tumbuh tanpa pelukan sosok ibu. Tapi kamu jauh lebih mengerti itu. Aku tidak pernah mengerti bagaimana menjalani hari-hari dengan sosok ayah yang jauh dari fisik kita dengan kabar yang tak pasti. Tapi kamu sangat mengerti itu.
            Dan oleh karena itu betapa aku kagum pada hati mu yang kuat. Kuat menyembunyikan betapa sebenarnya kau rapuh.
            Tetua, senior, kakak, tante, ibu, leluhur, nah lho.. ibarat itu lah Reha ku umpamakan. Kadang betingkah seperti manejer seorang artis. Rajin mengatur kami, bahkan untuk hal-hal kecil. Jalan-jalan sore. Tak jauh beda dengan sikap ibu kost pada umumnya. Jadwa mencuci, ngepel, masak, beres-beres rumah. Omaigatt.. aku bahkan pernah frustasi hidup dengan seorang “pengatur” seperti itu. Tapi, justru itulah yang bikin kangen dengan seorang Reha sekarang ini.
            Cekatan, gesit, mungil, rambut keriting gantung, kerudung yang kadang lepas kadang nempel di kepala, punya banyak teman cowok, sering jadi mak comblang, senantiasa ikhlas menjadi penengah masalah, dan beberapa aib yang tak bisa diutarakan. Itu lah Reha. Kini tumbuh mandiri dengan memetik rupiah sendiri. Jauh di negeri tetangga, pahlawan visa, pahlawan bangsa yang terlupakan. Hey, Bagaimana kuliah mu? cuti?
            Reha, pernah begitu lama memendam sayang pada seorang teman di masa lalu, teman di masa seragam putih biru hingga beberapa waktu lalu. Apa ku salah? Tak perlu kau gubris, semua itu adalah masa lalu. Dan kini mungkin ada sosok baru yang menemani mu dari jauh di sana.
            Reha, jaga diri, jaga kesehatan, jaga sholat. Maja labo dahu di negeri orang. Malaikat kecil mu menantimu kembali ke tanah kelahiran. Adek bungsu ku juga telah gatal lidahnya ingin memuntahkan semua ceritanya pada mu. Tandai kalender mu ada hari indah di tahun 2017 kelak. Dan.. wajib oleh-oleh dari Taiwan untuk ku, yang tak rusak dimakan waktu. Maaf memaksa. Kami semua merindukanmu, J

            

Sabtu, 08 Maret 2014

Cupliz Ku

            Yang dikahwatirkan akhirnya tiba juga. Aku ditagih satu tulisan singkat “all aboutbrother kecil ku. Hey hai.. emangnya sejak kapan aku jadi penulis biografi.? Tapi ya udahlah. Kali ini aku berusaha keras memainkan jari tangan di atas keyboard si biru sembari memutar otak dan sesekali mengerutkan dahi atau menempelkan kedua jari telunjuk pada kedua keningku hanya untuk membangkitkan memori unik dan aneh tentang si Cupliz.
            Adek ku yang eksis di socmed dengan nama akun Anas Cupliz atau @anas_Cupliz. Punya followers belum nyampe 100 aja udah bangga. Dan sangat bangga dengan panggilan “Cupliz”. Hai dek, Cupliz itu pemain lakon jaman dulu banget yang pendek orangnya. Udah tau? Masih mau dipanggil Cupliz? Kamu emang dulunya “agak pendek”, sekarang udah paling tinggi diantara kita berempat. Masih mau dipanggil Cupliz?
            Si Cupliz yang dulunya tengil, item dan manja sekarang udah lebih keren dikit. Malahan udah pinter pacaran. Tuhan *tepuk jidat pengen pingsan. Udah berapa mantan mu? 3 ya. Ulala.. Ngakunya juga punya banyak fans apalagi di kalangan anak SMP. Percaya gak percya sih. Tapi pengakuan di Onge sukses buat meng skakmat keraguan ku. Yang bungsu ini manusia paling jujur, yakin dia gak pernah berbohong. “Kak, tau gak, abang Anas tuh punya banyak fans di sekolah ku. Tiap pulang sekolah tuh pasti nanya ke aku. Sum..sum.. abang mu mana? Pengen liat..pengen liat. Trus kak, kalo mereka liat abang Anas lewat pake motornya, mereka teriak-teriak gak jelas gitu. Malahan kak, dari jauh mereka udah tau kalo itu abang Anas. Katanya sih mereka kenal baik gaya dan motornya abang Anas.” Hey dek, stop. Tarik napas dulu baik-baik. Rasa-rasanya aku yang nyesek. Ini anak satu kalau udah cerita, dia lupa semua teori pelajaran bahasa Indonesia.
            Berhubung cowok sendiri, Cupliz jadi tumbal kalau-kalau ayah butuh tenaga asisten. Simple sih, paling ya kayak ngurusin ternak, cariin pakannya, ngurusin pipa air yang bocor, perbaiki pagar kebun sendiri atau pagar kebunnya orang yang jebol gara-gara oong (sapi peliharaan Cupliz), dan cariin si ternak hingga jam 2 dini hari pada saat-saat mereka hilang. Lho kok kayak ribet ya? Kasian juga Cupliz, padahal dia masih SMP, udah kerja ekstra begitu. Pulang-pulang dengan muka kusut tanpa mandi langsung masuk kamarnya, corat-coret dinding gak jelas yang mengasilkan karya wajah roker gagal move on. Atau pernah suatu kali dia berhasil memecahkan kaca cermin hingga hancur berkeping-keping dengan satu kali tinju. Untuk ia masih disayang sama tuhan, tak ada darah setetes pun, bahkan tak ada goresan kecil di tangannya. Begitulah beberapa salah satu bentuk pemberontakan Cupliz. Sabar ya dek J
            Beberapa kali juga Cupliz jadi pahlawan tingat keluarga. Hehe. Pocket camera ku, remote tv, colokan listrik, setrika, speaker, headset hape, dan berbagai macam benda elektronik rumahan dan yang bermasalah semua beres di tangannya. Pantas aja dia dulunya dia sempat berminat kuliah teknik mesin.
            Si penggila Lionel Messi dan klub bola Barcelona ini sekarang sudah di tingkat akhir dengan seragam putih abu-abunya. Semenjak SMA do’i suka galau. Jadi sering telpon kakaknya yang di Makassar cuman buat curhat nilai rapor, pelajaran yang disebelin, gurunya yang jutek, konsultasi soal kampus-kampus favorit, jurusan yang menarik, atau suasana hatinya yang sementara beradaptasi pada keadaan baru.
            Tapi salut deh buat Cupliz yang dari SMA udah mandiri dengan jadi anak kosan. Pulang ke rumah paling 2 kali seminggu. Pertama, buat weekend an dan nogkrong melepas kangen, dan kedua karena jadwal pertandingan sepak bola di lapangan kecil samping masjid. Dan tiap pulang ke rumah, do’i selalu disugihi makanan rumah yang paling enak. Ikan bolu. I know, that’s your favorite, right? Ohya, satu lagi. Kalau pulang do’i juga disuguhi pekerjaan jadi asisten ayah. Sekali lagi, yang sabar ya dek J.
            Si cupliz juga agak aneh. Gak suka katanya membonceng cewek kalau duduknya tidak menyamping. “pokoknya aku gak gak mau bonceng kakak kalau duduknya kayak cowok, harus duduk menyamping, duduk cewek. Biar anggun”. Lho kok? Capek tau. “that’s your choice, terserah. Mau di antarin atau gak.” Ya udah, akhirnya aku dibonceng dengan duduk cewek pakai motor classic gak tau apa merk nya yang pasti keluaran tahun 70 atau 80an. Dan makasih dek, gak sampe setengah jam pegelnya udah kerasa.
            Hey Cupliz, selamat dan sukses ya karena telah melewati masa alay. Aku tau kamu dapat pencerahan dari stand up comedy nya idolamu Raditya Dika. Selamat juga telah berhasil menjadi gitaris pemula. Iya, masih pemula. Sayang ya, gitarnya sekarang rusak. Gimana dong, padahal aku pengen diajarin juga. Persiapkan mental dan fisik buat UN April nanti. Semoga lulus di IPB. Kan biar sesekali kakak bisa jalan-jalan ke Bogor J. Dan jangan terlalu kejam sama adikmu yang bungsu, kalian emang jarang akur. Meski cara mu menyayangi adek bungsu mu emang unik, tetaplah besikap lemah lebut pada adek bungsumu meski dia juga terkadang menyebalkan. Yang penting jangan lempar remote tv apalagi hape lebih-lebih pisau dapur kayak dulu kita berantem ya kalau kadang-kadang kamu gemes sama tingkah nya si bungsu.


Makassar, 01 Maret 2014

Rabu, 26 Februari 2014

Lirik Lagu Mine (Petra Sihombing)

"Mine"
(feat. Ben Sihombing)

Girl your heart, girl your face is so different from them others
I say, you're the only one that I'll adore
Cos everytime you're by my side
My blood rushes through my veins
And my geeky face, blushed so silly yeah, oh yeah

And I want to make you mine

Baby I'll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we'll be together till we die
Our love will last forever and forever you'll be mine, you'll be mine

Girl your smile and your charm
Lingers always on my mind I'll say
you're the only one that I've waited for

And I want you to be mine

Baby I'll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we'll be together till we die
Our love will last forever and forever you'll be mine, you'll be mine

And I want you to be mine
And I want you to be mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

Mbak Ren

            Kali ini aku akan bercerita tentang kakak ku. Dan untuk lebih sopannya, aku pake sebutan Mbak Ren aja kali ya. Boleh? Iya boleh. Oke, makasih J
            Mbak Ren adalah sulung dari empat bersaudara, aku yang kedua (edisi revisi katanya Mbak Ren), kemudian si ganteng, lalu si bungsu.
            Sebelumnya aku cuman pengen bilang, aku sayang banget sama Mbak Ren, seperti sayangnya Mbak Ren ke aku. Walau pun aku nggak pernah bilang langsung, dan Mbak Ren juga tidak pernah bilang langsung.
            Sesayang-sayangnya aku sama Mbak Ren atau sebaliknya, kami sering bertengkar hingga berantem. Dari jaman SD hingga terakhir pertengkaran kecil Oktober 2013 lalu. Paling sering barantem pas lagi makan bersama. Emang sudah menjadi ritual wajib dikeluarga ku pada waktu itu dinner bersama. Ada-ada saja yang memicu pertengkaran kami. Rebutan piring atau gelas cantik, rebutan posisi duduk, sampe rebutan lauk. Tapi tidak sampai rebutan nasi juga sih. Imbasnya ya kena omelan. Sampai yang terparah pada pukul 23.00 aku sama Mbak Ren “diusir” dari rumah gara-gara berantem. Tidak ada perasaan menyesal atau pun akan baikan. Kami hanya menunggu suasana rumah hening, semua tidur dan kami masuk dengan diam-diam lewat jalan rahasia. Meski dini hari pukul 02.00 ayah kelabakan mencari kami di rumah-rumah tetangga.
            Kalau keseringan bersama memang lebih banyak memicu pertengkaran, tapi kalau sudah jauh, ngengenin deh. Kayak sekarang-sekarang ini.
            Mbak Ren itu sosok yang perhatiannya tinggi. Sampai-sampai kalau udah bareng Mbak Ren aku gak bisa nolak sifatku yang menjadi tiba-tiba manja, seneng “diatur”, seneng diperhatikan. Kadang aku juga sempat berpikir, kenapa bukan Mbak Ren aja yang ambil jurusan keperawatan? Mbak Ren kan lebih lembut dan perhatian dibanding aku.
            Anak pertama “katanya” identic dengan sifatnya yang detail, perfectcionist, dan agak lelet. Wah, Mbak Ren banget tuh. Contoh detailnya Mbak Ren, dia selalu kebagian tugas buat nyetrika dan ngepel rumah (itu pun kalo rajin nya kumat). Tak ada satu pun pakaian yang tidak rapi dengan garis sudut pakaian yang setajam pisau. Pasti iya, orang dia nyetrika selembar pakaian minimal 10 menit. Dan tak ada sudut rumah yang terlewatkan debunya kalo Mbak Ren yang ngepel. Yakin deh, yang punya hidung sensitive pun kalau masuk rumah yang sudah ditangani sama Mbak Ren gak akan bersin sekali pun. Tapi, sekali lagi bisa setengah harian Mbak Ren beres-beres rumah. Dan sayang kebiasaan ini jarang Mbak Ren lakuin, ya sebut saja malas.
            Hari senin adalah hari yang paling menegangkan sewaktu SD dulu. Alasannya, upacara bendera. Tidak boleh telat kalau tidak mau kena hukuman. Aku sendiri sih aman, sangat jarang telat, bahkan hampir tidak pernah. Tapi Mbak Ren, ampun. Dia selalu jadi orang terakhir yang datang. Kalau upacara bendera sudah mau dimulai, aku yang deg-degan was-was dan gelisah nungguin wajah Mbak Ren nongol di gerbang sekolah. Beberapa kali ia kena hukuman. Entah ritual apa dulu yang ia lakuin di rumah sebelum berangkat sekolah. Padahal ia yang yang paling pagi bangun tidur.
            Mbak Ren sekarang lagi greget pengen punya hape pintar android. “belinya pake uang beasiswa kamu aja yah, aku pengen merek hape yang sama kayak hape mu”. Enteng banget Mbak Ren ngomong kayak gitu. Ini uang aku tabung buat modal mendaki, Mbak. Tapi akan ku usahain ngutang kemana gitu Mbak, karena aku kasihan juga liat Mbak Ren yang gak update. Heheh *kidding J.
            Tapi aku iri sama Mbak Ren yang udah lumayan fasih bahasa inggris. 3 Bulan di Kampung Inggris Pare untuk modal S2 kayaknya udah cukup. Aku janji Mbak, bakalan nyusul dan berbahasa inggris lebih baik dari Mbak Ren, karena emang dari dulu aku lebih pintar bahasa inggrisnya dibanding Mbak Ren. Hehehe
            Ohya, aku juga iri sama Mbak Ren yang kena abu vulkaniknya Gn.Kelud baru-baru. Aneh sih, tapi pengen banget rasanya berfoto di tengah gumpalah abu vulkanik gunung api. Berasa lagi di puncak gunung apinya gitu. Lagi pula, kapan lagi bisa jadi saksi murka alam yang maha dahsyat. Di Sulawesi tidak ada gunung api lho Mbak.
            Tapi Mbak Ren yang di Jawa kalah sama aku yang di Sulawesi. Biar di Sulawesi tidak ada kereta api, tapi adik mu ini sudah pernah naik kereta api kelas ekonomi. Mbak Ren kan belum pernah. Kapan-kapan kita naik kereta api bareng ya Mbak Ren.
            Terimakasih untuk semuanya Mbak Ren. Semua kebaikan, perhatian, kasih sayang, cinta, rindu, keikhlasan, kesabaran, pelajaran hidup, pengalaman, dan emmm, leptopnya, rok, baju, bros, jilbab, tas, dan segala barang yang ku suka dan ku ambil paksa dari Mbak Ren


Makassar, 27 February 2014

Sabtu, 22 Februari 2014

Cinta Pertama Bunda

Hay Bunda, Apa kabar dengan jeda waktu ini? Masih meyimpan rindu? Masih menjaga cinta? Masih menitip do’a?
Hari ini adalah tepat 10 tahun kepergian ayah meninggalkan bunda, meninggalkan aku, dan dunia ini untuk selamanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari ini aku dan bunda selalu menginap di vila keluarga kami. Dan setiap hari ini pula festival lampion selalu terlihat indah dari teras vila. Tak pernah sekali pun aku melepas lampion di festival sepeninggal ayah. Karena ayah telah pergi bersama lampion terakhir yang ku lepas 10 tahun lalu.

10 tahun adalah waktu yang sangat lama tanpa ayah, pria paling ganteng di keluarga kecil kami. Karena aku anak tunggal. Suasana malam ini jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bunda bertambah renta dan aku semakin dewasa, bahkan keluarga kecil yang baru telah siap menjemput ku.
Aku dan bunda duduk manis di teras vila menantikan detik-detik ribuan lampion berterbangan menuju langit. Bunda terlihat lebih cantik dengan syal merah muda pemberian ayah yang melilit longgar di lehernya. Tampak beliau cukup merasakan hawa dingin dengan melipat kedua tangan di dada meskipun ia telah memakai sweter rajutan hangat.

Aku pun menggeser kursi ku lebih dekat dengan kursi bunda. Kemudian menyandarkan kepala ku di pundak beliau. “Bun, kayak kunang-kunang ya?” Ucapku sambil menunjuk ribuan lampion yang berterbangan jauh di depan mata kami.
“Iya.” Jawab beliau pelan dan singkat.
“Bunda sedih?” Tanyaku sambil menatap dalam mata nya.
“Tentu. Siapa yang tidak sedih jika harus melepas anak gadis satu-satunya kepada orang lain.” Katanya pelan sambil mengusap beberapa bulir air di pipinya. Aku dapat melihat bulir air itu dengan jelas meski cahaya remang.
“Bunda..” ucapkau sambil memeluknya dari belakang. “Kita masih serumah kok nanti. Aku gak akan kemana-mana.”
“Tetap saja, bunda harus berbagi dengan suami mu.”
Aku kembali duduk di lantai dan menyandarkan kepala di paha beliau. “Baru calon kok bunda. Belum jadi suami.” Kata ku sambil tertawa kecil berniat sedikit bercanda.
“Bunda tenang saja. Tidak akan ada yang berubah. Aku malah tambah sayang sama bunda.” Ucap ku manja.
“Iya..iya.. bunda tau. Bunda juga makin sayang sama anak bunda yang paling cantik ini.” Bunda mencubit kedua pipi ku seperti memperlakukan anak TK.
“Bunda, bunda yakin ingin tetap sendiri? Banyak lho yang mau sama bunda. Papa nya Iren teman SMA ku misalnya.” Ucapku dengan nada gurau.
“Papanya iren?” Raut muka bunda sontak berubah. Garis kerutan wajah seakan pudah hilang disulap. Helaian uban pun menghitam. Ada sititik jerawat manis di pipi kiri beliau. Rambut hitam panjang dengan poni tebal yang menyentuh alis terasa nyata ku lihat. Senyum manis yang menampakkan gigi putih rapinya begitu lama ia pamerkan pada ku. Ini lah bunda ku yang kurasa kembali menjelma pada raga seragam putih abu-abu nya masa lampau.

Tak perlu kau merangkai kata wahai bunda ku. Kisah mu dapat ku simak dari garis senyum dan binarnya mata yang tak pernah lelah untuk berseri. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Sosok itu. Sosok yang membuat engkau begitu mencintai ayah. Cinta pertama mu bunda.
Ku pastikan kata-kata ku ini tidak salah. Mungkin seluruh cinta dan kasihmu telah sepenuhnya kau berikan pada ayah, tapi ada ruang rahasia di hati mu yang kau simpan  segenggam rindu yang hanya kau dan sang pemiliki rindu yang tau.

Sosok itu bunda, yang selalu meggetarkan jantung mu setiap kali kau dengar namanya, yang pertama memberi mu pengalaman tentang cinta manusia, yang tega membiarkan mu merasakan darah yang membeku sebab patah hati. Sosok yang dapat kau hitung dengan jari tangan mu berapa kali kau beradu kata dengan nya. Hanya sekali kau menyentuh telapak tangannya untuk sebuah perpisahan.

Sosok itu bunda, yang tak lelah hadir dalam setiap mimpi-mimpi mu, yang membuat mu keringat dingin jika beradu pandang dengannya. Sosok yang membuatmu memliki dunia saat ia tersenyum pada mu. Dan sosok itu yang berhasil menghipnotismu untuk menciptakankan ratusan puisi cinta. Sosok itu adalah alasan kenapa setiap oksigen yang hirup tiap detik terasa begitu segar.
Apakah aku salah bunda? Cinta pertamamu sepenuhnya milikmu. Rasa yang kau rahasiakan seutuhnya milikmu. Rindu dendam mu selayaknya adalah penguasa hatimu.
Sekali lagi Bunda, katakan jika aku salah. Jika di hari sebelumnya ada kesempatan memilih, mungkin aku tak akan pernah terlahir di dunia.

“Sayang, kok ngelamun?” Dengan muka bingung bunda beberapa kali menepuk bahuku.
“Eh, maaf bunda. Tadi sampai mana? Aku cengengesan”
“Dari tadi bunda Tanya, papa nya Iren yang mana?”
“Itu loh bunda, teman SMA bunda. Om didi. Masa’ lupa?” Aku dengan nada sedikit menggoda.
“Udah lah, jangan goda bunda terus. Bunda kan udah pernah cerita tentang itu. Jangan dibahas ya.!” Untuk kedua kalinya  bunda mencubut kedua pipiku. “Kamu sendiri gimana sayang?”
“Apanya bun?”
“Cinta pertama.” Dengan nada pelan bunda berbisisk ke telingan ku.
“Ah bunda, apaan sih. Sama kayak bunda. Masa lalu bun. Aku sedang akan menjemput masa depan.” Kemudian aku menghela napas panjang bersama menghilangnya lampion-lampion di telan langit malam.

Tanpa aku bercerita pun aku yakin bunda bisa membaca kisah ku seperti aku membaca kisahnya. Dan seprti ini lah kehidupan yang sebenarnya, Bunda. Kau mewariskan tulisan kisah cinta mu kepada ku yang belum sempurna. Akhirnya aku lah yang harus mengakhiri tulisan ini hingga halaman terakhir dengan cerita benang merah cinta pertama mu.
Hay Bunda, Apa kabar dengan jeda waktu ini? Tetaplah meyimpan rindu.  Tetaplah menjaga cinta. Tetaplah menitip do’a.

Kamis, 16 Januari 2014

Corat Coret

Tiap tahun pasti gini. Situasi sulit. Puncaknya segala bentuk kegelisahan. Tak pernah ada prosedur yang sempurna. Kemudian memilih, lalu ambil keputusan, akhirnya menanggung resiko, dan lagi harus beralibi.
Simple. Ujung-ujungnya, nitip KRS, omelan PA urusan belakang. Bolos kuliah satu minggu perdana, nitip tanda tangan? Kalau bisa. Bagus kalau bukan kuis dihari pertama. Jangan protes kalau bukan nilai A cantik nan indah yang muncul di KHS.
Resiko anak rantauan. Berkeliat dari hitam di atas putih peraturan akademik dan kemahasiswaan yang mengikat. Bahkan pulang kampung yang harusnya menjadi ritual sakral sekali setahun sering terusik oleh sms jadwal KRSan, pergantian PA dan kuliah perdana.
Bukan apa-apa sih, hanya soal pilihan. Puas pulang kampung dengan menggantung seabrek prosedur penentu masa depan, atau pulang kampung singkat tapi urusan bakal masa depan beres. Apakah adil..? Pulang kampung hanya beberapa hari dengan perjalanan neraka atau bajet 15 kali lipat ongkos pulang kampung mahasiswa lain. Ada lagi, hanya beberapa hari untuk keluarga mu dalam setahun? Hanya beberapa hari untuk teman SMA mu dalam setahun?. Sekali lagi, adil..??
Mereka sih enak  bahkan tiap weekend bisa bertemu orang tuanya, paling lama ya cuman 6 jam perjalanan. Setelah balik ke rantauan, beraneka ragam bekal untuk penghidupan diangkut, ditemani pula sama keluraganya. Saya? Boro-boro bawa bekal segudang, bawa diri aja rasanya berat. Hanya mengandalkan ATM yang semoga gemuk selalu untuk melanjutkan hidup. Tak ada pisang, tak ada buras, telor ayam apa lagi,dan aneka lauk khas daerah lainnya. Makannya jangan heran saya suka makan ikan di sini, saya suka jus mangga,  jus nangka, dan jus sirsak. Itu adalah obat jiwa. Homesick.
Lihat saja betapa malam ini saya gelisah dan tak tidur hingga adzan subuh berkumandang. Betapa tidak, sebentar pagi saya melihat matahari di tanah kelahiran dengan meninggalkan KRS yang belum tau kapan baru bisa di on line kan bahkan telah ngaret 2 minggu (gara-gara yang satu ini semua rencana berantakan), berkas wisuda yang belum pula di on line kan dan lebih-lebih dikumpul. Hey, saya tidak akan diwisuda Maret nanti, kalau tidak on line dan tidak mengumpulkan print out nya. Lalu saya belum mendaftar untuk profesi ners, deadline nya akhir bulan depan. Kenapa? KRS belum ada, surat a..b..c.. belum ada. Rasanya ingin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sambil beteriak. Meski tak menyelesaikan persoalan, setidaknya partikel-partikel yang membuat dahi ini kerut bisa ku bebaskan sejenak. Tak apa sejenak.
Seperti nya akan selalu seperti ini tiap tahunnya. Dan dengan polosnya, seperti ada bisikan di telinga saya. “kita memang selalu berencana, dan selalu akan begitu. Kemudian kita secepatnya kita dituntut memutuskan. Done. Tapi jreng…jreng.. rencana meleset, keputusan terlanjur ketuk palu. Mau tak mau harus ada kerugian. So? Terpuruk pada kerugian bukanlah pilihan. Bagaimana meminimalisir kerugian adalah rencana sekarang. Kita yang paling tau langkah apa yang terbaik untuk kita sekarang. Lakukan, nikmati, dari pada nothing. Tuhan aja nurunin penyakit beserta obatnya, so pasti masalah juga ada sejalan dengan solusinya”.

Makassar, 17 Januari 2014

02.53 dini hari, malam dalam mendung

Senin, 13 Januari 2014

Love Letter

Dear saudara serusukku
            Apa kabar di jeda waktu ini? Tidak kah disitu membosankan? Apakah engaku sedang menuggu? Sendiri? Hanya sendiri? Bagaimana malam mu, penuh bintang? Maaf, sepertinya  aku lebih cerewet dari sebelumnya. Maaf juga, tak ada kata-kata puitis untukmu hari ini. Hanya deretan kata-kata polos dari seorang perempuan yang sedang bosan juga, sama seperti mu. Bosan menghitung bintang, bosan menanti pelangi, dan dan bosan berandai.
            Mengapa kau tak pernah ingin berkenalan dengan ku? Sudahkah kau mengenalku? Taukah engkau warna kesukaan ku? Makanan kesukaan ku? Hal yang ku benci? Atau sekedar tau, kenal kah aku dengan mu? Ah, sudahlah. Lupakan.
            Aku akan berkabar. Di atas tanah pijakan ku sedang basah oleh sisa hujan. Baunya khasnya membawaku kembali pada masa 8 tahun ku dulu. Kemudian aku beratap langit malam dengan jutaan bintang. Bahkan aku bisa menghubungkan titik-titik terang dengan telunjukku membentuk Andromeda dan scorpius. Ohya, aku menutup sebelah mataku agar bisa fokus berimajinasi menciptakan garis di udara.
            Apa engkau juga akan berkabar? Bagaimana tanah pijakkan mu? Basah? Apa kau bisa melihat Andromeda dan scorpius di situ? Tidak kah langit malam disitu cerah?
            Sekali lagi aku berkabar. Aku pernah bermimpi tentang mu. Mimpi indah. Menatap nanar langkah gontai mu bergandengan dengan bayangan hitam berpayung terik. Langkah mu semakin cepat, jauh dan bayangan hitam itu perlahan hilang. Leherku terasa tercekik, dengan mata tanpa satu kedipan pun aku berusaha bersuara memanggil sosok tak bernama. Engkau. Engkau yang masih berdiri membelakangi ku di sana. Jauh.
            Sekali lagi, apa kah engkau akan berkabar? Saat tidur mu yang pulas, tentang mimpi mu?
Dear saudara serusukku,

            Ku kirim surat ini untukmu di salah satu sudut bumi Tuhan yang maha luas ini. Terimakasih telah menyentuh surat ku, membacanya hingga kata terakhir. Dan terimakasih untuk menjawab semua pertanyaan ku dengan kata-kata yang bisa ku baca di sini sendiri.