Minggu, 17 Maret 2013

Zona Nyaman again.



Bromo..bromo..bromo..
Luar biasa. Amazing.. apa pun kata mu, mungkin saya terlalau berlebihan. Tapi ini lah rasa yang sesungguhnya. Kekaguman yang teramat sangat pada lekuk alam yang memanja pandangan. Subhanallah. Sempurna Allah menciptakan bumi.
Tak akan pernah bosan ku buka file-file ku saat berpijak di pasir bromo. Apalagi jika ditemani Ost. 5cm. Lantunan musik Ariel dkk mengiringi alunan suara Giring menyempurnakan suasana zona nyaman ku.
Bromo tengger semeru memang memanja. Oksigennya beda. Saat ku bernapas, karbondioksida yang dihembuskan akan terlihat dalam wujud asap. Hahaha.. tak perlu ke korea untuk bernapas seperti itu. Hembusan lebut angin tengah hari. Hangat matahari siang seperti saat fajar. Kabutnya itu lho, entah dari mana, tapi terlihat berasal dari perut bumi. Perlahan menembus pori-pori tanah di tempat ku berpijak, menggelitik kaki ku, meresap dalam serat kain jaket ku hingga menenggelamkan seluruh tubuh. Singkat. Keren banget.
Penduduk tengger semeru semuanya ramah. Sangat terlihat jelas rona merah pipi pada setiap wajah yang ku lihat. Bisa kau bayangkan betapa dinginnya di sana. pakaian khas penduduk tengger semeru. Salah satu bagian ujung sarung yang diikat di leher. Bak superman versi tradisional. Pemandangan manusia yang tak akan kau temui di tempat lain. Hanya di sini. Bromo tengger semeru.
Rute yang ekstrim untuk menggapai alam bak surga. Perjalanan yang paling mengagumkan dan paling melelahkan. Bahkan jurang tidak menjadi menyeramkan, justru cantik. Perkebunan terluas yang pernah ku lihat. Sempat ku berpikir, “tidak kah aku sedang bermimpi?”.
Yup. Akhirnya tiba. Disambut pasir bromo. Pasir..pasirr,..pasir. ini lah samudra pasir. Mereka juga berombak. Ku biarkan kaki ku menapak langsung pada pasir bromo. Terasa jelas jutaan butir pasir menari menggelitik telapak kaki ku yang tak beralas. Dan kubiarkan kaki ku melangkah dengan sendirinya. Tatapan ku hanya satu tertuju. Gumpalan asap di puncak bromo. Kawah. Keren.
Langkah ku terus mengayun menyisakan jejak berirama. Medan semakin terjal. Semakin mendaki. Terlupakan entah berapa jutaan jejak yang sudah ku ciptakan. Sesekali ku mengehela napas panjang. Lelah juga, tapi senyum ku tetap mengembang bersama peluh. Rasa penasaran pun membakar semangat. Sesekali juga aku di sapa bapak-bapak yang menunggangi kuda, atau ibu-ibu yang menjajakan makanan ringan. Asli, lelah yang menjanjikan keindahan. Mungkin ini lah yang mereka bilang bermesraan dengan alam. Luar biasa. Akhirnya tiba di anak tangga pertama untuk mencapai puncak bromo, yup..pendakian tahap terakhir. 120 anak tangga terlewati dan akhirnya ku menapaki puncak bromo. Sukses. Mata tak berkedip sedetik pun, mulut hanya menganga dan melisankan sajak-sajak kekaguman pada sang Pencipta. Nafas yang tersengal bahkan terabaikan. Ataupun nadi yang begitu cepat dan kaki yang gemetar tak ku perdulikan lagi. Kawah bromo di depan mata. Pagar penyangga yang mulai rapuh menciutkan nyaliku untuk untuk lebih mendekat mengelus kawah bromo yang perawan. Bau khas belerang menusuk. Sejenak hembusan angin menerbangkan asap kawah, membersihkan puncak bromo dari benda putih yang terus melayang tak kenal waktu. Sekilas tampak jelas dasar kawah yang mengagumkan. Mempersembahkan asap belerang yang terlahir dari perut planet biru ini.  Kabut smakin menebal. Seperti samudra. Udara semakin dingin. Sejenak ku menoleh bapak penjual bunga. Ada edelweiss. Bunga yang cantik.
Puncak bromo.
Indah. Luar biasa. Keren. Kawah bromo yang fenomenal. Curam. Pasir bromo bisa dilihat seutuhnya. Lebih luas dari yang terpikirkan. Pura yang ada di bawah kaki bromo hanya sebesar kelingking. Bahkan semut lebih besar untuk manusia-manusia yang berlalu lalang di bawah sana. hingga semuanya tak terlihat. Kabut semakin menebal. Angin sepoi brkejaran semakin agresif. Pertanda alam ingin menyendiri.
Saat nya pulang. Kembali melewati jalan yang penuh dengan ketakjuban. Berpamitan dengan alam yang asri, hutan tropis yang hijau. Berteman kabut, dan di iringi gerimis lembut dengan suhu yang semakin dingin. Pertemuan pertama ini akan menciptakan rasa penasaran untuk pertemua ke dua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar