Jumat, 07 November 2014

Senja

Beberapa detik saya harus memperbaiki perasaan sejenak memejamkan mata, menghela napas panjang beberapa kali. Menyetel lagu irama klasik. Sempurna.

Pagi menjelang siang yang terik. Awal November yang biasa. Saya sedang menanti senja. Ada tujuh detik special padanya. Saat matahari benar-benar merangkak perlahan tertelan ujung bumi. Ketika matahari lenyap untuk menepati janji pada milyaran manusia di belahan bumi lain, termasuk kamu.

Tujuh detik special yang mungkin kau kejar hampir setiap senja selama hidup mu. hingga tak pernah kau perdulikan pagi yang anggun, saat matahari senja mu itu masih awal menggandeng langit dan penghuninya. Hingga kau tak memperdulikan malam, saat matahari senja mu itu menitipkan cahayanya pada megahnya bulan dan milyaran penghuni langit malam lainnya. Kau tak pernah perduli. Kau hanya mengejar senja. Tujuh detik special bersamanya.

Saya bukan penikmat senja, bukan penikmat the aroma melati bersama kenangan yang menyertainya. Saya hanya selalu menanti pagi dan penikmat angin malam. Tidak pada senja. Karena mega yang terlampau menyilaukan. Dan tak ada fatamorgana memeluk senja.

Mengapa pagi. Sebab pagi menjanjikan mimpi. Menjanjikan segala cerita yang bertabur rasa syukur hingga malam menjadi sangat gelap.

Mengapa pada angin malam. Sebab malam menjadi penutup cerita. Setelah semua janji fajar pagi terpenuhi, terbawa angin malam menanti pagi esok.

Jelas sudah, kita tak akan pernah bertemu dalam lingkaran kehidupan nyata. Kau hanya autis dalam senja mu dengan seduhan secangkir the hangat dan sebatang rokok. Tujuh detik special, bersama tegukan teh dan hisapan batang rokok. Sempurna senja pilu. Pagi mu hanyalah pagi. Malam mu cukup menjadi jembatan untuk melewati hari berikutnya.

Sekali lagi saya harus menghela nafas panjang. Matahari semakin terik. Saya akan baik-baik saja sebelum senja tiba. Setidaknya saya harus menyaksikan pergulatan cahaya matahari dan tepian bumi hari ini. Menanti fatamorgana terakhir. Mungkin.

Sebelum akhirnya senja, sebelum akhirnya kau berpesta. Saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Terima kasih untuk setiap fatamorgana yang menyilaukan, untuk semua kenangan yang mustahil terlupa, serta senyum dan tatapan mata tak terbaca.

Entah bagaimana seharusnya. Saya sudah cukup frontal, cukup jujur. Jika pun kau paham dan mengerti, ya sudah. Jika pun tidak, ya sudah. Saya baik-baik saja.
Maaf telah lancang menyebut nama mu dalam setiap do’a dan sujud ku. Mungkin itu tak akan terjadi lagi.

Saya hanya perlu mengehela napas yang lebih panjang lagi. Mengeluarkan seluruh CO2  yang menyesakkan dada.

Jumat, 31 Oktober 2014

Seperti Jatuh Cinta Lagi

            Beberapa jam saya harus melupakan dinas, askep, laporan, respon sana sini, menulis tangan, dan semuanya tuntutan mahasiswa profesi. Iya, lupakan beberapa jam saja. Melupakan kegalauan profesi, stressor penurun berat badan, stressor pembuat muka berjerawat, dinas malam yang mencekam, dinas pagi yang sibuk.
Seperti jatuh cinta lagi.
            Seluruh badan sedikit tremor, mata berkedih tak berirma, keringat terasa menyucur meski ruangan berac, saya hanya mampu meremas tangan yang berkeringat terus-menerus, nafas tak karuan, detak jantung apalagi. Apakah masih terasa, terabaikan. Saya seperti kehabisan kata-kata, suara hanya sampai pada tenggorokan.  Speechless,, hey saya harus bilang apa..!! beberapa kali saya hanya mampu menganga, sesekali menutup seluruh wajah dengan kedua telapak. Ya tuhan, langkah gagahnya menuju panggung. Saya mematung.
            Dzawin hanya pemuda biasa yang kebetulan hanya menjadi finalis stand up comedy. Bisa dibilag artis lah. Hey, saya sudah ratusan kali melihatnya tampil di panggung stand up di tivi, dan you tube. Mengidolaknnya seperti layaknya idola biasa. Hanya itu. Tapi, semua dirasa berubah saat melihat langsung dengan kasat mata. Tubuh semampai tak terlalu tinggi, tak terlalu berisi, tak sekunyel di tivi, dengan rambut yang lebih panjang terkahir saya lihat di tivi, plus poni. Haha, iya, dia berponi. Di sela-sela ber stand up ia mengibas poninya beberapa kali. Dan kaca mata. Saya meleleh.
            Materi stand up yang sudah akrab saya dengar di telinga. Ah, dzawin hanya menambah beberapa materi saja. Tapi, saya tak menikmati materinya. Menikmati setiap langkahnya, gerak tangannya, kibasan poninya, dan selipan tawanya. Dan, satu lagi lantunan beberapa ayat Al.Quran disela materi dengan suara yang asli menyejukan hati. Begini lah komik yang lulusan pesantren. Dzawin suka wanita berkerudung. Hey dzawin.. saya berkerudung. Hahahaa..
            I am dzawinranger. Terimakasih telah datang ke Makassar. Terima kasih telah membuat saya lupa dengan status mahaiswa profesi. Terimakasih telah membat saya terpingkal malam ini. Terimakasih telah mau saya rangkul untuk berfoto bersama. Terimakasih telah membuat saya jatuh cinta lagi yang entah kapan terakhir kali saya merasa seperti itu.




Minggu, 22 Juni 2014

Cerpen --> Ayah, Aku Patah Hati

Ayah, Aku Patah Hati
“Wajanya masih datar, Yah. Masih teduh, kosong tapi…”
“Tapi apa sayang?”
“Tapi rumit. Selalu datar. Saya tak pernah sedikit pun membaca hati dan pikirannya melalui wajah cueknya.”
“Sayang, pastinya kamu tidak bisa membaca hati dan pikirannya jika hanya melalui gambarnya.”
“Ah, ayah..!!” Aku menyandarkan kepala ku ke pundak pria yang sangat aku hormati dengan nada manja.
Ayah, pria pertama yang aku sandarkan kepala ku di bahu dan dadanya setiap kali dunia terasa kejam dan pahit. Wangi khas tubuhnya terasa melekat dalam penciuman ku. Tak sedetik pun aku lupa wangi beliau. Ayah sering kali menggodaku, “lalu, mana pria lain yang akan kamu sandarkan kepala mu?”
Pundak ayah kenapa? Apa mulai lelah dengan sandaran ku?
“Tidak selamanya kamu akan bersandar di pundak ayah. Akan tiba waktunya kamu butuh pundak pria lain. Anak ayah kan sudah dewasa”. Ayah usil sembari mencubit hidungku.
“Hampir Yah, hampir ada. Dia yang wajahnya teduh, datar, dan kosong”. Kali ini aku serius.
“Hampir? Lalu?” Ayah juga terlihat lebih serius kali ini.
“Entah lah, Yah. Tidak pernah ada permulaan. Jadi tidak bisa saya katakana telah berakhir pun.”
“Siapa dia sayang? Apa ayah mengenalnya?”
“Ayah tidak mengenalnya. Bahkan saya pun tidak sepenuhnya mengenalanya. Dia hanya seorang kenalan di masa lalu. Tapi kami cukup sering bertemu dalam tengah malam. Ah, itu pun jikan saya terlelap untuk memejamkan mata.”
“Sejauh mana ia mengenalmu, sayang?” Ayah mulai membelai rambut panjang ku,
“Miris, Yah. Dia hanya tau nama lengkap ku dan nama ayah. Itu pun karena ia melihat nama ku di daftar absen di sekolah.” Mata ku pun mulai berkaca-kaca. “Aku rindu ayah”. Aku memeluk beliau erat bersama tangisku yang pecah. Ayah membalas pelukku. Mencium kening ku beberapa kali. Beliau sangat tahu ketika aku merajuk seperti ini adalah saat-saat sulit ku.
Hening. Beberapa saat hanya suara desiran angin yang membawa terbang dedaunan kering. Setelah lelah menumpahkan air mata, aku mulai membuka mata ku. Masih dalam dekapan hangat ayah. Aku mencoba memandangi sekeliling. Banyak pohon beringin tua, denan tanah yang dipenuhi rumput yang tidak begitu terawat. Bau tanah selepas hujan tadi pagi begitu terasa, bercampur dengan bau khas rumput hijau. “Akh, kenapa tempat ini begitu sunyi.” Bisikku dalam hati.
“Anak ayah sudah puas nangisnya?” Suara ayah rasanya begitu hadir tiba-tiba dan mengagetkan ku.
“Yah, anak mu patah hati. Nada suara ku kembali merajuk.”
“Karena?”
“Ada rasa sakit saat cinta itu tidak aku dapatkan. Sakit Yah, bahkan air mata pun rasanya tidak sebanding dengan apa yang aku rasa.”
“Apa tidak berlebihan sayang?”
“Mungkin Yah. Bukankan roman picisan memang selalu dengan kisah yang berlebihan?”
“Lalu, di mana dia? Dimana si empunya wajah teduh dan datar itu? Bagaiamna dia sekarang?”
“Ayah bertanya pada ku? Justeru aku selalu bertanya pada Dia yang Maha Tahu tentang itu. Tak ada lelah ku bertanya,Yah.”
Aku hanya mendengar ayah menghela napasnya dengan begitu panjang. Aku tahu, ayah sedang berpikir keras untuk menenangkan pikiran anak gadisnya yang keras kepala ini.
“Ah, sudahlah Yah… dengan berada di pelukan mu seperti ini, tiada lagi pria mana pun yang lebih hebat selain ayah. Melupakan dia yang tak pernah mengingatku tidak akan jadi hal rumit. Hanya butuh waktu dan sedikit kesibukan, kesibukan merindukan yang lain. Bukan kah ayah pernah mengatakan itu sebelumnya. Patah hati juga bukan perasaan langka yang harus dilebaykan. Aku tak akan jadi anak cengeng mu ayah, yang akan menangis dan bermelankolis jika harus patah hati. Cukuplah aku menggila karena patah hati atas kepergian mu, Ayah ku.”
Desiran suara angin kembali ku dengar, kali ini lebih keras. Beberapa helai daun mendarat di kerudung hitam ku yang tersandar di bahu. Masih sunyi. Tak ada ayah. Hanya segundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan kecil di depanku. Aku mulai menyiraminya dengan air dari botol air mineral yang kubawa. Ku taburi beberapa bunga. Ku elus lembut batu nisan yang bertuliskan nama ayah ku.
Sepenggal kalimat terngiang di kepala ku bersama tenggelamnya senja:
“Sayang, cobalah berwudhu, lalu bentangkam sajadah dan katakan pada Sang Pemilik Cinta, kau mencintainya.”
Ayah baru saja membisikkanya.

By @ulfayasin
Makassar, 23 June 2014


Kamis, 24 April 2014

REHHA..

            Ini janji kedua. Sepupu ku yang punya riwayat tomboy di masa sekolah juga ingin publikasikan tentang dia dan ceritanya versi penulis. Aku. Enaknya panggil apa ya? Mbak? Terlalu feminim deh kayaknya. Panggil nama aja deh. Oke fix.
            Aku lupa pertama kali ketemu dan kenal Reha. Kita emang sepupu. Sekelas waktu TK. Satu SD, SMP, dan SMA. Tapi, sekarang kita bahkan beda Negara. Reha emang suka lambung kiri. Dia duluan nginjak tanah Negara tetangga. Aku lho, baru nginjak pulau jawa berasa masih mimpi.
            Memori masa kecil masih tersimpan rapi nan anggun di kepala ku. Seoarang Reha dengan sosok yang paling sering memberontak dan menangis sejadi-jadinya. Ada apa? Maaf jikalau dulu aku hanya bisa menatap nanar beberapa peristiwa yang tak seharusnya jiwa dan fisik seorang anak SD memperolehnya. Kadang didikan dan nasehat orang dewasa masih terlalu rumit untuk dicerna gadis mungil. Sebab itu, Reha menjadi sosok yang lebih tegar dan kuat. Jauh dibanding aku atau mbak ku dan beberapa sepupu ku yang lain.
            Ibarat ketua geng, kita berempat sering bareng. Masih ingat? Dulu sebelum ada air PAM hampir setiap hari kita mencuci pakaian di sungai. Kamu yang terkuat membawa pakaian kotor, mencucinya dengan gigih lalu membilasnya pada arus yang deras. Aku hanya melihat dan membantu semau ku saja. Selepas itu kita berenang, lalu pulang dengan membawa segenggam tanah liat tepi sungai bahan dasar untuk membuat telepon genggam. Masa bermain yang sempurna.
            Jika musim menanam tiba hingga musim panen, tak pernah alpa Reha menjadi bagian dari pasukan yang menanam bulir padi, menyiangi, memanen, menjemur gabah, hingga menyulapnya menjadi beras. Lha aku? Aku Cuma bisa bantu menyiangi semak walaupun masih belum becus. Ikut bantu memanen sedikit. Dan ikut menjaga gabah yang dijemur dari serangan mereka yang mengincar. Reha benar-benar pekerja keras. Aku tahu tak sepenuhnya semua itu dari hatimu. Tapi status dan alam yang memaksa mu untuk melakukannya.
            Kehidupanmu lebih dinamis ketika berseragam putih abu-abu. Mencoba peruntungan dan kebahagaian di berbagai atap. Sayang, tak banyak perubahan. Air mata itu selalu menetes. Bahkan diringi tangisan yang terkadang keras dan memilukan. Beberapa hanya melihat kurang dan cacat mu. Tak menyukai kepribadian mu. Hey, Reha hanya seorang remaja yang sedang tumbuh dan berkembang secara normal. Kenapa harus menuntut ia sempurna? Mengerti dan bacalah kehidupannya di masa lalu. Perlakukan ia sedikit lebih istimewa. Seandainya dulu aku lebih mengerti, akan ku suruh mereka membaca mata mu baik-baik. Betapa banyak yang mereka tidak mengerti tentang mu.
            Reha, aku tidak pernah mengerti bagaimana tumbuh tanpa pelukan sosok ibu. Tapi kamu jauh lebih mengerti itu. Aku tidak pernah mengerti bagaimana menjalani hari-hari dengan sosok ayah yang jauh dari fisik kita dengan kabar yang tak pasti. Tapi kamu sangat mengerti itu.
            Dan oleh karena itu betapa aku kagum pada hati mu yang kuat. Kuat menyembunyikan betapa sebenarnya kau rapuh.
            Tetua, senior, kakak, tante, ibu, leluhur, nah lho.. ibarat itu lah Reha ku umpamakan. Kadang betingkah seperti manejer seorang artis. Rajin mengatur kami, bahkan untuk hal-hal kecil. Jalan-jalan sore. Tak jauh beda dengan sikap ibu kost pada umumnya. Jadwa mencuci, ngepel, masak, beres-beres rumah. Omaigatt.. aku bahkan pernah frustasi hidup dengan seorang “pengatur” seperti itu. Tapi, justru itulah yang bikin kangen dengan seorang Reha sekarang ini.
            Cekatan, gesit, mungil, rambut keriting gantung, kerudung yang kadang lepas kadang nempel di kepala, punya banyak teman cowok, sering jadi mak comblang, senantiasa ikhlas menjadi penengah masalah, dan beberapa aib yang tak bisa diutarakan. Itu lah Reha. Kini tumbuh mandiri dengan memetik rupiah sendiri. Jauh di negeri tetangga, pahlawan visa, pahlawan bangsa yang terlupakan. Hey, Bagaimana kuliah mu? cuti?
            Reha, pernah begitu lama memendam sayang pada seorang teman di masa lalu, teman di masa seragam putih biru hingga beberapa waktu lalu. Apa ku salah? Tak perlu kau gubris, semua itu adalah masa lalu. Dan kini mungkin ada sosok baru yang menemani mu dari jauh di sana.
            Reha, jaga diri, jaga kesehatan, jaga sholat. Maja labo dahu di negeri orang. Malaikat kecil mu menantimu kembali ke tanah kelahiran. Adek bungsu ku juga telah gatal lidahnya ingin memuntahkan semua ceritanya pada mu. Tandai kalender mu ada hari indah di tahun 2017 kelak. Dan.. wajib oleh-oleh dari Taiwan untuk ku, yang tak rusak dimakan waktu. Maaf memaksa. Kami semua merindukanmu, J

            

Sabtu, 08 Maret 2014

Cupliz Ku

            Yang dikahwatirkan akhirnya tiba juga. Aku ditagih satu tulisan singkat “all aboutbrother kecil ku. Hey hai.. emangnya sejak kapan aku jadi penulis biografi.? Tapi ya udahlah. Kali ini aku berusaha keras memainkan jari tangan di atas keyboard si biru sembari memutar otak dan sesekali mengerutkan dahi atau menempelkan kedua jari telunjuk pada kedua keningku hanya untuk membangkitkan memori unik dan aneh tentang si Cupliz.
            Adek ku yang eksis di socmed dengan nama akun Anas Cupliz atau @anas_Cupliz. Punya followers belum nyampe 100 aja udah bangga. Dan sangat bangga dengan panggilan “Cupliz”. Hai dek, Cupliz itu pemain lakon jaman dulu banget yang pendek orangnya. Udah tau? Masih mau dipanggil Cupliz? Kamu emang dulunya “agak pendek”, sekarang udah paling tinggi diantara kita berempat. Masih mau dipanggil Cupliz?
            Si Cupliz yang dulunya tengil, item dan manja sekarang udah lebih keren dikit. Malahan udah pinter pacaran. Tuhan *tepuk jidat pengen pingsan. Udah berapa mantan mu? 3 ya. Ulala.. Ngakunya juga punya banyak fans apalagi di kalangan anak SMP. Percaya gak percya sih. Tapi pengakuan di Onge sukses buat meng skakmat keraguan ku. Yang bungsu ini manusia paling jujur, yakin dia gak pernah berbohong. “Kak, tau gak, abang Anas tuh punya banyak fans di sekolah ku. Tiap pulang sekolah tuh pasti nanya ke aku. Sum..sum.. abang mu mana? Pengen liat..pengen liat. Trus kak, kalo mereka liat abang Anas lewat pake motornya, mereka teriak-teriak gak jelas gitu. Malahan kak, dari jauh mereka udah tau kalo itu abang Anas. Katanya sih mereka kenal baik gaya dan motornya abang Anas.” Hey dek, stop. Tarik napas dulu baik-baik. Rasa-rasanya aku yang nyesek. Ini anak satu kalau udah cerita, dia lupa semua teori pelajaran bahasa Indonesia.
            Berhubung cowok sendiri, Cupliz jadi tumbal kalau-kalau ayah butuh tenaga asisten. Simple sih, paling ya kayak ngurusin ternak, cariin pakannya, ngurusin pipa air yang bocor, perbaiki pagar kebun sendiri atau pagar kebunnya orang yang jebol gara-gara oong (sapi peliharaan Cupliz), dan cariin si ternak hingga jam 2 dini hari pada saat-saat mereka hilang. Lho kok kayak ribet ya? Kasian juga Cupliz, padahal dia masih SMP, udah kerja ekstra begitu. Pulang-pulang dengan muka kusut tanpa mandi langsung masuk kamarnya, corat-coret dinding gak jelas yang mengasilkan karya wajah roker gagal move on. Atau pernah suatu kali dia berhasil memecahkan kaca cermin hingga hancur berkeping-keping dengan satu kali tinju. Untuk ia masih disayang sama tuhan, tak ada darah setetes pun, bahkan tak ada goresan kecil di tangannya. Begitulah beberapa salah satu bentuk pemberontakan Cupliz. Sabar ya dek J
            Beberapa kali juga Cupliz jadi pahlawan tingat keluarga. Hehe. Pocket camera ku, remote tv, colokan listrik, setrika, speaker, headset hape, dan berbagai macam benda elektronik rumahan dan yang bermasalah semua beres di tangannya. Pantas aja dia dulunya dia sempat berminat kuliah teknik mesin.
            Si penggila Lionel Messi dan klub bola Barcelona ini sekarang sudah di tingkat akhir dengan seragam putih abu-abunya. Semenjak SMA do’i suka galau. Jadi sering telpon kakaknya yang di Makassar cuman buat curhat nilai rapor, pelajaran yang disebelin, gurunya yang jutek, konsultasi soal kampus-kampus favorit, jurusan yang menarik, atau suasana hatinya yang sementara beradaptasi pada keadaan baru.
            Tapi salut deh buat Cupliz yang dari SMA udah mandiri dengan jadi anak kosan. Pulang ke rumah paling 2 kali seminggu. Pertama, buat weekend an dan nogkrong melepas kangen, dan kedua karena jadwal pertandingan sepak bola di lapangan kecil samping masjid. Dan tiap pulang ke rumah, do’i selalu disugihi makanan rumah yang paling enak. Ikan bolu. I know, that’s your favorite, right? Ohya, satu lagi. Kalau pulang do’i juga disuguhi pekerjaan jadi asisten ayah. Sekali lagi, yang sabar ya dek J.
            Si cupliz juga agak aneh. Gak suka katanya membonceng cewek kalau duduknya tidak menyamping. “pokoknya aku gak gak mau bonceng kakak kalau duduknya kayak cowok, harus duduk menyamping, duduk cewek. Biar anggun”. Lho kok? Capek tau. “that’s your choice, terserah. Mau di antarin atau gak.” Ya udah, akhirnya aku dibonceng dengan duduk cewek pakai motor classic gak tau apa merk nya yang pasti keluaran tahun 70 atau 80an. Dan makasih dek, gak sampe setengah jam pegelnya udah kerasa.
            Hey Cupliz, selamat dan sukses ya karena telah melewati masa alay. Aku tau kamu dapat pencerahan dari stand up comedy nya idolamu Raditya Dika. Selamat juga telah berhasil menjadi gitaris pemula. Iya, masih pemula. Sayang ya, gitarnya sekarang rusak. Gimana dong, padahal aku pengen diajarin juga. Persiapkan mental dan fisik buat UN April nanti. Semoga lulus di IPB. Kan biar sesekali kakak bisa jalan-jalan ke Bogor J. Dan jangan terlalu kejam sama adikmu yang bungsu, kalian emang jarang akur. Meski cara mu menyayangi adek bungsu mu emang unik, tetaplah besikap lemah lebut pada adek bungsumu meski dia juga terkadang menyebalkan. Yang penting jangan lempar remote tv apalagi hape lebih-lebih pisau dapur kayak dulu kita berantem ya kalau kadang-kadang kamu gemes sama tingkah nya si bungsu.


Makassar, 01 Maret 2014

Rabu, 26 Februari 2014

Lirik Lagu Mine (Petra Sihombing)

"Mine"
(feat. Ben Sihombing)

Girl your heart, girl your face is so different from them others
I say, you're the only one that I'll adore
Cos everytime you're by my side
My blood rushes through my veins
And my geeky face, blushed so silly yeah, oh yeah

And I want to make you mine

Baby I'll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we'll be together till we die
Our love will last forever and forever you'll be mine, you'll be mine

Girl your smile and your charm
Lingers always on my mind I'll say
you're the only one that I've waited for

And I want you to be mine

Baby I'll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we'll be together till we die
Our love will last forever and forever you'll be mine, you'll be mine

And I want you to be mine
And I want you to be mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

Mbak Ren

            Kali ini aku akan bercerita tentang kakak ku. Dan untuk lebih sopannya, aku pake sebutan Mbak Ren aja kali ya. Boleh? Iya boleh. Oke, makasih J
            Mbak Ren adalah sulung dari empat bersaudara, aku yang kedua (edisi revisi katanya Mbak Ren), kemudian si ganteng, lalu si bungsu.
            Sebelumnya aku cuman pengen bilang, aku sayang banget sama Mbak Ren, seperti sayangnya Mbak Ren ke aku. Walau pun aku nggak pernah bilang langsung, dan Mbak Ren juga tidak pernah bilang langsung.
            Sesayang-sayangnya aku sama Mbak Ren atau sebaliknya, kami sering bertengkar hingga berantem. Dari jaman SD hingga terakhir pertengkaran kecil Oktober 2013 lalu. Paling sering barantem pas lagi makan bersama. Emang sudah menjadi ritual wajib dikeluarga ku pada waktu itu dinner bersama. Ada-ada saja yang memicu pertengkaran kami. Rebutan piring atau gelas cantik, rebutan posisi duduk, sampe rebutan lauk. Tapi tidak sampai rebutan nasi juga sih. Imbasnya ya kena omelan. Sampai yang terparah pada pukul 23.00 aku sama Mbak Ren “diusir” dari rumah gara-gara berantem. Tidak ada perasaan menyesal atau pun akan baikan. Kami hanya menunggu suasana rumah hening, semua tidur dan kami masuk dengan diam-diam lewat jalan rahasia. Meski dini hari pukul 02.00 ayah kelabakan mencari kami di rumah-rumah tetangga.
            Kalau keseringan bersama memang lebih banyak memicu pertengkaran, tapi kalau sudah jauh, ngengenin deh. Kayak sekarang-sekarang ini.
            Mbak Ren itu sosok yang perhatiannya tinggi. Sampai-sampai kalau udah bareng Mbak Ren aku gak bisa nolak sifatku yang menjadi tiba-tiba manja, seneng “diatur”, seneng diperhatikan. Kadang aku juga sempat berpikir, kenapa bukan Mbak Ren aja yang ambil jurusan keperawatan? Mbak Ren kan lebih lembut dan perhatian dibanding aku.
            Anak pertama “katanya” identic dengan sifatnya yang detail, perfectcionist, dan agak lelet. Wah, Mbak Ren banget tuh. Contoh detailnya Mbak Ren, dia selalu kebagian tugas buat nyetrika dan ngepel rumah (itu pun kalo rajin nya kumat). Tak ada satu pun pakaian yang tidak rapi dengan garis sudut pakaian yang setajam pisau. Pasti iya, orang dia nyetrika selembar pakaian minimal 10 menit. Dan tak ada sudut rumah yang terlewatkan debunya kalo Mbak Ren yang ngepel. Yakin deh, yang punya hidung sensitive pun kalau masuk rumah yang sudah ditangani sama Mbak Ren gak akan bersin sekali pun. Tapi, sekali lagi bisa setengah harian Mbak Ren beres-beres rumah. Dan sayang kebiasaan ini jarang Mbak Ren lakuin, ya sebut saja malas.
            Hari senin adalah hari yang paling menegangkan sewaktu SD dulu. Alasannya, upacara bendera. Tidak boleh telat kalau tidak mau kena hukuman. Aku sendiri sih aman, sangat jarang telat, bahkan hampir tidak pernah. Tapi Mbak Ren, ampun. Dia selalu jadi orang terakhir yang datang. Kalau upacara bendera sudah mau dimulai, aku yang deg-degan was-was dan gelisah nungguin wajah Mbak Ren nongol di gerbang sekolah. Beberapa kali ia kena hukuman. Entah ritual apa dulu yang ia lakuin di rumah sebelum berangkat sekolah. Padahal ia yang yang paling pagi bangun tidur.
            Mbak Ren sekarang lagi greget pengen punya hape pintar android. “belinya pake uang beasiswa kamu aja yah, aku pengen merek hape yang sama kayak hape mu”. Enteng banget Mbak Ren ngomong kayak gitu. Ini uang aku tabung buat modal mendaki, Mbak. Tapi akan ku usahain ngutang kemana gitu Mbak, karena aku kasihan juga liat Mbak Ren yang gak update. Heheh *kidding J.
            Tapi aku iri sama Mbak Ren yang udah lumayan fasih bahasa inggris. 3 Bulan di Kampung Inggris Pare untuk modal S2 kayaknya udah cukup. Aku janji Mbak, bakalan nyusul dan berbahasa inggris lebih baik dari Mbak Ren, karena emang dari dulu aku lebih pintar bahasa inggrisnya dibanding Mbak Ren. Hehehe
            Ohya, aku juga iri sama Mbak Ren yang kena abu vulkaniknya Gn.Kelud baru-baru. Aneh sih, tapi pengen banget rasanya berfoto di tengah gumpalah abu vulkanik gunung api. Berasa lagi di puncak gunung apinya gitu. Lagi pula, kapan lagi bisa jadi saksi murka alam yang maha dahsyat. Di Sulawesi tidak ada gunung api lho Mbak.
            Tapi Mbak Ren yang di Jawa kalah sama aku yang di Sulawesi. Biar di Sulawesi tidak ada kereta api, tapi adik mu ini sudah pernah naik kereta api kelas ekonomi. Mbak Ren kan belum pernah. Kapan-kapan kita naik kereta api bareng ya Mbak Ren.
            Terimakasih untuk semuanya Mbak Ren. Semua kebaikan, perhatian, kasih sayang, cinta, rindu, keikhlasan, kesabaran, pelajaran hidup, pengalaman, dan emmm, leptopnya, rok, baju, bros, jilbab, tas, dan segala barang yang ku suka dan ku ambil paksa dari Mbak Ren


Makassar, 27 February 2014