Rabu, 31 Oktober 2012

Lagi. Miris

Lagi. Miris. Kisahku kembali membawaku pada posisi tak mengenakkan. Berdiri sendiri di balik air terjun. Sunyi. Terdiam ku menatap manusia-manusia besandiwara dengan indah di tengah gemuruh air. Salah ku memilih yang hanya menjadi figuran di balik air terjun, berati aku untuk kalian para tokoh utama, penyempurna setiap adegan yang kadang tak berperasaan. Miris untuk ku yang hanya lelah berdiri. Berteriak pun tak ada yang mendengar ku. Suara ku tak sehebat gemuruh air yang jatuh memecah batu sungai. Aku menangis pun tiada yang perduli. Terlalu kecil butiran air mata ku dibandingan air terjun di depan ku. Memberontak dan lari pun bahkan aku tak sempat. Fisik ku terlanjur terjebak di sini, ruang sempit nan gelap. Kesempatan egois tak ada lagi. Tak pernah ada. Bahkan ku harus rela basah oleh percikan air, menggigil ku seorang diri. Entah kapan episode terakhir dari sandiwara ini. Agar ku tak harus menjadi figuran kalian, bukan untuk menggantikan mu menjadi peran utama, hanya aku ingin kembali ke alam nyata ku. Ku tunggu tangan indah yang akan meraih tangan ku, melewati air terjun ini, menuntun ku, memberiku sejenak waktu meski bukan untuk berteriak di banyak manusia, setidaknya aku bisa berteriak di balik jendela.

2 komentar: