Kamis, 17 Oktober 2013

Mahasiswa Tingkat Akhir

Mahasiswa. Akan punya fase mereka berdiri pada tangga “kasta terrendah” dalam lingkungan almamater yang membesarkan nama mereka di mata orang-orang dan sanak keluarga di kampung halaman. Kasta terrendah, mungkin kata yang sangat kasar untuk di cap pada sosok mahasiswa. Lalu apa? Hanya itu yang terlintas di benak. Siapa mereka? Siapa mahasiswa yang sedang bergelut dengan zona kasta terrendah itu. Mahasiswa tingkat akhir. Begitulah mahasiswa. Untuk mendapatkan alamamater pujaan harus berkorban luar biasa saking susahnya. Dan tidak kalah susah untuk melepas almamater tersebut dan mengabadikan gelar sarjana di belakang namanya.
Mahasiswa tingkat akhir, kenapa disebut kasta terrendah yang menggeser posisi mahasiswa baru sebelumnya. Mereka adalah mahasiswa tergalau diantara mahasiswa-mahasiswa tingkat lainnya. Galau menentukan topic penelitian, galau cari judul yang sesuai roadmap jurusan, galau cari referensi proposal penelitian, galau bikin revisi, galau kalau pembimbing gak ngampus, bahkan sampai pengen bangun tenda depan ruang dosen atau patungan dana buat pasang cctv di ruang dosen. Itu baru tahap awal bimbingan proposal. Belum lagi harus satuin persepsi waktu empat dosen buat seminar proposal, bagus kalau tidak ada dosen yang keluar kota. Galau yang lain saat pembimbing atau pnguji harus keluar kota atau bahkan keluar negeri untuk lanjut studi. Bicara soal pembimbing dan penguji, rangking tiga jantung bedegup kencang setelah pengumuman UAN dan SNMPTN adalah pengumuman pembibing dan penguji. Soalnya setiap mahasiswa tidak ada yang sudi punya penguji yang killer dan perfectionist, kalau jadi pembimbing sih masih aman-aman saja.
Kasta terrendah. Jauh dari kata merdeka. Itulah mahasiswa tingkat akhir. Ngampus pagi buta cuman buat ketemu dosen pembimbing yang super sibuk hingga tak da waktu lain kecuali saat matahari baru terbit. Kadang ngampus dari pagi hingga jelang magrib buat nunggu pembimbing yang gak pasti ngampus atau tidak. Di sms? Udah. Di telpon? Gak diangkat. Trus? Ya harus nunggu, soalnya senior bilang beliau bisa marah kalau kita sudah sms buat ketemu tapi pas beliau ada kita gak ada di tempat. So? Dari pada kiamat dating lebih awal, mending yo nunggu, bisa-bisa skripsi gak diridhoi sama beliau. Yang bikin lebih nyesek kalau dosen pembimbing batalin janji beberapa kali.
Dan akhirnya seminar proposal juga. Dumba-dumba galeter katanya anak Makassar, deg-degan kalo anak Jakarta bilang. Kostum hitam putih plus almamater siap. Sipp. Snack juga siap. Dosen penguji tiba-tiba batalin? Dosen pembimbing telat. Sumpah nyesek. Seminar di undur dong. Tuhan ini sih kiamat kecil namanya. Tapi mahasiswa tingkat akhir yang baik itu senantiasa bersabar. Oke, yang suskes maju dengan dengan pembimbing dan penguji on time pun akhirnya presentasi. 10 menit pertama presentasi, lancer. Lanjut masukan dan kritikan ataupun pertanyaan dari pembimbing dan penguji. Keringat dingin bercucuran. Harap-harap cemas moga judul gak diganti, variable penelitian gak di tambahin, semuanya oke deh dengan saran referensi aja dikit. Tapi, apa yang terjadi kalo pembibing sendiri yang serang. Tuhan… antara percaya gak percaya. Harusnya punya dua malaikat, raib. Sekali lagi mahasiswa tingkat akhir selalu terbiasa untuk bersabar. Dan selalu banyak alasan mahasiswa tingkat akhir untuk bersabar.

**to be continue**

2 komentar: