Sabtu, 22 Februari 2014

Cinta Pertama Bunda

Hay Bunda, Apa kabar dengan jeda waktu ini? Masih meyimpan rindu? Masih menjaga cinta? Masih menitip do’a?
Hari ini adalah tepat 10 tahun kepergian ayah meninggalkan bunda, meninggalkan aku, dan dunia ini untuk selamanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari ini aku dan bunda selalu menginap di vila keluarga kami. Dan setiap hari ini pula festival lampion selalu terlihat indah dari teras vila. Tak pernah sekali pun aku melepas lampion di festival sepeninggal ayah. Karena ayah telah pergi bersama lampion terakhir yang ku lepas 10 tahun lalu.

10 tahun adalah waktu yang sangat lama tanpa ayah, pria paling ganteng di keluarga kecil kami. Karena aku anak tunggal. Suasana malam ini jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bunda bertambah renta dan aku semakin dewasa, bahkan keluarga kecil yang baru telah siap menjemput ku.
Aku dan bunda duduk manis di teras vila menantikan detik-detik ribuan lampion berterbangan menuju langit. Bunda terlihat lebih cantik dengan syal merah muda pemberian ayah yang melilit longgar di lehernya. Tampak beliau cukup merasakan hawa dingin dengan melipat kedua tangan di dada meskipun ia telah memakai sweter rajutan hangat.

Aku pun menggeser kursi ku lebih dekat dengan kursi bunda. Kemudian menyandarkan kepala ku di pundak beliau. “Bun, kayak kunang-kunang ya?” Ucapku sambil menunjuk ribuan lampion yang berterbangan jauh di depan mata kami.
“Iya.” Jawab beliau pelan dan singkat.
“Bunda sedih?” Tanyaku sambil menatap dalam mata nya.
“Tentu. Siapa yang tidak sedih jika harus melepas anak gadis satu-satunya kepada orang lain.” Katanya pelan sambil mengusap beberapa bulir air di pipinya. Aku dapat melihat bulir air itu dengan jelas meski cahaya remang.
“Bunda..” ucapkau sambil memeluknya dari belakang. “Kita masih serumah kok nanti. Aku gak akan kemana-mana.”
“Tetap saja, bunda harus berbagi dengan suami mu.”
Aku kembali duduk di lantai dan menyandarkan kepala di paha beliau. “Baru calon kok bunda. Belum jadi suami.” Kata ku sambil tertawa kecil berniat sedikit bercanda.
“Bunda tenang saja. Tidak akan ada yang berubah. Aku malah tambah sayang sama bunda.” Ucap ku manja.
“Iya..iya.. bunda tau. Bunda juga makin sayang sama anak bunda yang paling cantik ini.” Bunda mencubit kedua pipi ku seperti memperlakukan anak TK.
“Bunda, bunda yakin ingin tetap sendiri? Banyak lho yang mau sama bunda. Papa nya Iren teman SMA ku misalnya.” Ucapku dengan nada gurau.
“Papanya iren?” Raut muka bunda sontak berubah. Garis kerutan wajah seakan pudah hilang disulap. Helaian uban pun menghitam. Ada sititik jerawat manis di pipi kiri beliau. Rambut hitam panjang dengan poni tebal yang menyentuh alis terasa nyata ku lihat. Senyum manis yang menampakkan gigi putih rapinya begitu lama ia pamerkan pada ku. Ini lah bunda ku yang kurasa kembali menjelma pada raga seragam putih abu-abu nya masa lampau.

Tak perlu kau merangkai kata wahai bunda ku. Kisah mu dapat ku simak dari garis senyum dan binarnya mata yang tak pernah lelah untuk berseri. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Sosok itu. Sosok yang membuat engkau begitu mencintai ayah. Cinta pertama mu bunda.
Ku pastikan kata-kata ku ini tidak salah. Mungkin seluruh cinta dan kasihmu telah sepenuhnya kau berikan pada ayah, tapi ada ruang rahasia di hati mu yang kau simpan  segenggam rindu yang hanya kau dan sang pemiliki rindu yang tau.

Sosok itu bunda, yang selalu meggetarkan jantung mu setiap kali kau dengar namanya, yang pertama memberi mu pengalaman tentang cinta manusia, yang tega membiarkan mu merasakan darah yang membeku sebab patah hati. Sosok yang dapat kau hitung dengan jari tangan mu berapa kali kau beradu kata dengan nya. Hanya sekali kau menyentuh telapak tangannya untuk sebuah perpisahan.

Sosok itu bunda, yang tak lelah hadir dalam setiap mimpi-mimpi mu, yang membuat mu keringat dingin jika beradu pandang dengannya. Sosok yang membuatmu memliki dunia saat ia tersenyum pada mu. Dan sosok itu yang berhasil menghipnotismu untuk menciptakankan ratusan puisi cinta. Sosok itu adalah alasan kenapa setiap oksigen yang hirup tiap detik terasa begitu segar.
Apakah aku salah bunda? Cinta pertamamu sepenuhnya milikmu. Rasa yang kau rahasiakan seutuhnya milikmu. Rindu dendam mu selayaknya adalah penguasa hatimu.
Sekali lagi Bunda, katakan jika aku salah. Jika di hari sebelumnya ada kesempatan memilih, mungkin aku tak akan pernah terlahir di dunia.

“Sayang, kok ngelamun?” Dengan muka bingung bunda beberapa kali menepuk bahuku.
“Eh, maaf bunda. Tadi sampai mana? Aku cengengesan”
“Dari tadi bunda Tanya, papa nya Iren yang mana?”
“Itu loh bunda, teman SMA bunda. Om didi. Masa’ lupa?” Aku dengan nada sedikit menggoda.
“Udah lah, jangan goda bunda terus. Bunda kan udah pernah cerita tentang itu. Jangan dibahas ya.!” Untuk kedua kalinya  bunda mencubut kedua pipiku. “Kamu sendiri gimana sayang?”
“Apanya bun?”
“Cinta pertama.” Dengan nada pelan bunda berbisisk ke telingan ku.
“Ah bunda, apaan sih. Sama kayak bunda. Masa lalu bun. Aku sedang akan menjemput masa depan.” Kemudian aku menghela napas panjang bersama menghilangnya lampion-lampion di telan langit malam.

Tanpa aku bercerita pun aku yakin bunda bisa membaca kisah ku seperti aku membaca kisahnya. Dan seprti ini lah kehidupan yang sebenarnya, Bunda. Kau mewariskan tulisan kisah cinta mu kepada ku yang belum sempurna. Akhirnya aku lah yang harus mengakhiri tulisan ini hingga halaman terakhir dengan cerita benang merah cinta pertama mu.
Hay Bunda, Apa kabar dengan jeda waktu ini? Tetaplah meyimpan rindu.  Tetaplah menjaga cinta. Tetaplah menitip do’a.

1 komentar: