Mahasiswa.
Akan punya fase mereka berdiri pada tangga “kasta terrendah” dalam lingkungan
almamater yang membesarkan nama mereka di mata orang-orang dan sanak keluarga
di kampung halaman. Kasta terrendah, mungkin kata yang sangat kasar untuk di
cap pada sosok mahasiswa. Lalu apa? Hanya itu yang terlintas di benak. Siapa
mereka? Siapa mahasiswa yang sedang bergelut dengan zona kasta terrendah itu.
Mahasiswa tingkat akhir. Begitulah mahasiswa. Untuk mendapatkan alamamater
pujaan harus berkorban luar biasa saking susahnya. Dan tidak kalah susah untuk
melepas almamater tersebut dan mengabadikan gelar sarjana di belakang namanya.
Mahasiswa
tingkat akhir, kenapa disebut kasta terrendah yang menggeser posisi mahasiswa
baru sebelumnya. Mereka adalah mahasiswa tergalau diantara mahasiswa-mahasiswa
tingkat lainnya. Galau menentukan topic penelitian, galau cari judul yang
sesuai roadmap jurusan, galau cari referensi proposal penelitian, galau bikin
revisi, galau kalau pembimbing gak ngampus, bahkan sampai pengen bangun tenda
depan ruang dosen atau patungan dana buat pasang cctv di ruang dosen. Itu baru
tahap awal bimbingan proposal. Belum lagi harus satuin persepsi waktu empat
dosen buat seminar proposal, bagus kalau tidak ada dosen yang keluar kota.
Galau yang lain saat pembimbing atau pnguji harus keluar kota atau bahkan
keluar negeri untuk lanjut studi. Bicara soal pembimbing dan penguji, rangking
tiga jantung bedegup kencang setelah pengumuman UAN dan SNMPTN adalah
pengumuman pembibing dan penguji. Soalnya setiap mahasiswa tidak ada yang sudi
punya penguji yang killer dan perfectionist, kalau jadi pembimbing sih masih
aman-aman saja.
Kasta
terrendah. Jauh dari kata merdeka. Itulah mahasiswa tingkat akhir. Ngampus pagi
buta cuman buat ketemu dosen pembimbing yang super sibuk hingga tak da waktu
lain kecuali saat matahari baru terbit. Kadang ngampus dari pagi hingga jelang
magrib buat nunggu pembimbing yang gak pasti ngampus atau tidak. Di sms? Udah. Di telpon? Gak diangkat. Trus?
Ya harus nunggu, soalnya senior bilang beliau bisa marah kalau kita sudah sms
buat ketemu tapi pas beliau ada kita gak ada di tempat. So? Dari pada kiamat
dating lebih awal, mending yo nunggu, bisa-bisa skripsi gak diridhoi sama
beliau. Yang bikin lebih nyesek kalau dosen pembimbing batalin janji
beberapa kali.
Dan
akhirnya seminar proposal juga. Dumba-dumba galeter katanya anak Makassar,
deg-degan kalo anak Jakarta bilang. Kostum hitam putih plus almamater siap. Sipp.
Snack juga siap. Dosen penguji tiba-tiba batalin? Dosen pembimbing telat. Sumpah
nyesek. Seminar di undur dong. Tuhan ini sih kiamat kecil namanya. Tapi mahasiswa
tingkat akhir yang baik itu senantiasa bersabar. Oke, yang suskes maju dengan
dengan pembimbing dan penguji on time pun akhirnya presentasi. 10 menit pertama
presentasi, lancer. Lanjut masukan dan kritikan ataupun pertanyaan dari
pembimbing dan penguji. Keringat dingin bercucuran. Harap-harap cemas moga
judul gak diganti, variable penelitian gak di tambahin, semuanya oke deh dengan
saran referensi aja dikit. Tapi, apa yang terjadi kalo pembibing sendiri yang
serang. Tuhan… antara percaya gak percaya. Harusnya punya dua malaikat, raib. Sekali
lagi mahasiswa tingkat akhir selalu terbiasa untuk bersabar. Dan selalu banyak
alasan mahasiswa tingkat akhir untuk bersabar.
**to
be continue**
ahahha..
BalasHapusbegitulah jika menjadi mahasiswa tingkat akhir.
eaaa.. yang udah wisuda .
BalasHapus